
Bel pulang adalah waktu yang dinantikan oleh semua murid, begitupun dengan Shaka dan kelima temannya.
Mereka berenam lantas berjalan menuju parkiran, di persimpangan jalan, tepatnya di depan tata usaha, mereka berpas-pasan bersama Vanya dan Runa.
"Hai Run! Hai Van!" sapa Arthur, seperti biasa melakukan aksi tebar pesonanya.
"Hai kak," balas Runa dengan senyum manisnya, sedangkan Vanya tertuju pada lelaki paling belakang, yang tengah sibuk dengan ponsel nya. Dia adalah Rasya.
"Ras, cariin tuh." Bram menyenggol lengan Rasya, yang hampir saja membuat cowok blasteran itu terjatuh ke samping. Pasalnya, Bram menyenggol tak main-main.
"Apa?" balas Rasya dengan sebal.
"Tuh cariin," ujar Bram sekali lagi, sambil menunjuk ke arah depan.
Rasya mengikuti arahan Bram, cowok itu menatap Vanya yang tersenyum manis sambil melambaikan tangan ke arah Rasya.
Rasya tersenyum kecil, lalu kembali menatap layar ponsel nya. Vanya yang mendapatkan respon itu hanya bisa mengulum bibirnya ke dalam.
"Sabar Van, masih ada hari esok." Batin Vanya seraya mengelus dada.
Lantas, kedelapan bocah remaja itu berjalan beriringan menuju ke parkiran. Sampai parkiran mereka semua pamit, Vanya pamit terlebih dahulu akibat sang supir telah berada di depan.
Shaka pamit mengantarkan Runa, dan Rasya serta sisanya pergi ke warjok. Seperti biasa nongkrong.
"Duluan ya Runa, bye! Duluan kak!" Pamit Vanya lalu melenggang pergi.
"Gue sama Runa duluan," pamit Shaka pada yang lain.
Arthur menatap kepergian kedua pasangan itu, lalu berkata. "Anjir, jadi pingin gue." kata Arthur tak sengaja.
Tara menyahuti. "Carilah, mumpung masih ada waktu."
Rasya hanya memutar bola matanya malas. Beginilah akibat Jones kelamaan, udah gitu kronis lagi. Eh, t-tapikan dia juga ya?
"Inget udah kelas 12, waktunya udah gak main-main lagi, belajar yang bener. Katanya mau jadi pengusaha, gak ada yang instan di dunia ini kecuali tanpa usaha." Rasya mengeluarkan kata-kata bijaknya.
"Siap Ras!" Saut semuanya.
Tiba-tiba Bram menundukkan kepala, membuat yang lain pada menatap Bram bingung.
"Lo kenapa Bram?" tanya Tara sambil menyenggol pundak cowok itu.
"Gue sedih anjir, bentar lagi kita pisah." ujar Bram sambil berpura-pura menangis.
"Gue sih engga, gue malah bersyukur gak ketemu lo lagi." Emang dasar Arthur gak tau diri, suasana lagi sedih juga.
"Mati lo anjing! Setan lo!" Bram mengumpat, niat mau nangis malah gak jadi.
Arthur tertawa ngakak, cowok itu merangkul pundak Bram lantas berkata. "Santai, jangan emosi gak baik bro! Mending kita nongki ke Warjok lah." Ajak Arthur.
Mereka pun memutuskan untuk ke warjok, sekalian ngerjain tugas -cuma rasya doang tepatnya. Yang lain mah tinggal lihat doang.
Kalau kata Bram nih. "Kalau bisa minta contekan ke anak lain, buat apa pikir susah untuk kerjain."
...
Kedua pasangan remaja kini tengah berdiri di depan Dufan, untuk kedua kalinya mereka bermain ke tempat ini. Dimana tempat inilah, hubungan mereka berdua menjadi dekat.
Dan dimana di tempat ini seseorang paling berharga dalam diri Shaka pergi. Tak tau harus bagaimana lagi untuk melupakannya, Shaka pun bingung pada dirinya.
"Yuk masuk," Runa menarik lengan kekasih nya itu, mengajaknya untuk membeli tiket.
Shaka hanya menurut, mengikuti langkah mungil Runa, mereka sama-sama masih memakai seragam sekolah, hanya atasan saja yang mereka balut dengan jaket.
"Main itu yuk!" Tunjuk Runa pada otang anting.
Shaka hanya membalas dengan bergumam. Lantas mereka berdua sama-sama naik setelah menunggu beberapa menit untuk mengantre.
Otang ating berputar, Runa tersenyum bahagia seperti tak ada beban dalam hidupnya.
Cowok yang ada di samping Runa hanya menatap Runa dengan tatapan kosong. Lelaki itu menatap wajah Runa yang tertutup anak rambut akibat terpaan angin.
"Apa gue harus jujur sama lo?" Batinnya bertanya-tanya.
Setelah maniki otang anting keduanya melanjutkan permainan yang lain, sampai akhirnya memutuskan untuk makan siang.
"Kak Shaka mau makan?" Tawar Runa sambil memakan nasi goreng udang pesananya.
Shaka menggeleng pelan. Kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Matanya terpejam, merasakan sakit yang kembali menikam nya.
"Kak?" Runa menatap Shaka bingung. Ia mengeryit menjadari wajah Shaka yang pucat.
Perlahan Runa meletakkan tangan di atas dahi Shaka. Refleks Shaka membuka mata, tatapan sayu menatap manik Runa.
"Kamu sakit?" Tanya Runa, manik matanya terpancar khawatir.
"Enggak."
"Kamu pucat tau, pasti sakit ya?"
"Enggak, Runa."
Mendegus sebal, Runa kembali bertanya. "Seriusan? Tapi muka kamu pucat banget loh kak, ke rumah sakit aja gimana? Pasti kamu kecapekan deh." Runa berkata dengan mimik wajah khawatir.
"Lo terlalu tulus buat cinta sama gue, gimana gue mau berkata jujur di saat lo aja setulus ini buat cinta sama gue. Sedangkan gue?" Batin Shaka meringis.
"Gue tau gue egois, gue tau gue keras kepala. Apa gue salah, buat pertahanin lo tanpa rasa cinta?" Batin Shaka kembali.
Shaka hanya menunduk, mengapa sesulit ini untuk jatuh hati. "Runa, jangan pernah pergi ya," perkataan bodoh yang keluar begitu saja dari mulut Shaka.
Runa tersenyum tulus. "Iya, gak akan."
...
Malam yang petang, di temani suara motor berlalu lalang. Runa, gadis itu tengah berjalan pulang sehabis membeli beberapa bahan makanan di supermarket.
"Runa!" Langkah Runa terhenti, gadis itu membalikkan badan ke belakang. Terdapat satu orang cowok dengan hoodie hitam berjalan menghampiri nya.
"I-iya?" Runa merasa tak asing dengan sosok lelaki di depannya ini. Seperti -pernah mengenalinya, namun dimana.
Lalu cowok di depannya membuka tudung hoodie, mata Runa membulat sempurna. "Galang?"
Cowok itu adalah Galang, cowok yang hampir saja membuat nyawa nyawa dirinya dan Shaka dalam bahaya.
Galang tersenyum manis. "Iya, gue Galang."
Runa terdiam, perlahan gadis itu memundurkan langkah perlahan. Belum juga beberapa langkah, lengannya di cekal oleh Galang.
"Gue gak mau apa-apain lo, gue cuma mau kasih satu hal ke lo. Kalau Shaka, cuma penasaran aja sama lo, dia gak cinta sama lo dan dia gak sayang sama lo." Ujar Galang.
"Semua yang dia lakuin ke lo hanya sebatas penasaran, dan hanya sebatas kasihan. Gue kasih tau ini, biar lo gak kaget nantinya." Lanjutnya kembali. Setelah berkata demikian Galang melangkah pergi tanpa sepatah kata apapun.
Runa menatap punggung Galang yang perlahan hilang akibat gelapnya malam. Dia mengerutkan dahi, maksudnya apa?
"Kasihan? Maksudnya?" Karena tak ingin berpikir macam-macam, Runa memilih untuk balik pulang. Meski perkataan Galang berputar pada otaknya.
...
Akhir-akhir ini Shaka terlihat berbeda dari biasanya, Runa tau kalau Shaka pendiam, Runa juga tau kalau Shaka memang gak banyak bicara kecuali penting banget.
Namun entah mengapa, setelah dari Dufan kemarin, Shaka terlihat lebih pendiam. Waktu di tanya ada apa, jawabanya cuma gak papa.
Dengan seragam SMA yang melekat pada dirinya, Runa berjalan melewati lorong-lorong kelas.
"Pagi Van," sapa Runa pada Vanya.
"Pagi Run," balas Vanya tak semangat.
Runa menatap Vanya bingung. "Kamu kenapa? Kok gak semangat gitu?"
Vanya hanya menggelengkan kepala. Memilih untuk memejamkan matanya.
"Kak Rasya lagi?" tak menjadi sebuah misteri jika Vanya seperti ini.
Vanya menganggukan kepala. "Iya, kemarin gue mau ajak dia jalan-jalan gitu, eh malah di tolak. Sedih gue," ujar Vanya.
Runa terkekeh pelan. "Posthink aja, mungkin kak Rasya sibuk, kamu kan tau kalau kak Rasya CEO muda." Kata Runa.
"Iya gue tau tapi, udahlah gue sedih hari ini." Vanya memilih untuk melanjutkan tidurnya. "Eh entar siang ke rumah gue ya? Lo harus mau, gak boleh nolak!"
Runa megacungkan jempol. "Oke! Nanti aku main."
...
Seperti yang dijanjikan tadi pagi, sekarang Runa bersiap-siap untuk pergi ke rumah Vanya. Tak perlu waktu lama, gadis dengan rambut yang ia ikat kuda, kini telah berdiri di depan rumah Vanya.
"Akhirnya datang juga, yuk masuk." Ajak Vanya, menarik Runa masuk ke dalam.
"Maaf ya lama, jalanan macet."
Vanya mengangguk paham, tak masalah. Tau sendiri Jakarta macetnya gimana kan. "Gak masalah, Jakarta macetnya bejibun. Bentar, gue mau ambil makanan dulu."
"Nih lo cobain makanan buatan gue," Vanya memberikan sepiring spaghetti buatannya yang baru saja dia ambil di dapur.
Runa dengan antusias mencoba spageti buatan sang sahabat, saat spageti itu berhasil masuk ke dalam mulutnya Runa terdiam, gadis itu menatap Vanya.
Vanya menatap Runa, cewek itu menggigit bibir bawahnya. Menunggu jawaban dari Runa. "Gimana? Gak enak ya?" Maklum saja, dirinya baru belajar masak.
Runa menggeleng cepat. "Oh enggak, ini enak kok." ujarnya berbohong.
"Masa sih," akibat tak percaya Vanya mencoba gadis itu langsung mengambil tisu dan membuangnya. "Gila lo! Asin begini lo bilang enak,"
"Gak ini enak kok, beneran." ujar Runa, dia tak enak aja sama Vanya, Runa tau Vanya membuat ini tak mudah, meski aslinya mudah banget.
"Lo kalau muji gue keterlaluan, udah gak usah di abisin, kayaknya kebanyakan keju jadi asin begini." Cegah Vanya.
"Mubazir tau kalau di buang. Masih enak di makan juga kok." Runa kembali melanjukan makanan buatan Vanya.
Vanya langsung memeluk Runa dari samping. "Baik banget sih lo, harusnya lo jujur ke gue kalau gak enak."
"Iya gak papa, kamu juga baru belajar kan? Gimana kalau aku bantuin kamu buat belajar masak?" Tawar Runa.
Tentu saja Vanya mau. "Mau! Lo harus bantu gue!" Ujar Vanya menggebu-gebu.