Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Memilih diam atau bertanya?



Runa mengerjapkan matanya kesal, begitu sinar matahari menerpa wajahnya. Dengan perasaan kesal ia mengubah posisi tubuhnya menghadap ke samping, dan membiarkan sinar matahari untuk menerpa punggungnya.


Ia sedikit terhenyak, menatap wajah Shaka yang begitu tenang dan damai. Sampai-sampai tak sadar bahwa sosok yang dirinya tatap, menatapnya balik.


Masih dengan menutup matanya, Shaka tersenyum. "Udah selesai belum lihatnya?" tanya Shaka serak.


Runa mengerjap bingung. "B-by, kamu udah bangun?" Shaka bergumam pelan.


"Yaudah, aku mandi dulu. Terus siapin kamu sarapan," belum sempat Runa berdiri. Shaka terlebih dulu mencegahnya, tanpa aba-aba ia menarik Runa yang membuatnya kembali terbaring di atas kasur.


"Hubby, lepas! Aku mau mandi," Runa sedikit berontak. Tapi hal itu sama sekali tak membuat Shaka melepaskan, malahan cowok itu menjadikan tubuhnya seperti guling.


"Morning kiss nya mana?" tanya Shaka masih memejamkan mata.


"Gak ada, lepas by!" tolak Runa.


"Kalau gue tidur aja lagi," Shaka tak membiarkan Runa untuk pergi sebelum melakukan rutinitas paginya.


Runa mendengus pelan, tak urung gadis itu menuruti kemauan Shaka. Ia mendekatkan dirinya pada Shaka, dan mengecup pipi Shaka. "Udah kan?"


Shaka kembali menggeleng. "Belum, ininya belum." tunjuk Shaka.


"Oke! Kamu boleh mandi sekarang." Shaka memilih untuk melepaskan Runa dan membiarkannya pergi. Sampai akhirnya cubitan manis mendarat di perutnya.


"Buruan mandi, kamu mau ke kantor atau gak lagi ini." tegur Runa yang baru saja selesai mandi, sambil mengeringkan rambutnya. Ia mencoba untuk membangunkan Shaka.


"Lima menit lagi sayang," balas Shaka serak.


Runa menghela napasnya, begini jadinya jika Shaka sudah malas. Susah untuk diajak kompromi. "Terserah kamu deh, aku turun dulu buat siapin sarapan buat kamu." Runa mengembalikan hairdryer miliknya ke tempat semula, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar.


Shaka hanya menatap Runa yang sudah tak terlihat, mengguyur rambutnya ke belakang dan terdiam sejenak. Lalu mulai bangkit dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


...


Untuk pertama kalinya, suasana hening menyelimuti keduanya. Tak ada obrolan singkat diantara mereka. Detak jarum jam menjadi pengisi keheningan yang terjadi.


Shaka yang tak suka lama-lama terdiam, mulai membuka suara. Ia melirik Runa yang sekarang lagi makan dengan tenang.


"Sayang,"


Runa yang merasa terpanggil mulai mengangkat kepalanya, menatap Shaka yang menatapnya juga. Lalu kembali menunduk untuk melanjutkan makannya.


"Kenapa? Tumbenan diem gini. Dari kemarin loh kamu diemin hubby, aku ada salah?" tanya Shaka, cowok itu masih dibuat bingung dengan tingkah laku Runa belakang ini mendiamkannya tanpa alasan.


Runa menggeleng. "Gak ada, lagi pingin diem aja."


Shaka tersenyum mendengar balasan Runa, ia tertawa renyah sebelum kembali membalas ucapan Runa. "You lie,"


Runa kembali menggeleng. "Gak ada by, udah cepetan kamu habisin makannya. Jam kantor kamu udah tiba,"


Memejamkan matanya, Shaka memilih diam dan tak menanggapi ucapan Runa kembali, kemudian melanjutkan makannya dan bersiap berangkat.


"Hati-hati di jalan!" tegur Runa mengantarkan Shaka hingga depan. Gadis itu memilih masuk ke dalam ketika mobil Shaka mulai tak terlihat, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Enggak Runa! Jangan pikirin hal itu lagi," Runa menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba mengusir pikiran kotor yang menghantui pikirannya.


Ucapan Shaka beberapa saat lalu begitu membekas di kepalanya, sampai-sampai berhasil membuatnya overthinking di malam hari.


...


"Selamat siang Bunda," sapa Runa riang.


"Selamat siang sayang," balas Yuna tersenyum manis.


"Ada yang bisa Runa bantu gak?" Runa berdiri di samping Yuna, menatap Yuna yang sibuk menyiapkan makan siang.


Yuna terdiam sejenak, menatap ke penjuru dapur hingga terhenti pada suatu tempat. "Kamu bawa piring sama lauknya ke atas meja," perintah Yuna.


"Kamu kesini udah izin ke Shaka kan?" Yuna melirik putrinya sekilas, dan kembali melanjutkan masaknya.


"Belum?" ulang Yuna. "Kok belum, kenapa?"


"Tadi Runa mau telpon kak Shaka buat bilang kesini. Tapi pas mau hubungi kak Shaka ponsel Runa mati," alibinya.


"Kalau gitu pakai ponsel Bunda aja buat hubungi nak Shaka."


"Enggak usah Bunda, Runa pakai ponsel Runa aja buat hubungi kak Shaka." Runa menolak secara halus.


Yuna mengernyit curiga. "Kamu gak lagi ada masalah kan sama Shaka?"


Runa menggeleng cepat. "Gak kok Bunda, kita berdua baik-baik aja sama kak Shaka."


Yuna tersenyum menyadari sesuatu, ia memilih mengangguk paham dan tak ingin ikutan. "Kalau gitu kamu panggil kak Jihan buat makan, kasihan dia belum makan." suruh nya pada Runa.


"Kamu kalau lagi ada masalah, dibicarakan baik-baik, dihadapi bareng, bukan malah menghindar. Yang ada bukannya selesai malah bertambah besar,"


Runa terdiam, ucapan Yuna benar-benar mengarah padanya. Tapi apakah Runa siap untuk mendengar semuanya?


"Bunda mau setelah habis dari sini kamu bicarakan baik-baik sama Shaka. Ingat sayang, sekarang kamu udah jadi istri, tanggung jawab kamu juga bukan kayak dulu lagi. Ingatkan sama pesan Bunda?" sambung Yuna.


Runa mengangguk, membuat Yuna tersenyum. "Iya Bunda,"


...


Hari berganti malam, sekarang Runa telah tiba di rumah, ia pulang tadi sore bersamaan dengan Arfan. Setelah berbicara berdua dengan Bunda, Runa mengutus kan untuk pulang dan mengobrol kan nya bersama Shaka.


Runa bersantai di atas kasur, memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Shaka yang masih belum tiba.


Ceklek!


Suara pintu terbuka, Runa mengalihkan pandangannya mengarah ke pintu. Shaka tiba di rumah dengan wajah lelahnya ia masuk begitu saja, tanpa berkata dan menyapa Runa cowok itu memasuki kamar mandi.


"By..." lirih Runa.


"Gak! Jangan nangis!" tegas Runa, dengan segera ia menghapus air matanya yang mulai membasahi pipi.


Beberapa menit berlalu, suara pintu terbuka pun mulai terdengar. Runa yang awalnya menunduk kini mulai mendongak, gadis itu tersenyum manis. Seperti biasa ia menghampiri Shaka dan membantunya.


"Aku bantu--"


"Tadi kamu main ke rumah Bunda?" pertanyaan yang baru saja Shaka lontarkan berhasil membuat langkahnya terhenti.


Dengan takut, Runa memberanikan diri untuk menjawab. "I-iya tadi main ke Bunda."


"Kenapa gak bilang dulu? Lupa sama tanggung jawabnya?" tanya Shaka sekali lagi, nadanya terasa begitu dingin. Meski tatapannya tak mengarah pada Runa, tapi Runa dapat merasakannya.


"Bukan gitu,"


Shaka mengangkat sebelah alisnya. "Lalu? Kamu tuh kenapa? Waktu ditanya diem, terus keluar gak izin ke suami. Kalau emang aku ada salah, bilang bukan diam!" tekan Shaka sedikit membentak.


Kali ini Runa menunduk, ia tak berani menatap Shaka. "Aku-" mulutnya seakan terasa kelu, jantungnya kembali berdetak kencang.


"Ada yang mau aku bicarakan ke kamu," ujar Runa dan mulai mendongak menatap Shaka.


"Apa?"


"Aku mau tanya tentang-" ucapannya harus terpotong oleh suara sering dari ponsel Shaka.


"Sebentar!" cegah Shaka, cowok itu mulai menjauh dan memilih untuk keluar kamar.


Runa hanya bisa menatap Shaka, ia kemudian merutuki dirinya sendiri. "Kenapa gak langsung tanya aja sih."


Sambil menunggu Shaka yang mengangkat panggilan, Runa memilih untuk menunggu Shaka hingga selesai. Berulang kali ia menahan kantuk yang menghantuinya, sampai Runa tak bisa menahannya. Ia pun tertidur dengan posisi duduk.


...


Maaf update telat, beberapa hari kemarin lagi kurang sehat 🙏🏻