
...Hai selamat pagi untuk pembaca Nana! Maaf baru bisa kasih extra part di cerita ini....
...Semoga rindunya dengan cerita ini sedikit terobati 🦋...
.........
Pagi itu cuaca nampak cerah, semalam hujan melanda kota membuat suasana pagi itu terasa begitu sejuk. Di ruang tengah, Arfan dan Bima sedang duduk berdua kedua pria itu sedang membahas usaha mereka yang baru mereka rintis 6 bulan yang lalu.
"Persiapan cabang di Bandung gimana udah siap?" tanya Bima sambil menyeruput kopi hangatnya yang baru saja dibuatkan Yuna.
"Udah 80 persen, mungkin beberapa hari lagi bakal selesai." Arfan menjawab sambil menatap layar TV yang menayangkan berita pagi.
"Emang gak pernah salah Om Al didik mereka," decak Arfan yang terlihat kagum membuat Bima yang tadinya menatap Arfan kini teralihkan ke layar TV.
Terlihat di layar TV sekarang nampak Ale dengan pakaian jas hitamnya sedang berdiri di depan perempuan itu akhirnya mengantikan posisi Shaka sebagai pemimpin Aldebaran Group generasi selanjutnya, di sana juga terlihat Al dan Shaka yang berdiri gagah di samping kiri dan kanan Ale.
Setelah penantian yang cukup panjang Shaka memutuskan untuk menyerahkan jabatannya pada Ale, cowok itu tau jika Ale bisa menjadi Aldebaran Group menjadi perusahaan yang lebih baik lagi.
Ale mulai maju ke depan dan mulai melaksanakan konferensi pers nya, perempuan berumur 23 tahun itu mulai mengucapkan sepatah katanya di depan khalayak umum.
Namanya beberapa bulan terakhir melejit saat berhasil memenangkan tender besar, tak hanya itu Ale bahkan berhasil membawa nama Aldebaran Group ke manca negara.
Usia tak menghalanginya untuk berkarir. Setelah menyelesaikan S2 nya kemarin di umur 22 tahun, Ale memutuskan untuk menggantikan posisi Shaka meski berat perempuan itu mencoba untuk melakukan yang terbaik.
Untuk Shaka sendiri, bukan berarti dia melepaskan semuanya pada Ale. Dia tetap akan mengurus perusahaan namun tak seperti dulu lagi yang mengerjakannya setiap saat.
Arfan bertepuk tangan mendengar ucapan Ale barusan. Cowok yang tak lagi muda itu bertepuk tangan melihatnya, sungguh Arfan bangga pada Ale. "Hebat banget," ucap Arfan yang tak berhenti untuk memuji pencapaian Ale.
Di umur yang terbilang muda perempuan itu sudah berhasil.
"Ya, Al berhasil mendidik mereka." Bima berkata, tiba-tiba pria itu menundukkan kepala membuat Arfan menatapnya bingung.
"Yah?" Arfan mengusap pundak Bima yang perlahan bergetar.
"Ayah rindu Runa, gimana kabar dia sekarang?" tanya Bima perlahan meneteskan air mata.
"Bahkan sampai saat ini Ayah masih ngerasa kalau Ayah belum kasih hal yang terbaik buat putri Ayah sendiri," lanjut Bima, wajahnya yang tak lagi muda itu sudah berderai air mata.
Arfan menggeleng pelan. "Ayah udah kasih yang terbaik buat kita berdua. Runa aja terus-menerus puji Ayah karena selalu mementingkan kita dibandingkan diri Ayah sendiri," jawabnya.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, seiring waktu suasana rumah nampak semakin berbeda, meski selalu ramai bila ada Ale, Shaka, Al dan Lea. Namun tetap saja ada yang terasa kurang.
Lima tahun berjalan, perginya Runa masih terasa membekas hingga sekarang meski sudah cukup lama gadis itu pergi meninggalkan dunia.
"Ayah jangan kayak gini, nanti Runa ikut sedih di atas. Dia pasti juga rindu sama kita. Mending kita doa sama-sama buat Runa ya," ujar Arfan.
"AYAH! ARFAN!" Yuna berteriak dari arah kamar membuat kedua pria itu berdiri dan menghampiri Yuna.
"Bunda, ada apa?"
"Kamu siapin mobil sekarang buat bawa Jihan ke rumah sakit, dia udah mau lahiran. Cepat!" perintah Yuna, tanpa membuang waktu Arfan berlari keluar dan menyiapkan mobil untuk membawa Jihan ke rumah sakit.
"Ayo sayang pelan-pelan," Yuna dan Bima mulai menuntun Jihan keluar dan memasuki mobil yang sudah Arfan siapkan di depan.
Di dalam mobil Jihan mengerang kesakitan, ketuban nya sudah pecah tadi di dalam. Di sampingnya ada Yuna yang menemani Jihan sembari mengusap punggung perempuan itu untuk membantu meredakan sakit yang Jihan rasakan.
"Bentar lagi ya, sabar." Arfan nampak panik dengan kecepatan sedang cowok itu membelah jalanan yang cukup lenggang.
Beberapa menit berlalu, mobil putih itu tiba di depan rumah sakit dengan bantuan beberapa suster Jihan dilarikan ke ruang persalinan. "Salah satu saja yang boleh masuk ke dalam," ujar sang suster.
"Baiklah," Arfan masuk ke dalam setelah itu pintu ruangan bersalin tertutup rapat.
Selang sepuluh menit dari arah pintu masuk Al, Lea, Ale dan Shaka datang dengan pakaian yang sama seperti tadi. "Gimana keadaan Jihan?" tanya Lea pada keduanya.
"Lagi ditanganin di dalam."
Di dalam ruang bersalin, dokter Haiko —selaku dokter yang membantu Jihan bersalin sudah berdiri di hadapan Jihan yang sedang berbaring di sampingnya ada Arfan yang dari tadi menggenggam erat tangan Jihan mengecup keningnya berulang kali.
"Sekarang bisa dimulai, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan ya? Ayo! Dorong," dokter Haiko memberikan instruksi.
"Arfan, sakit!" rintih Jihan.
"Tahan ya, aku mohon. Bentar lagi, ayo bisa!" bisik Arfan memberikan semangat.
"Ayo sekali lagi, tarik napas dalam-dalam lalu buang!" dokter Haiko kembali memberikan instruksi.
Jihan menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan dan mendorong. Jihan semakin mempererat gangguannya pada Arfan.
Sampai akhirnya suara tangisan bayi keluar membuat Jihan dan Arfan sama-sama meneteskan air mata. Begitupun di luar, semuanya bernapas lega mendengar tangisan bayi.
"Selamat, bayi kalian terlahir perempuan. Keadaan sehat tanpa kekurangan apapun," ujar dokter Haiko sembari menunjukkan bayi di hadapannya padaa Jihan dan Arfan.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang keduanya lalui kini mereka dikaruniai anak. Bukan hal yang mudah bagi Jihan maupun Arfan untuk bisa melalui semuanya, banyak sekali kendala dan tantangan yang harus kedua pasangan itu lewati hingga sampai bisa di titik ini. 7 tahun adalah waktu yang lama.
...
Dan sekarang Jihan sudah dipindahkan si ruang rawat inap, perempuan itu sudah menggendong putri kecilnya. Di dalam sana tak hanya ada Jihan, ada yang lainnya juga. Kini giliran Yuna yang mulai menggendong cucu pertamanya, raut wajahnya jelas terlihat senang.
"Hai cucu Oma," sapa Yuna sambil menggerakkan tangan mungil cucunya.
"Mau kalian namain apa nih anaknya?" tanya Ale pada Jihan dan Arfan, perempuan itu dari tadi sudah tak sabar menunggu nama apa yang akan di sematkan pada ponakan kecilnya.
Semua mata kini tertuju pada Jihan dan Arfan yang saling tatap. "Arfan kasih ke Jihan aja apa baiknya."
Jihan terdiam cukup lama membuat semuanya semakin penasaran. "Jihan mau kasih nama anak kita Aretha Permata Zoey."
"Wah! Nama yang bagus," puji Lea.
Di sana semuanya suka cita menyambut kehadiran cucu pertama mereka, tak terkecuali Ale dan Al akhirnya mereka bisa merasakan kehadiran cucu. Sementara Shaka, cowok itu hanya diam memandangi Aretha —ponakan kecilnya yang menjadi rebutan.
Segaris senyum dia lihat kan, dengan kedua tangan yang Shaka masukkan ke dalam saku celana Shaka hanya diam, bukan berarti dia tak senang. Cowok itu jelas senang melihat ponakan yang dia tunggu telah lahir.
Hanya saja, pikirannya mengarah pada Runa sekarang. Bagaimana keadaan istri kecilnya itu sekarang?
Dan juga anaknya?
"Gimana keadaan kamu sayang? Dan juga keadaan Arshaka junior. Pasti dia udah besar sekarang, kamu pasti merawatnya dengan baik bukan?" tanya Shaka.
Sebisa mungkin Shaka menahan air matanya, rasa rindu kini menyelimuti hatinya.
.........
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya! Makasih udah mampir ke cerita ini ❤
Btw kemarin ada yang nanyain nih, ada yang nanya gimana dengan Shaka kalau Runa gak ada? Hehe penasaran gak sih? Cuma nanti aja deh di jawab di episode selanjutnya ya 😄