
Gadis dengan seragam lengkap tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, hari ini tak begitu banyak yang harus dia bawa, karena ujian akhir telah selesai mungkin akan ada sedikit tambahan tugas bagi nilai yang kurang.
Runa dengan semangat pagi nya, gadis itu menuangkan air ke dalam botol, di bawah masih sepi mungkin bunda masih tidur, semalam bunda pulang malam akibat banyak pesanan.
Runa cukup khawatir dengan keadaan sang bunda, beberapa hari ini. Bunda selalu pulang malam tak seperti biasanya. Setelah mengecek semuanya, suara klakson berbunti ddi luar, membuat Runa bergegas keluar rumah.
Bicara tentang bang Arfan, cowok itu belum bangun. Biasa semalam lembur kerja juga. Runa berjalan menghampiri Shaka, gadis itu memberikan sekotak kue dengan selai coklat keju di dalam nya.
"Pagi kak Shaka," sapa Runa tak lupa senyum manis yang dia pancarkan.
"Pagi, udah sarapan?" tanya Shaka sambil memasang helm ke kepala Runa.
"Udah, sarapan roti. Oh iya nih aku buatin sarapan. Cuma roti doang sih hehe," ujar Runa diakhiri kekehan.
Shaka mengangguk kecil cowok itu menerima, dan menyuruh Runa untuk memegangnya sebentar sampai sekolah, cowok itu membantu Runa naik ke atas motor, dirasa aman Shaka menjalankan motor dengan santai.
…
"Aku masuk dulu ya kak, bye!" Runa melambaikan tangannya, gadis itu menghampiri Vanya yang sudah hampir masuk kelas.
"Sa," sapa Arthur, Bram dan Tara.
"Hm?"
"Singkat bener lo, Rasya mana?" tanya Arthur, cowok itu menoleh ke kanan ke kiri mencari keberadaan Rasya.
"Tuh dia," tunjuk Tara pada Rasya yang duduk di pinggir lapangan sambil membaca buku.
"Kagak bosen ape? buku mulu yang di lihat," heran Bram, cowok itu yang melihat buku saja sudah membuat nya pusing bagaimana yang Rasya yang tiap hari memegang buku, entah dimana dan kapan saja.
"Gak lah, udah hobi dia. Iya kalau lo, sekali buka halaman ngantuk datang." saut Rayn membuat Bram tertawa, tau saja.
Shaka hanya menatap teman-temannya malas, cowok itu pergi meninggalkan lapangan dan menuju ke gudang, untuk berkumpul bersama yang lain. Tujuan awalnya sih bolos tepatnya.
"Lo mau kemana?!" tanya Tara sedikit teriak.
"Gudang!" jawab Shaka singkat, bisik-bisik pujian terdengar ditelinganya ketika menginjakkan lorong kelas, cowok itu hanya menatap mereka semua datar tanpa membalas pujian mereka.
Buang-buang waktu!
Langkahnya harus terhenti ketika lengannya dipeluk seseorang, membuat Shaka menatap ke samping dengan ekor matanya. Tania, wanita tak tau diri ini menempel di lengannya tanpa menghiraukan omongan yang lain.
"Selamat pagi Shaka, kamu udah sarapan?" tanya Tania dengan suara yang dibuat-buat imut.
Demi apapun bukan imut, malah jijik ditelinga Shaka.
"Lepas," dapat terlihat jika Shaka tak ingin diganggu, cowok itu malah tak merespon apapun ucapan wanita tak tau diri ini.
Di belakang Shaka ada kelima sahabatnya, mereka menatap Shaka dan Tania dari belakang dengan perasaan was-was. Mati! Shaka sepertinya tak ingin diganggu hari ini. Bukan hari ini! Melainkan selamanya.
"Gak mau, kamu mau kemana?" tanyanya kembali, membuat Shaka mengumpat dalam hati. "Shaka please, mau ya? Terima aku jadi pacar kamu," lanjutnya, sepertinya urat malu wanita ini benar-benar hilang.
"Gila tuh cewek, udah ditolak menatah-mentah masih aja ngejar mulu. Kagak capek apa?" Tara heran dengan Tania, entah berapa kali Shaka menolaknya. Sampai sekarang masih saja tak berhenti mengejar.
"Namanya juga cinta," saut Bram menatap kedua orang di depannya.
"Cinta sama obsesi beda tipis," ujar Rasya membuat semuanya mengangguk paham ya kecuali -Bram.
"Hah kok beda tipis? Bukannya beda jauh ya?" heran cowok itu membuat semuanya tepuk jidat. Gini nih kalau otaknya ketinggalan, jadian ya begini.
"Serah lo Bram, capek gue beneran," Arthur menggeleng kan kepalanya, cowok itu capek sekali benar-benar capek memiliki teman seperti Bram.
"Hah gimana?" tuh kan masih aja gak paham.
…
Istirahat tiba, Runa dan Vanya berjalan menuju ke kantin bersamaan, sampai kantin mereka duduk di tempat yang kosong. Runa lah yang memesan kali ini.
"Mau apa?" tanya Runa.
"Gue mau soto ayam sama es jeruk, nih uang nya." Vanya memberikan selembar uang hijau miliknya ke runa.
Runa mengacungkan jempolnya, gadis itu pergi meninggalkan Vanya untuk membeli makan. Tak berapa lama Runa datang dengan senampan berisi dua mangkok soto serta es jeruk.
"Run, kaki lo gimana udah baikkan kan?" tanya Vanya, cewek itu telah tau kronologi yang terjadi, meski tak detail namun cukup memahami.
"Gak papa kok, udah mambaik hehe." balas Runa.
"Tapi Na, lo harus hati-hati deh sama siapa Gundala ya, gue denger mereka musuh bebuyutan sama Alastair, gue gak tau sih masalahnya apa. Soalnya ya geng mereka kan udah turun-temurun nah gue gak ngikutin terlalu menditail." jelas Vanya membuat Runa mengangguk paham.
"Tapi kenapa aku ngerasa kalau galang baik ya? Bukan seperti yang anak-anak pikirkan." batin gadis itu.
…
Bel pulang tiba membuat sebagian anak berlarian keluar, namun sebagian lagi harus diungsikan ke dalam akibat gerbang luar kini di bagi menjadi dua kubu, kubu dalam diisi Alastair dan kubu luar diisi Gundala.
Sekarang para ketua mereka saling menatap tajam satu sama lain, Shaka cowok itu marah akibat Gundala merusak sebagian fasilitas sekolahnya.
"Lo gak ada waktu jera gitu hah? kagak capek lo cari ribut mulu," kesal Arthur, cowok itu mengumpat kesal. Waktu santainya harus terbuang akibat ulah Gundala.
"Mana anak buah lo bernama Asep," ujar Bayu membuat anak Alastair menggerut dahi bingung.
"Ngapain lo cari anak buah gue?" tanya bang Baron.
"Anak buah gue gak bakal nyerang gitu aja kalau lo gak nyerang duluan," ujar Shaka dengan santainya.
"Oh ya? Buktinya? Si Asep udah bikin anggota gue masuk rumah sakit dan sekarang dia koma, gue mau lo panggil dia dan bawa kesini!" tegas Bayu.
"Ada apa sama Asep?" tanya Arthur pada Rayn.
"Mana gue tau, kayaknya masalah pribadi deh." bisik Rayn.
"Emang dia pantas buat masuk rumah sakit, masih untung belum gue bunuh tuh orang." entah dari kapan Asep telah berdiri di sana. Membuat semuanya saling tatap satu sama lain.
Bayu tersenyum miring. "Tanggung jawab lo,"
"Ngapain gue tanggung jawab? Anggota lo yang harusnya tanggung jawab!" bantah Asep, cowok itu telah mengepal tangannya kuat-kuat.
Bugh
Bayu langsung menonjok Asep membuat cowok itu tersungkur di atas tanah. Seketika keributan tiba diantara kedua kubu. Tendengan demi tendangan terdengar, pukulan, jeritan terdengar menjadi satu.
Bugh
Bugh
Krek
Para guru di dalam tak tau harus apa, kalau mereka membantu bisa-bisa mereka juga yang kena.
Runa dan Vanya baru keluar kelas, mereka menatap bingung. Kenapa anak-anak pada ramai di luar kelas. Keduanya di kagetkan oleh Bram dan Tara yang datang tiba-tiba.
"Kak Tara? Kak Bram?" tunjuk Runa.
"Lo pulang naik apa?" tanya Tara pada Runa.
"Bareng gue," balas Vanya.
"Gimana kalau gue antar, yuk gue antar sekarang." Keduanya menarik Vanya dan Runa hingga gerbang belakang, di sini juga mereka cukup kaget karena sebagian anak masih ada.
"Kenapa kak?" tanya Runa heran.
"Gak papa, lo berdua burun balik kagak ada mampir dulu, buru!" ucap Tara.
"Emang napa sih?" sekarang giliran Vanya yang heran.
"Udah, sana balik buru!" Bram mendorong kedua tubuh mungil itu untuk segera pulang. Gawat akalu mereka tau.
…
Semuanya telah berada di gudang, sebagian ada di UKS untuk mengobati luka mereka, cuma luka kecil.
Ismail, Gaga, Baron dan Junet begitupun dengan inti Alastair angkatan 20. Mereka sama-sama menatap Asep, mereka mau tau masalah apa yang terjadi.
"Lo punya masalah apa Sep sama Gundala? Sampai lo bikin anggota mereka koma di rumah sakit," Ismail bertanya.
"Sorry bang, gue gak bermaksud gue emosi aja kemarin." balas Asep.
"Iya gue tau lo emosi tapi kenapa, lo ada masalah apa sih ini udah dua kali loh. Dan kalian sama-sama masuk rumah sakit," ujar Rayn.
Asep hanya terdiam, cowok itu tak membalas ucapan Rayn, membuat semua anggota saling tatap satu sama lain.
"Lo gak papa kan?" Rasya bertanya, cowok itu merasakan ada sesuatu yang ganjal sedari tadi.
"Gue gak papa." balas Asep, mata cowok itu entah mengapa berkaca-kaca sekarang.
"Sorry bang, gue bermaksud buat hubungan Gundala sama Alastair makin panas, tapi gue ngelakuin itu buat tebus rasa bersalah gue ke mereka."ujar Asep.
"Rasa bersalah, rasa bersalah apa?" tanya Arthur.
Asep menghela nafas sejenak. "Adik gue, adik gue di perkosa sama salah satu anggota Gundala, dan sekarang adik gue gak mau keluar rumah dia depresi hampir sebulan ini." tentunya ucapan Asep membuat semuanya membulatkan mata.
"Adik lo yang SMP?" Gagal cukup kaget mendengarkan penuturan Asep.
"Iya, makanya gue balas semuanya. Gue ngerasa jadi abang yang gak berguna buat adik gue, bahkan jaga aja gue gak bisa." -Asep.
…
Basecamp begitu ramai sekarang, Anak-anak habiskan dengan bermain-main. Meski besok masih pada masuk sekolah namun tak membuat mereka menjadi alasan untuk berkumpul. Keenam inti Alastair berkumpul mereka membahas rencana untuk penjagaan Runa.
"Tar, gue mau lo bagi sebagian anak buat jaga Runa dari jauh." ujar Shaka membuat semuanya saling tatap.
"O-oke Sa, tenang aja. Runa pasti aman." seru Tara.
"Gue setuju sih sama lo Sa, apalagi setelah kejadian waktu itu. Gue yakin Gundala gak bakal diam begitu aja." ujar Arthur membuat semua nya mengangguk.
Rasya berucap. "Ucapan kita waktu itu beneran terjadi, sekarang Runa masuk ke dalam masalah kita, yang artinya dia adalah sasaran utama kelemahan lo Sa." ujar cowok blasteran tersebut.
"Sa, lo yakin mau jaga dia? maksud gue, lo tau kan liciknga Gundala gimana?" tanya Rayn pelan.
"Yakin." itu adalah balasan Shaka.
…
Makin panas aja nih :D