Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kesempatan kedua?



Runa menggenggam erat selimut, meredam tangisan, emosi dan kekecewaan yang bercampur aduk. Arfan, menatap Runa dari ambang pintu. Tak berhenti mulutnya mencecar Runa dengan berbagai pertanyaan.


"Jawab gue Runa! Lo dari mana aja jam segini baru pulang! Terus main nyelonong gitu aja, lo kenapa gak telpon gue tadi pulangnya?" Arfan menyerang Runa dengan berbagai pertanyaan.


"Maaf Bang, tadi Runa mau telpon Abang. Tapi gara-gara ponsel Runa mati baterai jadi gak jadi,"


"Lo nangis?" Arfan mengamati Runa, terlihat jelas pada matanya yang sembab serta hidungnya yang merah.


"Kenapa lagi, sini cerita sama gue. Atau gara-gara Shaka lagi? Kan udah gue kasih tau Runa sama lo, kalau---"


"Runa sama kak Shaka udah putus, jadi kalau Abang mau marah lagi, mending gak usah, Runa males debat sama Abang." Kata Runa dengan sarkas.


"Bagus kalau gitu," Arfan bisa sedikit bernapas lega sekarang. Tangannya terulur meminta sesuatu pada Runa. "Mana handphone lo?" tanya Arfan pada Runa.


Runa mendongak. "Buat apa?"


Mendengus sebal. "Mana ponsel lo, sini!" paksa Arfan. Membuat Runa harus segera memberikan ponsel kesayangan nya pada sang Abang.


"Emang buat---" belum Runa melanjutkan perkataannya, Arfan dengan cepat mengeluarkan kartu SIM setelah itu mematahkan nya menjadi dua. "ABANG!" pekik Runa.


"Besok lo beli yang baru, hapus semuanya dari Shaka. Dan jangan pernah berhubungan lagi sama dia," suruh nya. "Satu lagi, dua minggu lagi lo harus pindah ke Jogja. Gue udah urus semua pindahan lo. Jadi, setelah ujian selesai lo harus ke Jogja," lontar Arfan dan pergi keluar.


Runa menatap kartu SIM nya yang terbuang di kotak sampah, tangisnya kembali datang saat momen-momen antara dirinya dan Shaka berputar.


...


Melangkah memasuki sekolah, dengan helaan napas yang terdengar berkali-kali. Runa memantapkan hati untuk masuk ke dalam kelas.


"Pulang hubungin gue. Nomernya udah gue ganti tadi pagi," ungkap Arfan. "Ingat, Kata-kata gue tadi pagi!"


Runa mengangguk singkat. "Iya, Runa pamit." perlahan Runa menuruni mobil dan masuk ke dalam sekolah, dengan raut wajah yang cukup susah diartikan.


Belum sampai di depan kelas, pekikan namanya terpanggil. Sudah Runa pastikan sosok yang memanggilnya adalah -Shaka. "Runa,"


"Duluan, ada tugas yang belum aku selesaikan." Memilih pergi dan tak memperdulikan yang lain.


"Aku tau Na, aku salah. Meski perkataan kamu kemarin benar, aku bakal berusaha buat kayak dulu lagi,"


Kadang memang sayang dan cinta itu datang tanpa kita minta, dan lebih parahnya selalu diakhir cinta itu datang.


Shaka menoleh sekilas ke arah kelas Runa. Gadis itu sedang menyendiri memojokkan dirinya dan menutupi kepalanya dengan jaket, melirik ke kanan ke kiri mencari Vanya.


"Maaf Na," sesal nya.


Shaka langsung pergi meninggalkan ruang tempat kelas Runa, akibat bel masuk telah berbunyi.


Hampir tiga jam pelajaran pagi ini, namun salah satu dari sekian banyaknya materi, sama sekali tak masuk ke dalam otaknya. Runa mengacak rambutnya sebal. "Van, kamu mau ke kantin?"


"Iya, yuk kantin. Gue udah lapar," ajak Vanya.


"Aku boleh titip gak? Lagi males ke kantin," tepatnya menghindari Shaka.


Vanya tersenyum memahami, walau dirinya masih tak tau apa yang terjadi, tapi terlihat jelas dari raut wajah Runa. "Boleh, lo mau titip apa?"


"Susu sama roti coklat," menyerahkan selembar uang berwarna hijau dan ditepis pelan oleh Vanya.


"Santai aja kali, biar gabung aja sama gue. Biar gue nya gak bingung," setelah mengatakan hal itu. Vanya melangkah pergi meninggalkan kelas.


"Itu roti sama susu nya buat siapa?" Vanya ter lonjak kaget. Cewek berambut sebahu menoleh ke belakang.


"Ngapain lo!" ketus Vanya, dengan wajah yang tak bersahabat.


Shaka menatap Vanya mengerti, jika cewek itu tak suka padanya. "Loh loh loh, kok lo ambil!" kesal Vanya saat Shaka dengan seenak jidatnya mengambil roti yang dia beli.


"Ini buat Runa kan?" tanpa menangapi perkataan Vanya, Shaka langsung mengambil sepotong roti coklat tal lupa susu.


"Bu, sekalian bayar punya dia!" Shaka memberikan selembar uang pada bu ibu penjual di kantin.


Menatap kepergian Shaka dengan senyuman remeh. "Rasain lo, makan tuh perjuangan." ejek nya. "Semoga lo belajar sih kak, biar bisa menghargai orang." sambung Vanya dalam hati.


Sedikit menegakkan tubuhnya ketika suara langkah kaki terdengar. "Makasih Van--" katanya perlahan mengecil. "Kamu boleh keluar," usir Runa sambil menatap ke luar kelas.


"Kamu boleh pergi kak," ujar Runa dengan nada bergetar. "Rotinya kakak bawa aja, Runa udah kenyang." sambung nya.


"Sekali aja," mohon Shaka.


"Apa? Apa lagi yang mau kamu jelaskan? Apa kurang cukup yang aku bilang kemarin. Mulai hari ini aku mau kita jadi sosok yang gak pernah ketemu satu sama lain, sosok yang asing dan hanya sebatas senior dan junior," kata Runa dengan tegas.


...


Berdiri di halte bis, menatap anak-anak yang satu persatu meninggalkan gedung sekolah. Runa, dia sedang menunggu kedatangan Arfan. Kata Arfan, dia sedang berada di jalan.


"Belum pulang?"


"Belum," balas Runa singkat.


"Na, gak ada kesempatan lagi buat rubah semuanya?" tanya Shaka yang masih berharap.


Runa berdehem singkat. "Aku rasa kesempatan kemarin udah pas buat kamu," Runa perlahan bangkit dari kursi bersamaan dengan Shaka yang menahan dirinya pergi.


"Sebegitu bencinya kamu sama aku?"


"Sebegitu percayanya kamu sama kak Kania?" Runa melontarkan pertanyaan yang sama dan menatap Shaka. Terlihat jika gadis itu tengah menahan tangis.


"Lepasin aku, dengan ini kita bisa memulai hal yang baru," bisik Runa dengan nada bergetar.


Tak lama suara klakson berbunyi, membuat Runa sedikit mendorong pelan tubuh Shaka menjauhi dirinya. "Masuk!" perintah Arfan dengan tegas.


"Duluan kak," pamit Runa dengan berbisik. Sedikit mempercepat langkah untuk masuk ke mobil.


Shaka hanya bisa menatap mobil yang perlahan menghilang dari pandangan, baru sehari sudah sesusah ini. Bagaimana dengan Runa yang hampir 6 bulan.


"Shaka," namanya terpanggil. Membuat Shaka menoleh ke belakang. "Kamu ngapain disini?" tanya Kania.


"Bukan urusan lo," jawab Shaka dengan nada dinginnya.


Kania menatap Shaka dengan bingung, tak biasanya Shaka berkata dengan nada yang seperti ini. "Kamu kenapa sih? Aku ada salah ya?" tanya Kania pada Shaka.


Mengumpat dalam hati, Shaka menatap tajam gadis di depannya, dengan nada yang sedikit membentak Shaka mengusir Kania. "Jauhi gue, atau semuanya bakal ke bongkar." ujarnya.


Selanjutnya, Shaka melangkah menjauhi halte bis, dengan cepat dia menjalankan motor dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Kenapa sih?" heran Kania.


...


Shaka baru saja sampai rumah, menidurkan tubuhnya di atas sofa. Matanya menatap plafon, helaan napas berkali-kali terdengar.


"Ngapain lo?" Ale datang sambil menatap Shaka dengan nada yang tak bersahabat, membuat Shaka langsung mengubah posisi tiduran menjadi duduk.


"Le, lo tau gak cara buat luluhi hati cewek?" tanya Shaka pada Ale.


Kening Ale mengerut, tak biasa-biasanya Abangnya yang satu ini bicara tentang cewek ataupun bertanya soal beginian. "Kenapa?"


"Gue minta pendapat lo, bukan malah tanya balik." ketus Shaka. "Jadi gimana cara buat bikin cewek luluh," tanya Shaka kembali yang berhasil membuat Ale tertawa.


"Lo kesambet apaan?" Ale bertanya masih dengan tawanya yang menggelegar. "Bentar deh. Lo tanya gini, buat Si keket itu? Males ah, ngapain juga bahas tuh cewek keket." Ale melengos pergi.


"Runa," sahutan Shaka berhasil membuat langkah Ale terhenti. Cewek yang masih duduk di bangku SMP itu langsung kembali ke tempat duduknya semula.


"Kak Runa, ada apa sama kak Runa? Lo kan masih berantem sama dia? Kalian udah balikan? Atau kalian tambah masalah lagi! Oh pasti gara-gara uler keket itu kan? Udah gue bilang kan Bang kalau---" Ale menyerang Shaka dengan pertanyaan.


"Shuttt! berisik!" potong Shaka seraya menutup telinganya, niat hati ingin meminta pendapat malah ditanya.


"Kok marah. Kan gue cuma tanya," sahut Ale. "Lo sama kak Runa kenapa?"


"Putus," jawab Shaka. Sekian detik kemudian, Ale tersedak.


"Putus?" ujar Ale lantas tertawa kencang.


"Rasain lo, mampus kan. Udah dibilangin dari awal juga, makanya kalau di kasih saran di dengerin, naif sih lo." Ale menyerang Shaka dengan nada pedas.