
"Kamu istirahat aja ya," suruh Shaka pada Runa. Lelaki itu masih khawatir pada Runa jika terjadi apa-apa nantinya di dalam kelas.
Runa terkekeh pelan. "Ini cuma pipi doang yang ditampar, aku mau ke kelas aja." jelas Runa.
"Tapi kan Run--"
"Gak papa kak, cuma tamparan kecil doang kok!" seru Runa.
Menghela napas gusar, Shaka akhirnya mau memberikan ijin pada Runa untuk masuk ke dalam kelas. Meski hatinya masih diselimuti rasa khawatir. "Oke kalau itu mau kamu. Tapi ingat! Kalau Tania lakuin apa-apa sama kamu. Bilang ke aku," kata Shaka memperingati.
"Tenang aja kok," balas Runa tersenyum manis.
Mengulurkan tangan pada Runa, yang gadis itu terima dengan senang hati. Keduanya sama-sama berjalan menuju kelas, tepatnya Shaka yang mengantarkan Runa.
"Masuk sana," suruh Shaka sambil mengacak-acak gemas rambut Runa.
Mencabik bibirnya kesal. "Rambut Runa, jangan diacak-acak dong!" kesal Runa seraya menatap rambutnya kembali.
Shaka tertawa kecil. "Maaf," Runa menganggukkan kepala sebagai balasan.
"Aku masuk ya. Kak Shaka jangan bolos kelas," tunjuk Runa pada Shaka dengan jari telunjuk.
"Gak janji," balas Shaka.
Memutar bola mata jengah, Runa memilih masuk ke dalam kelas dengan buru-buru, banyak sekali pasangan mata yang menatap mereka.
Shaka kembali melangkah menjauhi kelas Runa, disaat Runa telah aman. Memilih untuk masuk ke dalam kelas yang sudah ada teman-temannya.
"Runa gimana Sa?" tanya Tara saat melihat Shaka masuk kelas.
"Mendingan," jawab Shaka singkat. Tanpa melupakan ekspresi datar nya. Membuat yang lainnya bernapas lega, syukurlah tak ada yang parah.
Shaka memilih duduk di samping Rasya. Sebagai pendengar anak-anak bercerita. Hanya Shaka dan Rasya lah yang mendengar dengan ekspresi serupa, datar dan dingin.
Namun jangan salah. Di balik wajah datar seorang Shaka, tercetak jelas sebuah rencana. Oke mungkin kali ini dia tak akan bermain kasar dengan seseorang yang mengusik ketenangan Runa.
Hanya sedikit memberikan peringatan tegas, maybe. Tak masalah bukan, Shaka tadi hanya berjanji untuk tak melukai Kania bukan untuk memberikan peringatan.
...
Jam pulang sekolah akan berbunyi 15 menit lagi, namun hal itu tak membuat Shaka diam. Sudah dari tadi tangannya gatal untuk segera menimpuk seseorang.
Karena sudah tak sabar, Shaka langsung bangkit dan pergi meninggalkan kelas begitu saja. Lagian jam terakhir pelajaran juga kosong, membuat semua murid di kelas bersantai sesuka hati. Tentunya hal ini akan membuat Shaka terbebas dari hukuman.
"Shaka, lo mau kemana?!" teriak inti Alastair.
Rasya yang ditatap anak-anak hanya mengangkat bahu, seakan dia juga tak tau Shaka kemana dan ngapain. Memilih melanjutkan mengerjakan tugas kantor yang belum terselesaikan.
Melangkah kakinya lebar-lebar, menelisik setiap sudut koridor kelas, napasnya sudah menggebu-gebu sedari tadi. Tangannya mengepal kuat.
Segaris senyum smirk terlihat, seseorang yang dari tadi Shaka cari, berada di depan mata.
Dengan mempercepat langkahnya, Shaka mencekal tangan orang itu dengan kasar, yang membuatnya marah.
"Aduh!" ringis nya. "Apaan sih, bisa lepasin gak?!" kesal nya, namun saat berbalik ke belakang suaranya menjadi berubah drastis, rendah dan lemah lembut.
Begitupun dengan ekspresi wajahnya yang langsung berubah, tatapan polos dan lugu. Membuat Shaka berdecih kasar, sampah! umpat Shaka.
"S-shaka?" dengan wajah tanda tanya, Kania menatap gugup wajah Shaka.
Menyeramkan
"Kayaknya cewek kayak lo emang harus di kasih kasar, biar jera!" Shaka tak gencar untuk mencekal kasar tangan Tania membuat cewek itu menjerit sakit.
"S-shaka lepas," mohon Tania dengan melas.
Tawa Shaka menggelegar di seluruh sudut koridor. "Lepas? Setelah kelakuan yang lo perbuat sama Runa, gue bakal lepasin lo?" tanya Shaka dengan menekankan kata per kata yang terucap dari mulutnya.
Tania dengan nyali yang tersisa sedikit langsung menatap Shaka dengan takut. "Runa lagi? Apa yang kamu lihat darinya? Cewek manja yang cuma bisa nangis doang. Cewek penyakitan, itu yang kamu suka?" cibir Kania tanpa dirinya sadari sudah membangunkan singa tidur dalam diri Shaka.
"Bilang sekali lagi?" cowok itu menyuruh Tania mengulangi lagi ucapannya.
Tania menggeleng, cewek itu baru sadar bahwa dirinya telah membuat Shaka marah.
"GUE BILANG ULANGI LAGI UCAPAN LO! BI*CH!" Teriak Shaka murka, cowok itu langsung mendorong Tania ke tembok.
Shaka langsung menarik kerah Tania. Tak peduli orang yang dia sakiti adalah wanita. Salahkan siapa dulu yang berhasil membuat nya murka.
"Sebenarnya gue gak mau main tangan sama lo, apalagi gue udah janji buat gak main kasar sama cewek. Tapi kalau ceweknya kayak lo, emang pantes buat dikasari." Shaka menatap Tania, cowok itu tersenyum miring.
"Gue kasih peringatan ke lo, peringatan pertama dan terakhir kalinya buat lo! Kalau sampai gue denger lo sakiti Runa atau bahkan cari masalah sama dia, jangan harap besok lo bisa injak kaki lo di sekolah ini. Ngerti lo!" Tegasnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Tania.
Untung saja koridor tak ramai, kedua ribut di dekat taman dimana tempatnya tak terlalu ramai jam segini. Selepas kepergian Shaka, Tania merapikan seragam serta rambutnya.
Cewek itu tertawa. "Jangan harapkan hal itu terjadi Shaka," gumam cewek itu.
"Oke no problem, nanti kita lihat siapa yang bakalan menang. Gue atau Runa." Licik, Tania emang licik tapi hal itu dia tutupi selama ini dengan sejuta prestasi yang dia peroleh.
…
Bel pulang sekolah telah berbunyi, Runa dan Vanya sedang membereskan buku mereka masing-masing. Runa menoleh ke samping ketika Vanya sedari tadi menyenggol lengannya.
"Ada apa?" tanya Runa.
Vanya menunjukkan ke ambang pintu, tepat sekali ada Shaka di sana melipat kedua tangannya di depan dada sambil memainkan kunci motor.
Beruntung nya kali ini Shaka tak menampilkan wajah datar nanti dinginnya itu, jika itu terjadi. Dapat dipastikan anak-anak yang lainnya belum pada pulang.
"Cie yang dijemput di depan kelas, untung gak di depan gang lo. Gue duluan ya? Supir gue udah di depan soalnya, oh iya tangan lo udah membaik?" tanya Vanya, menenteng tas nya.
"Ah, udah kok udah membaik. Ati-ati ya di jalan,"
"Yoi, duluan. Duluan kak," sapa Vanya pada Shaka yang hanya di balas anggukan kecil oleh cowok itu.
"Udah selesai?" tanya Shaka, membantu membawakan tote bag Runa.
"Udah kak, tumben banget jemput sini? Biasanya tunggu di parkiran?" gak biasanya Shaka menjemput Runa di kelas, karena setiap pulang ataupun berangkat hanya sampai parkiran dan itu tak lebih.
"Biar gak ada hama yang ganggu," Runa hanya mangut-mangut paham, gadis itu mengerti dengan ucapan Shaka.
"Nih helmnya pakai, mau makan gak? Sekalian." tanyanya.
"Gak usah deh kak, nanti aja di rumah sekalian masak buat abang juga." Shaka paham dan mengerti, cowok itu menyalakan motor, membantu Runa naik.
"Udah belum?"
"Udah dong, yuk pulang!" Runa menepuk kedua pundak Shaka, dan memeluknya dari belakang.
...
Yuk lah jejaknya jangan lupa ☺