Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Keributan



Angin malam begitu menusuk tulang. Suara deru motor terdengar bersautan. Teriakan serta tepuk tangan terdengar.


Jam semakin larut, namun tak membuat keenam cowok itu bangkit dari tempat duduknya. Shaka dan yang lainnya masih duduk santai, menunggu giliran.


"Yok opo Fik? Menang ora?"


"Lho yo menang rek, anake sopo disek?" Cowok bernama Raffi dengan suara medok nya itu baru saja menyelesaikan lombanya.


"Siapa dulu yang ajarin?" Bram dengan bangga berucap.


"Sombong lo Bram!" cetus Arthur. "Eh tuh, buruan giliran lo," tunjuk Arthur ke arena balapan.


Bram mengacungkan jempolnya, cowok itu berlari ke arena balapan. Disusul dengan yang lainnya. Sebagai supporter tentunya.


Kedua motor itu beradu di jalanan sepi, Bram menjalankan motor di atas rata-rata, Keduanya sama-sama fokus ke depan. Motor yang sama-sama kencangnya telah berada di samping Bram.


Saat sampai garis finish, dengan sengaja orang itu menendang motor bagian belakang Bram, agar membuat Bram terjatuh dan kalah.


Licik


Bram yang memang tak seimbang, lalu terkena tendangan di bagian belakang motornya, membuat cowok itu oleng ke kanan dan terjatuh.


Kejadian itu tak luput dari mata anak-anak Alastair yang sedang menonton, semuanya menatap ke arah Barat, dimana tempat Gundala berada.


"KALAH TINGGAL KALAH KALI, BUKAN LICIK BEGINI!" teriak Tara, cowok itu menatap kesal ke arah lawan.


Rasya menahan yang lainnya untuk melawan Gundala. Cowok itu tau, bahwa ini semua adalah rencana Gundala, agar keduanya terjadi keributan.


"Berhenti! Kita urus Bram dulu," cegat Rasya.


Semuanya menghampiri Bram, cowok itu terduduk di atas aspal. Dalam hati Bram tak berhenti mengumpat, mengapa bisa dia kecolongan begini.


Sudah tau jika Gundala licik, kenapa gak disiapin dari awal coba?


"Lo gak papa?" Rayn membantu Bram untuk bangkit.


Bram mengangguk simpul, cowok itu tak masalah, tak ada cedera juga. Namun hanya kesal saja. Rasya membantu mengangkat motor, dan memarkirkannya dengan benar.


Arthur berdecak kesal. "Gila tuh bocah, kagak ada ape sekali gitu main aman,"


"Gak aman gak makan," sahut Shaka, cowok itu masih menatap tajam ke arah Barat, dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam saku.


Gundala, sedang asik merayakan kemenangan salah satu anggota mereka. Galang -ketua Gundala dengan senyum sinis yang tercetak jelas di bibir cowok itu, tak kalah menatap tajam ke arah Shaka.


"Misi pertama berhasil," batin Galang.


Anggota Gundala berjalan menghampiri Shaka dan yang lainnya. Anggota yang berhasil memenangkan perlombaan mengulurkan tangannya, meminta uang kemenangannya.


"Duit," ucapnya singkat.


Bram merogoh sakunya dan memberikan amplop coklat pada cowok itu. Yudha, cowok yang berhasil membuat Bram kalah, tersenyum menerima amplop itu.


"Perdananya Alastair kalah," cibir Galang.


"Jaga ya mulut lo! Alastair gak akan pernah kalah, apalagi sama lawan yang mainnya licik kayak lo. Udah licik gak tau diri lagi." Arthur tak kalah pedas mencibir Gundala.


"Gak licik gak menang kali," sahut Rayn tak tinggal diam.


"Udah gitu, main patungan lagi." Tara juga ikut-ikutan.


Yang disambut gelak tawa Alastair, membuat keributan di mulai. Bayu -tangan kanan Gundala. Cowok itu tak terima, langsung saja melawan salah satu anggota Alastair yang dari tadi hanya diam.


Keributan di mulai, kedua kubu itu saling bertarung. Pukulan demi pukulan terdengar, membuat sebagian orang yang berada di sana terdiam.


Tak ada yang berani memisahkan, yang ada malah mereka kena imbasnya.


Satu terusik, semua maju.



Adik kakak ini sedang bersantai, setelah makan malam selesai. Keduanya memutuskan untuk menonton TV. Rumah masih begitu sepi, bunda dan ayah masih berada di Jogja.


Dan entah kapan keduanya balik lagi, bilangnya sih sebentar lagi, namun hingga dua minggu masih saja belum kembali.


"Bunda sama ayah kapan ya baliknya?" gumam Runa.


"Secepatnya, do'ain aja nenek cepat membaik keadaanya," balas Arfan.


"Yaudah bang, Runa naik dulu. Ntar telat lagi kayak kemarin," ucap Runa.


"Kemarin gimana? Lo dihukum?" tanya Arfan, sebelum Runa kemabli ke kamar.


Runa mengangguk malas. "iya dihukum, gara-gara abang sih! Gak bangunin Runa, jadi telat kan."


Arfan mendelik tak terima. "Lha kok gue?"


"Ya emang abang yang salah kok," Ucap gadis itu tak mau kalah. "Runa naik ya bang, abang jangan begadang terus, Runa naik bye bang!" sebelum naik, Runa memeluk Arfan dan kecupan manis mendarat pada keningnya.



Berjalan mengendap-ngendap, Shaka baru saja pulang pukul 2 dini hari, Setelah keributan tadi, mereka kembali ke basecamp untuk mengobati beberapa luka, meskipun tak serius hanya luka kecil.


Seketika lampu ruang tamu menyala, di sana sudah ada Lea yang melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dari mana kamu?" tanya Lea dengan lembut. .


Shaka tersenyum kikuk, "Dari luar ma," ucapnya.


"Coba kamu lihat jam, jam berapa sekarang?" tanya Lea kembali.


"Jam-" Shaka menatap jam diding, sudah jam dua ternyata. "Dua ma," lanjutnya.


Lea menghampiri Shaka menatap lebih rinci apa yang baru saja dia lihat. "Bibir kamu kenapa?" tunjuk Lea.


"Biasa ma,"


"Ribut lagi?!" Shaka mengangguk. "Ih kamu ya, udah mau kelas dua belas juga, masih aja berantem." Lea dengan gemas menjewer telinga Shaka.


"Aduh.. i-iya ma, lepasin dulu, sakit." ringis bocah itu, walaupun tak sakit.


Lea melepaskan jeweran nya. "Shaka, kamu gak sayang apa sama badan kamu? Jangan gini terus, kalau ada masalah itu di bicarakan baik-baik bukan berantem kayak gini."


"Kalau kamu gini terus, yang ada nanti orang-orang ngira, mama gak bisa didik kamu. Mama gak nyalahin kamu kok buat balapan atau ribut. Hobi boleh, tapi jangan sampai berlebihan kayak gini, gak baik juga." Lea mencoba memberi nasihat.


Shaka mengangguk, dirinya menundukkan kepalanya.


Lihatlah, shaka seperti bocah lima tahun yang terkena amukan dari mamanya, kalau sama Lea Shaka gak akan berani, beda halnya dengan Al.


"Iya ma, Shaka usahain."


"Iya, ya udah. Sana tidur, udah diobatin kan luka nya?"


"Udah ma, tadi di basecamp."


"Bagus kalau gitu, sana istirahat. Besok kamu sekolah kan? Udah jam setengah tiga juga, jangan lupa ganti bajunya." ujar Lea, meninggalkan Shaka dan kembali ke kamar.


Cowok itu bangkit, mematikan lampu dan naik ke atas, tubuhnya juga sudah lelah.