Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Gramedia



Shaka tengah duduk santai seraya memainkan handphone miliknya, cowok itu telah rapi sekarang, tinggal berangkat saja. Menatap jam di layar handphone Shaka langsung bangkit dan pergi keluar.


"ABANG! STOPP!" teriak Ale seraya melebarkan kedua tangannya untuk menghentikan Shaka.


"Abang pasti ke basecamp kan? kebetulan Ale ada urusan juga di dekat sana. Jadi anterin Ale ya bang." ucap Ale, memohon.


"Gak!" tolak Shaka.


"Ayolah anterin Ale, abang ke basecamp kan, nah maka dari itu Ale numpang. Ale mau ke gramedia abang, anterin ya please!" Ale masih mencoba untuk merayu abangnya ini.


"Gak mau," tolak Shaka sekali lagi.


Ale menghentakkan kakinya kesal. Kalau bukan karena mama gak mungkin dia mohon-mohon ke Shaka. "Anterin lah, disuruh mama. Beneran gak bohong!"


"Gak peduli, minggir!" usir Shaka.


"Ayo! Anterin, bang lo jangan pelit-pelit entar kuburan lo sempit tau rasa lo! Anterin ya, sumpah gak bohong emang suruh mama. Tadi mama telpon suruh lo yang anterin."


"Gak mau, gue ada urusan. Pergi sendiri kenapa? Naik ojek kek atau suruh Pak Putu buat anterin lo,"


"Lo lupa Pak Putu pulang kampung, emang lo mau kemana?" tanya Ale.


"Jalan," balas Shaka singkat.


Ale berdecak kesal. "Cuma jalan doang, anterin gue lah. Nanti pulangnya gue naik ojek."


"Ya udah naik ojek aja sekalian berangkat-pulang." memang Ale menyusahkan, ada yang mudah kenapa harus yang susah.


"Gak, biar gue gak bayar dobel gitu. Anterin bang, ayo gue butuh banget bukunya. Buat ujian besok, ayo please." ucapnya seraya memohon.


Sedikit info buat Ale, namanya Alexis Jude Aldebaran, cewek itu berusia 13 tahun sekarang. Tahun ini dirinya akan naik ke kelas 2 SMP. Umurnya dengan Shaka terpaut 5 tahun yang artinya tahun ini umur Shaka menginjak 18 tahun.


Memiliki hobi memasak, sama seperti sang mama, Membuat Ale harus menjadi sasaran abangnya untuk membuat makanan. Memiliki hobi rebahan, dan paling benci dengan pelajaran.


Bagi Ale belajar di sekolah itu sudah cukup, waktunya dia habiskan untuk menonton drama, baca novel, tulis cerita. Meskipun begitu Ale cukuplah pintar, bodoh juga gak pintar juga gak. Rata-rata lah.


"Ogah, lo bisa gak sih gak ganggu hidup gue sehari aja. Lo udah gede, harus mandiri." tegas Shaka.


"Kalau bukan karena mama juga gue gak mau ngemis-ngemis ke lo kali!" kesal Ale. Cewek itu menatap Shaka kesal, sebenarnya dia juga gak mau buat minta ke Shaka, tapi karena Lea doang yang suruh ya mau gimana lagi.


Dirinya tak mau di cap sebagai anak durhaka nantinya, jika tak menuruti kata sang mama tercinta.


"Anterin gue, beneran bang. Kalau gak percaya lo telpon mama deh. Orang mama yang suruh," ucap Ale meyakinkan abangnya ini.


Memang susah sekali untuk membujuk Shaka. Entah harus memakai cara apa agar membuat cowok itu mau mengantarnya.


"Lo minta gue anterin dan situ maksa gitu?" seru Shaka. "Gue anterin dengan satu syarat, kalem dikit." lanjut Shaka.


Ale mengeram kesal. "Oke, abang Aksa yang baik dan tu-"


"Siapa Aksa?" potong Shaka cepat.


"Nama lo kan?" tunjuk Ale.


"Gue arshaka ya!"


Terjadilah keributan diantara kedua adik kakak ini, Shaka yang tak mau namanya di rubah dan Ale si perubah nama tak ingin mengganti.


"Kalian ini ngapain berantem depan pintu?" Al serta Lea berdiri menatap kedua anak nya yang sedari tadi ribut, dari mulai masuk gerbang telah terlihat. Al hanya bisa menghela nafasnya kasar, mengapa sifatnya dulu turun ke Shaka.


"Kamu kok belum berangkat dek?" sekarang giliran Lea yang berkata.


"Shaka ada urusan ma," bela Shaka.


"Anterin gih bang, sekalian. Nanti pulang biar papa yang jemput Ale." ucap Lea dengan lembut.


"Kenapa gak dianter papa aja," gini nih anak gak tau diri, bapaknya baru pulang malah suruh antar.


"Papa kamu baru pulang, udah nanti mama transfer duit bensinnya, anterin Ale sana." ujar Lea.


"Oke, Shaka antar. Shaka berangkat Assalamu'alaikum!" tak lupa shaka menyalami kedua tangan orang tuanya, di lanjut dengan Ale.



Shaka menemani Ale mencari buku yang dia butuhkan cowok itu harus ikut ke dalam akibat Ale tak membawa dompet, memang Ale benar-benar menyusahkan.


"Lama bener lo cari buku nya!" ketus Shaka, sudah setengah jam cowok itu jalan bersama Ale namun hingga sekarang buku yang di cari Ale belum ketemu juga.


"Bentar kali bang, sabar." ujarnya, Ale mencari buku yang dia cari dari rak satu ke yang lain.


Sebenarnya Shaka sudah menawarkan untuk memberikan uang pada Ale, namun cewek itu tolak. Alasannya takut nanti gak pas, mau di transfer pakai handphone, eh handphonenya ketinggalan.


Jadi hari ini Ale salah bawa tas, tas yang ada handphone serta dompetnya berada di tas satunya lagi. Bukan tas yang dia bawa.


"Buruan cari kalau udah bilang ke gue," setelah mengucapkan itu Shaka pergi entah kemana, mending dia lihat-lihat yang lain daripada ngikutin Ale yang gak pasti.


"Iya bawel!"



Ketiga orang ini duduk santi dengan minuman mereka masing-masing, dia adalah Shaka, Runa dan Ale. Tadi saat Shaka keliling gramedia, matanya tertuju pada seseorang yang dia kenali dan berakhir di sini.


Dalam hati Ale tersenyum, cewek itu bersyukur ketika mengetahui bahwa gadis di depannya ini adalah pacar dari abang nya. Ale kira dulu abangnya homo akibat tak pernah dekat dengan wanita kembali.


"Kak yang sabar aja sama bang Shaka, dia emang gitu. Kalau gak di ajak ngobrol duluan gak akan bicara dia." bisik Ale pada Runa.


Runa tersenyum seraya menganggukkan kepala, gadis itu kira hanya dengannya saja. Ternyata bersama adiknya juga sama.


"Gak usah kasih pikiran kotor ke Runa!" ujar Shaka.


"Pawangnya marah," canda Ale yang membuat Runa terkekeh pelan.


Ketiganya melanjutkan kembali obrolan mereka, ralat hanya Ale dan Runa saja yang mengobrol, Shaka hanya menyimak obrolan keduanya.


"Anterin tuh kak Runa pulang, gue santai aja." ujar Ale, ketiga orang itu telah berada di parkiran kafe.


"Lho kamu naik apa?" tanya Runa.


"Aku gampang kok kak, bareng temen pulangnya. Soalnya ada barang yang mau aku beli lagi," ucap Ale.


"Duit lo?" tanya Shaka.


"Ada di tas." sebenarnya Ale bawa dompet sama handphone, tapi dia bilang ke Shaka buat gak bawa. Biar di bayarin gitu, dan sukses di bayarin.


Shaka hanya bisa mengangguk paham, begini lah Ale, alasannya banyak banget, walaupun begitu Shaka akan tetap membayari apa yang Ale beli.


"Gue ke sana dulu, bye bang, bye kak Runa! Kapan-kapan ketemu lagi." Ale pergi meninggalkan Shaka dan Runa.


"Aku antar pulang," ujar Shaka.