
Pagi ini seperti biasa Runa melaksanakan sarapannya bersama abang, bunda dan tentunya ada ayah. Kemarin lusa ayah baru pulang dari kegiatan luar kota nya.
Akhirnya Runa merasakan kembali kelengkapan ini, setelah hampir sebuah lebih tak bertemu sang ayah. "Yah, Arfan sama Runa pamit berangkat ya," pamit Arfan di susul Runa di belakangnya.
"Iya, semangat ya belajarnya, ati-ati di jalan bang," peringatan ayah.
Arfan mengacungkan jempolnya, keduanya sama-sama masuk mobil. Arfan masuk kelas pagi jadi dia bisa sekalian menghantarkan Runa berangkat sekolah.
"Bang,"
"Kenapa?"
"Kapan mau cerita ke ayah bunda, soal beasiswa abang?" Runa bertanya, sambil memecahkan keheningan.
"Secepatnya gue cerita," balas Arfan.
Runa hanya mengangguk paham. Di perjalanan tak ada yang membuka obrolan kembali, baik Arfan ataupun Runa. Hingga mobil Arfan berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
"Aku pamit bang, abang semangat kuliahnya." tak lupa Runa menyalami tangan Arfan.
Arfan mengecup kening Runa sekilas, lantas berkata. "iya, lo juga yang rajin belajarnya!"
…
Di kelas 11 IPS 5 lebih tepatnya di kelas Runa sedari tadi keadaan kelas ini begitu ramai seperti pasar malam, ada yang bermain kartu, menyanyi, bermain tik tok serta tidur-tiduran.
Karena kelas ini berada di lantai dua, membuat sebagian guru kadang tak masuk, lebih tepatnya banyak sekali disini guru-guru yang berusia lanjut dan membuat mereka tak sanggup naik ke atas.
"Varo! Lo di panggil dari tadi sama bu maryam. Buruan ntar marahi lagi." ujar Siska -bendahara kelas.
"Gak usah, udah biarin aja. Palingan bu maryam kasih tugas. Mending kita rebahan ya gak?" tanya Varo -si ketua kelas.
"YOI, MENDING REBAHAN, MUMPUNG AC NYA NYALA." ujar Hamsa.
Runa dan Vanya pun sama, keduanya tidur-tiduran dengan tas sebagai bantalnya, karena duduknya di pojok kiri membuat mereka merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Bagaimana tidak, mereka duduk di pojok kiri, terus dibagian belakang kedua. Dan paling dekat dengan AC, udah gitu bangku belakang mereka berdua kosong. Jadi bisa buat taruh barang-barang.
"Gue harus gimana lagi buat bisa dapatin hatinya kak Rasya," rengek Vanya.
"Cookies yang kemarin gimana di terima?" tanya Runa.
Vanya hanya menggeleng lemah. "Gak, maksud gue gak tau. Soalnya gue titipin ke kak Arthur sama kak Tara." ujar Vanya.
"Kenapa gak kamu kasihkan langsung?" kan bisa enak buat ngobrol berduaan gitu, biar bisa lebih dekat.
"Gak mau,"
Runa mengangkat alisnya sebelah. "Kenapa? Kan enak Van, bisa ngobrol berdua."
"Gak mau, dia jawabnya cuma geleng-geleng kepala sama nganguk doang, kan gue kesel, lagian ya kak Rasya itu bakal ngomong kalau penting doang, dia kan anaknya sibuk."
"Namanya juga pengusaha muda, di coba lagi dulu. Siapa tau bisa, kasih sesuatu yang dia suka, kayak barang, makanan atau kesukaannya yang lain." saran Runa membuat Vanya berpikir sejekap.
"Heh tanpa gue kasih, dia bisa beli se-pabriknya kali. Dia kan anak Sultan," Rasya dan Shaka itu sama, keduanya termasuk orang terpandang. Memiliki perusahaan di mana-mana.
Adipati Croup, perusahaan ini sudah meraja lela ke mana-mana, bahkan bila di sandingkan dengan Aldebaran Group keduanya sama-sama sukses, hanya beda beberapa persen saja.
Tak ayal jika mereka memakai pakaian atau barang yang mahal-mahal serta branded.
"Eh tapi boleh juga, lo tanyain dong ke kak Shaka, kak Rasya sukanya apaan. Biar gue kasih nanti, boleh ya?" mohon Vanya.
"Boleh, nanti aku bilang. Aku ke toilet bentar ya, kebelet. Bye Van," gadis itu pergi meninggalkan kelas, lima belas menit lagi istirahat tiba dan sampai sekarang kelas mereka masih tak ada yang mengajar kecuali jam pertama tadi.
…
Runa membasuh wajahnya di wastafel, setidaknya wajahnya lebih terlihat segar saat ini. Gadis itu telah selesai membuang air kecil, sesekali Runa bersenandung di kamar mandi yang sepi ini.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, ada beberapa orang yang sekarang menatap Runa dengan tatapan bencinya.
Tania
Tania bersama kedua dayang yang senantiasa berada di sampingnya ingin memulai aksinya dengan membully Runa.
"Gue udah bilang kan sama lo, jauhi Shaka!" geram Tania, cewek itu semakin menarik kuat rambut Runa sambil menatap tajam Runa dari arah cermin.
"K-kak, le-pas." ringis Runa, kepalanya seketika terasa pusing.
"Jauhi dia, atau lo bakal kena masalah," Tania menatap Runa dengan bencinya.
"Tapi kenapa?" tanya Runa sambil menahan rasa sakit di bagian kepala.
"Kenapa? Lo tanya kenapa? Ngaca! Muka lo itu standar, pake belagu lagi deketin Shaka, lo ngerti lo sama dia itu beda, lo berdua itu beda kasta. Harusnya lo sadar itu dari dulu Runa!" teriak Tania tepat di depan muka Runa, lalu cewek itu mendorong Runa hingga menatap ke tembok wastafel.
Bugh
Runa memejamkan matanya, punggungnya kembali nyeri sekarang. Tania mencengkram erat dagu Runa, cewek itu tersenyum remeh.
Tania tanpa aba-aba mendorong tubuh Runa hingga masuk ke dalam toilet, setelah itu buru-buru Tania kunci dari luar. Sebelumnya Tania menyalakan air kran terlebih dahulu.
"Selamat bermalam di toilet Runa, semoga aja lo gak selamat di dalam. Akibat kehabisan nafas," ujar Tania lalu tertawa, cewek itu melemparkan kunci kamar mandi entah kemana.
"Cabut," Tania dan kedua temannya langsung pergi keluar begitu saja, menghiraukan teriakan Runa yang meminta tolong.
Di dalam toilet kepada Runa semakin pusing, punggungnya semakin ngilu akibat Tania mendorongnya dan membuat punggung Runa tertatap kloset untuk kedua kalinya.
"A-ada orang kah di luar? tolong! t-tolong bukain pintunya!" ujar Runa dengan suara lirih.
…
Vanya sedari tadi telah menunggu Runa di dalam kelas, bel istirahat telah berbunyi sepuluh menit yang lalu, dan Runa masih belum kembali sampai sekarang.
"Runa, lo dimana sih? Jangan bikin gue khawatir dong," Vanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan Runa.
Sudah berkali-kali Vanya naik turun untuk mengecek Runa tapi sampai sekarang belum ketemu juga. Vanya sudah mencari ke tiap sudut kelas, ke perpustakaan, toilet serta ke kantin. Mulai dari atas hingga kantin dasar.
"Siska! Lo tadi habis ke toilet kan?" Siska mengangguk. "Lo lihat Runa gak di sana?"
"Runa? Aduh sorry van, gue gak lihat, tadi soalnya di toilet sepi sih." ujar Siska -bendahara IPS 5.
"Gitu ya? Yaudah deh, makasih ya." Vanya kembali berlari tujuannya kali ini adalah kantin, mungkin saja Runa berada di kantin terlebih dahulu.
Cewek itu kembali mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Runa. Vanya berdecak sebal. Runa sangat jago sekali membuatnya khawatir.
Mata Runa tertuju pada meja inti Alastair, cewek itu berlari ke arah sana. Mencoba bertanya, mungkin saja tau.
"Kak Shaka, lihat Runa gak?" tanya Vanya pada Shaka yang berkumpul bersama teman-temannya.
"Gak lihat, kan biasanya sama lo." ujar Shaka tak lupa dengan wajah datarnya.
"Makanya itu, tadi dia izin ke gue buat ke toilet. Udah hampir setengah jam dia gak balik-balik dari toilet." Kata Vanya.
"Emangnya Runa gak bawa handphone gitu?" tanya Shaka kembali.
"Gak, dia gak pernah bawa handphone-nya ke mana-mana kalau di sekolah," Runa itu kalau di sekolah gak akan mainin ponsel cuma di simpan aja di tas.
Seketika Shaka menjadi khawatir juga, Runa itu gadis polos. Mana mungkin dia bolos kelas, apalagi ini masih tahun ajaran baru.
"Ada apa nih?" tanya Rayn bersamaan dengan Rasya, keduanya baru selesai memesan makanan.
"Runa ilang." jawab Shaka.
"Culik kunti kayaknya," balas Tara dengan absurd.
"Ngadi-ngadi lo kalau ngomong! Mana ada kunti di siang bolong gini, ngaco lo!" Arthur tuh kadang mikir, kok bisa punya temen seabsurd ini.
Tara hanya menyengir, melanjutkan kembali ucapannya. "Ya kali aja gitu, kan Runa cantik. Mungkin aja kunti nya mau di temenin."
Bram yang ada di samping Tara langsung mengeplak kepala Tara lumayan keras, begini nih kalau kebanyakan micin, eh dia juga deng.
"Goblok! Yang ada kunti nya insecure lihat cewek kayak Runa." Ujar Bram ngegas.
Tara terkekeh pelan. "Santai-santai, jangan emosi."
Arthur menggelengkan kepala. "Mau bilang aneh, tapi itu lo Tar." Sahut Arthur.