
SEDIH TAU YANG LIKE BANYAK, YANG KOMEN DIKIT 😚
...
Hari ke hari, keadaan Runa mulai membaik. Setelah banyak sekali pertimbangan, akhirnya dia diperbolehkan pulang ke rumah.
Dengan syarat harus beristirahat untuk beberapa hari ke depan.
Itu semua syarat yang sudah Rama berikan, Rama hanya tak ingin jika nantinya gadisnya kembali terluka.
"Aku bantu," Rama langsung menggendong Runa ala bridal style, lalu memasukkan nya ke dalam mobil.
Setelah memastikan Runa nyaman, dia perlahan menutup pintu. Mengiringi mobil dan masuk ke dalam.
"Ingat ya, kamu gak boleh capek, harus banyak istirahat dan jangan telat makan!" ujar Rama mengingatkan.
Entah berapa banyak perkataan itu keluar dari mulut Rama. Hanya mengangguk kecil dan berkata iya.
Memilih untuk tidur, adalah cara terbaik yang Runa lakukan, agar tak mendengarkan banyak ceramah yang Rama lontarkan.
"Terus kerja aku gimana?" tanya Runa pada Rama. Masih menatap jalanan luar.
"Gimana kalau kamu keluar aja? Terus kerja di kafe," tawar Rama.
"Gak bisa gitu dong!"
"Kok gak bisa, kan bisa tinggal keluar aja. Minta surat risen," sahut Rama dengan santainya.
"Gak bisa Rama, aku terikat kontrak. Kalau aku keluar, yang ada aku kena pinalti," jelas Runa.
Jadi sebelum penerimaan karyawan, perusahaan akan memberikan selembar kertas berisikan point penting dalam perusahaan.
Dan salah satunya adalah, tak boleh keluar kantor dengan alasan yang tak signifikan. Minimal harus bekerja dalam waktu 5 tahun. Itu masih minimal, belum maksimal.
Yang lebih parah nya, harus membayar uang ganti rugi dengan nominal lumayan besar, kalau dihitung-hitung. Mungkin gajinya tak akan cukup untuk membayar.
"Cuma aku gak mau nanti kamu sakit lagi," balas Rama.
Runa tersenyum, dan mengangguk mengerti. Dia tau Rama khawatir, tapi masalah ini harus dipikirkan kembali.
Ditambah lagi, kalau Runa keluar dengan alasan Rama yang cemburu itu benar-benar tak masuk akal bukan.
Masa iya, keluar dari perusahaan yang cukup terkenal dengan masuknya yang susah. Runa harus keluar dengan alasan begitu, kalaupun iya Runa akan menyesal.
"Kamu tenang aja. Aku bakal jaga diri kok," Runa mengusap lengan Rama dengan lembut, mencoba untuk memberi pengertian.
Mendesah kesal, kalau masalah debat Runa jangan ditanya lagi. Pasti akan ada saja jawabannya. "Janji," Rama mengulurkan jari kelingking nya.
"Janji," Runa sama-sama mengulurkan jari kelingking nya dan langsung mengaitkan nya pada kelingking milik Rama.
"Rama, cari makan dulu boleh? Runa laper," seperti biasa, menampilkan wajah memohon nya agar Rama mau menuruti kemauannya.
"Boleh. Cuma aku gak aku beri izin buat kamu makan pedes,"
"Yah kok gitu!" protes nya.
"Karena gak gini," balas Rama. "Iya atau nggak sama sekali," tegas Rama.
Kalau sudah begini Runa harus menurut. "Tapi dikit aja boleh ya?" masih saja berusaha. "Oke deh, daripada gak makan."
Tertawa kecil, melihat wajah Runa yang berubah kesal. "Demi kebaikan kamu sayang,"
Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi kini berhenti tepat di depan sebuah resto nusantara. Selesai memarkirkan mobil dengan tepat, ke-dua nya masuk ke dalam.
Di sisi lain, Shaka terduduk di pinggir kolam. Memasukkan kakinya ke dalam kolam, menatap langit.
"Dicariin ternyata disini," Ale datang dan ikut duduk di samping Shaka, ikutan untuk memasukkan kakinya ke dalam kolam.
"Lo kenapa?" tanya Ale pada Shaka.
Ale tau jika Abangnya lagi ada masalah, inilah yang tak Ale suka dari Shaka. Selalu memendam perasaannya, padahal apa susahnya untuk berbagai cerita?
Bukannya itu malah membuat hati lega?
"Ada masalah?" tanya Ale kembali.
Lagi dan lagi, Shaka diam tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ale. Mendengus kesal saat pertanyaan tak di jawab, Ale berkata kembali. "Jujur gue benci liat lo diam gini," ungkap Ale.
"Seakan akan, kita semua gak ada di samping lo. Lo tau gak, dengan lo diam gini gak bakal selesaikan masalah Bang!" tegas Ale.
"Gue tau," hanya dua kata yang berhasil keluar dari mulut Shaka.
"Terus kenapa lo diam? Apa salahnya sih, buat lo bagi cerita ke kita. Buat lo sharing masalah lo ke kita. Mungkin aja kita bisa kasih solusi ke lo,"
Beralih menatap Ale. "Gimana cara nya buat bikin Runa percaya lagi ke gue?" tanya Shaka pada Ale.
"Kak Runa lagi? Astaga, kapan sih masalah ini berakhir. Capek tau gak!" sungut Ale dengan kesal.
"Ya lo buktikan ke kak Runa, kalau lo bisa berubah. Lagian lo juga aneh sih jadi orang! Udah dikasih kesempatan malah ngilang," Ale memang tau sedikit tentang masalah 3 tahun yang lalu.
"Bingung gue sama lo. Kok bisa lo ngilang, terus balik balik lo malah gak sadar." Ale dibuat terheran-heran. "Mana mabuk lagi," sambung nya.
"Ada yang lo sembunyikan, dari kita semua?" Ale memicingkan matanya curiga.
"Kenapa semua orang gak ada yang percaya, sama pernyataan gue?" bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan Ale, malah balik melayangkan pertanyaan.
Berdecak kesal, Ale menjawab. "Karena otak lo sesat! Makanya gak ada yang percaya," balas Ale dan segera berlari masuk ke dalam.
"Masuk Bang! Bentar lagi ujan!" pekik Ale dari dalam.