
Hari yang cerah untuk mengawali pagi hari yang indah, mentari bersinar terang. Tidak terlalu panas, tapi cukup menghangatkan.
Pagi yang cerah ini, gadis dengan seragam yang rapi tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Runa, gadis dengan rambut yang dia ikat kuda akan memutuskan untuk masuk ke sekolah. Setelah kemarin tak masuk dengan alasan sakit.
Runa mengatur napasnya berkali-kali, gadis itu memegang erat tali tas, menatap sekeliling sekolah. Setelah itu melangkah kan kembali kakinya masuk ke dalam kelas.
"Runa!" Vanya berteriak memanggil namanya, cewek itu berada di ambang pintu.
Menatap kaget kedatangan Runa. Lalu berlalu menghampiri Runa dan duduk di sampingnya.
"Lo gak papa kan? Kok lo gak masih sih kemarin, lo sakit ya? Sakit apa sih, sampai gak masuk gini. Lo tau gak, lo bikin gue khawatir aja tau!" Vanya menyerang Runa dengan berbagai pertanyaan.
Runa hanya bisa tersenyum masam, gadis itu mengusap punggung Vanya dan memberikan sebotol air. "Tenang dulu, tanya satu-satu."
"Gimana gue tenang sih, inget sahabat gue sendiri sakit begini. Mana gak di balas lagi pesan gue, ditelpon juga gak di angkat." Vanya berucap dengan menggebu-gebu.
Runa meringis pelan. Mencoba mengatur napasnya kembali. "I-iya, kemarin asam lambung aku kumat, jadi aku putusin gak masuk ke sekolah deh. Maaf ya Van, kamu jadi sendirian kemarin."
"Asam lambung lo naik? Terus sekarang gimana? Gak papa kan, udah membaik kan?" tanya Vanya sekali-lagi.
Runa membalas dengan anggukan cepat sambil tersenyum manis. "Iya Alhamdulillah, aku udah baik-baik aja. Lagian kalau aku masih sakit, gak mungkin juga aku masuk kelas hari ini."
Vanya bernapas lega. "Syukurlah kalau gitu, gue kira sampai parah banget. Gue kan khawatir sama lo, sorry ya gue kemarin spam chat mulu, soalnya gak biasanya lo jawab lama banget."
"Iya Van, gak papa. Aku tau kamu pasti khawatir, Tapi lain kali jangan diulangi lagi, bisa ganggu orang tau." Runa mencoba memberi saran.
"Berarti gue ganggu lo dong?" Tanya Vanya, kali ini dengan suara yang cukup rendah.
Runa seketika gelagapan. "Eh, maksud aku, gini. Bukannya ganggu tapi gimana ya---"
"Gue becanda, jangan takut gitu dong. Iya, gak akan gue lakuin lagi hehe." ujar Vanya yang diakhiri tawa.
Lain tempat, tepatnya di roof top sekolah. Shaka berdiri menatap ramainya jalan yang dipenuhi oleh kendaraan yang lalu-lalang. "Runa masuk tuh, jelasin sana." pernyataan tersebut berhasil membuat Shaka membalikkan badan serentak.
Rasya, laki-laki berpakaian paling sopan diantara yang lain, kini berdiri tak jauh dari Shaka.
"Ntar, gue bilang ke dia."
Rasya hanya bisa memutar bola mata malas. "Terserah lo sih, gue cuma mau ingetin lo aja. Dia udah tau semuanya, dan dia bisa kapan aja pergi dari lo, tanpa lo minta." Selanjutnya Rasya melangkah pergi, meninggalkan Shaka yang berdiri tegang di tempat.
Seketika hati Shaka kembali ragu, ragu untuk berkata jujur pada Runa dan ragu untuk membuka hatinya dengan yang baru.
...
Hari ini adalah hari ke tujuh, paska hubungan Runa dan Shaka merenggang. Pastinya kalian tau, apa yang terjadi. Yap, kebenaran telah terungkap.
Satu minggu juga, Shaka dan Runa memilih untuk menjauh, errr tepatnya Shaka yang menghindari.
Setiap kali Runa ingin berbicara berdua bersama Shaka, selalu saja laki-laki itu menghindari, alasannya pun tak masuk akal.
Sampai akhirnya, kemarin malam, keduanya memutuskan untuk membicarakan hal ini baik-baik, baik Shaka maupun Runa tak ingin berpisah satu sama lain. Dan Runa juga tak masalah, dia hanya ingin seperti dulu kembali.
Namun apa jadinya jika kejadian diluar nalar terjadi? Tepatnya saat Runa ingin mendengarkan secara detail semua yang terjadi dari mulut cowok itu sendiri.
Shaka malah memarahinya, dan membentak Runa. Lantas berkata "Kamu bisa gak sih gak tanya ini terus! Aku udah bilang beberapa kali sama kamu, aku bakal ceritain semuanya, tapi gak sekarang!" bentak Shaka.
Siapa yang gak kaget kalau digituin?
Runa langsung menundukkan kepala. "Maaf, tapi kan maksud aku, aku cuma mau kamu cerita ke aku." kata Runa dengan pelan.
"Iya aku tau, kamu bisa ngertiin aku gak sih? Aku tau kamu mau denger semua, tapi apa boleh buat? Aku gak bisa katain semuanya sekarang!" katanya membentak.
"Yaa, aku salah. Aku tau itu, tapi aku cuma mau kamu cerita sama aku sedikit aja, apa salah ya?" cicit Runa.
"Salah!" bantah Shaka dengan cepat.
"Udahlah aku ajak kamu ke sini niatnya buat mau bilang semuanya baik-baik, aku gak mau ribut aku mau balik dulu. Nih kamu bayar," sebelum meninggalkan kafe, Shaka memberikan beberapa lembar uang pada Runa, lalu Shaka pergi meninggalkan Runa yang terdiam diri di dalam kafe.
Runa menundukkan kepala, gadis itu meremas ujung rok dengan kuat, air mata yang sedari tadi dia bendung kini terjatuh dengan suka rela, tanpa permisi.
"Angkat kepala lo, mahkota lo jangan biarin jatuh gitu aja. Cuma karena cowok brengsek yang gak tau diri itu,"
Perkataan ini berhasil membuat Runa mengangkat kan kepala, gadis itu dengan cepat menghapus air matanya, dan menatap cowok di depannya dengan raut wajah bingung.
...
Hari paling menyebalkan jatuh pada hari Senin, hari dimana kita harus berdiri di panasnya sinar matahari selama satu jam lamanya.
Bram menatap Pak Edi -Kepala sekolah Trisatya, sedang berpidato di depan. Cowok itu sedari tadi tak henti menyumpah serapah dalam hati, dirinya berdoa agar upacara kali ini cepat selesai.
Kalau bisa sih, gak ada upacara sekalian. Doa nya tak terkabul, membuat cowok itu harus berdiri satu jam lamanya di bawah sinar matahari. Meski mereka bertujuh berdiri di belakang sama saja panasnya.
Shaka memberi kode ke ketiga temannya. "Cabut," ujarnya dengan pelan, membuat mereka semua mengangguk paham.
Dimulai dari Tara, Arthur, Bram, Rayn dan Shaka. yang terakhir. Rasya tak ikutan karena dia tak ingin dihukum, tau sendiri dia paling alim diantara yang lain.
Mereka menghela napas lega, keempat cowok itu berada di taman belakang sekarang, kelima nya sama-sama naik ke atas, menuju roof top.
"Kaki gue hampir patah, Pak Bedu kalau kasih amanat panjang bener." ujar Arthur, duduk di samping Shaka.
"Paling enak kalau upacaranya Bu Nurul yang kasih amanat, gak sampai 15 menit udah kelar." sahut Tara.
"Setuju!"
"Ngomong-ngomong nih, katanya ada anak baru ya?" Seperti biasa, Bram memulai aksi gosip nya.
Rayn menyahut. "Katanya sih begitu, gak tau lagi deh bener apa gak."
Tara pun sama. "Beneran, katanya juga dia cewek sih. Cantik kek nya, dari namanya udah kelihatan."
Arthur yang mendengarkan kata 'cewek cantik' langsung menegakkan tubuhnya. "Siapa tuh, lumayan buat gue jadiin pacar baru nanti."
Bram langsung menoyor kepala Arthur cukup keras. Fix, play boy Arthur udah mendarah daging. "Denger cewek bening, mulus, langsung aja semangat."
"Iri bilang sahabat! Bacot lo!" Ujar Arthur ngegas.
Shaka mengangkat bahu acuh, cowok itu memilih untuk pergi meninggalkan roof top dan pergi ke kantin.
"Sa, mau kemana lo?!" Tanya Rayn menatap kepergian Shaka.
"Kantin," balas Shaka singkat, selanjutnya melangkah pergi.
Bram, Tara, Arthur dan Rayn mengangguk, mereka pun ikutan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka.
Di perjalanan ke kantin, seseorang tak sengaja menabrak pundak Shaka yang membuat cowok itu mengumpat.
"Lo punya mata gak?!" Bentak Shaka dengan kasar. Sedangkan yang lain hanya bisa saling pandang.
Orang yang menabrak Shaka menundukkan kepala. "M-maaf gak sengaja." katanya dengan badan yang bergetar.
"Makanya jalan tuh lihat-lihat!" Bentak Shaka kembali, maklum saja, masalahnya lagi banyak dan mood dia lagi tak baik akhir-akhir ini.
Gadis itu mengangkat kepalanya. "Maaf, gak sengaja. Aku buru-buru," katanya takut-takut.
Gadis dengan rambut yang diuraikan begitu saja, dengan wajah polosnya, menatap Shaka takut. Wajahnya cukup asing, bagi kelima cowok itu. Apakah dia murid baru?
Shaka membalas dengan tatapan tajam yang membuat gadis di depannya takut-takut. Setelah itu Shaka lebih memilih melenggang pergi.
Rayn yang merasa kasihan berkata. "Maaf ya, kayaknya mood nya gak baik. Jadi begitu, sekali lagi sorry ya."
Gadis itu mengangguk cepat. "I-iya, gak papa kok. Aku juga yang salah tadi."
"Lo anak baru ya? Soalnya gue baru lihat lo," ujar Arthur.
"Iya, aku anak baru. Tadi lagi cari ruang kepala sekolah, kalian tau gak ruangannya dimana?" Tanya gadis itu, sambil melilitkan kedua jarinya, menahan gugup setengah mampus.
Tara mengangguk paham. "Nanti tinggal lurus aja, terus belok kanan di bagian Barat. Di sana ruangannya." Tutur Tara.
Gadis itu tersenyum manis. "Makasih ya udah di kasih tau, kalau gitu aku pamit dulu." Pamitnya pergi.
"Gila cantik banget tuh cewek." Seketika Arthur yang tadinya ngantuk kini menjadi tidak.
"Yang mulus dikit aje cepet bener lo," sindir Tara.
"Diam lo!"
Rayn hanya menggelengkan kepala. "Udah gak usah berantem, samperin Shaka skuy!" sebelum keributan diantara mereka terjadi, dengan cepat cowok itu memilih untuk melerainya terlebih dahulu.