Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Di serang



Malam hari yang petang, Shaka menjalankan mobilnya dengan lampu penerangan jalan yang minim cahaya.


Dirinya baru saja pulang dari kantor, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Perusahaan yang lagi naik-naiknya membuat Shaka harus pulang dari waktu biasanya.


Seminggu sudah, perusahaan sedang meningkat tajam. Kerja sama antar perusahaan lain juga semakin bertambah.


Di cahaya yang minim itu, Shaka berusaha fokus meski berkali-kali menguap lepas, akibat kantuk yang kunjung datang.


Akibat kantuk nya yang berat, Shaka sampai tak fokus pada jalanan. Mobil Shaka terpaksa mengerem mendadak, saat dirinya tak sengaja menabrak seseorang.


Shaka yang sadar pun langsung keluar mobil, berlari keluar. Menghampiri orang tersebut dan langsung memberikan bantuan.


"Mas nya gak papa kan?" tanya Shaka pada lelaki yang dia bantu.


Tanpa aba-aba, lelaki yang Shaka bantu dan sosok yang sama sekali tak dia kenal melayangkan pukulan dengan balok kayu. Shaka yang memang tak siap harus terhuyung ke depan.


Keadaan yang minim cahaya, membuat Shaka cukup kesusahan untuk melihat sosok orang di hadapannya itu.


Hanya dapat menatap manik mata, karena orang di hadapannya memakai penutup kepala yang hanya memperlihatkan garis mata.


"Lo siapa?" tanya Shaka sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Perlahan Shaka menguatkan diri untuk bangkit, meski dengan susah payah. Bersamaan dengan datang segerombolan anak-anak yang mengelilingi Shaka.


Mereka semua sama, sama-sama memakai penutup kepala. Sial, kalau begini Shaka tak tau mereka siapa.


Mencoba untuk sadar, Shaka sedikit memutarkan badannya. Menatap orang-orang yang mengelilingi nya. Kalau dihitung ada sekitar 15 orang dengan pakaian yang sama.


"Serang!"


Teriakan dari salah satu mereka, membuat Shaka sigap melawan. Perlawanan panas terjadi, Shaka yang seorang diri harus melawan banyak nya orang.


Dengan keadaan yang minim, Shaka berusaha untuk melawan mereka semua, meski berkali-kali pukulan mendarat di kepala, yang semakin membuat kepalanya pening.


Bugh


Bugh


Bugh


"Mereka siapa?" tanya Shaka dalam hati sembari melawan mereka satu per satu.


Namun, salah satu anggota memegang balok seraya melompat tinggi dari arah belakang ke arah punggung Shaka. Shaka yang kembali tak siap harus tersungkur di atas aspal.


Kepalanya kembali terasa pusing, dengan darah segar yang mengalir keluar dari pelipis kepala. Sedetik kemudian mata Shaka tertutup rapat, cowok itu pingsan dalam keadaan yang memprihatinkan.


"Ini balasan buat lo," ujar cowok bertudung hitam tersebut, lantas tertawa keras. "Cabut!" perintahnya pada anak buahnya yang lain.


...


Shaka terbangun dari pingsannya, dan merubah posisi tiduran menjadi duduk. Menatap penjuru kamar dengan desain berwarna putih.


Terdengar suara pintu terbuka, ternyata Lea lah yang masuk. Wanita itu lantas tersenyum mendapatkan Shaka yang sudah sadar.


"Jangan turun!" cegah Lea. Menghampiri Shaka lalu menaruh kresek berisikan makanan ke atas meja. Tangannya terulur untuk memencet tombol di atas brankar.


Tak lama, seorang dokter dengan satu suster masuk ke dalam ruangan. Dokter itu tersenyum dan mulai mengecek keadaan Shaka.


"Gimana dok keadaan anak saya?"


Dokter itu tersenyum, lantas menjawab. "Keadaan pasien jauh lebih baik, nanti segera diisi makanan ya. Dan jangan lupa untuk menganti perban nya setiap 7 jam sekali," pesan dokter tersebut.


"Kalau begitu saya pamit, kalau ada apa-apa. Langsung hubungi saya," pamit dokter itu dan melenggang keluar.


Shaka masih terdiam, otaknya masih belum terkoneksi dengan baik. "Kok Shaka ada disini Ma?" tanya Shaka terheran-heran.


Kalau diingat-ingat, bukannya Shaka lagi diserang dengan segerombolan orang. Dan pingsan di sana, lalu bangun bangun dirinya sudah berada di rumah sakit.


Lea tersenyum simpul, menarik kursi di sampingnya dan mendudukinya. "Hampir 2 hari kamu gak sadar diri karena kehabisan darah, Papa kamu yang nemuin kamu di jalanan. Mana tengah malam lagi," jelas Lea.


Dua hari yang lalu, jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Al dan Lea masih terbangun, ditambah dengan insting seorang ibu, membuat Lea takut. Tak biasanya Shaka belum pulang jam segini.


Paling tidak, jika Shaka pulang telat. Cowok itu akan mengabari nya, namun kali ini tidak sama sekali. Lea juga sudah menelpon Leo, selaku sang sekertaris. Kata Leo, Shaka sudah pulang sejak satu jam yang lalu.


Al mengusap lembut tangan Lea dan membawa Lea ke dalam pelukan. "Paling juga ada di jalan,"


"Tapi Al. Ini udah jam satu loh, masa iya Shaka belum balik juga."


"Le, apa kamu lupa. Perusahaan lagi naik-naiknya sekarang. Palingan kalau gak di jalan. Ya Shaka ada di kantor," Al mencoba menenangkan Lea.


"Gak mungkin! Aku udah telpon Leo, katanya Shaka udah balik satu jam yang lalu. Pasti ada apa-apa sama Shaka. Kamu cari dia ya. Aku mohon," mohon Lea. Instingnya semakin yakin jika Shaka dalam masalah.


Melihat Lea seperti itu, membuat Al tak tega. Mendesah kasar, Al mengangguk. "Oke, aku bakal cari Shaka. Kamu masuk kamar sekarang!" suruh Al pada Lea.


"Aku ikut!"


"Masuk kamar Lea!"


"Gak mau, aku mau ikut!" kekeuh Lea.


Terdengar helaan napas. "Masuk kamar Lea! Sekali aja nurut bisa?" Al mencoba untuk tak membentak gadis di hadapannya itu.


"Tapi Al---"


"Aku tau kamu khawatir, sekarang masuk ke kamar. Nanti kalau aku udah ketemu Shaka. Aku bakal langsung hubungi kamu," ujar Al meyakinkan.


Lea mengangguk sebagai balasan, hal itu membuat Al tersenyum. Mengambil jaketnya Al mengecup kening Lea sekilas sebelum melangkah pergi.


"Jangan lupa telpon aku ya! Kalau Shaka ketemu!" pekik Lea pada Al, saat lelaki itu mulai tak terlihat.


Al berjalan menuju ke motor ninja miliknya, dengan segera Al menjalankan motornya dengan kecepatan di atas Rata-rata. Di belakangnya disusul oleh anak buah Al, kemudian mereka berhenti sejenak di pertigaan pertama.


Al mulai membagi tugas pada mereka semua. Menjadi kan tiga kelompok, kelompok pertama berisikan dirinya serta empat orang lainnya.


Kelompok ke-dua terbagi atas 4 orang dan yang ke-tiga juga sama. Mereka lantas berprncar, mencari keberadaan Shaka.


Untungnya jalanan mulai sepi, meski dalam keadaan yang minim cahaya. Namun hal itu tak membuat Al menyerah, cowok itu malah menambah kecepatan nya kembali.


"Shaka!"


"Shaka!"


"Den Shaka!"


"Shaka kamu dimana?"


Semuanya saling berteriak, saling melempar teriakan satu sama lain. Hingga Al menghentikan motor nya mendadak.


Saat manik matanya fokus pada satu sisi. Ya! Tak jauh dari sana, Al menemukan sebuah mobil yang berhenti di tengah jalan.


Cowok itu lalu turun, diikuti oleh anak buahnya. Perlahan namun pasti, Al dibuat kaget saat tau mobil itu adalah milik Shaka.


Membuka satu persatu pintu mobil, mengecek keadaan Shaka. Satu orang dari anak buahnya berteriak dan memanggil Al.


"Tuan! Den Shaka ada disini!" teriaknya.


Al mempercepat langkahnya, benar saja tak sekitar 2 meter dari mobil Shaka berada. Shaka ditemukan, dengan keadaan pingsan.


Al mengangkat kepala Shaka. Sebagai seorang Ayah. Al kaget, menatap penampilan Shaka yang berlumuran darah.


Banyak sekali luka lebam di sana. Dan parahnya, darah segar itu terus mengalir dari kepalanya.


"Bantu saya!" Al dan empat orang lainnya membopong tubuh Shaka untuk masuk ke dalam mobil.


Dengan tergesa-gesa Al menyalakan mobil dengan kecepatan tinggi, dalam hati Al masih bertanya-tanya. Siapa yang berani melakukan ini pada anaknya?


...


Seandainya salah satu tokoh utama disini dibuat mati gimana?