
"Kenapa di hukum?" Pertanyaan itu berhasil membuat Runa kaget, gadis itu menoleh ke samping. Kapan mereka ada di sini.
Kenapa Shaka datang tiba-tiba seperti jalang kung, yang datang tak diundang pulang gak diantar. Dimana ada Runa di situ ada Shaka.
"Kesiangan." Balas Runa, gadis itu kembali menatap tiang bendera. Runa berdiri tegak, walau keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Pusing, hal pertama yang Runa rasakan, seketika pengelihatan Runa berubah menjadi buram, membuat hampir tak seimbang.
Syukur nya Shaka memegang kedua pundak Runa, membuatnya tak terjatuh. "Lo gak papa?" Tanya Shaka.
"Gak papa kok." Shaka menoleh ke arah Runa, dapat terlihat jika wajah Runa sangat pucat.
Rasya, Rayn, Bram, Tara dan Arthur saling lirik. Kelimanya sama-sama melihat wajah Runa. yang pucat, keringat mulai membasahi wajah cantiknya itu.
"Wajah lo pucat, gue antar ke UKS ya?" Tawar Shaka. Runa menggeleng, kalau dia ke UKS, lalu hukumannya gimana?
"Gak, nanti hukumannya gimana?" Ujar Runa dengan suara yang melemah.
"Keadaan lo lebih penting! Dan lo masih mikirin hukuman?" Tanya Shaka dengan nada dinginnya.
"Udah Sa, bawa aja." Ujar Arthur. "Tenang aja buat hukuman lo kita yang jalanin. Keadaan lo lebih penting." Lanjut cowok itu.
"Gak usah lo pikirin gimana hukuman lo nanti, biar gue sama anak-anak yang jelasin ke Bu Suri." saut Rayn.
Runa mengangguk, gadis itu melangkahkan kakinya mundur, belum berapa langkah. Tubuhnya ambruk tak sadarkan diri. Untung saja Shaka dengan sigap menangkap tubuh mungil Runa dan membawanya ke UKS.
…
Runa mengerjapkan matanya berkali-kali, kepalanya masih begitu pusing, Satu pertanyaan terlontar dari bibir seseorang, yang membuat Runa langsung mengubah posisinya menjadi duduk.
"Sejak kapan punya maag?" Suara itu membuat Runa kaget.
Kening Runa berkerut, menatap orang itu dengan bingung. "Kak Shaka?" Runa cukup bingung dengan kehadiran Shaka, dan kenapa dia ada di UKS? Bukannya tadi di lapangan?
"Sejak kapan lo punya penyakit maag?" Tanya Shaka kembali, memperjelas pertanyaannya.
Shaka baru tau jika Runa memiliki riwayat penyakit asama lambung serta maag. Tadi saat Shaka menunggu Runa di periksa. Salah satu anggota PMR, memberi tahu Shaka, bahwa Runa memiliki maag, dan maag nya sedang kumat.
Hal itu membuat Shaka khawatir, apakah gadisnya ini tak makan? Atau gimana?
"Udah lama,"
Shaka menatap tajam Runa, bisa-bisanya punya maag tapi tak makan. Menarik kursi dan mensejajarkan di samping Runa. "Terus kenapa gak makan?" Tanya cowok itu, melipat kedua tangannya didepan dada.
"T-tadi buru-buru, makanya gak sempet sarapan." cicit Runa.
Shaka hanya bisa menghela nafas kasar, Runa menatap jam yang bertengger manis pada lengannya. Seketika Runa ingat, bahwa hari ini ada ulangan.
"Mau kemana?" cegat Shaka, menatap Runa yang ingin bangkit dari kasur.
"Sebentar lagi Aku ada ulangan,"
"Tenang aja, nanti gue bilangin ke Pak Bobon kalau lo sakit, nih gue bawain makanan buat lo, di makan ya! Awas aja kagak. Kak titip Runa," Vanya memberikan semangkuk bubur pada Runa, setelah itu pergi meninggalkan keduanya.
Shaka hanya mengangguk singkat, mengambil alih bubur itu dari tangan Runa. "Makan,"
"Gak mau," tolak Runa.
"Gue gak terima penolakan!" Tegas Shaka.
"Aaaa.." Ucap Shaka menyuapi Runa, seolah sedang menyuapi gadis kecil yang berusia lima tahun.
"Kak Shaka gak masuk?"
"Telen dulu baru ngomong," tegur Shaka. "Gak, mau temenin lo." lanjutnya.
"Tapi kak, Runa gak enak, kalau kak Shaka bolos, kak Shaka masuk aja ya? Aku disini gak papa kok. Nanti kalau udah gak pusing lagi, Runa balik ke kelas." Gadis itu merasa tak enak jika Shaka sering bolos.
Shaka terkekeh pelan. "Gak masalah, gue gak mungkin tinggalin lo dalam keadaan kayak gini, lagian tiap hari juga gue bolos. Lo tenang aja, yang penting keadaan lo membaik dulu." Baru kali ini Shaka bicara panjang lebar sama cewek.
"Beneran kak?"
Shaka hanya mengangguk singkat, melanjutkan kembali menyuapi Runa. Sampai akhirnya bubur itu habis, memberikan botol minum kepada Runa yang sebelumnya sudah Shaka buka.
Runa menoleh menatap ke Shaka yang juga menatapnya, menunggu jawaban. "Karena nonton film semalem, soalnya alurnya bagus. Eh malah sad ending." agak kesel juga sih, udah begadang pantengin laptop eh malah sad ending.
"Terus lo tidur jam berapa?"
Dengan polosnya Runa menjawab. "Jam tiga,"
Tuk
Shaka menjitak kening Runa, yang membuat gadisnya meringis kesakitan. "Emang dasarnya lo yang cari penyakit!" ketus shaka. Tak habis pikir dengan Runa.
"Udah tau punya penyakit, masih aja begadang. Kenapa gak sekalian gak usah tidur? Kenapa sampai begadang, lo gak sayang sama tubuh lo apa gimana?" Shaka dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi seperti semua, datar.
"Y-ya kan, aku penasaran kak. Kalau gak dituntaskan filmnya malah gantung." elak Runa.
Shaka hanya memijit pelipisnya. "Masih ada hari esok, kalau lo begini terus malah bahaya buat lo sendiri, jangan pernah lo ulangi lagi." Ucapnya.
Runa mengangguk cepat, mengangkat tangannya hormat. "Siap!"
…
Sekolah sudah cukup sepi, hanya tinggal beberapa anak saja yang sedang menuggu jemputan. Shaka tak melepaskan genggaman tangannya, menarik gadisnya menuju ke parkiran.
"Gue ajak keluar bentar gak papa kan? Ada barang yang harus gue ambil soalnya," Shaka bertanya, seraya memasangkan helm pada kepala Runa.
"Gak papa kok kak, santai aja. Lagian Aku di rumah juga sendirian aja."
"Oke," Shaka melepaskan jaket miliknya dan memberikan nya pada Runa, diikat nya pada pinggang Runa.
Mengulurkan tangannya membantu Runa menaiki motornya, setelah dirasa gadisnya aman Shaka menjalankan motornya perlahan, meninggalkan sekolah.
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berada di depan kafe. Setelah memarkirkan motornya dengan benar, Shaka serta Runa masuk ke dalam.
"Lo duduk sini bentar, gue mau ambil barangnya." suruh Shaka.
Shaka meninggalkan Runa, menghampiri seorang wanita yang sedang menunggunya.
"Assalamu'alaikum ma," tak lupa Shaka menyalami tangan Lea.
Lea tersenyum, akhirnya orang yang doa tunggu datang juga. "Waalaikumsalam, akhirnya datang juga kamu. Nih makanannya, alamatnya ada didalam. Kalau gak tau nanti telpon mama aja." Memberikan papper bag berwarna tosca pada Shaka.
"Eh kamu ke sini sama siapa?" tanya Lea.
"Temen," jawab Shaka singkat.
"Yaudah, sana anterin gih. Orangnya nunggu soalnya. Langsung pulang ya, Ale di rumah sendiri soalnya."
Shaka menghela nafas. "Iya ma, Shaka pamit anterin barangnya dulu, assalamu'alaikum."
…
"Makasih kak, udah anterin Runa." Runa mengembalikan helm itu pada Shaka.
"Sama-sama, buruan masuk udah sore, makan lo jangan lupa. Awas aja kalau gue sampai lihat lo gak makan, apalagi sampai begadang lagi," tunjuk Shaka.
Runa terkekeh. "Iya gak akan, aku masuk dulu ya? Kak Shaka hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut!"
"Hm, sana masuk!"
"Aku masuk ya, bye kak!" Runa melambaikan tangannya pada Shaka yang dibalas lambaian serta senyum tipis dibalik helm full face.
Shaka menatap Runa yang sudah tak terlihat lagi. Segelintir ingatannya kembali lagi, membuat cowok itu menunduk dalam, melipat kedua tangannya di atas tangki motor.
Suara klakson mobil membuat cowok itu tersadar dari lamunannya, menggeser kan motornya sedikit agar si pengendara dapat melajukan motornya.
"Gak! Lo harus lupain dia!" Tegas Shaka, cowok itu menyalakan motor dan meninggalkan rumah gadisnya.
Runa telah selesai dengan mandinya, dengan kaos oversize serta celana hotpants hitam. Setelah selesai dengan mandinya Runa berjalan turun ke bawah, perutnya sudah meminta jatah.