Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Dunia begitu sempit



..."Kadang manusia di bodoh kan oleh dua pilihan, bodoh untuk memilih dan bodoh untuk menerima."...


.........


"Kak Shaka, makasih ya udah antar pulang." ujar Runa dengan tulusnya. Gadis itu mengembalikan helm milik Shaka.


"Hm, Sama-sama. Aku pulang dulu," ujar Shaka. Lelaki itu memilih untuk pulang ke rumah.


"Tunggu!" cegah Runa.


Shaka menoleh menatap Runa dengan alis yang terangkat. "Kamu gak mau mampir dulu?" tanya Runa, basa-basi lebih tepatnya.


"Gak, aku mau langsung pulang." balas Shaka, tak melupakan aksennya yang datar.


Runa yang mendengarkan balasan itu hanya bisa tersenyum paksa. "Kamu kenapa? Kamu ada masalah yang lain ya?" tanya Runa, dengan wajah yang mencoba biasa saja.


"Gak, masalahnya cuma masalah kita aja. Aku mau balik." Shaka kembali memasang helm full face miliknya, namun terhenti dengan ucapan Runa yang begitu memilukan.


"Kamu kenapa sih, waktu di tanya gak papa. Waktu diajak ngobrol berdua selalu banyak alasan. Kak, kalau emang sesusah itu kamu bicara ke aku, aku gak masalah. Aku gak peduli seberapa besar masa lalu kamu itu. Karena yang mau aku lakuin adalah kita bisa hidup di masa yang akan datang bukan di masa lalu."


"Kalau emang sesusah itu buat kamu ceritain seberapa dalamnya masa lalu kamu, aku gak masalah aku juga gak peduli dengan itu, itu hak mu buat cerita apa gak. Kita udah sama-sama besar, udah sama-sama dewasa. Harusnya kamu ngerti mana yang harus dijaga dan di prioritas." tutur Runa panjang lebar, setelah mengatakan demikian, Runa memilih untuk masuk ke dalam tanpa berkata apa-apa kembali.


Shaka hanya menatap kepergian Runa yang perlahan menghilang. Cowok itu mengusap wajahnya dengan kasar. Sesekali merutuki dirinya sendiri.


"Kenapa sesusah itu buat gue bicara sama lo Runa. Gue juga mau ceritakan semua sama lo. Tapi apa? Gue gak bisa bilang ke lo sekarang." Dia kembali memejamkan matanya, menikmati rasa yang begitu menikam di dada.


...


Sebuah tempat yang tak begitu besar, rumahnya cukup sederhana dengan barang-barang yang terbilang biasa saja. Gadis dengan rambut yang di ikat bebas, tengah menatap wanita dengan keadaan yang tak layak di depannya.


"BERHENTI SAKITIN DIRI LO BODOH!" pekiknya dengan kencang, gadis itu mengambil alih kaca yang hampir saja menyayat kulit putih nan mulus milik adiknya.


"BUAT APA GUE BERTAHAN HIDUP KALAU GUE GAK BAHAGIA! SEMUANYA UDAH PERGI DARI GUE, TERUS BUAT APA GUE HIDUP DI DUNIA INI!" teriaknya dengan tangisan yang begitu memilukan.


Dipatahkan oleh keluarga, di abaikan oleh teman, di hancurkan oleh cinta. Lengkap sudah hidupnya. Dipaksa menjadi lebih baik oleh keluarga, berkata tak apa-apa kepada teman dan sekarang dihancurkan oleh cinta yang sudah dia bangun sesusah mungkin.


"Gak gini cara lo selesaikan masalah dek!" ujar gadis itu, sambil memeluk erat sang adik dengan sayang.


"Gue capek! Gue lelah, semuanya udah pergi. Mama, Papa bahkan orang yang gue sayang pun pergi ninggalin gue, dan memilih dia daripada gue." katanya dengan tangisan.


Gadis yang memeluk adiknya, menguraikan pelukan. "Dengerin gue, gue udah mulai semuanya besok, gue bakal mulai semua rencana itu. Lo tenang aja, semua rencana ini bakal berhasil, dan dia bakal ngerasain semuanya." gadis itu tersenyum licik, dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Maksudnya?" tanya sang adik dengan bingung.


Gadis itu mendekat ke arah sang adik dan membisikkan sesuatu, lalu tersenyum miring saat melihat ekspresi sang adik yang kaget.


"Lo yakin?" tanya sang adik tak percaya.


Hanya anggukan kecil yang dia lihat. "Gue yakin, biar dia merasakan apa yang kita rasakan."


"Tapi kak? Gue gak yakin deh, lo tau kan keluarga nya sekaya dan se tajir apa? Lo tau kan kalau mereka gak bakal diam ketika keluarganya di usik. Udah deh, gak usah aneh-aneh. Gue gak mau ikutan." balas sang Adik.


Gadis itu hanya memutar bola mata malasnya. Lalu berdecak sebal. "Ya kalau kita gak bisa bikin hancur keluarganya kayak keluarga kita hancur, berarti kita bisa dong. Buat percintaannya hancur?" tanyanya dengan senyuman yang begitu mengerikan.


"Maksudnya? Lo mau bikin mereka berdua pisah gitu?"


"Right, itu yang gue mau. Kalau kita gak bisa bikin keluarganya hancur, sekiranya untuk hal percintaan mungkin bisa. Gue denger dia punya masa lalu yang kelam. Kayaknya kisah ini cocok buat di jadikan masalah." tutur gadis itu, dengan tatapan yang tak dimengerti oleh sang adik.


"Rencana lo bagus juga, tapi gue cuma mau ingetin. Yang lo lawan itu orang yang berkuasa di sini. Bukan di sini, tapi di negeri ini. Gue gak mau, lo ngelakuin kesalahan yang gue perbuat waktu itu." seru nya.


Gadis itu terkekeh pelan. "Itu karena lo bodoh, lo terlalu terburu-buru jadi manusia. Tapi gak papa, kita mulai sekarang." ujar si gadis.


...


Shaka baru saja tiba di rumah, cowok itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam, tak lupa juga mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum Shaka pulang,"


"Waalaikumsalam, eh Bang udah pulang? Sana ganti baju, terus makan siang kamu udah Mama siapin di atas meja." ujar Lea.


Shaka mengangguk singkat. "Iya Ma, nanti Shaka makan. Shaka mau ganti dulu." pamitnya.


"Gimana tuh sama kabarnya Kak Runa? Udah baikan belum?" Ale, baru saja turun dari atas, cewek itu masih memakai pakaian seragam sekolah nya.


"Gimana enak gak ke bongkar?" Ale tertawa remeh, menertawakan sang Abang. "Untung sih kak Runa gak pergi ya dari lo. Udah dibilangin juga, buat suruh cerita, jujur. Eh malah pendam sendiri, kapok kan lo. Ya gue berdoa aja sih, semoga kak Runa gak pergi." cibir Ale dengan pedasnya.


Cewek berumur 13 tahun itu telah mengetahui semuanya. Setelah kebenaran itu terungkap, Shaka bercerita ke Lea dan ternyata di sana juga ada Ale.


"Ale!" Lea menegur Ale, wanita itu menggelengkan kepalanya, menyuruh Ale untuk diam.


Ale mendengus sebal, selalu saja di bela. "Bela aja terus, orang tau anaknya salah juga, masih aja di belain." ujar Ale, menatap Shaka dengan sinis nya.


Ale langsung memilih pergi dari ruang keluarga, meninggalkan Shaka dan Lea yang menatap kepergian Ale.


...


Sambil menunggu Arfan pulang juga, Abangnya itu masih bekerja jika jam segini. Mengambil Kardigan di belakang pintu, Runa berjalan menuruni anak tangga, tak lupa mengunci pintu.


"Jalan-jalan bentar deh, sekalian cari makan malam." gumam Runa, gadis itu berjalan kaki menuju ke ujung jalan -biasanya gerobak-gerobak pada kumpul di sana.


Gadis itu berjalan sambil bersenandung kecil, senyumnya terbit menatap gerobak yang berjejer rapi di depan matanya.


Melangkah lebih dekat kembali, malam ini dia putuskan untuk membeli nasi goreng tek-tek.


"Pak, nasi gorengnya sedang satu ya." ujar Runa pada bapak-bapak penjual nasi goreng.


"Iya Mbak ditunggu ya, masih antri." Runa mengangguk singkat sebagai jawabannya, gadis itu mengambil salah satu kursi plastik yang ada di dekatnya.


Runa bersenandung kecil, menikmati lagu yang di putarkan warung sebelah. Dia tersenyum manis ketika bapak penjual nasi goreng tengah membungkus nasi goreng pesanannya.


"Ini mbak nasi gorengnya." Runa mengerutkan dahinya bingung, ketika bapak penjual nasi goreng memberikan dua bungkus nasi goreng.


"Maaf Pak, ini kenapa punya saya dua ya? Saya kan pesannya satu aja." kata Runa dengan herannya.


"Itu punya gue," ujar seseorang yang berada di belakang Runa. Runa yang mendengarkan pernyataan itu memilih memutarkan badannya ke belakang.


"Galang?"


"Runa?"


Ujar keduanya bersamaan, mereka saling pandang satu sama lain. Astaga, dunia ini begitu sempit. Sampai-sampai entah ke- sekian kalinya mereka berdua bertemu kembali.


"Oh ini pesanan kamu, aduh maaf ya. Gak tau aku," Runa menyerahkan dua bungkus nasi goreng itu pada Galang.


"Udah malam, makanya gak fokus." kata Galang sambil terkekeh pelan. Lalu memberikan satu bungkus nasi goreng miliknya peda Runa. "Nih buat lo, buat makan malam." lanjutnya.


"Hah buat aku? Eh gak usah, aku udah pesan kok. Ini buat kamu aja, lagian pesanan aku bentar lagi juga selesai." kata Runa, kembali menyerahkan sebungkus nasi goreng milik Galang pada lelaki itu.


"Gak usah, kalau kamu kasih ke aku. Kamu makan apa? Udah itu kan punya kamu, kamu makan aja. Aku mau nunggu pesanan milikku." tolak Runa dengan halus.


"Maaf Mbak, gas saya habis. Harus beli dulu, mbaknya mau nungguin atau gimana?" tanya pak penjual.


"Tuh dengerin, gasnya abis. Lo mau nunggu lama lagi, udah terima. Gue gak terima penolakan! Bayangin aja ini sebagai tanda perkenalan kita. Nih ambil," Galang menarik tangan Runa dan mengajaknya duduk di salah satu taman yang tak jauh dari tempat keduanya berdiri.


"Ini yakin?" tanya Runa memastikan.


Galang mengangguk yakin. "Yakin, tenang aja. Gak gue racun kok." seru Galang sambil terkekeh.


"Bisa aja kamu, aku terima ya nasi gorengnya." Runa dan Galang sama-sama memakan nasi goreng pesanan mereka. Sambil ditemani oleh gurauan kecil dari Galang.


Dilihat-lihat, sampai sini. Galang seru juga, dia kalau diajak ngobrol juga nyambung. Dan yang paling Runa sukai dari Galang, dia sopan ternyata dan lebih menghargai sesama.


"Dunia terlalu sempit ya? Sampai-sampai kita ketemu lagi." gurau Galang.


Runa ikutan tertawa. "Iya, aku juga ngerasa gitu. Selalu aja ketemu entah sengaja ataupun enggak." ujar gadis itu, sambil melanjutkan memakan nasi goreng pemberian Galang.


"Na, gue boleh tanya sesuatu?"


Runa menoleh, gadis itu mengangguk-anggukkan kepala. Memperbolehkan Galang bertanya. "Mau tanya apa emangnya?"


"Gue mau tanya, lo udah tau masa lalu Shaka gimana?" tanya Galang dengan pelan.


Seketika tubuh Runa kembali menegang, gadis itu terdiam sambil menundukkan kepala. Memilih menggelengkan kepala sebagai jawabannya. "Belum,"


Galang yang melihat itu, segera mengalihkan topik yang lain. "Lo tau gak, nasi goreng di sini itu ter the best banget. Apalagi nasi goreng ini, gue sering main ke sini."


"Oh ya? Kamu sering main sini?" tanya Runa.


"Iya, gue sering main sini. Apalagi buat cari makan. Gue seringnya ke sini sih, meskipun harganya lumayan mahal, tapi rasanya gak bisa ditandingi sama yang di resto." tutur Galang.


"Ya namanya juga perumahan Lang, tapi emang bener sih. Nasi gorengnya enak. Aku yang tinggal di sini aja, baru cobain ini, ternyata enak juga."


Galang menatap Runa tak percaya. "Lo baru coba sekarang? Yakin lo?"


"Emang muka aku gak meyakinkan?" tanya Runa balik. "Gak sih, sebenernya tau nasi goreng ini. Tapi kalau dibilang buat beli gak pernah. Baru kali ini,"


Galang menganggukkan kepalanya mengerti. Keadaan sunyi kembali terjadi, mereka sama-sama sibuk dengan makanan mereka masing-masing.


"Galang aku balik dulu ya, makasih nasi gorengnya." pamit Runa, melirik sekilas jam di pergelangan tangan.


"Lo mau balik? Cepet banget sih. Yaudah, gimana kalau gue anterin balik? Sekalian, gue juga mau pulang." ujar Galang.


Runa menggeleng cepat. "Gak usah, gak usah repot-repot, aku jalan aja. Lagian ujung sana kok, aku gak mau buat kamu repot soalnya." ujar Runa, dirinya tak enak saja. Galang selalu membantu nya setiap saat.


"Gak masalah, gue malah seneng lo repotin. Ayo balik!" Galang menarik Runa ke sepeda motor miliknya, membantu gadis itu naik ke atas motor dan meninggalkan tempat itu.