Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kekerasan



"Tapi lo semua ngerasa ada yang aneh gak sih," cetus Tara tiba-tiba.


"Maksudnya?"


"Kok gue mikir ada yang gak beres sama Kania ya?" Tara menyandarkan tubuhnya pada helm, lelaki absurd bin aneh itu kini berpikir.


"Samaan anjir! Gue juga mikir gitu," balas Bram dan Arthur bersamaan.


"Bahas basecamp," sahut Rasya, kembali memasang helm full face nya.


"Gue harus balik deh, Oliv dari tadi udah telpon gue mulu, suruh balik katanya. Lo semua aja yang ke basecamp, ntar kalo ada info kabarin chat aja."


"Kapan-kapan bawa Oliv lah ke basecamp!"


Arthur menoyor kepala Tara. "Ngadi-ngadi lo tong, ya kali Oliv bawa basecamp,"


"Maksud gue itu, bawa ke warjok lah. Kangen gue sama tuh bocah, makanya dengerin dulu kalau orang belum selesai ngomong itu." ujar Tara ngegas.


Arthur menyengir. "Selow-selow jangan marah-marah,"


"Balik duluan deh, udah malam juga." Rayn menyalakan motor ninja miliknya dan perlahan mulai meninggalkan yang lainnya. Sedangkan Rasya, Tara, Bram dan Arthur memilih ke basecamp, membahas keanehan yang terjadi.


...


Shaka baru saja sampai di depan rumah Kania. Cowok itu masuk ke dalam, melihat rumah Kania yang berantakan, Barang-barang bertebaran ke mana-mana, pecahan kaca berserakan, serta keadaan Kania yang cukup memprihatinkan.


"Kania," perlahan namun pasti. Shaka mendekati Kania.


"Kan, lo gak papa kan." mata shaka membulat sempurna, menatap hampir sekujur tubuh Kania lebam akibat pukulan.


"Kita ke rumah sakit sekarang, keadaan lo sekarang lebih penting." Dengan siap shaka membopong tubuh Kania keluar, dan mencari taksi untuk dia bawa ke rumah sakit terdekat.


Tak perlu memakan waktu lama, Shaka dan Kania sudah berada di dalam rumah sakit, dengan sigap beberapa suster dan satu dokter muda wanita menangani keadaan Kania.


"Dok gimana ke adaan teman saya?" tanya Shaka, setelah dokter itu selesai menangani Kania.


"Syukurlah keadaan pasien tidak begitu parah, untungnya tadi segera di bawa ke rumah sakit. Saya mohon untuk selalu menjaga keadaan pasien ya! Karena memang ada beberapa luka yang lumayan parah." jelas Dokter Tika, nama yang terpampang di nametag.


Shaka mengangguk tegas. "Baik Dok,"


"Untuk beberapa hari ke depan, pasien harus di rawat inap untuk memastikan keadaan nya membaik." tutur Dokter Tika. "Jika ingin menghampiri pasien dipersilakan, saya ingin mengecek keadaan pasien yang lain. Selamat malam." sambung Dokter Tika, lantas melenggang pergi.


"Keadaan lo gak papa kan?" tanya Shaka memasuki ruangan ber dominan warna putih dan cream.


"Iya gak papa kok, cuma masih sakit dikit doang."


Shaka lalu duduk di kursi, sambil melipat kakinya. "Bokap lo balik lagi buat minta lo bayar utang?" Shaka memang tau apa yang terjadi pada keluarga Kania.


"Iya, tadi aku niatnya mau kerja, tapi papa datang marah-marah dan langsung pukulin aku." jelas gadis itu.


"Udah gue bilang kan? Mending lo keluar aja, terus lo terima tawaran kerja dari bokap gue." cetus Shaka. "Buat pinalti lo gak usah mikir bayar nya pakai apa, lo hanya perlu keluar dan udah." lanjut Shaka.


"Gak usah Sa, aku gak mau repotin kamu terus. Udah cukup semuanya, aku udah banyak banget buat kamu repot." tak bisa dihitung oleh tangan, atas kebaikan Shaka pada dirinya.


"Yaudah, itu terserah lo. Lo istirahat, lo harus rawat inap buat sementara waktu." Shaka membantu Kania merebahkan diri, dan memasang selimut hingga sebatas dada.


"Aku harus pulang, aku gak mau di sini."


"Lo mikir tentang biaya? Astaga Kania! Lo gak usah mikir itu karena semua biaya usah gue yang tanggung." balas Shaka.


...


Seperti pagi biasanya, Runa telah bersiap diri untuk berangkat ke sekolah. Melangkah kakinya keluar Runa memilih berangkat sendiri pagi ini. Sambil menunggu kedatangan seseorang, gadis itu memainkan handphonenya.


"Sorry lama, yuk naik." ujar seseorang laki-laki.


"Gak papa kok, santai aja." Menerima helm pemberian lelaki itu, Runa naik ke atas motor dan memeluk cowok itu dari belakang.


"Lo udah sarapan?"


"Belum nanti sarapan kantin,"


Dengan gemasnya Runa mencubit lelaki itu yang membuatnya tertawa. "Kebiasaan! Selalu aja gak makan, kalau kamu sakit gimana."


"Santai aja, gue kan kuat." gurau nya.


"Dih! Awas ya kalau sakit, nanti Runa marah!" dengan ekspresi yang dia buat, Runa berpura-pura merajuk.


"Ututut... Marah nih? Iya lain kali gak di ulang lagi kok, pegangan ya, gue mau ngebut!"


"Eh jangan, nanti--- Kyaaaa!" Runa reflek lebih memeluk erat cowok itu, dengan menutup kedua matanya Runa tak berhenti berceloteh.


"Iya, iya, jangan di cubit tapi. Nih udah gue buat pelan." ia mengendarai motor menjadi lebih pelan, bahkan mengalahkan Kura-kura.


"Ya jangan pelan kayak gini dong!" Runa menjadi kesal. "Kalau kayak gini terus kapan sampai nya?"


"Tadi katanya minta pelan, sekarang udah pelan minta cepet, gimana sih." ujar nya.


"GAK GITU KONSEPNYA SAYANGGG!" pekik Runa dengan kesal.


"Udah ih, turunin di halte, nanti ketahuan." Runa menepuk pundak cowok itu, menyuruhnya untuk berhenti di depan halte, jika ketahuan oleh anak-anak Trisatya bahkan inti Alastair bisa berabe dirinya.


"Loh kok sampai situ? Kan bisa sampai gerbang, daripada ntar jalan." Katanya.


"Gak usah, nanti ketahuan lagi. Udah, gak papa cepet turunin aku di sana." Rina sesekali menengok ke kanan kiri, menatap apakah ada anak. Syukurlah ternyata tak ada orang, dengan cepat Runa turun dari motor dan pamit masuk ke dalam.


"Aku duluan ya, kamu hati-hati, awas bolos!" tunjuk Runa, melenggang pergi, dia juga sesekali menoleh ke belakang menatap cowok yang mengantarkan nya pagi ini.


"Runa!" pekik seseorang, tak harus Runa menoleh, dirinya tau siapa orang itu. "Lo tau gak?" nah kan, masih pagi udah memulai aksi gosipnya, siapa jika bukan Vanya Denada.


"Gak tau," jawab Runa dengan watados (wajah tanpa dosa) nya.


Vanya mencabik bibirnya kesal. "Kan gue belum cerita Jamilah!" kesalnya. "Lo tau gak, kalau Kania masuk rumah sakit." katanya memulai aksi pergosipan.


"Oh ya?" dengan wajah terkejut nya Runa bertanya. "Kok kamu tau?" sambung Runa.


"Ya taulah, orang jam satu malam tuh beritanya viral di anak-anak, terus ya katanya sih dapat kekerasan dari Bokap nya." jelas Vanya, maklum lah Vanya kan paling heboh kalau mendengarkan berita-berita seperti ini.


"Tapi nih gue rasa dia kena azab deh," cetus Vanya membuat Runa menahan tawa, gadis itu hanya menggelengkan kepala.


"Gak usah ngelawak deh Van,"


"Ihhhh.... Emang gue ngelawak? Gak kan!" tanya Vanya balik. "Ya gue berdoa aja sih, semoga Kania bisa tobat gitu. Nih ya, gue mau kasih tau ke lo dan ke para pembaca, mending jadi cewek kagak usah jadi lon-- deh, kasihan mak bapak lo." sambung Vanya.


"Vanya!" Runa menggelengkan kepala, menyuruh cewek berambut pendek se-bahu itu diam. "Gak baik ah, seharusnya kita itu mendoakan yang baik-baik, biar nanti balik ke kita sendiri. Emang kamu mau, omongan kamu balik ke kamu sendiri?"


"Ya gak lah!" kalau pun iya, Vanya juga gak mau. "Sorry nih mulut kagak bisa ke kontrol, lagian gue kesel banget, kenapa sih harus gitu ya buat hubungan orang hancur, demen bener." sambung Vanya dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Udah, gak baik ngomongin orang. Kita masuk yuk, bentar lagi ujian." Runa menarik Vanya masuk ke dalam kelas, jam pertama kali ini mereka harus melaksanakan Ujian.


...


Shaka baru saja memasuki kelas. Menatap para sahabatnya yang menatanya acuh, Shaka yang tak ingin membuat keributan di pagi hari memilih acuh dan tak peduli.


"Shaka!" panggil Mona, cewek cantik dengan tubuh yang begitu sempurna berjalan menghampiri Shaka. "Gue mau tanya dong," ujarnya ketika sudah berada di depan Shaka.


Shaka hanya mengangkat sebelah alisnya. "Emang bener ya, Kania masuk rumah sakit?" membuat Shaka bergumam singkat.


"Lo tau dari mana?" Shaka bertanya balik.


"Beritanya udah nyebar ke anak-anak dari semalam. Dan sampai ngebuat situs sekolah eror." Tutur Mona.


Shaka hanya mengangguk paham, cowok itu memilih memainkan ponsel. Tak lama, guru pengajar jam pertama datang, membuat anak-anak langsung kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


...


Guys mau tanya dong 😚, jadi kan cerita Arshaka Aruna bakal tamat nih buat beberapa episode ke depan. aku mau tanya ke kalian, mau nya di buat sad ending apa happy ending? Komen yaa!