
Runa masih tak percaya. "Jadi kamu yang kirim paket itu?" Galang mengangguk singkat.
"Ya ampun, aku kira Bang Arfan tau yang beli barang online." ujar Runa.
"Tapi pas aku Pikir-pikir lagi Bang Arfan kan gak pernah ya buat beli beginian." sambung Runa.
"Iya, sorry ya Na," sesal nya.
"Gak masalah," balas Runa.
"Aku jadi pingin ketemu sama Qilla deh, boleh gak?" tanya Runa pada Galang.
"Boleh aja, lo mau ketemu sama dia?" Runa mengangguk semangat.
"Gimana kalau besok aja, sehabis pulang sekolah. Gue jemput lo kayak biasanya," tawar Galang.
Mengangguk setuju. "Ide yang bagus, mumpung aku besok gak ada kerjaan yang numpuk juga sih." sahut Runa.
...
Galang dan Runa baru saja menyelesaikan makan mereka, Galang pamit sebentar untuk ke kasir, tak lama lelaki itu balik dengan sekantong kresek berisikan makanan.
"Yuk balik," ajak Galang membuat Ruan mengangguk kecil.
"Ada yang mau lo beli gak? Biar sekalian cari." ujar Galang.
"Eh bentar," cegah Galang lalu melangkah masuk ke dalam sebuah toko sovenir. Runa hanya bisa mengikuti dari belakang.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Runa.
Galang menoleh ke Runa sambil membawa jepitan rambut bergambar bunga Lavender. "Menurut lo gimana ini bagus gak?" tanya Galang pada Runa.
Runa tersenyum. "Bagus kok, warnanya juga lucu." ungkap Runa. Dirinya sedikit kaget, ketika tangan Galang memasangkan jepit itu pada poni kanannya.
"Lang?"
"Gak usah ge-er, buat percobaan aja." ujar Galang membuat Runa berohria.
"Kirain,"
"Gak. Mbak bisa buku ini satu." ujar Galang pada mbak-mbak pelayan. "Lo mau ada yang di beli gak?" Tanya Galang pada Runa.
"Gak gak ada," balas Runa.
Tak lama barang yang Galang beli datang. "Ini mas barangnya, Terima kasih sudah datang di toko kami." kata mbak tadi dengan ramah.
Mereka hanya menanggapi dengan anggukan dan tersenyum, berjalan keluar mall.
Tak terasa, ternyata sudah malam saja, dan sekarang sudah pukul 8 malam untungnya Runa tadi sudah meminta izin pada Ayah Bima dan Bunda Yuna.
"Nih pake dulu jaket gue, takut kedinginan lo nya." Galang memberikan jaket miliknya pada Runa, udara malam cukup dingin ditambah tadi sedikit gerimis kecil.
Runa mengangkat satu alisnya. "Makasih,"
...
Di atas motor kedua remaja berbeda itu saling bertukar cerita, tak jarang mereka tertawa.
Membuat beberapa pengendara motor menatap mereka. Sampai tiba motor Galang terhenti di depan rumah bercat putih.
"Makasih ya Lang udah diantar pulang, oh iya nih uang buat makan tadi. Lupa,"
"Gak usah Na, dari kemarin gue udah niat kok buat traktir lo. Jadi uangnya lo simpan aja ya, buat kebutuhan lainnya."
"Yakin nih?" Galang mengangguk tegas.
"Makasih ya sekali lagi, kamu pulangnya hati-hati," ujar Runa. "Em, maaf juga ya, gara-gara kak Shaka, muka kamu jadi luka." Sambung Runa sambil menautkan kedua tangannya.
"Bukan salah lo, salah cowok lo." ujar Galang.
"Gak usah merasa bersalah, lagian ini juga luka kecil doang. Udah lo obati juga, paling besok juga udah sembuh." katanya.
"Yaudah, gue balik ya Na, lo masuk gih masuk angin ntar." suruh Galang.
"Duluan ya, bye!" perlahan motor yang dikendarai oleh Galang pergi menjauh.
Gadis itu melangkah masuk ke dalam setelah tak melihat motor Galang kembali.
...
Pagi yang cerah secerah matahari bersinar terang, pagi ini udaranya cukup pas, tak panas dan tak dingin juga.
Dengan cepat Runa melangkah turun ke bawah, ikut bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan.
"Pagi semua!" Sapa Runa memasuki ruang makan, menarik kursi samping Arfan.
"Pagi sayang, kamu semalem pulang jam berapa?" tanya Bunda sambil menyiapkan sarapan pagi.
"Jam 8.25 Bunda," jawab Runa.
Bunda mengangguk paham. Wanita paru baya itu menyiapkan sarapan tak lupa juga bekal untuk Arfan dan Runa. "Bekalnya di bawa ya, jangan sampai ketinggalan lagi bekalnya di sekolah."
"Siap Bunda!"
Runa bangkit dari duduknya, gadis berambut yang dia ikat kuda itu pamit pada yang lainnya. Galang baru kasih info kalau dia berada di depan rumah.
"Bunda, Ayah, Bang Arfan. Runa pamit berangkat ya." Tak lupa menyalami mereka satu per satu. "Assalamu'alaikum!" pamit Runa.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Runa!" teriak Bunda yang perlahan tak melihat tubuh anak gadisnya.
Sampai depan Runa, Runa mendapatkan Galang yang duduk di atas motor sambil bersandar pada jok motor, tangannya tak henti untuk memainkan kunci.
"Pagi, makin cantik aja lo." puji Galang. "Lo udah sarapan belum?" tanyanya.
"Udah kok, kamu gimana? Udah belum," tanya Runa balik.
"Jangan bilang kalau belum?" Runa memicingkan mata menatap Galang tajam.
"Udah di depan sana ada tukang bubur. Buruan naik, takut telat ntar." Galang mengulurkan tangannya membantu Runa naik ke atas motor.
"Jangan ngebut ya!"
"Oke gue ngebut nih," ia meringis kencang, ketika cubitan Runa mendarat pas pada perut ABS miliknya. Bukannya sakit, malah geli jadinya.
"Iya! Jangan lo cubit juga, geli!"
Perlahan motor Galang melaju membelah padatnya kota Jakarta. Di temani dengan suara bising klakson dan anak-anak yang berjalan.
Tak memakan waktu lama, motor Galang berhenti di depan gerbang Trisatya, hal itulah yang membuat anak-anak lainnya berbisik pada mereka berdua.
"Punya pacar, jalannya sama cowok lain."
"Gak malu apa jadi cewek, cantik sih kok gitu ya."
"Kasihan gue sama kak Shaka."
"Udah mending jadian aja sama Kania, mereka berdua dilihat-lihat cocok juga jadi pasangan."
"Gue yakin, kalau mereka jadian, mereka bakal jadi couple goals."
Runa tersentak akibat tangannya di genggam lembut oleh Galang. "Lang?"
Galang tersenyum. "Gak usah lo denger ya, mereka semua gak ngerti sama masalah apa yang lo jalanin sekarang." ujar Galang dengan lembut.
"Gue bakal ada selalu di samping lo, jadi lo tenang aja." sambung cowok itu, sembari mengusap lembut telapak tangan Runa dan memberi gadis itu semangat.
Senyum Runa terbit. "Makasih ya, aku masuk ke dalam." pamit nya.
"Sana masuk, gue juga mau berangkat. Duluan ya!" Galang kembali menyalakan mesin motor, dan perlahan meninggalkan sekolah Runa.
Memilih membalikkan badan, Runa berjalan masuk ke dalam. Meski cibiran tak henti-hentinya dia dengar, sudah 2 minggu paska kejadian ribut antara dirinya, Shaka dan Kania.
Namanya sekarang menjadi topik di kalangan anak Trisatya, banyak sekali yang menjelekkan namanya, meski ada juga yang membela Runa --walaupun dari jauh.
"Runa!" pekikan seseorang yang Runa tau siapa sosok itu.
"Pagi Runa," dengan senyum manisnya, Vanya menyapa sahabatnya itu.
"Pagi Vanya," Runa membalas sapaan Vanya, dengan senyum paksaan.
Dirinya cukup kaget, ketika Vanya memberikan earphone milik cewek itu dan memasangkan nya di telinga kanan Runa.
"Kedua tangan kita emang gak bisa buat nutup mulut mereka, tapi kedua tangan kita bisa buat tutup telinga kita dari omongan mereka," ujar Vanya.
"Hidup mereka itu cuma ada dua, mengomentari hidup orang dan ikut campur masalah orang." sambung Vanya kembali.
Runa tersenyum haru, disaat seperti ini hanya perempuan inilah yang menemani dirinya, menemani Runa di kala duka. Memberikan solusi serta memberikan nya tawa.
"Makasih ya Van, udah selalu ada buat Runa." ujar Runa terharu.
Tangan Vanya menggenggam telapak tangan Runa, lalu mengajaknya jalan memasuki kelas. "Karena lo sahabat gue disini, lo teman sekaligus sahabat pertama yang tulus mencintai gue tanpa mandang apapun."
...
Istirahat tiba, Runa berjalan menuju salah satu kelas. Tangan kanannya sudah ada kotak makan yang diberikan Bunda tadi pagi.
"Kak Shaka!" pekik Runa, entahlah Runa mau marah pada cowok ini juga tak bisa, semuanya pudar dalam beberapa jam saja.
"Kamu udah makan belum?" tanya Runa sembari menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki lebar milik Shaka.
Diam, Shaka hanya diam tak merespon sedikit pun perkataan Runa. "Pergi," kata yang berhasil keluar dari mulut lelaki itu.
"Runa bawa makanan buat kamu, dimakan ya." Runa memberikan kotak makan yang seharusnya untuk nya, malah dia berikan pada Shaka.
Shaka menerima bekal itu, lalu membolak-balikan nya dan membuang ke dalam tong sampah yang ada di sampingnya tepat.
Dug
Hanya bisa menahan tangis, serta amarah. Shaka melirik sekilas ke arah Runa dengan senyum miring andalannya. "Gak usah kasih apa pun buat gue, ngerti?" ujar Shaka lalu melenggang pergi.
"Kamu mau makan gak?" Shaka mengangguk singkat.
"Ke kantin yuk, aku udah lapar." Kania lantas memeluk lengan Shaka, dan cowok itu hanya diam sembari melangkah ke kantin bersama Kania.
Hanya bisa diam dan diam, Runa membalikkan badan sekilas menatap kotak makan miliknya yang terbuang sia-sia.
"Kasihan gue sama Runa," sahut Arthur sambil menatap kepergian Runa yang perlahan menjauh. Inti Alastair tadi tak sengaja menatap kejadian itu.
Mereka semua meringis menatap kejadian dimana Shaka membuang makanan pemberian Runa dan mengusir keberadaan gadis berambut ikat kuda.
"Shaka udah keterlaluan sih ini, gila lo dia! Gak hargai banget, btw mereka ribut udah berapa lama sih?" tanya Bram penasaran.
Yang lain mengidikkan bahu tak tau. "Gak usah ikut campur, kita liat aja." ujar Rasya kembali.
...
Semoga makin kesel bye..
Update lagi gak? Ramein ya hari ini, biar aku up langsung