
Runa terbangun dari tidurnya, akibat sedari tadi perutnya berbunyi meminta jatah. Menyibakkan selimut, gadis itu turun ke bawah untuk mengecek apa ada makanan? Ternyata kosong, langsung dia putuskan untuk pergi ke supermarket.
Sampai supermarket, Runa mengambil beberapa snack serta mie instan dan membayarnya, diperjalanan pulang entah dari mana beberapa motor datang mencegah Runa.
"Mau kemana neng, sendirian aja. Sini sama Aa." Goda salah satu dari mereka.
"Gue anterin sini yuk. Rumah lo dimana?" Tanya salah satu dari mereka.
Runa menatap mereka takut, gadis itu menoleh ke kanan ke kiri, mencoba meminta bantuan. Sial! Tak ada orang.
"Gak, gak mau!" Tolak Runa, ketika ingin berlari pergi, tangannya di cekal, membuat Runa tak bisa melakukan apa.
"Lepasin!" Runa memberontak.
"Santai aja dong, gak usah takut gitu." Ujar lelaki itu yang ingin menyentuh Runa, tak tau darimana bogeman mentah datang membuat orang yang hampir menyentuh Runa tersungkur di atas tanah.
Runa menutup mulutnya kaget, gadis itu menoleh ke samping, matanya membulat sempurna. Shaka lagi-lagi cowok itu membantunya, cowok itu tak sendiri dia bersama kelima temannya.
"Ngapain lo!" Shaka menatap tajam cowok itu.
"Waw ada pahlawan kesiangan yang datang." Remeh nya.
"Berisik! Pergi lo, sebelum gue kasih kekerasan ke kalian semua." Usir Shaka.
"Bacot lo!" Dan terjadilah keributan diantara kedua belah pihak, antara Alastair dan Gundala. Mereka semua adalah anggota Gundala, musuh bebuyutan Alastair.
"Pergi lo! Awas aja kalau sampai gue lihat lo ganggu dia lagi, gue pastiin pasukan runtuh sama tanah." Ujar Shaka.
"Oh ya?" Bayu -tangan kanan Gundala Shaka dengan remeh. "Apa hak lo buat larang gue deket dia?" Tunjuk Bayu ke Runa.
"Karena dia.." Shaka menggantung ucapannya. "Pacar gue," Lanjut Shaka menarik pundak Runa supaya semakin dekat.
Runa merasa kaget dong, gak ada angin gak ada hujan. Seketika dirinya di cap sebagai pacar dari seorang Arshaka Virendra Aldebaran? Tak hanya Runa, semuanya tampak kaget dengan kebenaran yang Shaka buat.
"Tenang aja, gue cuma bantu lo. Biar mereka gak ganggu lo lagi." Bisik Shaka.
"I-ini beneran nih? Apa telinga gue doang yang bermasalah?" Ujar Bram.
"Kayaknya sih, gak lo doang." Arthur juga berpendapat dengan Bram, dia kira pendengarannya yang bermasalah.
"Pacar? Oke, tapi lo lihat nanti, gue pastiin cewek lo gak akan aman." Ujar Bayu. Lalu memerintahkan yang lainnya cabut.
"Lo gak papa?"
"I-iya gak papa kok, makasih ya." Ujar Runa.
"Gue antar balik," Shaka berucap lalu menarik Runa ke motornya.
....
Hari baru telah berganti, Runa berdiri di depan kaca, sambil memakai dasi, gadis itu sudah bangun lebih awal akibat hari ini dirinya harus piket pagi.
"Runa! Buruan bangun, eh udah bangun lo?" Tanya Arfan di ambang pintu.
"Yang abang lihat?" Tanya Runa balik.
"Tumben banget lo pagi-pagi udah bangun aja, ada apa gerangan?" Paling Runa bangun jam 6 itupun belum siap-siap.
"Ada piket di kelas." Jawab Runa.
"Oh, lo berangkat sendiri ya? Kelas gue agak siangan soalnya, daripada gue bolak-balik mending sekalian nanti." Tutur Arfan.
"Iya, nanti aku naik angkot aja."
"Good, gue mandi dulu gerah," Arfan langsung pergi meninggalkan kamar Runa.
Runa mengangguk singkat, dia tersenyum menghadap cermin, sudah siap. Saat nya berangkat! Memasukkan handphone serta power bank ke dalam tas, lalu turun ke bawah.
Terdengar Bunda sedang mengobrol dengan orang, tapi siapa. Masa sama Bang Arfan, kan dia mandi tadi. Apa telpon sama Ayah? Sebentar! Suaranya kok gak asing.
Damb!
Dugaan Runa benar, sosok yang berbicara dengan Bunda adalah Shaka. Shaka? Mengapa dia ada di rumah Runa sepagi ini, dan untuk apa dia kemari?
"Bunda," Panggil Runa.
Yuna dan Shaka bersamaan menoleh. "Udah siap? Nih ditunggu sama temannya." Ujar Bunda. "Yaudah gimana kalau sarapan aja sekalian, kamu belum makan kan? Yuk sekalian sarapan bersama." Ajak Bunda lalu pergi meninggalkan Runa dan Shaka.
"Kak Shaka ngapain di sini?" Tanya Runa.
"Jemput lo," Jawab Shaka.
"Runa ayo ajak temen kamu ke sini, nanti kalian keburu telat!" Teriak Bunda dari dapur.
"I-iya Bunda sebentar! A-ayo kak." Ajak Runa, Shaka mengikuti Runa dari belakang.
...
Sekolah seketika digegerkan oleh rumor dimana shaka memberi boncengan pada seorang gadis. Hal itu menjadi bahan trending topik sekolah, bayangkan sosok Shaka yang pendiam, cuek, dan tak akan pernah peduli dengan cewek.
Tiba-tiba dirumorkan oleh berita dimana dia mengonceng seorang wanita. Dan dia adalah Runa, gadis pindahan yang baru satu bulan bersekolah di Trisatya.
"Beruntung banget tuh cewek, mau dong tuker posisi."
"Gue setuju tuh, ih baru adik kelas udah ganjen. Cantik-cantik kok ganjen ups!"
"Kalau dilihat-lihat mereka cocok kok."
"Masih cocokan sama Tania sih menurut gue."
Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang sungguh tak pantas mereka ucapkan pada Runa, kalau jadinya seperti ini. Lebih baik Runa dia tak usah berangkat bersama Shaka.
"Gak usah dengerin Runa, terserah mereka mau bicara apa tentang kamu, toh kamu juga gak salah, kamu kan yang di jemput." Batin Runa, memegang erat tali tas.
Runa telah sampai di kelas, gadis itu duduk. Seketika mejanya dihampiri oleh anak-anak yang bertanya apa benar berita itu terjadi.
"Runa, beneran lo di bonceng sama kak Shaka?" Tanya salah satu dari mereka.
"I-iya bener, kenapa?"
"OMO! DAEBAK! Pantes aja berita ini viral. Gila gimana rasanya di bonceng sama most wanted?" Tanya yang lain dengan menggebu-gebu.
"Biasa aja sih." Balas Runa dengan santai, gak ada apa-apa, emangnya ada yang aneh ya? Baginya seperti orang di bonceng pada umumnya. Terus apa yang istimewa.
"What! Biasa aja?" Runa mengangguk kecil. "Wah gila lo, ganti posisi yuk lah!"
"Sa beneran lo bonceng si Runa?" Tanya Bram, kepo lebih tepatnya. Keenam inti Alastair sedang bersantai di depan kelas, sambil menunggu bel berbunyi. Di kelas panas, AC nya bermasalah.
"Hm, bener napa?" Tak lupa dengan wajah datarnya, cowok itu menjawab.
"Udah main jemput aja nih, fix malam ini basecamp harus rame makanan." Ujar Arthur.
"Cuma makanan doang kan, kecil itu mah." Ujar Bram.
"Loh iya, jangankan makanannya, pabriknya aja di beli sama Shaka." Ujar Tara.
"Yang kaya bokap gue, bukan gue." Seru Shaka.
"Tapi kan lo kena getahnya juga Sa," saut Rayn.
"Galang ajak ketemuan tuh di lapangan biasa," Rasya berucap, cowok itu yang sedari tadi menyimak akhirnya ikut nimbrung juga.
"Berarti Galang udah balik dari penjara bener dong?" Tanya Tara, Rasya mengangguk singkat.
...
Bel istirahat berbunyi Vanya dan Runa berjalan menuju lorong, sesekali bercanda. Meski bisik-bisik masih terdengar. Namun tak Runa hiraukan, baginya tak penting.
Asik dengan obrolannya, Runa tak sengaja menabrak seseorang yang membuat minumannya mengenai orang itu.
"Lo punya mata gak!" Umpatnya, membuat anak-anak yang ada di Koridor berkerumun melihat apa yang terjadi.
"E-eh maaf kak, maaf gak sengaja." Ujar Runa tak enak.
"Gak sengaja-gak sengaja! Baju gue basah nih, tanggung jawab!" Teriak nya, membuat sebagian orang ber bisik-bisik.
Vanya dan Runa langsung menatap orang itu. "Kak Tania?" Ujar Vanya. "Sorry kak temen gue gak sengaja."
"Oh temen lo, bentar. Lo Runa? Cewek pindahan yang berhasil deketin Shaka?" Tunjuk Tania.
"Bagus juga ide lo, pakai cara apaan sampai dapetin hati Shaka. Pelet ya lo!" Tuduh Tania.
Vanya menatap Tania kesal. "Maaf kak, kenapa situ malah bahas ini ya?"
"Diam lo!" Bentak Tania pada Vanya. "Gue gak ada urusan sama lo!"
"Maaf mbak nya, kok ngegas! Saya kan bicara baik-baik."
"Gue gak mau tau, lo harus ganti baju gue sama yang baru."
"Sorry apa baru? Woi itu cuma tumpahan air biasa, bisa kering juga kali. Ngapain pakai ganti Yang baru." Vanya malah menjadi kesal sendiri.
"Gue gak peduli, dan buat lo. Jauhi Shaka, dia gak pantas buat lo ngerti lo!" Gertak Tania.
"Apa hak lo larang Dia?" Shaka datang entah dari mana, cowok itu berdiri di samping Runa yang sedari tadi diam.
"Shaka?"
"Kenapa? Apa hak ko larang dia buat deketin gue?" Shaka mengulangi lagi pertanyaannya.
"Di-dia-" Shaka dengan cepat memotong ucapan Tania.
"Dia pacar gue kenapa?" Pernyataan Shaka membuat semua murid yang ada di Koridor kaget, what! Pacarnya?!
Untuk kedua kalinya, Shaka mengecap Runa sebagai pacarnya.
"Pacar kamu?" Tanya Tania, cewek itu menatap Runa lalu kembali lagi ke Shaka.
"Hm, jadi buat lo semua. Kalau sampai gue denger lo semua bicara tentang Runa entah baik atau buruk, lo berhadapan sama gue!" Shaka langsung menarik Runa pergi dari kerumunan.
Sebelum Shaka meninggalkan Koridor dia memberi pesan singkat yang sangat menusuk ke dalam diri Tania. "Buat lo, gak usah sok berlaga baik di depan gue. Karena sejarahnya, lo lebih busuk dari seekor binatang!"
...
Jangan lupa jejaknya