Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Perlahan tak peduli



..."Jangan remehkan marahnya orang sabar, murkanya orang bercanda dan kecewanya orang setia." -Aruna Priyanka Zoey....


.........


Hari-hari berikutnya, Runa menjalankan aktivitas seperti biasa. Tak terasa sudah ujian kenaikan akan dimulai bulan depan, dan tak terasa juga hubungan Runa dan Shaka hampir berjalan satu tahun setengah.


Awal dari segalanya sekarang entah bagaimana lagi, gadis dengan rambut yang dia ikat kuda yang menjadi ciri khas Runa pernah berpikir.


Dulu dia kira Runa bakal merasakan manisnya hubungan, selalu keluar bareng, menikmati malam minggu berdua, berbagi cerita serta banyak hal yang menyenangkan.


Tapi, semuanya hanya omongan belaka. Buktinya, itu semua hanya bertahan 1 tahun, sisanya? Keributan.


Pagi ini seperti biasa, Runa telah siap untuk berangkat ke sekolah. Arfan yang melihat sang Adik tengah berkemas-kemas lantas bangkit dari kursi dan ikut pamit.


"Gue antar," ujar Arfan. Sudah satu bulan lebih Arfan selalu mengantar jemput adiknya. Tepat setelah Arfan mengetahui segalanya.


Di dalam mobil tak ada pembicaraan diantara kedua adik-kakak itu, hanya suara musik lah yang menemani.


Hubungan Arfan dan Runa juga sedikit merenggang akibat masalah waktu itu.


Arfan memilih mendiamkan Runa, lelaki itu hanya ingin princess kecilnya ini seperti dulu. Yang selalu menceritakan segala keluh kesahnya.


"Gimana hubungan lo sama Shaka?" pertanyaan yang Arfan lontarkan berhasil membuat Runa tersadar, mengatur posisi dengan nyaman Runa akhirnya menjawab.


"Masih sama,"


"Stupid!" gertak Arfan.


"Harus gue bilang berapa kali sama lo, putusin cowok kayak gitu, buat apa lo pertahankan." Arfan ber desis.


"Mending lo deket sama Galang," tambah Arfan.


"Dia udah pindah," balas Runa singkat.


"Kemana?" tanya Arfan yang masih fokus pada jalanan.


"Belanda, Galang udah nemuin keluarga barunya di sana." jelas Runa. Berkata tentang Galang, lelaki itu sudah pindah ke Belanda dari tiga bulan yang lalu.


Runa bersyukur sekaligus sedih, bersyukur karena Galang telah menemukan keluarga barunya.


Sedih karena Galang pergi jauh, sudah dibilang meski Galang kelihatan galak, tapi dia baik kok dan hal itulah yang membuat Runa rindu pada lelaki itu.


Di tempat yang berbeda, Shaka dari pagi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


Selesai dengan semua nya Shaka memilih turun ke bawah dengan buru-buru, sampai melupakan sarapan paginya.


"SHAKA! KAMU GAK SARAPAN?" tanya Lea sedikit teriak.


"BURU-BURU MA! SHAKA BERANGKAT ASSALAMU'ALAIKUM!" pekik Shaka berteriak.


Ale, bocah yang bulan depan akan naik kelas langsung menatap jam tangan. "Masih jam 6.10 cepet banget," heran Ale.


Tak biasanya lelaki itu berangkat jam segini. Kalian pasti gak asing dong sama Shaka, paling pagi berangkat ke sekolah jam 7 kurang.


"Paling ada urusan," sahut Al.


Menjalankan motor dengan cepat, untung jalanan masih tak begitu macet, membuat Shaka bisa cepat sampai ke sekolah.


Tak perlu waktu lama, Shaka berhenti di depan sekolah dan langsung memarkirkan motor ninja miliknya di samping motor Rayn dan Rasya.


Bersandar pada helm kaca, jarinya mengetuk helm beberapa kali sambil menoleh ke kanan ke kiri.


Menunggu seseorang datang. Senyum nya mengembang, saat sosok yang dia tunggu datang juga.


"RUNA!" Shaka berlari menghampiri gadis itu. "Selamat pagi," sapa Shaka dengan canggung.


"Pagi," jawab Runa padat.


"Udah sarapan belum?" tanya Shaka pada Runa.


Runa mengangguk kecil. "Udah tadi, di rumah."


"Oh iya Run----" belum lanjut untuk berucap, seseorang datang dari belakang membuat Shaka menghentikan ucapannya.


"Hai Shaka," sapa nya. Siapa lagi kalau bukan Kania Anastasius.


Runa hanya memutar bola mata malas, memilih melangkah menjauh. Membuang-buang waktu saja menanggapi mereka. "Duluan," pamitnya.


"Kok lo masuk? Lo kan harus istirahat," ujar Shaka pada Kania.


...


Runa melangkah menuju ke ruang guru, gadis itu masih saja mendapatkan panggilan akibat nilai-nilai serta beberapa tugas yang tak terselesaikan.


"Runa,"


Runa melirik sekilas, kembali menatap ke depan dengan sedikit mempercepat langkah kakinya. "Iya?"


"Gak kayak biasanya," ujar Shaka.


"Emang kayak apa?" tanya Runa balik. "Lagian percuma juga, kalau gak dihargai." sindir Runa dengan pelan tapi terdapat penekanan.


"Duluan ya kak, aku ada panggilan." pamit Runa.


Shaka dapat merasakan, perbedaan antara Runa yang dulu dan sekarang.


Lihatlah cewek itu mulai tak peduli lagi, ahh tepatnya ribut kemarin Runa sudah menjadi berbeda, lebih cuek padanya. Meski kadang memberikannya kotak makan atau sekedar menyapa, tapi kali ini berbeda.


...


Tiga hari sudah, Runa menjadi sosok yang cuek apalagi dengan Shaka.


Saat Shaka mengajak Runa beristirahat gadis itu memilih pergi bersama Vanya, atau pergi ke tempat yang sepi.


Tak ada alasan lain untuk ini, bagi Runa mungkin inilah cara ampun untuk Shaka bisa merasakan.


Gimana sakit hatinya di cuekin selama 6 bulan lebih. Bayangkan 6 bulan yang di lakukan nya adalah untuk mempertahankan hubungan, namun ternyata sia-sia.


Bel pulang sekolah berbunyi, Runa tengah menunggu jemputan dari Arfan.


Katanya lelaki itu berada di perjalanan, jam segini nih waktunya jam makan siang dan pulang sekolah. Sudah dipastikan seberapa parah macet jalanan.


"Pulang sama siapa?"


Runa reflek menoleh ke samping, ada Shaka yang memarkirkan motor miliknya di samping tubuh mungil itu sembari menghalangi matahari yang menyilaukan mata.


"Abang," balas Runa singkat sambil menyibukkan diri dengan ponsel.


"Aku antar ya, daripada nunggu lama kamu nya." tawar Shaka.


"Gak usah," tolak Runa.


"Abang lagi ada diperjalanan, gak enak kalo Abang nyampe malah akunya yang gak ada. Mending kamu balik aja dulu, sekalian nemenin kak Kania. Dia kan butuh kamu," sindir Runa kembali.


Belum kembali runa melangkah menjauh, tangannya sudah di cekal Shaka. "Aku tau aku salah."


Runa tersenyum sambil menatap Shaka dengan beraninya. Tatapan ini, tatapan yang tak pernah Shaka lihat sebelum nya dari Runa, tatapan yang dingin serta kekecewaan yang menjadi satu.


"Lalu? Dengan gini kamu bisa putar waktu? Gak kan,"


"Kalau aku minta putus ke kamu gimana?"


Jdar!


Pertanyaan Runa seakan awal dari semuanya, pertanyaan yang Shaka engan dengar, pertanyaan yang Shaka benci. Yaitu perpisahan.


"Na, gak usah becanda."


Memutar bola mata jengah, Runa perlahan melepas tangan Shaka dari tangannya, memilih melangkah menjauhi tempat itu, apalagi mereka menjadi tontonan anak-anak. Sungguh risih sekali.


"Runa!" Shaka masih mencoba kembali.


Membujuk dengan segala hal, sampai akhirnya Runa menurut dan mengikuti langkah lelaki itu dari belakang.


Shaka memberikan jaket miliknya pada Runa, menyuruh gadis itu mengikatnya di pinggang.


"Makasih," balas Runa singkat.


"Shaka," Runa dan Shaka bersamaan menoleh ke samping ada Kania di sana yang berdiri dengan buku-buku tebal.


"Sorry Kan, gue mau antar Runa balik dulu. Lo bisa balik sendiri kan?" perkataan Shaka berhasil membuat Runa dan Kania kaget.


Dapat terlihat dari sorot mata Kania, terlihat jelas ketidaksukaan. Namun dengan cepat Runa mengangkat bahu tak peduli. Lagian kali ini bukan salahnya, yang mengajak nya pulang bersama cowok di depannya.


"Duluan," pamit Shaka pada Kania.


Segaris senyum terbit di bibir mungilnya, Runa menatap Kania cukup lama. Kemudian meninggalkan gadis itu dan memilih naik ke atas motor.