
..."Resiko mencintai adalah kehilangan." -Aruna Priyanka Zoey....
.........
"Runa udah ya, jangan kayak gini," Vanya berulang kali mencoba untuk menenangkan sahabat satu-satunya itu, yang sedari tadi tak berhenti menangis di dalam dekapannya.
"Rama Van. Rama," Runa menangis sesenggukan. Gadis itu sampai kini masih belum menyangka jika ia akan ditinggalkan untuk waktu yang cukup lama.
Rasanya seperti mimpi buruk, baru saja berkenalan lalu malamnya dia pergi meninggalkan Runa untuk selama-lamanya.
"Gue tau lo sedih akan kehilangan dia. Cuma ingat Na. Lo gak boleh kayak gini terus, lo harus bangkit lagi kayak dulu!"
Vanya tau rasanya kehilangan sosok orang yang kita cintai itu memang sangat berat, butuh waktu lama untuk bisa kembali seperti awal. Tetapi apakah harus berlarut dalam kesedihan?
Seminggu sudah Rama pergi meninggalkan semuanya, kenangan, memori, Kata-kata yang cukup membuat Runa semangat menjalani hidup. Kini hanya menyisakan kenangan.
Rama, lelaki terbaik yang pernah Runa temui setelah Ayah dan Arfan. Meski Runa tau, jika itu hanyalah sebuah topeng.
Topeng untuk menutupi jati diri Rama yang asli, menutupi kesalahan-kesalahan yang perlahan lelaki itu perbuat.
Namun yakinlah, Runa tak peduli dengan itu. Runa tau jika Rama baik, Runa juga tau sebab akibat mengapa Rama menjadi sosok penjahat, tepatnya seorang pembunuh yang berkedok menjadi bocah kuliah.
Kalau kalian berpikir, Runa dan Shaka yang mati akibat tembakan yang Rama beri. Jawabannya salah, karena Rama sendiri lah yang membunuh dirinya sendiri.
Malam itu, Rama masih berlari mencari keberadaan Runa. Tak sengaja, Rama melihat Runa dan Shaka yang duduk di atas kayu sambil menatap danau di hadapan mereka.
Melihat hal tersebut, Rama kemudian berjalan mengendap-endap dan bersembunyi di balik kayu besar yang tak jauh dari sana.
Tangan kanannya mulai mengisi pistol dengan peluru, dan mulai bersiap untuk melepaskan peluru itu pada mangsa di depannya.
Ketika tangannya memetik pelatuk pistol, seketika itu juga Rama mengurungkan niatnya. Perlahan mulai menguping semua pembicaraan yang Shaka dan Runa katakan.
Entah setan apa yang memasuki tubuh lelaki berdarah pembunuh, Rama mengangkat pistol dan mengarahkan nya pada dada Rama.
Detik itu juga, Rama melepaskan pelatuk pistol. Suara tembakan yang cukup keras, membuat Runa dan Shaka menoleh ke arah sumber suara.
Menatap Rama yang terjatuh dengan darah yang terus terusan keluar, berhasil membuat Runa berlari menghampiri lelaki itu. "RAMA!" pekik Runa histeris.
"Rama kamu denger suara aku kan? Rama bangun aku mohon!"
Rama meringis kencang, memegangi dadanya. Rama menatap Runa dengan tatapannya yang mulai kabur. "Maaf," satu kata yang keluar dari mulut Rama.
Sedetik kemudian, mata Rama perlahan menutup. Melihat itu membuat Runa histeris. Menatap jasad Rama dan memeluknya erat. "Rama, kamu jahat!" tangis Runa.
Shaka yang berdiri di samping Runa hanya bisa menatap Rama, membiarkan Runa untuk melupakan segalanya. Dan ikut duduk di samping gadis itu, menarik Runa dan memeluknya erat.
"Kak! Rama pergi, pergi ninggalin Runa!" Runa mengadu, sembari memukuli dada Shaka berulang kali.
"Rama udah tenang di sana," bisik Shaka.
...
Tanah kuburan masih terlihat basah, menatap nama dan batu nisan. Dengan balutan kain hitam, Runa terduduk di atas tanah kuburan. Mengusap batu nisan sambil menundukkan kepala.
Hatinya masih belum ikhlas tuk kepergian Rama. Bila ditanya apakah Runa marah dengan kelakuan Rama? Tidak! Runa bahkan tak bisa marah terhadap seseorang.
Runa hanya sedikit kecewa tentang sifat dan kelakuan Rama yang asli.
"Selamat istirahat Rama. Selamat jalan juga, semoga kamu tenang di sana,"
Dengan berat hati Runa berjalan meninggalkan pemakaman, berjalan menuju pintu keluar.
Tiba-tiba dia di panggil oleh seseorang dari arah belakang. Dan Runa pun menoleh, menatap Shaka yang sama-sama ada di pemakaman.
"Runa," dengan tersenyum manis Shaka menghampiri Runa.
"Habis ke makam Rama?" Runa mengangguk kecil sebagai balasan.
Mengangguk paham, Shaka berkata. "Awalnya emang berat buat melepaskan sosok orang yang kita cintai. Tapi yakin gak yakin, kita juga harus ikhlas buat melepaskan!" kata Shaka dengan bijak.
Shaka paham dengan perasaan yang Runa alami, karena cowok itu juga pernah berada di dalam posisi Runa sekarang. Kehilangan sosok yang mereka cintai.
"Kamu sendiri?"
"Ke makam Qilla," singkat Shaka.
"Oh iya, rencananya setelah ini aku mau pergi buat cari sarapan. Kamu udah sarapan belum? Mau gak kita sarapan berdua? Kayaknya sih di dekat sini ada warung makan," tawar Shaka pada Runa.
Mendapatkan tawaran dari Shaka membuat Runa terhenyak. "Kalau gak mau gak papa kok! Aku gak mau maksa," sambung Shaka kemudian.
"Boleh deh, sekalian juga aku belum makan."
Mendapatkan jawaban yang sesuai membuat Shaka tersenyum bangga, tanpa sadar cowok itu menarik Runa pergi meninggalkan kuburan.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran depan, sampai parkiran Shaka mengeluarkan motor nya dari parkiran dan mengulurkan tangannya pada Runa -membantu gadis itu naik.
Dengan ragu-ragu, Runa menerima uluran tangan Shaka. Dan perlahan menaiki motor.
Tak berapa lama, Shaka menghentikan motornya di depan gerobak bubur ayam. Melangkah masuk diikuti Runa, Shaka memesan bubur ayam.
"Makasih pak," ujar Runa tak kala bubur pesanan mereka telah tiba.
Selanjutnya Shaka bangkit dari duduknya dan membayar pesanan mereka. "Aku antar pulang," ujar Shaka seusai membayar bubur ayam.
Mengendarai motor dengan kecepatan sedang, kali ini Shaka ingin berdua lebih lama dengan Runa. Shaka menghentikan motornya tepat di depan rumah berlantai dua dan membantu Runa turun.
"Makasih ya," ucap Runa dengan tulus. "Makasih juga udah mau tolongin aku waktu itu, mungkin kalau kamu gak ada. Gak tau deh aku jadi apa,"
"Na!" tegur Shaka. "Sama-sama, udah jadi tugas aku buat jaga karyawan."
Runa tersenyum mendengarnya, setelah itu memilih pamit untuk masuk ke dalam. "Aku masuk dulu," membalikkan badannya ke belakang.
"Bersedih boleh, cuma jangan berlebihan. Ingat kita hidup di masa depan bukan masa lalu," kata Shaka kembali. Mengulang ucapan yang pernah Runa katakan dulu.
Kehilangan orang yang kita sayang memang menjadi sebuah pukulan yang berat, tak gampang untuk merelakan dan mengikhlaskannya pergi. Apalagi kalau kepergian itu datang tanpa peringatan apapun.
Pada akhirnya yang tersisa di hati adalah kenangan dan kerinduan yang paling dalam. Tetapi hidup terus berjalan seiring waktu, kita juga harus tetap melangkah ke depan untuk menjalankan kehidupan.
...
Yang kemarin digantung, udah ketahuan siapa yang mati..
Maaf kalo pendek 😭 cuma gpp, episode ke depannya bakal membahas pendekatan Shaka dan Runa kok. Tenang aja 😍