Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kania Anastasius



Beda halnya dengan kelas Runa dan Vanya, di dalam kelas begitu damai dan sunyi, Pasalnya, ulangan matematika sedang mereka laksanakan siang ini.


"Baik anak-anak, waktunya tinggal 15 menit lagi. Jangan ada yang mencontek, kerjakan sendiri lebih baik." ujar Pak Nurdin -guru matematika kelas 11.


Runa mengacak rambutnya kesal, gadis itu sedari tadi mencoret-coret kertas buram, namun hasilnya nihil. Runa belum menemukan jawaban satu pun!


"Runa ayo fokus! Fokus ke soal bukan yang lain!" Runa menjambak rambutnya sebal, pasalnya pikirannya sedari tadi berlari ke mana-mana, padahal ulangan kali ini, sama sekali tak ada remidial.


Jika kalian mengira Runa memikirkan kejadian itu, jawabannya benar! Dia tak hanya memikirkan kejadian itu saja, namun keanehan dalam diri Shaka juga masuk ke dalam pikirannya.


"Ayo fokus dong! Masa iya kamu mau nilai kamu kecil. Ayo fokus," Runa menatap kan beberapa kali kepalanya ke meja duduknya.


"Runa!"


Runa langsung mengangkat kepalanya, menatap sang guru. "A-ada apa pak?" tanya Runa gugup.


"Kamu kenapa? Kamu sakit ya? Muka kamu pucat begitu, ya sudah kamu boleh ke UKS sekarang, kamu bisa lanjutin ulangannya nanti kembali." Pak Nurdin berjalan menghampiri tempat duduk Runa, dan mengambil alih lembar ulangan itu.


Runa terdiam sebentar, gadis itu akhirnya mengangguk dan memilih keluar kelas. Kepalanya juga sudah pusing sedari tadi, ditambah lagi dengan angka matematika yang begitu memusingkan kepala.


Sampai UKS Runa putuskan untuk berbaring ke brankar, memilih untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Perlahan, bola mata itu menutup rapat.


...


Kelas IPA masih saja ramai, padahal sudah beberapa kali di tegur oleh beberapa guru. Namun yang namanya anak IPA 4, ya begini. Harus sabar-sabar pokoknya ngajar di kelas ini.


"Diem semua! Pak Sukar mau ke sini. Jangan pada rame," ujar Juna selaku ketua kelas bersuara.


Seketika keadaan hening terjadi, tak lama pintu kelas terketuk berbunyi, Pak Sukar -guru BK kelas 12 kini berdiri di depan sambil membawa buku kesiswaan.


"Selamat siang anak-anak!" ujar Pak Sukar dengan tegas nya.


"Siang Pak!" balas anak-anak.


"Baik, karena kelas kalian gurunya sedang ada rapat kedinasan, jadi untuk sementara hanya tugas yang ada. Bapak berdiri di sini, untuk mengantarkan murid baru di kelas kalian semua." kata Pak Sukar, yang berhasil membuat anak bisik-bisik tetangga.


"Semoga aja cowok sih, terus cogan. Biar kelas kita nambah cogan banyak lagi."


"Semoga aja cantik, lumayan buat gebetan gue."


"Semoga aja sih cantik, biar kelas kita gak burik semua."


Dan masih banyak lagi, bisikan-bisikan yang terdengar di telinga Pak Sukar, guru itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Diam! Kalau kalian ngomong terus kapan anak nya masuk? Kamu yang ada di depan, silakan masuk." pintah Pak Sukar.


Perlahan mereka menatap ke arah pintu dengan penasaran, gadis cantik dengan rambut panjangnya yang diuraikan begitu saja masuk ke dalam kelas. Dengan senyum manisnya, gadis itu melambaikan tangan.


"Kania, kamu boleh memperkenalkan diri kamu." suruh Pak Sukar.


"Hai semua, Aku Kania Anastasius. Kalian bisa panggil aku Kania, Aku pindahan dari Bandung, salam kenal semua." ujarnya memperkenalkan diri, tak lupa dengan senyum manis yang tercetak di bibir mungilnya itu.


"Hai Kania salam kenal." ujar Juna selaku ketua kelas menyapa.


Sedangkan para inti Alastair saling tatap satu sama lain, mereka semua menatap satu sama lain dan menatap ke arah Shaka bergantian.


"Itu kan cewek yang nabrak lo Sa, anjir satu kelas kita." Kata Tara.


"Eh iya ya! Kok gue baru sadar, cewek itu kan yang berhasil mengusik ketenangan hidup lo Sa," sahut Bram.


"Iya, dia kan cewek yang nabrak lo tadi di kantin Sa. Eh gila cantik bener." sahut Arthur.


"Siapa?" Rasya menatap ke arah Rayn, laki-laki blasteran itu menatap Kania dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kania kamu boleh duduk di tempat yang kosong ya. Kalau begitu Bapak pamit keluar, jangan ada yang ramai. Tugasnya segera di kumpulkan. Selamat siang semua!" pamit Pak Sukar.


Kania mengangguk kecil, lalu melangkahkan kakinya ke kursi kosong yang tepat berada di samping kursi Shaka berada.


"Cantik banget neng, lumayan lah ya buat stok pacar gue." Gurau Arthur, membuat anak-anak memutar bola mata jengah.


"Yang mulus aja langsung cepet lo." cibir Tara.


"Gak papa lah gue juga mau kalau di tanya," sahut Bram. "Cantik sih, lumayan lah buat tambahan cecan kelas kita. Biar gak gitu-gitu mulu. Bosen gue," lanjutnya kembali.


Sedangkan Shaka hanya mengidikkan bahu tak pedulinya, memilih untuk menidurkan diri dengan tas sebagai bantalnya.


...


Bel pulang berbunyi seantero sekolah, semua anak pada berhamburan keluar kelas masing-masing. Begitu pun dengan Runa dan Vanya, kedua remaja itu berjalan beriringan keluar kelas.


Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke kantin sebentar, akibat Vanya lapar, apalagi jam sudah sore. Selesai memesan nasi goreng serta es teh manis, keduanya sama-sama mencari tempat duduk.


"Runa," Vanya tiba-tiba memanggil namanya.


Runa menoleh. "Ada apa Van?"


"Gue boleh tanya sesuatu gak?" tanya Vanya dengan pelan.


Runa hanya terkekeh pelan. "Tanya aja, kayak sama siapa aja sih. Emangnya kamu mau tanya apa? Kok kayak penting gitu," ujar Runa, gadis itu menaruh sendok dan garpu lalu memilih menatap Vanya dengan serius.


"Gak bukannya gitu, cuma takut aja. Soalnya pertanyaannya cukup sensitif sih. Gak papa nih, gue tanya?" tanya Vanya sekaki lagi yang dibalas anggukan kecil dari Runa.


"Mau tanya apa?"


"Emmm ... hubungan lo sama kak Shaka baik-baik aja kan? Maksud gue itu, gini loh. Gimana ya, gue lihat-lihat lo sama kak Shaka lagi ada masalah, tapi gue gak tau apa masalahnya, soalnya di lihat-lihat, lo sama kak Shaka aneh aja buat beberapa minggu ini. Lo gak ribut kan?" tanya Vanya, yang berhasil membuat Runa tertegun.


Runa memilih untuk menatap ke arah lain. Gadis itu terdiam sesaat. "Kenapa Vanya tau, apa emang kelihatan ya kalau aku sama kak Shaka berantem?" batin Runa bertanya-tanya.


"Runa,"


Runa yang tersadar langsung berkata. "Gak aku baik-baik aja kok sama kak Shaka, emang iya aku berantem? Gak kok, kita baik-baik aja, mungkin perasaan kamu aja." ujar Runa, sebisa mungkin gadis itu tersenyum -meski terpaksa.


Vanya menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Maybe sih, soalnya gue lihat-lihat kak Shaka sama lo beda banget, kalian kayak saling menjauh gitu. Terus gak biasanya kak Shaka gak jemput lo kayak biasanya." tutur Vanya.


Kalian tau sendiri, jika Shaka setiap istirahat pasti akan menjemput Runa ke dalam kelas, walaupun tak sering. Namun kegiatan itu berhasil membuat anak-anak yang lain baper semua.


Dan Akhir-akhir ini Vanya tak pernah melihat nya, takut saja jika sahabatnya berantem. "Gak kok Van, lagian ya. Masa aku harus 24 jam sama kak Shaka terus, dan emangnya kamu mau kalau kamu istirahat sendirian di kantin?" tanya Runa.


"Ya gak lah! Gak mau gue istirahat di kantin sendiri aja. Iya juga sih, ucapan lo juga bener. Sorry ya Run, gue gak bermaksud apa-apa kok." ujar Vanya tak enak.


Runa tersenyum tulus. "Gak papa kok, kalau ada yang mau ditanyain, tanya aja langsung. Mungkin aku bisa jawab pertanyaan kamu." cecar Runa.


"Runa!" tak jauh dari tempat Vanya dan Runa duduk, di sana berdirilah Shaka yang menatap ke arahnya dengan tatapan datarnya. Bersamaan dengan kelima temannya.


"Ayo pulang." untuk pertama kalinya Shaka kembali mengajak Runa pulang bersama, setelah dua minggu ini keduanya sama-sama menjauh.


Runa menatap Shaka tak percaya, namun dengan cepat gadis itu mengubah ekspresi kagetnya menjadi biasa saja. "Eh iya kak, Vanya aku pulang dulu ya. Gak papa kan?" tanyanya sambil membereskan piring.


"Eh gak papa, sana balik. Bentar lagi supir gue juga mau datang. Piringnya gak usah dibalikin biar sama gue aja. Lo ati-ati ya pulang nya!" kata Vanya.


"Iya, aku balik dulu ya." ujar Runa sambil berjalan menghampiri Shaka.