Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kembali ke kantor



Matahari perlahan mulai menampakan sinarnya, alarm sudah berbunyi beberapa kali.


Merasa kesal, akhirnya ia memilih meraba-raba meja di samping tempat tidurnya. Mematikan alarm yang sedari tadi tak bisa diam.


Runa kembali menarik selimut dari kakinya, seraya menggerutu tak jelas, beginilah jadinya jika dia begadang dan baru bisa tertidur di saat matahari mulai nampak.


Belum selesai menggerutu, sekarang Runa malah berguling-guling di atas tempat tidurnya. Mencari posisi yang nyaman untuk bisa memejamkan matanya kembali.


Tetapi tidak berhasil.


Memutuskan untuk mencari hape yang dari semalam dia cas, dengan mata tertutup Runa mencari ponselnya yang dari semalam dia biarkan dalam keadaan mati daya.


"Eemmm..." menggeliat pelan, sambil melirik jam yang terpasang pada dinding kamar, atas meja belajar. Sudah jam setengah enam.


Dengan sayup-sayup, Runa memejamkan matanya perlahan. Kalau dihitung, Runa hanya tertidur selama 3 jam saja.


Terpaksa mengubah posisi tidurnya menjadi duduk, Runa menyibak selimut nya dan berjalan malas ke arah pintu kamar. "Iya sebentar!" mencari kunci lalu membukanya.


"Bunda? Ada apa Bun?" tanyanya setelah itu menguap.


"Kamu gak kerja?" tanya Bunda tanpa melupakan nada lembutnya. "Udah setengah enam tuh," sambung Bunda kemudian.


Hanya mengangguk pelan sebagai balasan.


"Runa kerja kok Bun," balas Runa dengan keadaan setengah sadar.


Melihat itu membuat Yuna tak tega. "Kalau kamu masih belum siap, Bunda gak papa."


Seketika mata Runa terbuka lebar, yang awalnya seperti terkena lem kini tak lagi. "Eh- enggak Bun, Runa kerja hari ini. Udah seminggu lebih juga Runa gak kerja, takut nanti malah dikeluarin,"


Bunda tersenyum dan mengusap lembut surai Runa, lalu berkata. "Rama pasti udah tenang di sana, dia anak baik."


Mendengarkan penuturan dari Bunda barusan, membuat hati Runa menciut seketika. Ia lupa jika Bunda belum mengetahui sifat asli dari Rama, lelaki pembunuh yang berkedok menjadi bocah kuliah.


"Sekarang kamu mandi, sarapannya bentar lagi selesai." Yuna mengecup singkat pipi Runa dan melangkah meninggalkan kamar.


Menatap kepergian sang Bunda, Runa mendesah pelan. Kembali menutup pintu dan segera bersiap diri untuk berangkat ke kantor.


...


Memandangi pantulan dirinya sendiri di depan kaca. Gadis itu memakai ke meja biru serta celana kain hitam dan tak lupa jaket sweater berwarna putih. Rambut panjangnya dia ikat kuda.


Pagi ini, Runa memutuskan untuk kembali berangkat ke kantor. Setelah hampir seminggu lebih Runa cuti. Tepatnya menenangkan diri.


Mengambil tas tote bag berwarna putih, dan memakai sepatu sneaker berwarna putih. Ia kembali memandangi penampilannya di depan cermin.


Manik matanya fokus pada daerah mata, sangat terlihat jika gadis itu kurang tidur, karena kantung matanya yang terlihat menghitam.


"Gini nih kalo kebanyakan begadang!" mengambil alat make up nya, Runa mulai aksinya.


Tersenyum bangga saat melihat hasil make up yang cukup baik. Dirasa sudah pas semuanya, Runa perlahan keluar kamar dan memutuskan untuk turun ke bawah.


Mencium aroma masakan sang Bunda, membuat perutnya menjadi lapar.


"Pagi semua," sapa Runa memasuki meja makan.


"Udah selesai ya? Yah maaf Bunda. Runa telat lagi," sesal nya.


Yuna tersenyum maklum. "Gak papa sayang, kamu kan sibuk kerja. Lagian ada Jihan juga kok yang bantu Bunda," balas wanita berbalut hijab.


"Iya dek, gak masalah kok. Sekarang kita sarapan aja. Biar kamu gak telat berangkat ke kantor," Jihan dan Yuna mulai menuangkan nasi ke dalam piring.


Sarapan sudah selesai, Runa bangkit dari duduknya dan berpamitan pergi. Menyalami satu persatu tangan mereka, Runa berjalan keluar.


Dari pintu Runa dapat melihat Pak Bejo yang asik mencuci mobil, perlahan mulai menghampiri nya.


"Pagi Pak Bejo!" sapa Runa tanpa melupakan senyum manisnya.


"Pagi Neng! Berangkat kerja sekarang?" yang dibalas anggukan kecil dari Runa.


"Iya Pak, Runa berangkat sekarang aja. Takut macet di jalan," sahut Runa.


"Runa naik ojek aja ke kantor nya. Bapak lanjut nyuci aja, gak papa. Runa pamit dulu ya pak," pamitnya pada Pak Bejo, ketika ojek yang dirinya pesan sudah tiba di depan.


...


Ojek yang Runa tumpangi berhasil mendarat aman, dengan segera Runa turun dari motor. Mengembalikan helm tersebut, kemudian berjalan masuk ke dalam.


Mengatur napasnya berkali-kali, saat Runa masuk ke dalam. Ada sedikit rasa canggung di dalam dirinya, apa mungkin itu semua terjadi karena Runa sudah lama tak masuk kantor? Entahlah.


Duduk di kursi kerjanya, Runa perlahan mulai melaksanakan aktivitas kerjanya. Menatap tumpukan map yang ada di meja, membuat Runa ber desis pelan.


"Tau gini. Mending kemarin aku kerjain di rumah," desis Runa.


Tanpa terasa, waktu makan siang tiba. Melirik sekilas jam di layar komputer, Runa memilih untuk melanjutkan tugas kantor nya.


Menatap teman-temannya yang sebagian mulai meninggalkan kursi mereka masing-masing untuk ke kantin. Atau sekedar ke kamar mandi.


Melanjutkan kembali kerjaannya, sampai dirinya tak sadar jika ada orang di sampingnya. "Ehem..." orang itu berdehem cukup keras, yang berhasil membuat Runa terjingkrak kaget.


"Vanya!" pekik Runa, kesal. Masih dengan mengusap dadanya kaget.


Vanya terkekeh kecil. "Sorry," menyengir tanpa dosa. Cewek itu memeluk Runa dari samping.


"Gue kira tadi siapa tau. Ternyata lo," sambung Vanya, menarik salah satu kursi. "Akhirnya balik kantor juga," tersenyum manis.


"Kamu pikir aku ngilang apa?" dengan jahilnya Vanya mengangguk, membuat Runa mencabik bibirnya kesal.


"Btw kamu kok kesini?"


"Biasa! Nemenin mas pacar," yang sudah bucin memang sudah beda cerita.


"Kantin yok! Gue laper nih," tanpa aba-aba, Vanya menarik Runa untuk meninggalkan tempat duduk.


"Rajin boleh, sakit jangan!" bisik Vanya pada Runa.