
"Kamu mah selalu gitu, jadi cowok gak peka banget! Peka dikit kek jadi suami," suara yang tak asing lagi ditelinga Runa kini mulai terdengar.
Keributan dari arah luar berhasil membuat Shaka dan Runa kompak bangkit dari duduknya, dan langsung mengintip ke arah luar.
"Nanti beli lagi, kalau bisa se-toko nya juga boleh."
"Tapi aku maunya sekarang bukan besok! Jadi suami tuh peka dikit. Lama-lama kesel sama kamu," Jihan menghentakkan kakinya kesal, lalu meninggalkan ruang tengah dengan perasaan kesal.
Arfan mengacak-acak rambutnya lelah. "Oke kita beli sekarang! Jihan," panggil Arfan.
Sementara itu Runa dan Shaka saling melempar pandang, lalu kompak mengangkat bahu tak tahu.
"Kak Jihan kenapa Bang?" tanya Runa pada Arfan, melirik Jihan yang perlahan memasuki kamar.
"Biasa, pingin sesuatu tapi gak keturutan."
"Lo nya juga jadi cowok kurang peka," cetusan itu berasal dari mulut Shaka, membuat Runa langsung memukul lengannya.
"By!" tegur Runa. Shaka yang ditegur hanya tersenyum simpul.
"Gue naik duluan. Kalian lanjut aja berduaan nya," ujar Arfan lantas berlari ke atas untuk menjemput Jihan.
"Aduh sakit," Shaka menggelinjang kesakitan. "Kok dicubit?" tanya nya heran.
"Mulut kamu lama-lama ngeselin juga, kasihan tau Bang Arfan sama kak Jihan. Bukannya di kasih solusi juga," kata Runa.
Shaka hanya mengedikkan bahunya tak acuh. "Kenyataannya sayang," ujarnya.
"Udahlah gak usah dipikirin. Bentar lagi juga baikan, gak bakal lama juga ributnya." imbuh Shaka lagi.
"Tapi gak gitu juga, kalau beneran berantemnya gimana?"
"Gak akan, percaya deh sama aku. Bentar lagi juga baikan," Runa hanya menghela napas pasrah.
...
Shaka baru saja tiba di rumah, cowok itu mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang istri. Mengernyitkan dahi ketika dirinya tak menemukan Runa di bawah. Tak biasanya gadis itu tak ada di bawah, biasanya jam segini Runa selalu ada di ruang tengah untuk menyambutnya pulang.
"Sayang!" Shaka melangkahkan kakinya naik ke atas, mungkin saja Runa ada di atas untuk beristirahat.
Tiba di depan pintu kamar, Shaka memutar kenop untuk membuka pintu. Pandangannya menatap Runa yang berjalan terburu-buru sampai tak sengaja menabrak tubuh besarnya.
"Aduhhh!" ringis Runa sembari mengusap dahi.
"By, sejak kapan kamu ada disini?" tanya Runa karena Shaka berada di hadapannya.
"Sakit gak dahinya?" tanya Shaka balik, sambil mengusap lembut dahi Runa yang menatap tubuhnya tadi.
"Kamu kenapa kok kayak buru-buru gitu? Sampai gak denger suaminya datang. Ada apa?" tanya Shaka dengan nada beratnya.
"Ini nih, aku lupa taruh ponselku dimana? Dan sekarang mau cari cuma gak ketemu dari tadi,"
"Karena itu sampai gak denger suaminya pulang?"
"Maaf by. Gak kedengaran,"
Hembusan napas panjang terdengar. "Tadi ponsel kamu taruh mana?" Shaka menaruh tas kerjanya di atas meja, lalu mulai melepaskan dasi dan jas kerjanya.
"Kalau aku tau juga ngapain cari?"
"Maksudnya kamu terakhir main ponsel dimana sayang?"
"Di ... gak tau lupa," ungkap Runa. "Nanti aja dicarinya, kamu mandi aja dulu. Aku mau siapin makan malam juga di bawah,"
Shaka mengangguk setuju. "Emangnya kamu ngapain sampai buru-buru cari ponsel?" Shaka menunduk, sambil menatap Runa dari atas.
"Mau kabarin Vanya buat kirim barang. Malah ponselnya yang ilang," kata Runa membantu Shaka melepaskan pakaian.
"Kan bisa pakai laptop?"
Shaka terkekeh geli. "Lain kali hati-hati, aku mandi dulu. Siapin makan malamnya, udah lapar." Shaka berjalan memasuki kamar mandi, tak lupa untuk mengecup singkat bibir pink Runa.
"HUBBYYYY!"
Shaka baru saja menyelesaikan ritual mandinya, kaos oblong putih dan celana hitam selutut menjadi pilihannya saat ini. Mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, lalu mengangguk dan berjalan keluar kamar. Tak lupa untuk menutup pintu.
"Makasih sayang," Shaka dengan rambut fresh khas sehabis mandi menerima piring pemberian Runa.
"Sama-sama by,"
"Ale tadi siang telpon aku. Katanya kangen sama kamu, dan suruh aku buat ajak kamu ke sana. Mau main gak ke rumah Mama?" tanya Shaka memecahkan keheningan, dan kembali melanjutkan makannya.
Runa mengangguk, lalu tersenyum. "Boleh, udah lama gak ke Mama."
"Kalau gitu, besok kita ke sana. Sekalian nginep," usai menginap di rumah Bunda beberapa hari yang lalu, kini mereka memutuskan untuk menginap di rumah Al dan Lea.
...
Matahari pagi berseri, sinarnya berhasil masuk ke dalam sela-sela jendela, membuat seorang gadis terbangun dari tidurnya. Runa, perlahan membuka matanya ia melihat Shaka yang sudah terlihat fresh.
Runa memperhatikan Shaka yang sibuk melipat gorden. "Udah bangun? Ayo mandi," ujar Shaka yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Shaka mengecup lembut kedua mata Runa. "Ayo bangun, udah jam 6. Jadi ke Mama kan?"
Runa menggeliat pelan, lalu menguap. "Pagi-pagi begini?" tanyanya dengan nada khas bangun tidur.
"Sekalian aku titipin kamu ke Mama. Aku harus kerja pagi," jelas Shaka membuat Runa mengangguk.
Gadis itu segera mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan duduk sejenak. Lalu melangkah ke kamar mandi, sedangkan Shaka memilih untuk merapikan kamar.
Tak berselang lama, Runa keluar dari kamar mandi. Kaos panjang dan celana pendek menjadi pilihannya. Gadis itu duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut dan sedikit merias wajahnya.
"By kamu---" ucapnya terpotong saat tak mendapatkan suaminya di dalam, bukannya tadi masih ada? Lalu mengapa sekarang menghilang.
"Paling di bawah," gumamnya pelan. Mengambil gelas yang mereka gunakan semalam, Runa memutuskan untuk turun ke bawah.
"Pagi by," sapa Runa memasuki dapur.
"Pagi sayang,"
"Kamu masak apa?" tanya Runa, tangannya masih sibuk mencuci beberapa piring dan gelas kotor.
Beginilah jika keduanya sama-sama berada di rumah, keduanya akan saling membagi tugas. Tentu kalian tahu, seberapa besar rumah ini. Dan parahnya mereka tak pakai asisten rumah tangga. Tentunya kalian tahu itu semua keinginan siapa.
"Pancake," balas Shaka yang dibalas anggukan oleh Runa. Setelah itu mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Runa terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya, gadis itu memilih duduk untuk menuruti kemauan Shaka. Tak lama Shaka datang dengan membawa piring berisikan pancake yang baru saja dia buat.
"Mau makan disini? Ruang tengah atau di depan?"
"Kayak mau demo aja di depan," Runa terkekeh pelan. "Disini aja by, gak usah jauh-jauh." Runa memberikan ruang untuk Shaka menaruh pancake buatannya di atas meja dan kembali ke dapur untuk mengambil susu.
Tak lama Shaka datang dengan dua gelas berisikan susu segar, ditaruh nya di atas meja lalu menarik salah satu kursi untuk ia duduki.
"By," panggil Runa tiba-tiba. Ekspresi gadis itu cukup aneh, tapi tatapannya mengarah ke piring berisikan pancake buatan Shaka.
Shaka yang peka, langsung meringis seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Model baru ya?" gurau Runa terkekeh pelan.
"Mau tuker aja gak? Itu punya kamu gosong, sini." Shaka menarik piring Runa untuk dirinya ganti dengan pancake miliknya, meski sama-sama gosong tetapi tak separah milik Runa.
"Enggak usah, gak papa by! Yang gosong cuma setengah aja kan. Sisanya gak," gadis itu tersenyum manis dan mulai memakan pancake buatan Shaka.
Shaka meringis, menatap ekspresi gadis itu yang terlihat netral. Padahal dia tahu kalau pancake buatannya tak enak.
Maklum, selama ini Shaka tak pernah masak. Paling kalau masak cuma masak air sama makanan instan. Atau tidak paling cepat dirinya memesan makanan dari luar.