
Dan sekarang ini semuanya sedang berkumpul bersama sambil melepas kerinduan mereka dengan pasangan mereka masing-masing. Setelah sekian lama, akhirnya semuanya bisa berkumpul kembali di warjok. Mungkin sudah lima tahun lebih mereka tak kembali ke tempat ini.
Yang masih ingat Warjok itu apa, Warjok itu singkat dari warung pojok. Atau biasa dikenal dikalangan anak-anak sebagai basecamp anggota alastair saat kumpul bersama.
Tempat yang awalnya tak terpakai, kini menjadi tempat yang menyisakan banyak kenangan.
"Selamat siang semua!" Bram, dengan suara khasnya menyapa teman-teman. Membuat satu warjok terhenyak kaget.
"Diem Bram, gue lagi meeting!" Tara menatap Bram kesal, pasalnya Tara sedang meeting bersama client secara mendadak.
"Berisik lo Bram!" sahut Arthur dengan muka bantalnya yang baru bangun. Ditatap nya Bram dengan tajam. "Ganggu tidur gue lo!" imbuh Arthur dengan kesal.
"Gue lagi yang kena? Perasaan gue gak ngapa-ngapain dah," ujar Bram tanpa dosa. "Lo juga aneh bener, ngapain tidur di warjok. Di usir mak ya?" Bram bertanya lalu duduk di samping Shaka.
Dengan cepat Arthur melepaskan salah satu sepatunya dan melemparkannya pada Bram. "Mulut lo emang kudu di di plester dulu biar diem!"
Sebenarnya ucapan Bram ada benarnya. Bukan menjadi hal asing lagi bagi anak-anak Alastair untuk melihat Arthur yang tidur dimana saja dan kapan saja. Karena itu bukan sekali dua kalinya Arthur yang ribut dengan Mama nya entah karena masalah sepele.
Bukannya memilih tidur di hotel ataupun di apartemen miliknya, Arthur malah memilih tidur di warjok atau numpang ke tempat anak-anak. Katanya dulu percuma kalau Ia menginap di apartemen atau hotel, yang ada malah buang-buang duit. Emang dasarnya Arthur aja yang gak modal!
Bram dengan cepat menghindar. "Sorry gak kena, udah pro gue!" ujar Bram dengan sok belagu nya.
"Kena istri gue, bayar denda lo!" Shaka melayangkan tatapan tajamnya pada Arthur, hampir saja sepatu cowok itu mengenai muka Runa.
"Sorry, sorry gak sengaja." Arthur lalu berjalan menghampiri Bram untuk mengambil kembali sepatunya.
"Guys, ada yang mau gue kasih tau ke kalian nih!" Vanya yang dari tadi diam mulai bersuara. Membuat semua tatapan mereka beralih pada perempuan itu.
"Apaan Van?"
"Gue mau kasih ini ke kalian semua." Vanya menyerahkan selembar kertas pada seluruh anak yang ada di warjok.
Runa menerimanya dan perlahan mulai membacanya. "Kalian berdua mau nikah?" tanya Runa tak percaya.
"Iya dong! Gue nyusul kalian," ujar Vanya girang.
Setelah penantian yang cukup panjang bagi Vanya untuk lulus agar bisa memenuhi keinginan sang Mama, tiba juga saatnya Vanya dan Rasya menikah.
"Selamat Vanya!"
"Congrats Van! Semoga gue nyusul."
"Buset dah! Temen gue udah pada nikah semua, gue kapan?" tanya Arthur. Walaupun begitu dirinya juga senang.
Dari mereka semua yang hadir hanya Bram, Arthur dan Rayn lah yang belum menikah. Kalau untuk Arthur sendiri sebenarnya dia udah ada, cuma sifat yang masih melekatnya itu membuatnya sampai kini belum bisa serius pada perempuan.
"Ilangin dulu Tur sifat lo, ntar kalo udah yakin langsung datengin orang tuanya. Gak usah pakai basa-basi," usul Rasya.
"Langsung lamar terus nikah," tambah Tara.
...
Pagi hari yang cerah, sinar matahari mulai menampakan jati dirinya untuk menerangi kehidupan. Terlihat orang-orang mulai melaksanakan aktivitas mereka masing-masing, ada yang bekerja ada yang sekolah dan ada yang berada di rumah saja.
Saat ini Runa sedang menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Shaka. Runa berencana untuk menyiapkan bubur ayam sebagai sarapan.
Ia tersenyum tak kala dirinya sudah selesai menyiapkan sarapan pagi, memindahkan ke dalam mangkok dan menaruhnya ke atas meja makan.
"By sarapannya udah selesai," pekik Runa dari bawah. Mengernyitkan dahi saat tak ada balasan sama sekali dari atas. Tak biasanya.
"Hubby!" panggil Runa sekali lagi. Kini dia melangkah ke atas untuk mengecek apakah Shaka telah bangun atau belum?
Ceklek
Pintu kamar terbuka, manik matanya menelisik ke seluruh sudut kamar, dan menatap ke arah kasur yang sudah tak ada Shaka.
"Hubby kamu di dalam kah?" tanya Runa, berdiri di depan pintu kamar mandi.
Tangannya mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
"Iya sayang aku di dalam," akhirnya terdengar juga balasan dari Shaka.
"Cepetan ya, aku tunggu di bawah buat sarapan!" Runa kembali turun ke bawah untuk kembali menyiapkan sarapan pagi.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, Shaka baru saja turun dengan kaos hitam dan celana pendek nya.
Shaka mengangguk. "Iya, ambil cuti sehari buat ke nikahan Rasya."
Siang ini tepat sekali Vanya dan Rasya akan melangsungkan resepsi di salah satu gedung. Setelah akad nikah yang di lakukan beberapa hari yang lalu, resepsi pun diadakan.
Siang hari pun tiba, Shaka dan Runa sedang bersiap-siap untuk berangkat ke acara resepsi dari Vanya dan Rasya.
Menatap penampilannya dari arah kaca, dengan dress putih selutut ia menatap penampilannya dari atas hingga bawah. Dengan rambut yang dia uraikan bebas, Runa membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Cantik," komen Shaka. Tatapannya tak teralihkan untuk menatap gadis di hadapannya itu. Bahkan tangan Shaka sudah melingkar manis di pinggang ramping milik Runa.
Menggeleng kecil. "Yuk berangkat," Runa memeluk lengan Shaka dari samping.
Mereka berjalan keluar kamar dan mulai memasuki mobil. Tangan Shaka sedari tadi tak terlepas untuk menggandeng lembut tangan sang Istri, tak hanya itu mulutnya tak berhenti untuk memuji kecantikan Runa.
Tak tau saja, Runa sudah menahan senyum dari tadi. Bisa-bisa Runa terbang akibat pujian yang Shaka layangkan.
"Bisa-bisa aku terbang karena kamu puji terus," ungkap Runa.
Shaka tertawa ringan. "Gak papa dong, nanti aku jemput pakai jet."
"Hubbyy!" pekik Runa, membuat Shaka tertawa.
"Gemes banget, istri siapa sih?" tanya Shaka sambil mengacak gemas rambut panjang milik Runa.
...
Mobil Shaka berhenti tepat di depan sebuah gedung yang menjulang ke atas, banyak sekali tamu yang menghadiri acara resepsi.
Kalian pasti tau Rasya siapa dan Vanya siapa? Mereka termasuk keluarga berada yang memiliki perusahaan dan anak cabang yang menyebar di mana-mana.
"Masuk," menggandeng lembut dan menggiring nya masuk ke dalam.
Tak lupa juga Shaka mengenalkan Runa pada client client yang dia kenal, untungnya Runa bisa cepat beradaptasi dengan mereka.
"Cewek yang ada di samping kak Rayn siapa by?" tanya Runa pada Shaka, seraya menatap gadis yang di gandeng Rayn.
"Gak tau," balasnya. Shaka juga tak tau, gadis yang ada di gandengan Rayn siapa. Yang jelas ia tak pernah melihat gadis itu sebelumnya.
"Samperin yuk," ajak Shaka berjalan menghampiri Rayn.
"Ray," panggil Shaka.
Rayn dan gadis di sampingnya menoleh, keduanya tersenyum manis. "Hai Sa, Hai Na!" sapa Rayn dengan ramah.
"Hai kak!"
"Ahhh kenalin dia calon istri gue, namanya Aurel." Rayn berucap seakan mengerti kebingungan pasangan pasutri di hadapannya itu.
"Istri?" Runa kembali terkejut. Sedikit tak menyangka jika Rayn akan menikah, karena selama ini yang dirinya tau Rayn tak pernah dekat dengan wanita, terus tiba-tiba datang membawa calon istri.
Daebak!
"Aku Aurel salam kenal." Aurel memperkenalkan diri.
"Haii, aku Runa salam kenal!"
"Langsung yuk ke mempelai, tuh udah ada anak-anak!" tunjuk Rayn, mengajak Shaka dan Runa untuk naik ke atas panggung.
"Selamat Ras, Van. Semoga samawa," ujar Rayn.
"Selamat Vanya, kak Rasya. Semoga langgeng ya sampai kakek nenek," Runa memeluk Vanya.
"Makasih Na, akhirnya gue nyusul lo." guraunya.
Sementara itu, Tara, Arthur dan Bram menatap gadis yang ada di samping Rayn dengan bingung. Sama seperti Runa dan Shaka tadi.
"Ray, tuh cewek siapa?" tanya Arthur pada Rayn.
"Kenalin dia Aurel. Calon istri gue," jelas Rayn pada mereka bertiga yang membuat ketiga mengerjap tak percaya.
"Beneran?"
"Buset! Rayn diam-diam tapi menakutkan," komen Arthur geleng-geleng kepala.