Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Berhenti bepikir buruk



Pagi ini Runa sudah siap untuk berangkat ke kantor. Di bawah ternyata sudah ada Rama yang siap untuk mengantar jemput Runa ke kantor.


Rama Dirgantara, lelaki yang beberapa bulan kemarin sudah menjadi sarjana Bisnis. Sudah kembali ke Jakarta dan kini sedang menjalankan usaha di sebuah kafe.


"Ayo Ram berangkat," ujar Runa pada Rama.


Rama bangkit dari duduknya, lalu mereka berpamitan pada Bunda dan Ayah serta kak Jihan. "Bunda, Ayah Runa berangkat kerja ya." Tak lupa menyalami tangan keduanya, dan disusul Rama.


"Hati-hati Ram nyetir nya, jangan ngebut-ngebut!" tegur Ayah Bima mengingatkan.


Rama mengacungkan jempol, menyusul Runa yang sudah di dalam mobil.


"Semuanya sudah kan? Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Rama memastikan, sebelum menjalankan mobil.


"Gak ada," balas Runa.


"Em Ram.." panggil Runa ragu-ragu.


Rama melirik sekilas dan kembali fokus ke depan. "Ada apa?"


"Nanti siang aku mau keluar sama Shaka, boleh gak?" tanya Runa dengan gugup.


"Boleh," singkat Rama.


"B-boleh?" Runa menatap Rama lumayan lama. Mencoba untuk mencerna perkataan Rama barusan. Takut saja cuma salah dengar.


Rama berdehem singkat. "Boleh, kamu boleh keluar. Cuma ingat! Gak boleh dekat-dekat,"


"Beneran Ram?" tanya Runa yang masih belum percaya.


"Iya sayang," jawab Rama dengan tulus. "Sana turun, nanti telat lagi." Tak terasa ternyata mobil Rama sudah berhenti di depan pintu utama.


"Makasih Ram. Aku masuk dulu, kamu hati-hati di jalan!" Runa melambaikan tangan sebelum memasuki kantor.


Rama tersenyum sekilas dan langsung menjalankan kembali mobilnya, dirasa Runa sudah aman. Dengan sedikit menaikkan kecepatan, Rama akhirnya sampai di depan sebuah bangunan.


"RACAFE"


Nama yang terpampang di sebuah benner. Melangkah masuk ke dalam, manik matanya mengelilingi kafe yang masih terlihat sepi.


Beberapa karyawan mulai sibuk membersihkan kafe, sebelum jam operasional. "Radit, kaca depan juga kamu cek ya." perintah Rama pada salah satu karyawannya.


"Siap Ram," jawabnya.


Rama memang menyuruh seluruh karyawannya untuk memanggilnya dengan sebutan nama, tanpa embel-embel Pak atau bos.


"Ya sudah silakan dilanjutkan, saya masuk dulu." Rama melangkah masuk ke dalam ruangan nya yang tak terlalu besar.


Kafe ini memang Rama bangun dengan uang yanga dia tabung. Jadi maklum saja jika masih kecil, dan Rama sendiri memilih tempat yang cukup banyak orang lewati.


Siang harinya, seperti yang Runa bicarakan tadi. Kini dirinya dan Shaka berada di dalam mobil. Tak ada pembicaraan diantara kedua manusia itu.


Sunyi dan sepi, dua kata yang menggambarkan keadaan sekarang.


Memilih diam dan fokus pada kegiatan mereka masing-masing. Hanya suara klakson yang terdengar bersautan.


"Turun," satu kata yang Shaka keluarkan berhasil membuat Runa tersadar.


Dengan cepat, Runa turun dari mobil. Menatap ke depan. "Kafe?" gumam Runa bertanya-tanya.


Mengikuti Shaka dari belakang, Runa masih belum mengerti maksud Shaka mengajaknya kesini.


Karena, kemarin Shaka hanya memerintah kan dirinya untuk ikut.


"Besok siang ikut saya keluar," begitu katanya.


Langkah Runa terhenti, menatap sekeliling kade yang nampak begitu sepi. Tak ada pengujung, batin Runa yang semakin dibuat bingung.


"Runa, ayo!" seketika Runa tersadar dari lamunannya.


"Maaf Pak, kenapa kafe nya sepi ya?" tanya Runa pada Shaka.


"Terus anda membawa saya kesini, untuk apa?" tanya Runa sekali lagi.


Shaka menatap ke arah pintu, di sana terlihat dua orang dengan pakaian rapi berjalan ke arah mereka. Runa sendiri langsung memilih diam.


"Selamat siang Pak Shaka," ujar sosok pria tua. Mungkin saja umurnya seperti Ayah Bima.


"Selamat siang Pak Adhi, bisa kita mulai rapat kali ini?" tanya Shaka dengan sopan membuat Pak Adhi mengangguk setuju, lebih cepat lebih baik.


Runa terdiam sebiru kata. Otaknya kembali dibuat berpikir, menatap Shaka dan client di depannya bergantian.


"Wait! Kok rapatnya ajak Runa ya? Seharusnya kan Pak Leo yang ada disini," gumam Runa. Untungnya tak terdengar oleh yang lain.


"Aishh menganeh," sambung Runa dalam hati.


Selanjutnya hanya terdengar suara Shaka dan Pak Adhi yang mengobrol kan tentang proyek mereka. Runa hanya menjawab ketika ditanya saja, selanjutnya dia hanya diam dan sebagai pendengar.


"Terima kasih pak Shaka, saya tunggu informasi selanjutnya. Senang bekerja sama dengan anda," ungkap Pak Adhi, menjabarkan tangan.


"Terima kasih kembali," Shaka membalas uluran tangan.


Runa langsung berdiri saat melihat yang lainnya berdiri. Tersenyum manis sambil membalas uluran tangan. "Makasih," cicitnya.


"Ini udah kan Pak? Maksudnya ini udah usai jam makan siang." ungkap Runa.


"Belum, kita belum makan siang. Dan ada hal yang harus saya bicarakan sama kamu," Shaka menyuruh Runa untuk kembali duduk di tempat.


"Tentang---" ucapan Runa harus terpotong ketika Western datang membawakan makanan.


"Tentang apa?" tanya Runa kembali, sembari memakan makan siangnya.


"Tentang Rama, aku mau kamu---"


"Stop berpikiran buruk tentang Rama," potong Runa dengan cepat, menatap Shaka tak suka.


"Jauhi dia Runa,"


"Alasannya?" Runa bertanya sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Anda tidak punya hak atas diri saya Tuan Shaka. Anda juga hanya atasan saya dan tak lebih, jadi anda tidak usah ikut campur dengan urusan saya sama Rama." tegas Runa.


"Jauhi Rama. Dia bukan orang baik-baik,"


Runa tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti tawa meremehkan. "Tau apa kamu tentang Rama? Aku lebih kenal dia dibandingkan kamu! Dan stop untuk menilai seseorang dari luarnya aja!" semprot Runa.


"Dia pembunuh, dia seorang pembunuh yang sekarang masih dalam pengejaran polisi!" ujar Shaka, mencoba meyakinkan.


Runa tertawa kencang. Menatap Shaka tajam. "Pembunuh? Ngaco banget kalau jawab, tau dari mana? Ada bukti gak?" tantang Runa.


Shaka terdiam cukup lama, lalu menjawab pertanyaan Runa dengan cepat. "Aku emang gak ada bukti, tapi aku yakin kalau Rama emang pembunuh. D-dia---"


"Bulshit!" umpat Runa.


"Omong kosong apa lagi yang mau kamu jelasin. Oh aku tau, kamu bilang gini karena kamu mau aku benci sama Rama? Terus aku balikan sama kamu," Runa berkata meremahkan.


"Gak bakal, karena kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Jadi, jangan berharap untuk berekspektasi lebih!" sambung Runa dengan sarkas.


Runa bangkit dari duduknya. "Kalau tujuan anda mengajak saya ke tempat ini, hanya untuk mendengar lelucon yang anda buat. Saya menyesal mengikuti nya," tekan Runa.


"Satu lagi. Stop ikut campur dalam percintaan saya, karena anda tidak memiliki hak untuk itu. Terima kasih!" Runa langsung melangkah keluar meninggalkan kafe.


Tanpa memperdulikan teriakan Shaka dari dalam. Runa benar-benar menyesal telah mengikuti kemauan Shaka siang ini.


"Gak berfaedah," cibir nya dalam hati.


Shaka menutup kedua matanya, lalu membukanya perlahan. "Kapan kamu percaya nya Na," lirih Shaka.


...


...CERITA INI MAU DILANJUTKAN APA DIHENTIKAN?...