Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Asinan



Seminggu sudah Runa bertingkah aneh, dan akhir-akhir ini gadis itu terlihat begitu sensitif. Sifatnya juga berubah-ubah, sering menangis tanpa sebab, marah tanpa masalah dan mengeluarkan hal-hal yang kadang Shaka sendiri dibuat bingung olehnya.


Shaka terduduk di ruang tengah, menatap layar televisi dengan fokus, meski pikirannya berlarian ke mana-mana.


"Istri gue kenapa?" pertanyaan itu terus berputar di pikirannya.


Sebetulnya, dia bisa saja mengajak Runa ke rumah sakit untuk diperiksa, hanya saja itu percuma. Karena Runa akan menolak dengan berbagai macam alasan.


Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya perlahan, mematikan siaran televisi Shaka memijit pelipisnya. Tak lama terdengar langkah kaki berlari dari atas, disambung dengan suara khas Runa.


"HUBBY!" teriak Runa dari atas. Kemudian berlari menghampiri Shaka yang duduk terdiam di atas sofa.


Dengan tersenyum sumringah, Runa duduk di samping Shaka dan memeluknya dari samping.


"Ada apa?" tanya Shaka, tangannya tak tinggal diam. Disuap nya punggung Runa dengan lembut.


"Siang siang gini, enaknya makan yang segar-segar nih." Shaka bergumam sebagai balasan.


"Kayaknya asinan pas deh. Beliin asinan mau gak?" ujar Runa lagi, dengan wajah memohon nya Runa meminta.


"Asinan?" Shaka mengulang kata Runa barusan, membuat gadis itu mengangguk girang.


"Kita beli yang lain aja ya?"


"Enggak mau!" tolak Runa dengan cepat. "Mau asinan by," ujarnya lagi.


"Kamu yakin? Nanti gak kamu makan, kayak waktu itu." tanya Shaka lagi. Pasalnya, Runa tak suka dengan makanan itu dan pernah suatu hari, Runa meminta untuk dibelikan asinan dan berakhir Shaka yang menghabiskan.


"Mau asinan," hidung Runa kembang kempis, artinya sebentar lagi gadis itu akan menangis.


Menarik Runa ke dalam dekapan, Shaka kemudian berkata. "Sayang--" belum sempat Shaka berkata, Runa lebih dulu memotong perkataannya.


"Beliin asinan atau kamu tidur di luar!" ancam Runa kemudian, sembari menunjuk sofa.


Menutup kedua matanya, diiringi dengan hembusan napas sabar. "Baiklah," ujarnya dengan nada pasrah.


"Mau ikut!"


"Enggak di rumah aja!" larang Shaka sembari mengambil kunci motor. "Jangan ke mana-mana, sebelum aku balik!" tegas Shaka dan melenggang pergi.


...


Mengeluarkan motornya dari dalam garasi, memakai helm full facenya, Shaka mulai menjalankan motor. Menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tukang penjual asinan yang mungkin saja lewat.


Tak lama setelah itu, Shaka menghentikan motornya tepat di depan gerobak penjual asinan. Cowok itu segera turun dan memesan pesanan yang Runa inginkan.


"Pak, asinan satu!" ujar Shaka kepada bapak penjual.


Bapak itu menjawab dengan mengacungkan jempolnya. "Siap Mas! Ditunggu,"


Shaka mengangguk singkat, mengambil salah satu kursi plastik yang kosong, lalu mendudukinya.


"Shaka?" Shaka menoleh ke belakang, begitu namanya di panggil. Ternyata ada Arthur yang berjalan menghampirinya.


Arthur mengangkat kantong plastik dari tangan kanannya. "Cari makanan. Lo ngapain?"


"Biasa, Runa minta cariin makanan." jelas Shaka membuat Arthur mengangguk paham.


"Kayaknya bakal ada berita gembira nih," Arthur mengulas senyum pada Shaka. Sementara Shaka mengangkat alisnya tak paham.


Arthur berdecak pelan. "Gak peka lo jadi cowok," kata Arthur pelan.


"Tur," panggil Shaka. "Lo tau gak penyebab cewek nangis tanpa sebab, terus marah tanpa alasan."


"PMS mungkin?" jawab Arthur. "Kayaknya gak tau cewek aja," lanjut Arthur lagi.


"Emangnya ada apa?" Arthur bertanya balik.


"Enggak, akhir-akhir ini Runa beda aja gitu. Makannya gue tanya lo mungkin aja tau,"


Arthur terdiam sesaat. "Coba tanya Rasya sama Vanya, mereka kan udah berpengalaman nih. Lah gue masih proses," kata Arthur seraya mengangkat tangannya yang terpasang sebuah cincin.


Setelah penantian yang cukup panjang, tiba saatnya Arthur menikah juga. Usai penjelasan Rayn dan Rasya waktu itu, Arthur menobatkan diri dari kegiatannya, sudah dari lama cowok itu sadar.


Jika kelakuannya selama ini hanya membuang-buang waktu dan tak ada gunanya, dan beberapa bulan yang lalu cowok dengan julukan playboy cap badak menemukan pujaan hati, tepat sebulan pendekatan. Tanpa basa-basi Arthur melamarnya dan mereka akan menikah beberapa bulan lagi.


"Selamat!" Shaka menepuk pundak Arthur berkali-kali, memberikan cowok itu selamat.


"Terus kapan kalian nikah?"


"Masih mikir waktu yang tepat. Sambil nunggu dia lulus,"


"Gak usah mikir yang lain, lebih cepat lebih baik!" kata Shaka mengingatkan.


"Siap! Gue balik duluan ya, udah ditunggu!" Arthur beranjak pergi dari tempat duduknya.


Setelah menatap kepergian Arthur, Shaka bangkit dari duduknya begitu pesanannya telah selesai. Dengan segera cowok itu beranjak pergi dan kembali pulang.


...


"Assalamu'alaikum aku pulang!" sapa Shaka memasuki rumah.


"Waalaikumsalam! Mana asinan nya?" tanya Runa yang tak sabar.


Segera Shaka menyerahkan kantong plastik berisikan asinan yang Shaka beli tadi. Runa pun menerimanya dan beranjak ke dapur.


"Jangan lari-lari!" tegur Shaka sambil mengikuti Runa dari belakang.


Shaka tersenyum, begitu melihat Runa yang memakan asinan dengan lahap. "Laper banget?"


Runa mengangguk singkat. "Kamu sih, jadi cowok gak peka banget!"


"Salah lagi gue, sabar Sa. Ingat cewek selalu benar!" ujarnya dalam hati, sambil mengelus dada.


"Kamu lanjut makannya, aku mau naik sebentar." Shaka berdiri dari duduknya, dan mulai melangkah naik ke atas.