
..."Tetap cengar-cengir walaupun masalah terus mengalir." -Arthur Margantra....
...…...
Runa baru saja selesai mandi, sebenarnya gak boleh sih mandi malam-malam dan jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun Runa baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
Pintu kamar terketuk membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya di depan cermin.
"Dek, lo belum tidur kan?" tanya bang Arfan dari luar.
"Masuk aja bang!" teriak Runa dari dalam.
Pintu Runa perlahan terbuka, Arfan dengan kaos oblong dan celana boxer nya masuk ke dalam. Arfan mendudukkan diri di atas ujung kasur sambil menatap ke arah Runa.
"Siapa tadi?" Arfan tuh tipe-tipe abang yang cukup posesive sama Runa, karena ya tau sendiri pergaulan jaman sekarang makin gak bener.
Runa memutar badannya, menghadap Arfan. "Cuma temen," balasnya.
"Gue gak tanya status lo sama dia. siapa, gue cuma bilang dia siapa? Namanya," sebenarnya penting gak penting juga buat tanya soal ini. Arfan tau jika adiknya tak melakukan apapun, tapi jiwa keinginan tahu nya tinggi.
Runa ber'oh ria, "Kak Shaka, kakak kelas Runa. Kenapa bang?" tanya Runa balik.
"Beneran cuma temen? Kok gue lihatnya bukan ya. Udah cerita aja kali kalian pacaran kan?" apa Arfan cenayang? kok dia tau.
Runa menggeleng cepat. "E-enggak, aku gak pacaran kok, lagian ya ayah sama bunda gak bolehin aku pacaran jadi gak pacaran,"
"Lo itu gak pandai bohong ke gue, udah dek jujur aja. Gue gak gigit kali, lo sama dia pacaran kan? Siapa itu Shaka ya, iya Shaka udah ngaku aja deh." Arfan mencoba untuk Runa menjawab jujur. Walaupun dia tau, apa yang diucapkan Runa tadi tak benar, Runa gak jago bohong soalnya.
"Iya deh Runa ngaku, Runa pacaran sama kak Shaka, udah kan?"
"Belum lah, Shaka siapa? Dia anak mana? Dan dari mana lo kenal dia?" fix udah kelihatan kalau bang Arfan kepo.
Runa berdecak kesal. "Abang itu tanya apa kepo ya?"
"Gue cuma penasaran doang, gak kepo." koreksi Arfan.
"Sama aja kali!" kesal Runa. "Abang kesini cuma buat tanya itu doang? Sana keluar, aku mau lanjut nonton habis ini."
"Begadang aja cepet lo, awas aja ya sampai gak tidur. Gue keluar dulu, good night dek," Arfan memberikan kecupan manis pada kening Runa.
"Good night too abang," begitupun dengan Runa membalas pelukan hangat dari Arfan.
...…...
Bel istirahat telah berbunyi, Runa pamit pada Vanya untuk menemui Shaka. Gadis itu membawakan bekal untuk diberikan kepada Shaka.
"Vanya, aku keluar dulu ya. Nanti balik lagi, kalau udah selesai kamu kasih ke pak Seto." ucapnya yang diacungi jempol oleh Vanya.
"Oke, mau ke kak Shaka ya?" tanya Vanya sekalian godain Runa.
"Iya mau kasih bekal, nanti aku balik lagi." ucapnya.
Vanya manggut-manggut paham. "Lama juga gak papa kali, biar es balok buruan cair. Gue mau apelin kak Rasya ah." seketika wajah Vanya berubah menjadi senang.
"Semoga berhasil kali ini, kalau gak bisa. Lanjut besok lagi, semangat!" Runa mengepalkan tangannya keatas, memberikan semangat pada sahabatnya ini.
"Sana, tungguin kak Shaka lo nanti." suruh Vanya.
Runa mengangguk gadis itu pun mengambil tote bag berisi kotak makan. "Siap, bye Van."
Kelima anak Alastair sedang duduk-duduk santai di depan kelas, seperti biasa Arthur menggoda anak orang bersamaan dengan Bram.
"Beli cilok ke mang ujang, lebih enak lagi di tambah kacang," Bram memulai pantun nya.
"CAKEP!"
"Hai sayang apa kabar, besok kita nikah lo yang bayar." lanjut Bram yang membuat Arthur tertawa.
"Kagak modal anjir!" Arthur menoyor kepala Bram cukup kencang yang membuat Bram hampir jatuh.
"Lo kalau dorong kagak main-main!" kesal Bram.
"Pakai kekuatan dalam dia," ujar Tara.
"Kiw, kiw, kiw, cantik amat neng." goda Bram.
"Mau di timpuk Shaka lo?" tanya Rayn.
"Oh tentu, tidak! Masih sayang nyawa gue," tentu saja nyawanya cuma satu, kalau di timpuk sama Shaka, yang ada tinggal nama dia.
"Cari Shaka?" Rasya yang dari tadi diam menyimak obrolan mereka pun berucap.
"Iya kak, kak Shaka nya ada?" tanya Runa.
Semuanya saling pandang, mereka juga tak tau Shaka ada dimana, lagian dia bolos sekolah di jam kedua sampai istirahat ini, dan sampai sekarang belum balik.
"Gak tau," ucap Bram, Arthur, Rayn dan Tara bersamaan.
"Kak Rasya?" Runa menatap Rasya.
"Roof top," balas cowok itu singkat, Shaka tak akan jauh-jauh dari tempat itu. Palingan kalau gak kantin, roof top ataupun gudang.
Bram bertepuk tangan, "magic sekali anda, kok lo tau Ras?" tanya Bram pada Rasya setelah kepergian Runa.
"Lo lupa Rasya kan cenayang, dia bisa baca pikiran orang." gurau Tara.
Rasya menatap mereka sekilas lalu melanjutkan kembali belajarnya. Anak-anak hanya heran saja, kok bisa Rasya belajar fokus gitu meskipun dalam keadaan ramai.
Katanya, "kalau ada niat, apapun cobaannya bakal mudah." gitu sih katanya.
...…...
Shaka menatap padatnya jalan dari atas roof top, seraya menghirup rokok dan membuangnya bebas ke udara. Semalam cowok itu tak bisa tidur. Akibat membantu sang papa mengurus pekerjaan.
"Kak Shaka," suara itu berhasil membuat Shaka tersadar dari lamunannya. Cowok itu menoleh ke samping ada Runa yang berdiri di depan pintu roof top.
"Kak Shaka udah makan?" Hanya gelengan yang Shaka berikan. Runa membuka kotak bekal itu, namun matanya terhenti ketika melihat sekotak rokok.
"Kak Shaka ngerokok lagi?" tanya Runa pelan.
"Iya, udah lama gak ngerokok," balas Shaka.
Runa menatap Shaka sebentar. "Tapi rokok gak baik buat kesehatan, lebih baik uangnya di simpan untuk hal penting lainnya."
"Cuma dikit,"
"Meskipun dikit atau banyak, sama aja, kalau kamu sakit gimana? Emang gak sayang sama tubuhnya." Runa mencoba untuk memberi pengertian pada Shaka.
Gadis itu tak ingin Shaka nantinya kenapa-napa. "Tinggal masuk rumah sakit,"
"Kak Shaka udah dong rokoknya." Shaka hanya diam dan melanjutkan kembali merokok nya. "Kakak tau gak kakek Runa gak ada karena kebanyakan ngerokok, dan Runa gak mau kak Shaka juga kena kayak gitu. Aku kayak gini, karena aku sayang sama kak Shaka, aku gak mau kejadian waktu itu ke ulang lagi ke kak Shaka."
Kakek Runa memang tak ada cukup lama dan itu diakibatkan oleh paru-parunya yang bermasalah, apalagi kakek Runa kecanduan dengan rokok yang membuatnya harus meninggal.
Gadis itu tak ingin, orang yang dia sayang pergi kembali. Cukup kemarin saja, kali ini jangan.
Shaka menatap Runa yang sama-sama menatapnya. Cowok itu menghela nafas kasarnya dan membuang putung rokok itu, ke dalam tong sampah. Dan sisa yang dia pakai dia injak dengan sepatu.
"Udah kan?" Runa tersenyum seraya mengangguk.
"Aku bawa bekal buat kak Shaka, tadi bunda masak nasi goreng. Terus kebanyakan dan akhirnya Runa bawa. Kak Shaka belum makan kan? Nih makan," ujar Runa, memberikan sekotak nasi goreng,
"Kamu gimana?" tanya Shaka.
"Tadi aku udah makan, sekarang kamu ya yang makan." ujarnya. Shaka menatap Runa setelah itu kembali menegakkan tubuhnya ke depan.
"Gak percaya," balas Shaka. "kamu suruh aku makan, tapi kamu sendiri yang gak makan, pakai acara bohong lagi."
"Tadi udah kak, aku tadi beli susu kotak. Udah kenyang juga, karena nasi gorengnya masih ada. Kenapa gak aku kasih ke kamu aja, kamu juga belum makan." cewek kayak gini lo sia-sia kan wah lo katarak berarti.
"Gak mau,"
Runa tersenyum masam, gadis itu mengangguk. Mungkin Shaka lagi gak mood sekarang. Oke no problem baginya, mempunyai pacar seperti Shaka yang memiliki sifat yang tak menentu membuat Runa harus bersabar.
"Kalau kamu gak makan aku juga gak makan, kamu kasih aku makan sedangkan kamu gak makan itu maksudnya gimana?" Shaka mengambil alih kotak makan itu. Keduanya memutuskan untuk makan sekotak berdua.