
..."Sekarang aku mengerti, bahwa yang ada tak akan selamanya bersama." -Arshaka Virendra Aldebaran....
...
Dan disinilah mereka berkumpul, di tempat seorang gadis hebat yang perjuangannya kini telah selesai. Gadis kuat dan pandai menyembunyikan segala perasaannya dalam hati, gadis yang kini telah pergi meninggalkan mereka.
Shaka, dengan kemeja putihnya berjongkok menatap makam sang istri. Tangannya membawa se-buket bunga mawar lalu menaruhnya di atas makam. "Kita ketemu lagi," ujarnya tertawa garing.
"Jujur, sampai detik ini aku masih belum nyangka kalau kamu udah pergi. Yang biasanya selalu bareng, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Sekarang di sebelah aku cuma ada guling buat dipeluk,"
"Oh iya, kamu pasti udah tau kalau Bunda di rawat. Bunda ngedrop beberapa hari kemarin karena masih belum siap buat lepasin kamu pergi. Dan sekarang alhamdulillah keadaan Bunda udah jauh lebih baik dari sebelumnya,"
"Gak nyangka kalau kamu udah pergi selama satu bulan ini, padahal kemarin kita udah janjian buat jadi Papa dan Mama yang baik buat anak kita. Tapi sayangnya yang di atas lebih sayang sama kamu,"
"Yang di atas juga tau, dia kangen sama kamu makanya kamu di panggil. Yang di atas juga tau kalau perjuangan kamu udah selesai sampai disini,"
Shaka terdiam sejenak, menyeka air matanya yang kembali mengalir. Kemudian menghembuskan napas untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku mau bilang Terima kasih sebanyak-banyaknya buat kamu, maaf kalau selama dua tahun terakhir aku belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Semoga kamu bisa tenang di sana," Shaka mengusap kayu nisan milik Runa lalu berbalik menghadap ke samping.
"Hai Qil apa kabar?" sapa Shaka menatap nama tulisan yang tertulis di batu nisan itu 'Aqilla Salsabila'
Makam Runa memang bersebelahan dengan Makam milik Qilla, itu semua Shaka lakukan demi keinginan terakhir Runa dimana seperti yang kita ingat terakhir kali Runa bilang bahasa dirinya ingin bertemu dengan Qilla.
Untuk itu Shaka memenuhinya sekarang.
"Gimana di sana? Udah ketemu sama Runa? Gue mau titip salam aja buat jagain Runa di sana, dia udah pingin banget buat ketemu sama lo dari beberapa bulan lalu. Makasih ya udah jaga dia di sana, sekarang lo juga udah ada temen baru. Titip Runa sama anak gue ya semoga kita bisa ketemu di mimpi nanti," Shaka menyerahkan se-buket bunga lavender. Bunga yang paling Qilla suka selama hidupnya.
Shaka lantas bangkit dan menatap teman-temannya yang ikutan, cowok itu mundur perlahan dan mempersilakan mereka secara bergantian.
Vanya perlahan jongkok, perempuan itu duduk didampingi oleh Rasya di sampingnya. Maklum saja Vanya baru lahiran seminggu lalu.
"Hai Runa apa kabar?" belum apa-apa, Vanya sudah dibuat nangis. "Gimana keadaan lo di sana? Baik-baik kan? Gue kesini cuma mau kasih kabar aja ke lo," Vanya menghela napas sejenak dan melanjutkan kembali ucapannya.
"Gue udah lahiran dan anak gue cewek, cantik banget. Namanya Aluna Ravasya Adipati. Namanya sekilas mirip sama lo, bedanya lo pakai R anak gue pakai L. Gue namain dia sama kayak lo karena gue pingin nantinya dia jadi kayak lo, jadi perempuan tangguh, mandiri dan kuat." kata Vanya dan terdiam.
"Gue bela-belain kesini biar bisa ketemu sama lo, walaupun tadi harus ribut dulu. Nanti kalau anak gue udah gede gue mau ajak dia kesini. Gue mau kenalin dia ke lo," imbuhnya lagi.
"Makasih udah mau jadi temen gue yang menyebalkan ini, makasih atas pelajaran yang lo kasih selama ini, makasih juga udah kasih tau gue apa arti kebersamaan. Dan terakhir makasih atas 8 tahun pertemanan kita," sambung Vanya kemudian.
"Gue gak nyangka kalau gue bisa temenan sama cewek sebaik lo, dan se-pengertian lo. Thanks ya," Vanya menaburkan bunga yang dia beli tadi ke atas gundukan tanah di hadapannya.
Setelah itu Vanya berbalik menghadap ke makam milik Qilla, perempuan itu tersenyum sembari menatap nama yang tertulis di batu nisan itu.
"Hai Qilla, kayaknya ini awal pertemuan kita deh." Vanya tertawa kecil. "Gue gak tau sifat lo gimana dan karakter lo kayak apa, tapi yang gue tau kalau lo itu mirip sama Runa. Pasti lo bingung kenapa gue tau? Semalam kak Rasya cerita ke gue tentang lo," ucap Vanya.
"Namanya cantik banget, pasti lo nya juga cantik. Nggak nyangka kalau kita ternyata seumuran. Btw gue mau titip Runa ya sama lo, semoga lo bisa jaga dia. Dan jaga ponakan gue juga jangan lupa, tenang aja gue gak bakal lupa buat do'ain kalian bertiga kok. Sampai jumpa di titik takdir Tuhan," Vanya perlahan bangkit dibantu oleh Rasya yang sigap di sampingnya.
"Gak nyangka kalau hari itu menjadi makanan terakhir buatan lo Run," cetus Arthur. "Dan di hari itu juga menjadi hari terakhir pertemuan kita, makasih ya udah sabar sama kelakuan gue." imbuhnya.
Setelah selesai perlahan mereka mulai melangkah pergi meninggalkan makam, hari juga mulai berganti siang. Semuanya berjalan beriringan menuju parkiran.
"Gimana Sa perkembangan kasus Runa?" tanya Rasya pada Shaka.
"Dari kasus penyelidikan diduga emang ada unsur kesengajaan dari si pelaku, dan ciri-ciri pelaku juga udah mulai ketahuan. Katanya sih kalau gak minggu ini ya akhir bulan. Tapi semoga aja secepatnya," jelas Shaka.
Rasya mengamini dalam hati. "Semoga kasus lo segera berakhir dan Runa bisa tenang di sana,"
"Semoga aja, makasih ya udah bantu gue buat cari pelaku kecelakaan ini. Gak tau deh gue mau bilang apa ke lo," ucap Shaka dengan tulus.
Cowok berdarah campuran Indonesia-Thailand itu memang telah mengarahkan seluruh bawahannya untuk mencari pelaku dari kecelakaan Runa. Itu semua Rasya lakukan tak lain tak bukan hanya ingin membantu dan meringankan Runa di sana.
"Santai aja sama gue, gue udah anggap Runa tuh kayak adik gue sendiri. Jadi gak usah heran," balas Rasya tersenyum.
Sampai tak sadar bahwa mereka telah tiba di parkiran, semuanya mulai berpamitan satu persatu. "Kita berdua balik duluan!" pamit Bram dan juga Arthur.
"Tumben lo berdua akur," cetus Rayn sembari memakai helm full facenya. "Biasanya juga ribut berdua," lanjutnya.
Bram berdecak kesal. "Ribut salah, baikan salah. Mau lo tuh apa?" ujarnya kesal, perasaan apapun yang Bram lakukan selalu saja salah.
Rayn tertawa kemudian menaiki motornya. "Becanda Bram! Sensi amat lo. Gue balik duluan, mau jemput bini!" ujarnya pada semua.
"Ati-ati!"
...
Setelah tamat kemarin, cukup banyak yang bilang kalau cerita ini gak seru diakhir episode. Oke, aku ngerti karena tiba-tiba episode akhir ini tamat dan berakhir dengan apa yang engga kalian pikirkan.
Dari banyaknya cerita, ya aku memilih ending yang berbeda. Karena emang bosen aja masa harus happy terus, kenapa gak buat yang sedihnya. Sebelum aku up episode kemarin, aku udah mikir semuanya baik tentang komentar yang kalian tulis.
Sebetulnya ceritanya udah tamat dari lama, bahkan dari bulan Oktober tahun kemari udah tamat, cuma waktunya aja yang belum. Semuanya juga udah aku pertimbangkan kok gimana baik dan buruknya cerita ini.
Maaf kalau aku harus ambil kebahagiaan mereka berdua, maaf juga gak bisa ketemu penerus dari Aldebaran. Karena percuma juga kalau nanti cerita ini aku lanjutkan yang ada nantinya gak akan selesai, toh kalaupun nana buat panjang pasti itu-itu doang.
Semoga dengan penjelasan singkat ini kalian ngerti dan paham, banyak sekali alasan yang gak bisa aku tulis di sini karena memang harus aku simpan aja.
Ada yang penasaran sama siapa pelaku dari kematian Runa? Kalau banyak yang jawab nanti aku buat.