Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Bersama berdua



Sepuluh anak berjejer rapi di lapangan Trisatya, para dewan guru sudah angkat tangan dengan kelakuan mereka. Apalagi dengan Bu Dayu dan para guru lama-lama bisa mati muda mereka.


Ke sepuluh anak itu tertangkap akibat bolos kelas, jadi setelah menjenguk Asep yang dirawat di rumah sakit, mereka semua memutuskan untuk balik lagi ke sekolah. Inginnya menemani Asep sembari bolos tentunya.


Karena ada Rasya dan Ismail yang memang memiliki sifat disiplin memberi pengertian, dan akhirnya mereka harus balik.


Namun keberuntungan tak berpijak pada mereka, saat enak-enak manjat untuk masuk kelas ada Bu Dayu sedang berjaga pintu belakang. Dan berujung dijemur di lapangan.


"Kalian ini udah mau naik kelas juga masih gak ada kapok-kapoknya ya! Kamu Ismail, Gaga, Baron sama Junaedi. Mau jadi apa kamu?" tanya Bu Dayu.


"Bu saya Junet kenapa panggil Junaedi dah," protes Junet, udah nama bagus-bagus diganti Junaedi lagi.


"Terserah saya dong, kan saya yang bilang. Kenapa kamu yang sewot?!" sahut Bu Dayu.


"Yang sabar bang, namanya juga cewek, cewek selalu benar kalau gak gitu balik ke opsi pertama." bisik Bram yang berada di samping kanan Junet.


Cowok bernama junet itu hanya bisa menghela nafas kasar, namanya cewek ya kan. Udah dituruti aja, cewek selalu benar.


"Bu beneran bu kita tadi jenguk Asep bu, udah ya bu panas nih bu." Baron -anak 12 IPS 5 memberikan penjelasan.


"Iya bu, bener deh kalau ibu gak percaya bilang aja sama pak Haji," ucap Arthur mengikuti suara salah satu animasi anak-anak.


"Entar kenapa kata-kata itu gak lazim ya sama gue?" gumam Tara.


"Adit Sopo Jarwo goblok!" ngegas Gaga -anak 12 IPA 4.


"Kok lo tau bang?" Tara bertanya, oh pantesan kok kayak familiar di telinganya.


"Adik gue nonton tiap hari, makanya gue apal tuh naskah. Atau gak yang adiknya tuh, kok bisa ya abangnya tau apa yang di bilang. Gue yang liat kagak paham sama alurnya." Kata Gaga.


Cowok itu cukup heran tiap hari ikut nonton bareng adiknya tapi sampai sekarang belum paham tuh sama ucapan adiknya Adit.


"Bu Dayu kan cantik, boleh ya bu udahan di jemurnya. Mataharinya panas bener bu, nanti kulit saya item ibu mau gantiin skincare saya?" ujar Bram.


"Gini nih gobloknya natural, mana ada sejarahnya matahari dingin?" gumam Rayn, kenapa bisa punya teman seperti mereka.


"Asep, Ismail coba kamu jelaskan." perintah Bu Dayu.


"Asep? Kok asep Bu? Asep di rawat Bu di rumah sakit," heran Ismail.


"Lho itu siapa?" tunjuk Bu Dayu pada Rasya. "Oh maksudnya Rasya, iya kamu jelaskan." mohon maaf A ke R jauh sekali ibunda.


"Mana ada sejarahnya Asep jadi Rasya dan Rasya jadi Asep? Jauh banget!" batin inti Alastair menjerit.


Bel telah berbunyi, Vanya dan Runa segera menuju ke kantin untuk mengisi perut mereka, langkah Runa terhenti di pinggir lapangan ketika menatap ke sepuluh orang yang berjejer rapi.


"Kak Shaka ngapain di sana?" gumam Runa bertanya-tanya.


Vanya juga ikut menghentikan langkahnya ketika Runa diam di tempat. Cewek itu mengikuti arah pandangan Runa. "Dilihatin aja terus, lo mau berdiri sampai kapan di sini?"


Runa menoleh, gadis itu cengengesan seperti tertangkap basah saja. "Ayo kita ke kantin," ajak Runa sambil menggandeng lengan Vanya.


Setelah cukup lama memberikan penjelasan panjang lebar, Bu Dayu memberikan izin mereka untuk tak melanjutkan hukuman.


"Baik, kali ini saya lepaskan kalian. Kalau sampai ke ulang lagi. Kalian siap-siap menerima konsekuensinya!" tegas Bu Dayu, lalu menatap muridnya satu-satu dan pergi.



Seperti waktu yang dijanjikan waktu itu, hari ini Shaka menepati janjinya untuk mengajak Runa keluar, jam pulang sekolah berbunyi, Shaka buru-buru mengemasi tas nya dan pamit pada lainnya terlebih dahulu.


"Gue duluan," pamit Shaka.


Semuanya mengangguk meskipun tak tau Shaka mau kemana. Rasya pun pamit pulang, sudah dari tadi ayah nya menyuruhnya ke perusahaan.


"Gue juga duluan," pamit Rasya juga.


Hanya tersisa Rayn, Tara, Arthur dan Bram. Karena bingung mau ngapain mereka langsung memutuskan kembali menjenguk Asep yang berada di rumah sakit.


"Yang jaga Asep siapa?" tanya Bram.


"Ada Bima sama Devon," ucap Rayn. "Katanya hari ini mau balik sih tuh bocah, udah membaik juga keadaannya." Rayn memberikan informasi yang dia dapat dari grup.


"Gue masih bingung, ada angin apa sampai Gundala serang Asep. Dan juga, kenapa Asep kayak bimbang gitu waktu kita tanya." Heran Arthur, memikirkan kembali kejadian beberapa jam yang lalu.


"Iya juga ya, kita gak bakal serang kalau mereka gak mulai duluan," Tara juga setuju dengan ucapan Arthur, apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Asep? Atau cowok itu punya masalah pribadi?


"Gak gosip gak afdol Yan, ikutan sini." goda Bram seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Gue do'ain mata lo bintitan." ucap Rayn yang diamini Arthur dan Tara.


"Aamiin! Kabulkan doa Rayn ya Allah!" Tara, Arthur dan Rayn mengangkat tangan di depan dada dan mengusapkan di wajah.


"Biadap lo semua, doa yang baik-baik kek ke gue. Semoga bisa mendapatkan jodoh secepatnya. Ini malah doa yang gak bener," protes Bram.


"Jodoh, jodoh. Pelajaran aja masih numpang Rasya, minta jodoh. Anak lo nanti lo ajarin apa?" tanya Tara.


"Tinggal panggil guru privat, susah amat." ucap Bram dengan santai.


Ada uang, semuanya aman.


"Lha lu ngapain dong?" tanya Arthur.


"Cari bini baru lah," dengan santainya Bram berkata seperti itu.


"Ciri-ciri orang yang tak bersyukur," sahut Rayn seraya menggelengkan kepala.



Buru-buru Shaka berlari menuju kelas Runa, akibat diminta tolong sama Pak Rahmat dirinya sampai lupa jika ada janji dengan gadisnya. Cowok itu tersenyum mendapatkan Runa yang duduk manis di depan kelas.


"Maaf lama," masih dengan nafas yang tak teratur Shaka mendudukkan diri di samping Runa.


"Gak masalah, kamu kenapa kok lari-lari kayak di kejar setan aja." gurau Runa.


"Aku kira kamu balik makanya aku cepet-cepet ke sini." ujar Shaka.


"Ya gak lah, kan kamu suruh aku nunggu depan kelas. Bukan di tempat lain," ucap Runa, gadis itu memberikan sebotol mineral miliknya pada Shaka.


"Makasih," Shaka meneguk habis air itu hingga tak tersisa.


"Yuk berangkat," menarik lengan Runa dan pergi menuju ke parkiran.


"Kemana?" tanya Runa.


"Janji waktu itu," Runa yang mengerti pun mengangguk.


"Aku kira kamu ajaknya malam," ujar Runa.


Shaka menghentikan langkahnya, memasangkan helm di kepala Runa sebelum menjawab ucapan Runa dan berkata. "Emangnya tante Yuna sama abang kamu izinin kamu keluar malam?" tanya Shaka.


"Boleh aja, tapi gak boleh lewat jam sembilan."


Shaka mengangguk. "Nah maka dari itu aku ajak keluar sekarang kenapa?"


"Kenapa emangnya?" tanya Runa tak paham.


"Biar lebih lama keluarnya, lagian kalau malam nanti kamu nya yang kenapa-napa. Dan mumpung cuacanya mendukung, kenapa gak sekarang aja," Shaka ingin berdua menghabiskan waktunya dengan Runa.


"Kita jalan sekarang," sebelum naik Shaka melilitkan jaketnya di pinggang Runa untuk menutupi paha mulus milik nya.


"Tapi aku belum izin ke bunda buat keluar,"


Cowok itu langsung mengulurkan tangannya. "Pinjam handphonenya, buat telpon bunda kamu."


Runa merogoh sakunya dan memberikannya pada Shaka. "Sekalian mau culik anaknya." lanjutnya kembali.


Panggilan tersambung. "Halo Runa, ada apa nak?" tanya bunda Yuna dari sebrang.


"Halo tante, ini Shaka. Shaka pinjam handphone Runa sebentar buat izin ke tante."


"Mau izin apa?"


"Shaka izin bawa Runa keluar boleh?" tanya Shaka sesekali melirik Runa.


Yuna dari sebrang terkekeh. "Ya ampun tante kira ada apa, boleh aja kamu bawa Runa keluar, tapi ingat ya. Jaga batasan, jangan sampai khilaf!"


"Siap tante, makasih udah diizinin buat culik anaknya sebentar. Shaka tutup ya tante, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam,"