
Pagi hari pun tiba, Runa terbangun lebih awal saat merasakan perutnya yang tak enak. Mengibaskan selimutnya Runa berlari ke arah kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.
Suara gaduh yang Runa buat, berhasil membuat Shaka terbangun dari tidurnya. Melihat Runa yang tak ada disampingnya, membuat cowok itu terbangun dan menghampiri Runa yang ada di dalam kamar mandi.
"Sayang," panggil Shaka yang mulai menghampiri Runa.
Shaka sedikit terkejut begitu mendapati Runa yang terlihat pucat. Memegangi kedua ujung wastafel, Runa menunduk ke bawah. "Sayang," panggil Shaka sekali lagi.
Runa langsung membasuh wajahnya dengan air. "Aku gak papa by," balas Runa dengan nada lemah dan mulai menatap kaca.
Shaka menggeleng pelan, dan ikut menatap ke arah kaca. Di tatapannya Runa dari depan. "Kita ke rumah sakit ya? Wajah kamu pucat," katanya sambil mencoba membujuk.
"Enggak! Aku baik-baik aja, kamu mandi dulu. Aku mau siapin baju buat kerja," belum sempat Runa berbalik. Shaka sudah mencekal lengannya dan menarik Runa untuk diam.
"Hari ini aku gak kerja, sekarang--"
"Gak usah by, aku baik-baik aja, palingan cuma asam lambung aku yang kumat. Kamu mandi sana bau!" Runa tertawa kecil sebelum meninggalkan Shaka.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, Runa yang masih sibuk membereskan tempat tidur terhenti dan membalikkan badannya ke belakang. Ternyata Shaka sudah menyelesaikan mandinya.
"Baju kamu," Runa menyerahkan sepasang jas yang sudah dia siapkan pada Shaka.
"Aku mau turun ke bawah. Mau siapin sarapan buat kamu," belum juga Runa berbalik Shaka kembali mencegahnya.
"Kamu mandi aja, biar aku yang siapin sarapan buat pagi ini."
Tak ingin membantah, Runa menurut. Melihat Runa yang masuk ke kamar mandi, membuat Shaka bergegas turun ke bawah dan mulai menyiapkan sarapan pagi.
"By, kamu masih di dalam?" tanya Runa dari dalam, karena tak mendapat jawaban, Runa mulai membuka pintu perlahan dan mengintip nya.
"Aman," berjalan mengendap-endap Runa memasuki lemari baju seraya memegang erat handuknya. Gadis itu masih saja malu dihadapan Shaka bila tak memakai baju, padahal mereka sudah menikah.
Setelah selesai berganti pakaian, Runa turun ke bawah dan duduk di salah satu kursi makan. Menatap punggung tegap Shaka dari belakang, sedikit meringis karena melihat dapur yang mulai tak terkendali.
"Kamu masak apa by?" tanya Runa yang penasaran.
"Nasi goreng seafood," jawab Shaka melirik sekilas padanya. Lalu kembali memasak nasi goreng spesial untuk Runa.
Hanya bisa menatap Shaka yang sibuk dengan peralatan dapur, sebenarnya Runa ingin membantu Shaka. Namun, cowok itu melarangnya, katanya pagi ini semuanya akan cowok itu siapkan. Padahal seharusnya Shaka sudah berangkat ke kantor.
Tak lama Shaka datang dengan membawa dua piring berisikan nasi goreng bikinan Shaka, ditaruh nya di atas meja Shaka kembali ke dapur untuk mengambil minuman.
"Kenapa?" Shaka menatap Runa yang menatapnya juga dengan tatapan yang membuat Shaka meringis.
Runa menggeleng sebagai balasan. "Enggak ada,"
"Nasi goreng nya enak," lanjut Runa. Dan memakan lahap nasi goreng bikinan Shaka itu.
Melihat itu cukup membuat Shaka bernapas lega, meski cukup khawatir karena takut nantinya akan keasinan. Tau sendiri Shaka tak bisa masak, mungkin bisa terhitung jari untuk berapa banyak Shaka berada di dapur dan memasak.
"Besok buatin lagi ya nasi goreng nya," sambung Runa lagi.
Baiklah, mulai besok Shaka akan memasak nasi goreng dengan topping yang lainnya. Selanjutnya Shaka memasukkan nasi goreng bikinan nya ke dalam mulut.
"Uhuk.. Uhuk.." Shaka tersedak, cowok itu menatap Runa dengan kesal, dan mengambil alih piring itu dari tangan Runa. "Makanan asin gini kamu bilang enak?"
"Enak kok makanannya," balas Runa yang masih mengunyah makanan.
"Gak usah bohong, makanannya asin. Kenapa gak bilang?" tanya Shaka.
"Tapi masih bisa dimakan,"
"Kalau sakit perut gimana?" Runa terdiam. "Kenapa gak bilang sih kalau nasi goreng nya asin," kata Shaka.
"Masih bisa dimakan by, mubazir kalau dibuang."
"Cuma kamu bisa bilang kan kalau makanannya asin? Kamu lagi sakit sayang, kalau kenapa-napa gimana?" tanya Shaka dengan khawatir, pasalnya gadis itu berbohong. Kalau Shaka tau akan se-asin ini, tak mungkin dirinya kasih pada Runa.
Menarik Runa ke dalam dekapan. "Lain kali itu bilang. Gak usah diam, hubby gak bakal marahin kamu. Kalau gini kan aku juga yang salah," ujar Shaka berbisik.
"Aku gak enak aja sama kamu, kamu udah susah buatnya masa dibuang gitu aja. Lagian masih bisa aku makan makanannya," ungkap Runa.
"Enggak dengan ini," tegas Shaka. "Maaf ya kalau makanannya gak enak," lanjut Shaka tak enak.
"Gak papa, besok kita bisa belajar lagi. Kamu berangkat sana ke kantor. Udah masuk," Runa menyuruh Shaka untuk memakai jas kerjanya.
...
Menutup pintu kamar mandi perlahan, Shaka dengan handuk yang menutupi tubuhnya melangkah mendekati lemari baju. Mengambil salah satu baju lalu mulai turun ke bawah, menghampiri Runa yang sibuk masak untuk makan malam mereka.
"Selamat malam sayang," seperti biasa Shaka datang dan memeluknya dari belakang.
"By, geli!" Runa menggeliat pelan saat hembusan napas Shaka mengenai lehernya.
Mematikan kompor dan berbalik ke belakang, Runa menatap Shaka lalu mendorong tubuh lelaki itu ke belakang perlahan.
"Kamu belum mandi ya?" tebak Runa, sambil menutup hidungnya.
"Tapi kamu bau, udah ih sana!" mengibaskan kedua tangannya, Runa menyuruh Shaka untuk duduk di tempat.
Shaka sendiri merasa aneh pada sangat istri, pasalnya cowok itu baru saja mandi dan terlihat jika rambutnya masih basah akibat keramas.
"Duduk by!" ujar Runa, begitu Shaka ingin mendekatinya.
Menghela napas perlahan, Shaka menurut dan duduk di meja makan sambil mengendus badannya. "Perasaan gue wangi," ujar Shaka dalam hati.
Tak berapa lama Runa mematikan kompor dirasa makanannya telah matang, dipindahkannya ke atas piring kemudian membawanya ke meja makan. "Besok kalau mandi pakai sabun nya yang banyak, kalau bisa pakai parfum sekalian."
"Bau banget emang?" tanya Shaka, sambil memasukkan pasta ke dalam mulutnya.
Runa mengangguk kecil. "Kamu beneran mandi kan tadi? Bukan mandi bebek?"
"Mandilah, terus aku ngapain di dalam kamar mandi? Yoga?"
Makan malam dilanjut, dengan obrolan santai seperti biasa. Membicarakan soal pekerjaan dan kejadian hari ini yang keduanya lakukan.
Setelah selesai, Runa dan Shaka mulai membagi tugas. Ada yang membereskan dapur dan ada yang membereskan kamar serta ruang tengah.
Keesokan harinya, Shaka terbangun terlebih dahulu. Menyerong kan tubuhnya ke samping, ditatap nya wajah cantik milik Runa. "Sayang bangun, udah pagi." Dengan setengah berbisik, cowok itu membangunkan Runa perlahan.
Shaka mengulas senyum, ketika melihat Runa yang mulai menggeliat kecil. "By?"
"Bangun, udah pagi."
"Kamu mandi aja dulu, kalau udah bangunin aku. 5 menit lagi by!" Runa menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Mengibaskan selimutnya, Shaka mulai bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Tak lama kemudian, cowok itu keluar dengan kaos yang melekat di tubuhnya. Berjalan menghampiri Runa dan segera membangunkannya.
"Iya ini bangun," dengan langkah gontai Runa bergantian masuk ke kamar mandi.
"Bau apa sih?" tanya Runa yang baru saja menyelesaikan mandinya, gadis itu keluar sambil menutupi hidungnya.
"Kamu pakai parfum apa?" tanya Runa lagi.
Shaka mengangkat sebuah botol parfum yang biasanya dia pakai. "Seperti biasa,"
"Yaudah sana berangkat," sedikit mendorong tubuh Shaka keluar. Menyuruhnya untuk segera pergi.
...
Saat ini Shaka sedang duduk di atas kasur, dengan memangku sebuah laptop. Tangannya tak berhenti menari di atas keyboard. Melirik ke samping saat mendengar pintu kamar yang terbuka.
"Hubby!" Runa sedikit berlari menghampiri Shaka dan memeluknya dari samping.
"Udah selesai marahnya?" tanya Shaka melirik sekilas padanya, dan kembali menatap layar laptop di hadapannya.
"Siapa yang marah coba?"
"Lah tadi," Shaka mengangkat sebelah alisnya, menatap Runa untuk meminta penjelasan.
"Aku gak marah kok ke kamu," kata Runa. "Cuma kesel aja sama parfum yang kamu pake," sambung Runa.
"Parfum lagi," gumam Shaka yang masih terdengar ditelinga Runa. "Kamu kenapa sih sayang? Akhir akhir ini beda banget," ujarnya heran.
Hampir seminggu Runa bertingkah aneh, dan selalu mengomel tak jelas. Dan waktu ditanya ada apa oleh Shaka, gadis itu juga tak tau dengan apa yang terjadi. Semuanya seperti terjadi begitu saja.
Runa mengangkat bahunya tak mengerti. "Enggak tau," dia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri.
"Sana tidur, aku mau lanjut kerjain laporan dulu." Mengecup singkat kening Runa, Shaka menyuruhnya untuk segera tidur. Akibat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Bareng kamu," Runa memeluk lengan Shaka erat.
"Tapi aku harus kerjain ini dulu, nanti aku nyusul."
"Enggak mau!" Runa menggeleng tegas. "Ayo by, tidur udah malam."
"Oke." memilih mengalah Shaka menyingkirkan laptopnya ke atas nakas, dan ikut berbaring di samping Runa.
"By," Shaka bergumam singkat. "Lepas baju," ujar Runa membuat Shaka menghentikan aktivitas untuk mengusap surai panjang miliknya.
"Kamu nya yang buka baju, ayo buru!" paksa Runa.
Lagi dan lagi, Shaka tak menolak dan menuruti kemauan Runa. Melepaskan pakaiannya, Shaka kembali berbaring ke atas kasur. Runa pun segera memeluk tubuh Shaka dan perlahan mulai tertidur akibat usapan lembut dari Shaka.
"Good night babe," bisik Shaka dan tertidur.
...
Garing ya? Maaf :)))
Sumpah nih episode random bangett, gatau alurnya mau kemana 💔
Bau-bau kesenangan tiba wkwkwk, sabar ya buat kalian yang nungguin Runa hamidun. Bentar lagi kok, gak lama-lama.