
Pulang dari kantor, moodnya kini hancur seketika. Ditambah dengan ajakan Shaka tadi yang sangat membuatnya kesal.
"Gimana bisa dia nuduh orang tanpa bukti gitu?!" sungut Runa menggebu-gebu.
Mengoceh sepanjang jalan, membuat perutnya terasa lapar. Mencoba untuk lebih tenang kembali, Runa beranjak dari tempat tidur nya.
Memilih melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun dia urungkan saat ponselnya berdering.
"Siapa ya?" tanya Runa yang langsung menggeledah isi tas.
Segaris senyum cerah perlahan muncul, ketika mengetahui siapa sosok yang menelponnya malam begini.
"Halo Ram?" tanya Runa sambil berjalan menuju ke arah balkon, sembari menatap bintang bintang di malam hari.
"Hai sayang. Gimana hari ini? Lancar kan kerjanya," tanya Rama. Seperti biasa tentunya, berbagi cerita tentang hari ini.
Bergumam singkat. "Hm, kayak biasanya." Runa menjawab dengan nada malas.
Diseberang sana Rama tersenyum, dia tau jika Runa tak baik-baik saja hari ini. Terdengar suara Runa yang tak seperti biasa.
"Ada apa? Balasnya juga kayak nggak ikhlas gitu," sahut Rama.
"Ada masalah ya di kantor? Coba sini cerita," setelah berkata demikian. Rama diam, menunggu balasan dari gadisnya.
"Rama..." keluh Runa.
"Apa? Ada apa?"
"Laper," singkat Runa dengan merengek.
Terdengar suara tawa dari sebrang. "Kamu belum makan?" seketika nada bicara berubah.
"Udah sih, cuma laper lagi." cicit Runa, takut.
"Kapan? Jangan bilang tadi siang?"
"Nggak! Tadi sore makan kok," elak Runa sambil meringis.
"Makan apa coba?"
"Bali batagor di depan kantor," balas Runa.
Berdecak kesal, saat Runa selalu menjawab pertanyaan yang dia lontarkan. "Yaudah, tunggu sana ya. Aku ke rumah. Mau antar makan," Rama segera mematikan panggilan.
"Eh tunggu!" cegah Runa. "Gak usah Ram, aku buat aja di rumah. Lagian gak enak juga sama kamu. Jam segini kesini,"
"Sekalian juga. Ini aku lagi di jalan mau balik ke rumah. Udah ya, tunggu aja di depan. Jangan tidur dulu," Rama dengan sepihak mematikan panggilan.
"Tapi kan---" belum juga Runa menjawab, Rama dengan cepat mematikan panggilan terlebih dahulu.
Benar saja, tak berapa lama Rama menelpon kembali. Katanya cowok itu sudah berada diluar. Berlari ke arah balkon untuk memastikan apakah benar Rama sampai.
Beneran dong, batin Runa.
Kembali menutup pintu, Runa turun ke bawah dengan sedikit terburu-buru.
"Sayang, hati-hati turunnya nanti jatuh lagi," tegur Bunda Yuna dari arah kamar.
"Iya Bunda!" pekik Runa membalas.
"Rama," perlahan kaki mungil nya melangkah biasa. Menghampiri Rama yang berada diluar mobil..
"Kamu beneran kesini?" tanyanya tak percaya.
Berdehem singkat, Rama memberikan sekantong kresek berisikan makanan. "Aku belikan soto, biar badan kamu anget,"
Mengajak Rama duduk di depan. Bukannya tak mau mengajaknya masuk, hanya saja Runa tak ingin menganggu yang lain juga. Ditambah sudah jam setengah 9 malam.
Sambil makan, ke-dua nya sama-sama berbagi cerita. Inilah yang membuat Runa senang, meski mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tak membuat mereka kesusahan untuk berkomunikasi, untung nya kini Rama telah pindah ke Jakarta yang membuat Runa merasa lebih mudah.
Sisi lain, Shaka masih berada di kantor. Padahal sudah waktunya jam pulang. Namun, akibat ada rapat mendadak dari perusahaan membuat sebagai anak harus terjebak sebentar di sana.
"Rapat kali ini sudah selesai, kalian semuanya bisa kembali ke rumah. Jangan lupa untuk mengirim laporan kembali ke saya," Leo menutup rapat malam ini dengan segelas kopi.
Serempak, mereka keluar dari ruang rapat. Leo menata map dan beranjak pergi. Tapi dia urungkan ketika melihat Shaka yang sedari tadi melamun.
"Jangan banyak ngelamun, ntar kesambet!" tegur Leo pada Shaka, lalu memberikan secangkir kopi hitam pada atasannya itu.
"Makasih," Shaka menerima nya. Menyesap perlahan kopi hitam pemberian Leo.
Sebenarnya Shaka paling benci untuk meminum kopi hitam, tapi dari pada dia jerumuskan dengan minum beralkohol malah semakin bahaya.
Leo memilih untuk diam, tak ingin ikut andil dalam masalah yang terjadi. Baginya, dia tak punya hak untuk itu.
"Kamu boleh pergi," suruh Shaka. Tepatnya mengusir perlahan Leo untuk pergi dari sini.
"Baik Tuan," Leo melangkah pergi. Tapi nyatanya dia tak akan diam, meski dia pergi Leo akan menyuruh orang untuk menjaga Shaka.
...
Berdiri menghadap pintu UGD. Dadanya bergemuruh, menyandarkan punggungnya pada tembok. Shaka mencoba tenang.
"Semoga kamu gak papa," batin Shaka berdoa.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Shaka menegakkan tubuhnya, saat keluarga Runa tiba bersamaan dengan Rama.
"Runa mana?" tanya Arfan dengan nada meninggi.
"Fan sabar dulu, jangan emosi." Jihan segera menarik suaminya menjauh, tak ingin terjadi sesuatu hal yang tak mereka inginkan.
Rama sendiri mengusap wajahnya gusar, menatap ruangan UGD yang tertutup rapat. Manik matanya beralih menatap Shaka, menatap laki-laki itu dengan tajam.
Sebisa mungkin Ram mengontrol emosinya, Rama tak ingin jika emosinya tak terkontrol. "Semoga kamu gak papa Na,"
Ayah Bima, Arfan, Jihan dan Rama langsung bergegas ke rumah sakit saat mendapatkan panggilan jika Runa pingsan. Bunda tak ikut karena ada suatu hal.
Menunggu cukup lama, akhirnya pintu UGD terbuka. Seorang dokter wanita dengan balutan hijabnya baru saja keluar.
"Dengan saudara pasien?" tanya dokter itu.
Ayah Bima lantas berdiri. "Saya Dok. Ayahnya," ucap nya. "Keadaan putri saya gimana? Dia baik-baik saja kan dok?" tanya Ayah pada sang dokter.
"Pasien baik-baik saja, tinggal menunggu sadar. Pasien mengalami keracunan makanan, saya akan memastikan lebih lanjut untuk penyebab keracunan ini." jelas Dokter itu, membuat mereka menutup mulut tak percaya.
"Saya tinggal sebentar, sebentar lagi pasien akan dipindahkan di ruang rawat inap." Pamit dokter itu, lalu melenggang pergi.
Bugh
Bugh
Bugh
Arfan langsung melayangkan tiga pukulan langsung kepada Shaka. Membuat lelaki itu tersungkur di atas lantai.
Shaka hanya diam, dia tak membalas pukulan kembali ke arah Arfan. Lelaki itu hanya terduduk dengan darah yang mengalir di bibir nya.
"Arfan!" Jihan menarik Arfan, mencoba menenangkan cowok itu. "Kontrol emosi kamu," bisik Jihan.
"Bang tenang," Rama berusaha untuk menenangkan Arfan. Meski dalam hati dirinya marah, namun Rama tak ingin kehilangan kendali.
Ayah Bima melihat itu langsung membantu Shaka berdiri, meski dirinya marah. Namun melihat Shaka yang begitu membuat nya tak tega.
"Sorry Bang. Cuma ini bukan kesalahan gue. Gue juga gak tau kalau makanan itu ada racunnya atau gak," Shaka mencoba menjelaskan perlahan.
"Bulshit!" umpat Arfan.
"Buat lo!" tunjuk Arfan. "Gue mau lo jauhi Runa!" tekan Arfan.
"Jauhi adik gue, karena lo hanya parasit yang selalu buat Runa dalam bahaya!" sungut Arfan dengan napas bergemuruh, dadanya naik turun mengatur napas.
"Lo itu biang masalah dalam Runa! Lo selalu buat Runa masuk dalam masalah lo! Dan lo yang selalu bikin Runa nangis," Arfan mengeluarkan semua uneg-uneg nya, yang selama ini dia pendam.
"Jauhi Runa, sebelum gue sendiri yang bakal jauhi lo berdua!" Arfan lantas pergi meninggalkan lorong.
...
Yang ingin berkomentar dipersilahkan :)
Rencananya aku mau kembali crazy up lagi sih, soalnya aku udah buat target untuk cerita Shaka Runa tamat di bulan ini (tentunya dari dukungan kalian semua)
Jadi mohon bantuannya teman-teman 🙏