Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Minggu



Hari ini adalah hari minggu, dimana sebagian orang menghabiskan waktu mereka dengan bersantai, Runa gadis itu tengah bersiap-siap untuk joging pagi keliling komplek, di rumah hanya dirinya lah yang sudah bangun terlebih dahulu.


Runa berjalan menuju ke kamar bunda, ia ingin lihat apakah sang bunda telah bangun atau belum. gadis itu mengetuk pintu sebelum membukanya.


"Bunda, udah bangun belum?" tanya Runa, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tak mendapatkan jawaban dari sang bunda.


Terdengar suara gemericik air, gadis itu masuk ke dalam. "Bunda!"


"Iya Runa, ada apa?" Bunda sedikit berteriak.


"Aku pamit ya, mau joging sebentar." pamitnya.


"Iya sayang, Hati-hati ya! jangan lupa susu kamu di minum dulu." ucap bunda.


"Oke bunda, Runa pamit ya!" gadis itu kembali menutup pintu dan turun ke bawah untuk membuat susu. Setiap pagi Runa meminum susu peninggi badan, badannya masih pendek makanya bunda beliin susu ini. Meski belum ada perubahan.


Runa berlari keluar rumah, gadis itu tak ingin jauh-jauh mungkin hanya beberapa blok saja yang dia kelilingi. Sesekali menyapa beberapa tetangga yang dia kenal.


"Pagi mbak, aduh rajin banget. Pagi-pagi udah semangat aja nih." sapa ibu-ibu komplek.


Runa tersenyum, "pagi bu, saya duluan."


Tak perlu waktu yang lama Runa telah selesai dengan lari paginya. Gadis itu masuk ke dalam, ternyata sang bunda tengah memasak sarapan. Runa mencuci tangan dan kaki lalu membantu Yuna membuat sarapan.


Nanti aja mandinya, sekalian biar kotor gitu pakaiannya. Pagi ini Runa dan bunda akan membuat nasi goreng bakso serta cap cay. Bunda yang memasak Runa yang memotong.


"Abang kamu belum bangun dek?" tanya bunda sambil mengaduk cap cay.


"Belum kayaknya bun, abang kelas pagi emang?" tanya Runa balik.


"Katanya semalem sih iya, coba kamu bangunin gih. Ini biar bunda yang lanjutin sekalian kamu mandi sana!" suruh bunda.


Runa mengangguk, gadis itu pergi menuju kamar Arfan untuk membangunkan cowok itu terlebih dahulu. "Bang, abang udah bangun belum?" tanya Runa dari luar.


tok.. tok.. tok..


"Abang, udah bangun belum." masih aja tak ada sautan dari dalam, Runa perlahan membuka pintu, gadis itu hanya bisa menghela nafas kasarnya. menghampiri Arfan yang masih tertidur.


"Bang! Bangun yuk udah pagi nih," Runa menepuk kedua pipi Arfan.


"Ntar aja, masih ngantuk gue." kata Arfan masih dengan menutup kedua matanya.


"Bang, kata bunda kamu ada kelas pagi. Kelas pagi apa kerja?" tanya Runa yang membuat Arfan membuka mata.


"Jam berapa?" tanya Arfan, dengan suara khas bangun tidur.


"Setengah tujuh, abang ada kelas? Bukannya libur ya, hari ini hari minggu kok," heran Runa.


"Ada, gue harus kumpulin tugas. Sekalian mau kerja juga, gue mandi dulu deh." cowok itu bangkit dari kasur dan memilih untuk mandi.


Runa hanya mengangguk paham, menatap kamar Arfan yang cukup berantakan membuat jiwa kerapiannya memberontak. Gadis itu menata semua kamar Arfan, tak lupa membuka jendela kamar agar udaranya terganti.


Runa berkacak pinggang, gadis itu tersenyum ketika kamar Arfan telah terlihat rapi. Gini kan enak dilihat, setelah itu Runa pergi keluar tak lupa kembali menutup pintu.


"Sekarang aku mandi, terus ke bawah buat sarapan." Runa masuk ke kamar, mengambil pakaian santainya dan pergi ke kamar mandi.


Arfan baru saja menyelesaikan mandinya, cowok itu menatap kaget kamarnya yang telah rapi. "Ketika anak rapi bersanding dengan anak berantakan." gumam cowok itu.


"Tumben banget lo, semangat. Ada apa nih?" tanya Arfan, merangkul Runa untuk turun ke bawah.


"Harus semangat dong, abang juga semangat kerjanya," ucap Runa dengan pelan diakhir kalimat.


"Siap princess!"


Runa mencubit lengan Arfan. "Gak usah panggil princess!" Runa menampilkan wajah garangnya.


"Eh sorry, keceplosan." Arfan menepuk bibirnya.


"Udah yuk sarapan, gak baik ntar lo darah tinggi. Pagi-pagi emosian." tuh kan di diemin ngelunjak ya gini!



"SELAMAT PAGI DUNIA!" Teriak Ale memasuki meja makan.


"Berisik! Ganggu aja lo!" ketus Shaka.


"Ih pagi-pagi udah marah-marah, darah tinggi lo, kebanyakan marah-marah gak baik. Pagi bang," Ale mengecup singkat pipi Shaka.


"Jijik!" Shaka mengelap pipinya bekas kecupan Ale. Cowok itu menatap Ale dengan mimik wajah jijiknya.


"Jijik-jijik, lo pikir gue rabies!"


"Iya lo rabies!" dengan santainya Shaka berkata. "Lo mau apa dari gue?" Shaka mengerti adiknya ingin meminta sesuatu padanya. Ale kan baik --kalau ada maunya.


Gadis itu cengengesan. "Tau aja sih, bang." Runa mendudukkan diri di samping Shaka.


"Hm?"


"Bawa kak Runa ke sini dong, please!" Ale menakup kedua tangannya di depan dada, memohon ke arah Shaka.


"Ogah, dia gak mau sama lo." tolak Shaka.


"Kak Runa apa emang lo nya aja yang males," cibir Ale.


"Bang ayo, suruh kak Runa kesini lah!"


"Gak, lo tuh gak tau hari ini hari apa? Hari ini weekend Ale, lo mau ganggu istirahat orang?!" ujar Shaka.


"Ya gak papa, ayolah suruh ke sini kak Runa. Gue kangen tau,"


"Kalian ya, gak pagi, siang, sore, malem berantem terus. Ada apa sih hem?" tanya Lea, wanita itu masih ribut dengan urusan dapur.


Maklumlah, Lea tak ada pembantu di rumah. Pembantu hanya akan membereskan rumah siang sampai sore, pagi dan malam Lea lah yang bertugas.


Wanita idaman bukan?


"Ma, suruh kak Runa ke sini. Please," rengek Ake, gadis itu ingin bertemu dengan Runa, entah mengapa Ale ingin mengajak Runa membuat sesuatu.


"Suruh bang ke sini, mama juga mau kenal lebih deket sama Runa. Mumpung jadwal mama kali ini gak sibuk, bisa dong kamu telpon Runa ke sini. Atau gak habis sarapan kamu jemput dia terus main kesini." Lea jadi ikut-ikutan ingin mengajak Runa, wanita itu ingin dekat dengan Runa.


"Oke, nanti aku jemput." final Shaka, cowok itu sebenarnya malas. Hari ini ia ingin ke tempat latihan bersama anak-anak, mungkin agak sedikit telat karena harus menjemput Runa.


"Sama mama aja langsung gas, gue? harus debat dulu, mau bilang aneh tapi lo." ujar Ale.