
..."Punya pasangan, tapi berasa jomblo." -Aruna Priyanka Zoey....
.........
Malam minggu, adalah waktu yang paling banyak digunakan sebagian besar pasangan anak muda untuk menikmati waktu seperti jalan, nongkrong, atau bahkan main berdua.
Tapi itu semua tak terjadi pada Runa, untuk malam ini, gadis itu kembali bermalam minggu sendiri.
"Punya pasangan, tapi berasa jomblo." ujarnya terkekeh.
Menoleh kiri kanan, memastikan tak ada motor ataupun mobil yang lewat, dirasakan sudah aman gadis itu melangkah maju.
"RUNA AWAS!" pekikan seseorang berhasil membuat Runa tersadar, tubuhnya tertarik hampir menabrak pembatas namun untungnya ada tangan kekar yang melindungi kepalanya.
Perlahan matanya terbuka, menatap sosok penolong dia. "Galang?"
"Lo gak papa?" tanya Galang dengan khawatir, sambil membantu gadis didepannya bangkit.
"Aku gak papa kok, makasih ya udah di tolong." ujar Runa sambil tersenyum manis.
"Sama-sama, untung aja ada gue, kalau gak ada gimana coba? Lagian lo aneh-aneh segala, jalan sambil ngelamun gitu," cetus Galang yang membuat Runa menatapnya bingung.
Ngelamun, batin Runa bertanya.
Bugh
Mata Runa melotot sempurna, menatap Galang yang tersungkur di atas tanah serta sudut ujung bibir yang robek. Menatap siapa pelaku yang berhasil membuat cowok itu terjatuh.
"Kak Shaka?"
"BRENGSEK, BERANI-BERANINYA LO SENTUH DIA!" umpat Shaka, ia menarik kerah milik Galang yang mau tak mau membuat lelaki itu harus berdiri.
Dengan cepat, Galang menepis kasar tangan Shaka yang hampir saja membuatnya mati. "Santai man, jangan emosi dulu." ujarnya tersenyum miring.
"Tadi gue cuma nolongin Runa yang mau aja ditabrak sama orang."
"Makanya, kalau punya cewek itu dijaga, bukan jaga cewek lain. Kalau deket sama cowok lain lo emosi, giliran lo?" Galang tertawa, tawa yang terdengar oleh Shaka sebagai tawa ejekan.
Memilih pergi meninggalkan keduanya, Galang tak mau ikut andil dalam masalah mereka berdua.
Memilih pergi dan menatap dari kejauhan adalah hal yang dilakukan Galang. Memastikan Runa aman itu menjadi salah satu kewajibannya.
Shaka berbalik menatap Runa. "Kamu gak papa kan?" tanyanya sambil memutar balik badan Runa -mengecek apakah ada luka atau tidak.
Mata Shaka seketika menatap Runa tajam. "Kenapa kamu malah keluar sendiri!" tanya Shaka membentak.
Lagi dan lagi, tak harus tau berapa banyak lelaki itu membentak nya. Menatap Shaka tak percaya, Runa membalas perkataan Shaka dengan nada kecewa. "Kok kamu malah marahin aku?"
"Kamu bikin khawatir aja! Kalau kamu kenapa-napa aku juga yang kena!" bentak Shaka kembali.
Runa tertawa keras, tawa yang tak pernah Shaka dengar sekalipun dalam hidupnya. "Khawatir? Masih ada rasa khawatir?" tanya Runa pada Shaka.
"Kamu pikir? Kenapa sih kamu gak telpon, atau gak sekiranya kamu izin ke aku, kalau gini aku juga yang susah Runa! Aku juga yang kena marah. Andai saja aku gak ada, kamu bisa aja---" sebelum Shaka lebih lama melanjutkan ucapannya, Runa dengan cepat memotongnya.
"Stop! Stop buat nyalahin orang lain." ujar Runa.
"Kamu tadi bilang kan, kenapa gak telpon atau gak izin? Jangan kan izin, chat aku aja dari minggu kemarin gak kamu balas, apalagi baca." sambung gadis itu. Tak peduli baginya sekarang, toh harga dirinya juga sudah ada di depan lelaki itu.
"YANG KAMU PIKIRKAN ITU HANYA. KAK KANIA! KAK KANIA! DAN KAK KANIA SETIAP SAAT!" Runa mulai kehilangan kendali, emosinya mulai tak tertahan.
"Kania---" belum lagi Shaka melanjutkan, lagi-lagi Runa dengan cepat memotong.
"Jangan potong ucapan aku dulu!" potong Runa.
"Kamu mau bilang apa lagi, mau bilang kalau kak Kania butuh kamu, kalau kak Kania kena kekerasan, kalau kak Kania butuh sandaran?" tanya Runa sambil tertawa.
"Dia emang---" Shaka sangat kalut, mulutnya menjadi sulit untuk digerakkan. Cowok itu sudah kalah sekarang.
"Apa, dia emang apa? Sakit? Basi jawaban kamu!" sungut Runa dengan kasar.
"Kak, aku juga butuh kamu, aku juga ingin sama kamu kayak kamu sama kak Kania, tapi apa? Kamu malam lebih mementingkan dia, dia, dia."
"Dengar dan pahami," ujar Runa. "Aku emang gak seperti apa yang kamu mau, tapi rasa aku ke kamu itu tulus tanpa apapun." ujar Runa.
Shaka terdiam, dia kalut. Lelaki itu sudah kalah sama Runa. Untuk urusan yang satu ini Runa lebih unggul dibandingkan dirinya. Kata tulus hanya terdapat pada gadis didepannya, gadis yang masih bertahan sampai titik ini. Aruna Priyanka Zoey.
Shaka sudah berkali-kali menyakiti hati gadis ini, tapi kenapa Runa masih bertahan dan selalu ada di sampingnya?
"Satu lagi," kata Runa menggantung. "Jangan salahkan aku, kalau esok aku gak peduli bahkan perhatian lagi sama kamu. Tapi, salahkan dirimu yang gak pernah menghargai keberadaan ku disisi mu." sambung Runa dengan tegas.
"Aku pulang ya, kamu lanjutin sana keluarnya bersama kak Kania." melirik ke kanan. "Dia lagi butuh kamu kan? Dia butuh support kamu!" ujar Runa sedikit mengeraskan suaranya di kalimat akhir.
Meninggalkan Shaka dan Kania yang berdiri berjauhan. Shaka hanya terdiam, masih mencerna setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Runa --perkataan yang tak pernah Shaka dengar sebelumnya.
Kening Runa berkerut, gadis itu kira Galang sudah pulang tadi. "Kok ada di sini, aku kira kamu udah pulang." ujar Runa pada Galang.
"Terserah gue dong, kan ini tempat umum. Semua orang bisa tempati," ujar Galang.
"Tepatnya sih, gue nungguin lo, karena gue tau cowok lo gak bakal antar lo balik kalau ada si Kania," sambung Galang, berhasil membuat Runa tersenyum miris.
Miris sekali hidupnya, baru mengenal cinta sudah merasakan sakit seperti ini, bagaimana nanti jika lebih serius. Apakah semua cowok sama seperti Shaka? Ku rasa tidak, contohnya Galang.
"Ngomong-ngomong nih, lo lagi sendiri kan? Gimana kalau gue ajak keluar, biar melupakan masalah sejenak mau gak?" tawar Galang.
"Ke taman, pasar malam, bazar atau mall? Gue yang traktir, jadi lo gak usah mikirin buat bayar nya gimana." ujar Galang pada Runa.
Runa terhenyak sejenak. Membuat Galang menghela napas panjang. "Masih mikir, kalau gue jahat? Masih mikir juga kalau gue licik? Kalaupun iya, kenapa gak dari dulu Runa, gue culik lo, gue mutilasi terus gue jual. Dan gue kabur dari nih negara," seru nya berkata.
"Mau gak? Ayolah jahat banget kalau lo nolak," Galang menawari gadis itu sekali lagi.
"Boleh deh. Yuk," balas Runa.
"Gini dong kan enak. Nih pakai helmnya," Galang memberikan helm miliknya pada Runa.
"Kok pakai helm, kan cuma di depan doang."
Menghela napas sejenak. "Kita gak tau kapan takdir Tuhan tiba, kalau nanti di perjalanan tiba-tiba kecelakaan, terus lo nyungsep, kepala lo kenapa-napa gimana? Kan gak ada yang tau," Runa langsung memukul lengan Galang lumayan keras, membuat cowok itu meringis.
"Sakit Na!"
Memutar bola mata jengah. "Kalau ngomong gak di filter ya kayak gini, omongan adalah doa, awas kalau kejadian." tegur Runa memasang helm itu ke kepalanya.
Galang malah cengengesan. "Hehe, sorry sorry, khilaf."
Runa tertawa kecil, laku naik ke atas motor dengan bantuan laki-laki itu tentunya. "Yuk berangkat, aku udah lapar." serunya seraya menepuk kedua pundak Galang --menyuruh nya agar segara jalan.
...
Galang memutuskan untuk mengajak Runa ke sebuah resto yang berada di dalam mall.
Keduanya saling mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.
Sebelumnya, Galang mengajak Runa untuk bermain ke Timezone. Akibat badan Runa yang mulai gemetaran tadi, Galang dengan sigap mengajak gadis itu makan.
"Galang!" panggil Runa.
"Mau tanya, emang bener ya aku semirip itu sama Qilla?" tanya Runa.
"Kata anak-anak Alastair bilang aku mirip dia, Tante Lea juga bilang kayak gitu." Runa tuh bingung, kok bisa dirinya disamakan dengan Qilla -jangankan ketemu, sedarah saja Runa tak merasa.
Galang mengangguk setuju. "Emang bener ucapan mereka, lo mirip sama Qilla," jawab Galang.
"Mulai tata bicara, sifat, sopan santun. Semuanya deh mirip. Sampai-sampai gue kira Qilla hidup lagi." Galang terkekeh, menatap Runa dalam-dalam.
"Oh ya?" Runa masih tak percaya.
"Boleh lihat fotonya Qilla gak? Dari kemarin penasaran hehe," ujarnya sambil menyengir.
"Bentar, bentar." Galang merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel berlogo apel di gigit. "Ini fotonya Qilla." Galang memberikan ponsel miliknya pada Runa.
Mata Runa membulat seketika, menatap foto didepannya yang sudah tak asing lagi. Ini kan foto- "Kok fotonya gak asing ya? Kayak pernah liat tapi lupa dimana." gumam Runa yang terdengar di telinga Galang.
"Lo pernah liat?" tanya Galang tak percaya.
Runa mengangguk cepat. "Iya pernah, waktu itu ada yang kirim aku paket dan isinya foto ini, foto yang kamu kasih. Dua lembar deh kayaknya." jelas Runa pada Galang, membuat cowok itu tertawa ngakak.
Mendengus kesal. "Kok ketawa sih? Kan gak ada yang lucu." ujar Runa dengan polosnya.
"Bentar deh, tunggu!" Galang menstabilkan ketawanya.
"Lo terima paket itu?" Runa mengangguk polos. "Ya Tuhan, gue kira bakal dibuang." sambung Galang, semakin menambah kebingungan Runa.
"Hah?" beo Runa. "Dibuang maksud kamu?" tanya Runa.
Menghela napas sekejap. "Itu paket dari gue," Runa menganga tak percaya. "Jadi, waktu sebelum kebenarannya itu ke bongkar, gue sebenarnya udah punya rencana buat bikin lo sama Shaka pisah. Tapi gue pikir-pikir, kayaknya sih gak usah. Lo gadis baik-baik, dan percuma juga."
...
Udah terkuak siapa dalang dari paket itu, bagaimana semua Runa udah mulai emosi tuh, next episode harus rame ya, kalau gak awas aja 😤
Penasaran gak sama visual Qilla? Nih aku kasih