
Lebih baik pergi sebelum nanti kalian kecewa, Nana udah bilang kalau cerita ini konfliknya gede, so nikmati aja ~
...
"Lep--- emmhh!" Runa memberontak, gadis itu menggeleng cepat, mencoba melepaskan bungkaman tangan.
Sosok itu membawanya ke tempat persembunyian, dan menarik kembali tangannya. "Shuttt, diam!" bisik nya pada Runa.
"Kamu siapa?" tanya Runa ketakutan.
Perlahan sosok di hadapannya membuka maskernya, membuat Runa terjingkrak kaget.
Gadis itu perlahan mundur ke belakang, tetapi dengan sigap Shaka menariknya dan memeluknya.
"Jangan bergerak," bisik Shaka kembali dengan nada serak.
Runa menelan ludah nya kelu, tubuhnya terasa kaku. Ditambah dengan suara detak jantung Shaka yang berdetak kencang, membuat Runa tak bisa melakukan apa-apa.
Bunda help me! batin Runa berteriak.
Cukup lama Shaka memeluk Runa, Runa yang sudah tak tahan memilih untuk mendorong tubuh Shaka, membuat lelaki itu harus terjatuh ke belakang.
Runa merapikan rambut dan bajunya yang berantakan, menatap Shaka dengan tatapan permusuhan.
"Mencari kesempatan dalam kesempitan anda!" desis Runa pelan.
Shaka berdecak kesal, cowok itu berdiri sambil melepaskan maskernya.
"Siapa juga yang mencari kesempatan sama kamu, atau emang kamu saja yang nggak kuat saat saya peluk?" Shaka bertanya dengan menggoda.
Ber desis pelan, Runa memutar bola matanya malas. "Terlalu percaya diri anda!" mendengus kesal.
Shaka mengangguk kecil, lalu tersenyum miring. "Oh ya? Tapi, kenapa mukamu merah sekali?"
Runa memegangi wajahnya sekilas, lalu menatap ke arah lain. Gadis itu tak berani membalas tatapan Shaka.
"Masa iya merah?" Runa bergumam pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga lelaki bermata tajam.
Shaka sendiri menyadarkan tubuhnya pada kayu pohon, menatap Runa dari arah samping.
Sebisa mungkin Shaka tak tertawa, tak henti-hentinya lelaki itu mengulum bibirnya ke dalam, menahan tawanya sebisa mungkin.
Sungguh, melihat Runa yang menggerutu pelan sangat terlihat menggemaskan di matanya.
"Sudahlah, saya permisi mau balik!" Runa memilih untuk segera pergi dari tempat ini, karena suasana yang berubah mendung.
Runa takut jika nantinya akan kehujanan dan terjebak ditempat ini. Maka dari itu, sebelum hujan turun. Runa harus segera balik dan tiba di rumah sebelum hujan tiba.
Shaka kembali menarik Runa, dan menyembunyikannya di dalam pelukan. Runa yang mendapatkan tarikan mendadak, tak siap dan tak sengaja membalas pelukan Shaka.
"Jangan pergi," Shaka menunduk menatap Runa dari atas.
"Maksudnya?" dengan beraninya, Runa membalas tatapan Shaka. Gadis itu masih bingung sekaligus heran, ada apa dengan bos nya yang satu ini.
"Ada orang," singkat Shaka.
Benar sekali, selang beberapa detik Shaka berkata. Terdengar langkah kaki mendekat. Sepertinya mereka bergerombol, karena terdengar jelas suara langkah kaki yang bersautan.
Runa yang awalnya bingung, kini berubah takut. Tak sadar dia memeluk Shaka lebih erat lagi.
Melihat Runa seperti itu membuat Shaka tersenyum simpul, membalas kembali pelukan Runa. Ke-dua nya sama-sama bersembunyi di balik pohon.
"Gimana?" salah satu dari mereka bertanya.
"Nggak ketemu," sahut mereka.
"Sial! Kita kehilangan jejak, sekarang kita menyebar! Dan cari mereka," perintahnya membuat segerombolan itu perlahan membubarkan diri.
"Maaf bos, kita kehilangan jejak!"
"Stupid! Saya tidak mau tau. Awasi mereka sekarang, cepat!" perintah seseorang dari telpon.
"B-baik bos!"
Suara percakapan itu terdengar jelas ditelinga Shaka, meski jaraknya yang cukup jauh. Namun hal itu tak membuat Shaka kesusahan untuk mendengar.
"Sial, mereka siapa?" batin Shaka mengumpat.
"Mereka udah pergi," kata Shaka pada Runa.
Mendengar perkataan Shaka barusan, membuat Runa segera melepaskan diri dan mendorong tubuh Shaka menjauh.
"Enak senderan nya?" tanya Shaka, tersenyum geli.
"B aja," balas Runa cuek.
"Mereka udah pergi kan?" tanya Runa sambil sesekali melirik Shaka.
"Sudah,"
"Ya sudah saya balik dulu," Runa memilih untuk segera pulang, dirinya tak ingin mati berdiri di tempat.
Shaka menahan Runa untuk pergi, lelaki itu berkata. "Biar saya antar!"
"Tidak Terima kasih," sahut Runa
"Kamu yakin? Menunggu bis jam segini, apalagi sebentar lagi hujan akan tiba."
Ucapan Shaka membuat Runa terhenyak sejenak, dirinya dibuat bingung sekarang. Menatap jam tangan, yang menunjukkan pukul setengah 8 malam.
Jam segini, pastinya bis akan sudah tak ada. Ditambah dengan angkutan umum pasti sudah jarang terlewat.
"Bagaimana?" ulang Shaka kembali, cowok itu masih setia menunggu jawaban dari gadis di hadapannya.
"Saya---"
"Diam berarti mau, ayo pulang! Sebelum hujan," tanpa peringatan Shaka menarik Runa. Jangan salahkan dirinya, salahkan Runa mengapa jawabnya begitu lama.
"Nggak! Nggak boleh Runa, kamu gak boleh luluh gitu aja. Ingat kelakuan dia selama ini, ayo bisa!" batin Runa.
Suasana canggung begitu terasa diantara mereka, disaat bersamaan suara petir menggelegar dan hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba.
Segera Shaka menarik Runa dan mencari tempat untuk berteduh. Mereka berhenti di salah satu warung yang terlihat sudah tak terpakai.
"Ke sana!" tunjuk Shaka pada warung tersebut.
Runa berdiri memandangi derasnya hujan, helaan napas panjang terdengar. "Deras banget hujannya," gumam Runa dan melirik sosok di sampingnya dengan tatapan tajam.
"Ini semua salah anda!"
"Loh kok saya?" protes Shaka.
"Kalau anda tidak mencegah saya pergi. Saya tidak akan terjebak disini,"
"Hei! Harusnya kamu itu Terima kasih ke saya. Karena saya, kamu bisa selamat dari kejaran Orang-orang yang mau buat kita celaka!"
"Harusnya saya akan selamat sampai rumah, jika anda tidak menarik saya dalam bis!"
"Kamu mau dikejar-kejar mereka terus? Diawasi mereka terus?"
"Saya tidak peduli,"
"Kamu masih tanggung jawab saya, keselamatan kamu disini masih dalam tanggung jawab saya."
"Tanggung jawab?" ulang Runa sambil tertawa remeh. "Jam kerja sudah selesai bapak, jadi anda tidak ada hak untuk ikut dalam masalah pribadi saya!"
Mereka berdua sama-sama saling melempar argumen mereka sendiri, keduanya tak ada yang mau mengalah.
Sampai akhirnya Shaka menyudahi pertengkaran terlebih dahulu, dan mereka sama-sama saling membuang muka ke arah lain.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah gedung tua. Seorang laki-laki tengah duduk bersandar di kursi kayu sambil melipat kedua kakinya di atas meja, menatap luar jendela yang kini sedang hujan lebat.
Krek
Suara pintu terbuka, langkah kaki terdengar mendekat. Membuat lelaki yang duduk di atas kursi memutar balikkan tubuhnya ke belakang.
"Gimana?"
"Dalam pengejaran,"
"Bodoh!" umpat nya. "Kalo gini terus, gimana mau ketangkep!"
Laki-laki itu tersenyum simpul. "Santai, kita main perlahan aja. Nanti kalo mereka lengah baru deh kita kejar!" ujar nya seraya tersenyum licik.
"Oke, tapi ingat! Lo dekati dia hanya untuk balas dendam. Bukan buat jatuh cinta!" tunjuk nya. "Tujuan kita hanya balas dendam," sambung nya kembali.
Perempuan dengan pakaian serba hitam memilih pergi meninggalkan ruangan, tak lupa menutup pintu secara kasar.
Sedangkan lelaki itu menatap kepergian sang kakak, dan memilih mengangkat kedua bahunya tak acuh.
"Lo tenang aja, gue bakal balas dendam semua rasa sakit yang pernah lo alami!" gertak nya kembali menatap jendela luar.
...
Derasnya hujan masih membasahi jalanan, gelapnya malam semakin terlihat jelas. Setengah jam sudah mereka habiskan untuk berdiri di depan warung untuk meneduh.
Shaka melirik beberapa kali ke arah Runa, menatap Runa yang beberapa kali badannya bergetar akibat udara yang dingin.
Ditambah lagi dengan pakaian Runa yang putih dan terkena air, membuat tubuh gadis itu terlihat jelas. Melihat hal itu, Shaka segera melepas jaketnya dan memberikannya pada Runa.
"Pakai," Shaka menyerahkan jaket tersebut pada Runa.
Hanya melirik sekilas. "Tidak, Terima kasih!"
"Pakai Na,"
"Nggak usah!"
"Nggak usah nyiksa diri bisa gak?" tanya Shaka dengan nada sedikit membentak.
"Pakai, baju kamu terlihat!" Shaka menatap ke arah lain, tangannya masih setia memberikan jaket itu ke Runa.
Runa menatap pakaiannya, ucapan Shaka benar. Dengan perlahan gadis itu menerima jaket pemberian Shaka dan memakainya.
"Makasih," menggenggam erat ujung jaket.
"Pak Shaka," panggil Runa.
"Bapak ngerasa aneh gak sih sama pengejaran kita tadi," tanya Runa dengan wajah polosnya.
"Jangan panggil saya bapak!" sahut Shaka tak suka.
"Kan situ udah jadi Bapak-bapak, jadi wajar dong kalau saya panggil nya Bapak. Yang aneh itu, saya panggil kamu Ibu. Itu baru aneh," balas Runa dengan nada santainya.
"Tapi saya bukan Bapak-bapak Runa!"
"Loh kok anda yang marah, sebenarnya anda senang dong dipanggil bapak. Sebagai karyawan yang baik, saya harus menghormati anda dengan memanggil anda sebagai bapak." Runa berkata dengan menekan kata bapak diakhirnya.
"Terserah!"
"Pak," panggil Runa kembali. "Saya tanya lho pak, masa iya gak dijawab. Jawab dong," paksa Runa.
Cukup lama Runa berceloteh panjang lebar, sampai-sampai suara gadis itu mulai tak terdengar di pendengaran Shaka, membuat lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya, mencoba mengecek keadaan Runa.
Ternyata gadis itu tertidur akibat lelah berceloteh. Shaka mengangkat sedikit kepala Runa, dan dia sandarkan pada bahunya.
...