Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Berita gembira



Alunan musik Stay - Justin Bieber ft. The Kid LAROI terdengar jelas, ditambah dengan suasana yang ramai dan bising semakin membuat suasana terasa lebih menyenangkan. Sekarang ini Runa, Shaka serta anggota Alastair lainnya tengah berkumpul bersama.


Lebih tepatnya reunian sambil bersilahturahmi, sudah lama mereka tak berkumpul bersama seperti ini, terakhir pun saat pernikahan Vanya beberapa bulan yang lalu.


Cukup susah memang untuk mengatur waktu, ditambah dengan jadwal yang kadang bentrokan yang tambah membuat sulit. Tentu saja, banyak dari mereka yang sudah sibuk dengan usaha dan pekerjaan mereka, serta dari mereka semua juga seorang pebisnis.


Jadi tak urung, seberapa banyak waktu yang mereka gunakan. Dapat berkumpul seperti ini juga suatu anugrah bagi mereka.


"Yang pengantin baru mah nempel mulu. Gue kapan yak?" cetusan itu berasal dari mulut kang playboy, siapa lagi kalau bukan Arthur Margantra.


"Mau ketawa tapi kasihan," sahut Bram tertawa puas. Puas akan melihat wajah sahabatnya itu yang berubah kesal.


Dengan perasaan kesal, Arthur melempar French fries yang baru saja tiba itu pada Arthur. "Makan tuh!"


"Enak Tur, tapi panas." Bukannya marah Bram malah terlihat senang, batinnya lumayan.


Arthur mendengus kasar. "Lama-lama deket lo darah tinggi gue naik,"


"Sabar Tur! Jangan emosi, gak baik." Tara tertawa renyah menatap kedua temannya yang tak akan pernah akur sampai kapan pun.


Kalau akur pun pasti ada maunya.


"Kalau punya cewek itu di jaga. Jaga perasaannya juga jangan lupa, awas loh ntar kelakuan lo bisa nurun ke anak lo." Bram berkata dan mengingatkan sahabatnya itu.


Meski keduanya sering ribut dan tak akur ketika bertemu, tapi yakinlah kalau Bram begitu menyayangi temannya yang satu ini, ia hanya tak mau jika nanti Arthur terus menerus seperti ini.


Mungkin kalian mengira Arthur, cowok playboy cap badak itu akan tobat? Setelah lima tahun lebih lamanya? Oh tentu saja tidak! Sampai sekarang pun sifatnya itu terus melekat dalam diri Arthur.


Katanya sih mau tobat buat gak mainin cewek. Emang bener, tapi tetep aja masih, meski sekarang udah cukup jarang.


Kadang tuh anak-anak dibuat bingung sama kelakuan Arthur, mereka akui kok kalau Arthur ganteng. Cuma satu aja yang kurang, kelakuannya yang naudzubillah itu bikin yang lain geleng-geleng kepala.


"Kali ini gue setuju sama Bram." Rayn yang dari tadi diam mulai bersuara.


"Ayo Tur berubah, mumpung masih ada waktu. Ingat, kelakuan yang pernah kita lakukan nantinya akan ada resiko dan tanggung jawab di masa yang akan datang." dengan bijak dan berwibawa Rayn berkata.


"Nah bener! Ayo Tur, dirubah yuk. Jangan cuma sehari doang terus besoknya ngulang lagi." celetuk Tara.


"Vanya mana? Kok belum datang?" tanya Runa pada Shaka, ia mengedarkan pandangan ke penjuru cafe untuk mencari keberadaan Vanya yang tak kunjung tiba.


Mungkin bentar lagi datang," jawab Shaka.


Tak berapa lama setelah itu, Vanya dan Rasya tiba. Membuat seluruh anak yang hadir kali itu menyambutnya, acara hari ini memang Vanya yang mengusulkan dan katanya juga. Ada satu hal yang ingin perempuan itu kasih tau pada yang lain.


"Assalamu'alaikum!" ujar keduanya.


"Waalaikumsalam, datang juga kalian."


"Runa!" Vanya berlari kecil menghampiri sahabatnya itu, kemudian memeluknya.


"Kangen gue, btw kabar lo baik kan? Kemarin kok bisa sih sampai masuk RS?" sedikit menguraikan pelukan, Vanya bertanya.


"Daya tahan tubuh aku kemarin turun. Jadinya begini," jawab Runa dengan tertawa kecil.


"Tapi lo gak papa kan? Gak ada yang parah," tanya Vanya sekali lagi.


Runa mengangguk, mengartikan bahwa dirinya baik-baik saja. "Aman, tenang aja!" hal itu berhasil membuat Vanya bernapas lega.


Dan selanjutnya, semuanya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, bercerita bersama dilanjutkan dengan makan malam.


"Guys, ada satu hal yang mau gue kasih nih." Vanya berkata, membuat keadaan yang ramai berganti menjadi sunyi. Dan semuanya beralih menatapnya.


"Apa tuh?"


Menatap Rasya, Vanya menyuruh cowok itu yang berbicara. "Kamu aja," bisik nya pada sang suami.


Rasya berdeham singkat dan mulai berucap. "Gue sama Vanya mau kasih satu hal ke kalian semua. Kalau Vanya sekarang ... lagi hamil, dan gue mau ucapin terima kasih ke kalian semua buat doa kalian."


"Alhamdulillah, akhirnya gue jadi uncle!" kata Arthur, heboh.


"Uncle juga gue," ujar Bram. "Selama ya buat kalian, gak sabar gue lihat anak kalian."


"Belum juga lahir,"


"Masih membayangkan gimana anak kalian nanti, perpaduan antara Vanya dan Rasya yang bertolak belakang. Yang satu pendiem yang satu rusuh," sambung Bram kemudian.


"Sialan lo kak," umpat Vanya kesal. Meski dalam hati tertawa, karena ucapan Bram benar adanya.


Perempuan itu juga memikirkan hal yang sama setelah mendapatkan kabar bahwa dirinya hamil, tak bisa membayangkan bagaimana anak mereka nanti.


"Sayang," panggil Shaka membuat Runa tersadar. Bahwa dirinya sedang melamun.


"I-iya By, ada apa?"


"Kenapa?" tanya Shaka, tanpa melupakan nada lembutnya.


Runa tersenyum dan menggelengkan kepala. "Enggak ada,"


"Yakin?" ujar Shaka kembali memastikan, yang Runa balas anggukan yakin.


"Yuk tinggal Shaka sama Runa. Nanti bakal ada kelanjutan dari kisah Alastair angkatan selanjutnya," kata Arthur.


Pasti semua orang ingin jika nantinya memiliki penerus di setiap anggota keluarga mereka masing-masing, begitu juga dengan mereka yang nantinya ingin meneruskan perjuangan dari Alastair.


Mungkin nantinya bukan hanya sebuah geng lagi, melainkan komunitas yang lebih besar untuk menjadikan Alastair sebagai tempat terbaik untuk semua.


...


Keadaan hening terjadi di dalam mobil, Shaka dan Runa sedari tadi diam. Tak ada yang membuka suara diantara mereka berdua. Runa yang fokus pada pikirannya dan Shaka yang fokus pada jalanan.


Shaka yang tak tahan dengan keheningan, mulai membuka suara. "Sayang,"


"Hm?" Runa bergumam singkat.


"Lihat sini dong, masa luar mulu yang dilihatin." dengan mode cemburu, Shaka mencoba untuk menarik Runa agar menatap ke arahnya.


Mendengarkan ucapan Shaka barusan berhasil membuat Runa tertawa. "Jalanan nya bagus," ungkap Runa.


Menutup matanya, Shaka menghela napas panjang. "Sayang kenapa? Sini cerita," ujar Shaka sambil menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Runa mengerutkan dahi. "Kok berhenti? Kan belum sampai."


"Sini," menarik kedua pundak gadis di hadapannya, Shaka menatap Runa dalam. "Ada apa, mukanya kenapa sedih? Bukannya seneng juga."


Runa terdiam cukup lama, sebelum berkata kembali. "Kalau seandainya aku gak bisa kasih kamu keturunan gimana?"


Mendengar hal itu, membuat Shaka kesal. "Kamu apa-aapan sih? Kenapa tanya begini,"


"Gak papa, jawab aja."


"Sayang, stop buat ngomong gak jelas kayak gini. Kita aja baru--"


"Bukannya kamu sendiri yang gak mau kalau aku hamil?" tanya Runa, dengan beraninya ia menatap Shaka lekat.


Shaka mengerutkan dahi. "Maksudnya?" tanyanya bingung. Cowok itu nampak kebingungan sekarang, keningnya mengkerut terlihat jika ia tengah berpikir keras.


Runa membuang muka ke arah lain, hatinya kembali terasa sesak. Jantungnya berdetak kuat, dadanya terasa semakin sakit.


"Jadi kamu denger ucapan aku sama Papa waktu itu?" Shaka menarik Runa untuk menatapnya. "Bener?"


"Mau denger gak, apa yang aku sama Papa ucap kemarin?" sementara Runa terdiam, ia masih tak paham dengan ucapan Shaka.


"Mau denger gak?" tanya Shaka kembali, membuat Runa mengangguk perlahan.


...


Selamat tahun baru gaiss! Resolusi kalian tahun ini tuh apa sih?