Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Momen



..."Abadikan setiap momen yang kau lakukan dengan sebuah kebahagiaan bukan rasa penyesalan ataupun pertengkaran," -Aruna Priyanka Zoey....


.......


.......


.......


Mobil yang mereka tumpangi kini tiba di depan kediaman Zoey. Shaka dan Runa kompak saling tatap, terlihat di sana ada beberapa mobil yang berjejer rapi di halaman depan.


"Kayaknya sekarang deh by pindahan nya," ujar Runa sambil menatap jejeran mobil di hadapannya.


"Mungkin sayang, kita masuk dulu. Bantu Bang Arfan buat pindahan," balas Shaka seraya menarik Runa untuk segera masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum kita pulang!" ujar Runa, sedikit berjalan cepat gadis itu langsung memeluk Yuna dari belakang.


"Bunda kangen!"


Yuna terperanjat kaget, wanita itu lantas berbalik dan membalas pelukan anak gadisnya. "Walaikumsalam, datang juga kalian berdua!" balas Yuna yang bahagia.


"Bunda sendiri? Ayah mana? Yang mau pindahan juga mana?" tanya Runa, mengedarkan pandangan mencari keberadaan yang lain.


"Ayah lagi keluar ada sesuatu katanya, bentar lagi juga pulang." Yuna menjawab dan mengajak keduanya untuk duduk.


"Apa cari gue?" sahutan itu berasal dari arah tangga, dimana ada Arfan dan Jihan yang tengah mengangkat tumpukan kardus.


Arfan menaruh tumpukan kardus yang ada di tangannya tadi ke lantai, begitu juga dengan Jihan. Mereka kompak menghampiri Runa.


"Gak peluk gue gitu? Masa cuma Bunda doang yang lo peluk, gue enggak!" Arfan menyahut, sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kangen lah masa enggak," jawab Runa memeluk Arfan.


"Bumil satu, cerewetnya minta ampun." komen Arfan sambil mengusap lembut perut buncit adiknya.


Runa mendengus pelan, tak urung jika ucapan Arfan benar juga. Tak hanya ingin makan terus, tapi Runa juga banyak omongan belakang ini. Meskipun begitu, Shaka menyukainya karena melihat Runa yang begitu cerewet membuatnya tertawa.


"Ada yang bisa Runa bantu gak?" tanya Runa, menatap Arfan dan Jihan bergantian.


"Bantu apaan? Bantu angkat barang? Enggak, gak ada! Gak gue kasih izin," tegas Arfan.


"Mending lo duduk manis sama Bunda sama Jihan, biar barang-barang yang lain gue yang angkat," titah Arfan.


"Dari pada lo duduk aja, mending gue buat bawa nih kardus ke depan. Ayo!" suruh Arfan pada Shaka, yang kembali mengangkat tumpukan kardus tadi ke luar.


Shaka bergumam pelan, cowok itu menurut dan membantu Arfan mengangkat barang-barang nya. Hitung-hitung jadi adik ipar yang baik di mata Arfan.


"Kak Jihan sama Bang Arfan pindah hari ini juga?"


Jihan menggeleng pelan. "Enggak dek, kita bakal pindah besok siang. Kan ada kamu malam ini, jadi dari pada nanggung nanti."


Setelah berdiskusi panjang lebar, Arfan dan Jihan memutuskan untuk pindah ke rumah mereka yang sebenarnya sudah lama jadi.


Dari awal, memang mereka ingin tinggal di rumah baru, hanya saja jika mereka pindah siapa yang akan menemani Bunda dan Ayah?


Karena Runa juga akan di bawa oleh Shaka, maka untuk sementara waktu Jihan dan Arfan tinggal di sini sampai tiba saatnya keduanya pindah.


"Kalian berdua ngobrol aja dulu ya, Bunda mau siapin kopi baut Ayah. Bentar lagi dia pulang," pamit Yuna meninggalkan keduanya, memberikan waktu untuk mereka mengobrol berdua.


"Gimana kak, programnya?"


Jihan membalas dengan tersenyum simpul. "Gagal, masih belum bisa." kata Jihan.


Seperti yang kalian tau, kalau Jihan dan Arfan tengah melakukan program hamil. Sampai saat ini, tepatnya di 3 tahun keduanya menikah. Arfan dan Jihan masih belum juga mendapatkan amanah.


"Tapi bulan depan bakal nyoba lagi sih programnya, do'ain ya dek. Semoga hasilnya baik," sambung Jihan.


"Aamiin kak semoga. Usaha gak bakal mengkhianati hasil," seru Runa.


"Sebentar!" Jihan berbalik sambil mengambil beberapa papper bag dan memberikannya pada Runa.


"Buat kamu, beberapa hari kemarin Shaka bilang kalau kamu suka nyemil sama makanan manis kan? Nih kakak kasih, oleh-oleh Surabaya. Sama ada beberapa coklat di dalamnya," jelas Jihan menyerahkan papper bag tersebut.


"Makasih ya kak, jadi ngerepotin."


"Gak papa dek, kakak malah seneng, kan buat ponakan kakak juga. Lagian kemarin Mama habis balik dari Surabaya, jadinya bawa oleh-oleh banyak." jelas Jihan kembali.


Runa menatap harus Jihan, kemudian memeluk perempuan di hadapannya itu. "Makasih ya kak sekali lagi,"


...


Makan malam baru saja selesai, hanya Runa saja yang masih memakan makanannya. Meskipun begitu mereka semua masih tetap duduk di tempat mereka masing-masing.


"Kalian berdua nginep sini kan?" tanya Bima, seraya memecah keheningan yang melanda.


"Nginep lah dek, mumpung malam ini gue masih disini. Besok udah enggak," timpal Arfan.


"Iya Yah, aku sama kak Shaka nginep kok besok pagi baru kita balik." balas Runa sebelum memasukkan suapan terakhir dalam mulutnya.


"Bunda sama Ayah yakin tinggal berdua disini?" kini Arfan beralih pada Yuna dan Bima, cowok itu masih khawatir untuk meninggalkan keduanya dalam waktu lama.


Walaupun mereka pernah berpisah beberapa tahun untuk melaksanakan aktivitas mereka, hanya saja dulu masih ada Runa yang bisa menjaga. Tetapi sekarang sudah tidak lagi.


"Abang mau ajak Bunda sama Ayah tinggal bareng?"


"Hm," Arfan bergumam. "Niatnya gitu cuma Bunda sama Ayah gak mau," kata Arfan.


Runa menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Atau Bunda sama Ayah tinggal sama aku sama kak Shaka?" tawar Runa.


"Biar kalian berdua gak sendiri, Runa juga di rumah nanti ada temen."


Yuna menggeleng, lantas tersenyum. "Gak usah, Bunda sama Ayah disini aja. Kita berdua gak mau ganggu kalian,"


"Tapi kan Bun--"


"Gak papa sayang, nanti kalian juga bisa main kesini kan? Bunda rasa dengan kalian main ke sini setiap ada waktu itu udah cukup," ujar wanita dengan balutan hijabnya tersenyum.


Kemudian dilanjutkan dengan obrolan santai, lalu semuanya berpamitan kembali ke kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan diri.


...


Runa baru saja menyelesaikan masakan malamnya, gadis itu lantas naik ke atas untuk memanggil Shaka dan mengajaknya makan malam.


"Hubby, ayo makan!"


"Hubby?"


"Tumben banget gak ada jawaban," gumam Runa. Perlahan-lahan mulai berjalan mendekati ruang kerja Shaka.


Saat ingin mengetuk pintu Runa mengurungkan niatnya, begitu mendengar Shaka tengah berbicara serius dengan seseorang di balik telpon.


"Tapi gue gak janji, gue gak mungkin tinggalin Runa dalam keadaan hamil!" kata Shaka pada seseorang di balik telpon.


"Gue bakal usaha secepatnya tentang masalah krisis ini, dan buat laporannya bakal gue kirim nanti malam." sambung Shaka dan mematikan panggilan lalu berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhnya begitu saja.


Melihat hal itu membuat Runa mengurungkan niatnya, gadis itu perlahan mundur ke belakang dan memilih untuk menunggu Shaka di bawah.


"Hubby," panggil Runa saat tiba di kamar. Menghela napas sejenak, Runa menghampiri Shaka yang terduduk di pinggir kasur.


"Maaf by, tadi aku gak sengaja nguping pembicaraan kamu sama orang waktu di ruang kerja." Runa mulai berkata, dengan risau ia mulai memberanikan diri.


Shaka mengangkat alisnya sebelah, sambil menunggu kelanjutan ucapan dari istrinya.


"Aku kasih kamu izin buat pergi," Shaka hanya menatapnya terkejut.


"Tadi pagi Ale cerita ke aku. Kalau kamu lagi ada masalah di kantor, yaitu tentang masalah krisis keuangan. Aku mau kamu datang ke sana,"


"Tapi aku gak mungkin tinggalin kamu,"


"By," tekan Runa.


"Aku gak papa kok, aku lebih senang kalau kamu mementingkan mereka. Gini deh, seandainya kamu gak datang dan membiarkan karyawan kamu yang banyak itu, berapa banyak orang yang bakal kehilangan pekerjaan? Bukan hanya seorang melainkan ribuan orang," ujar Runa panjang lebar.


"By, aku mohon ya? Toh aku lahirannya masih lama, masih beberapa bulan ke depan. Emang kamu bakal pergi kapan? Berapa lama?"


"Lusa, tiga hari."


"Tuh cuma segitu doang. Tiga hari cepet loh by, masa kamu gak datang. Nanti kalau kamu pergi pun, bakal ada yang jagain aku juga. Ada Bunda Mama yang lainnya juga, please ya berangkat?" Runa memohon sekali lagi.


Shaka terdiam lumayan lama, lalu terdengar helaan napas panjang. "Baiklah," balas Shaka singkat.


Runa tersenyum mendengar jawaban Shaka. "Kalau gitu, sekarang aku bantu kamu beres beres dan siapin semuanya ya,"


Setelah itu, keduanya mulai menata barang-barang yang nantinya akan Shaka bawa pada lusa esok, untuk kepergian kali ini Shaka akan berangkat ke Labuan bajo.


...


Sore hari Shaka berada di sebuah cafe, sambil menunggu seseorang yang akan datang. Ia memesan secangkir kopi americano.


Tak lama pintu cafe terbuka, seorang pria masih dengan pakaian jas nya datang menghampirinya. Yang tak lain tak bukan adalah Al.


"Sa, apa kamu yakin buat berangkat besok?" tanya Al to the poin.


Shaka mengangguk pelan. "Awalnya sih enggak, cuma karena Runa udah kasih izin mau gak mau Shaka berangkat."


"Kamu yakin?" tanya Al kembali memastikan.


"Yakin!" balas Shaka sembari mengangguk yakin.


"Atau gini aja. Biar Papa yang akan ke sana?" tanya Al. "Jadi kamu bisa disini sama Runa."


Shaka mengernyit sekilas lalu kembali menggelengkan kepala. Ia tetap yakin untuk berangkat ke sana nanti. "Enggak usah Pa. Shaka aja yang datang ke sana, aku gak mau nantinya bakal ada yang kehilangan pekerjaan demi ego Shaka," ujarnya.


"Untuk besok dan beberapa hari ke depan, Shaka cuma mau Papa dan yang lainnya jaga Runa."


...


Yang ditunggu pun tiba, pagi ini adalah hari keberangkatan Shaka. Pagi-pagi hari keduanya sudah bersiap-siap. Setelah selesai melaksanakan sarapan Shaka dan Runa berjalan keluar rumah. Namun saat Shaka ingin melangkah ke ruang tengah Runa mencekal tangannya terlebih dahulu, membuat Shaka harus terhenti dan berbalik.


"Sayang? Kenapa?" Shaka nampak terkejut, menatap iris mata Runa yang saat ini sedang menahan tangis.


Bukannya menjawab pertanyaan Shaka, Runa malah memeluknya. Dengan sesenggukan ia berkata, "Maafin aku ya, maaf kalau selama ini belum jadi istri yang baik buat kamu, selalu bikin kamu kesel dan gak pernah nurut sama apa yang kamu mau, maaf!"


Tentu, perkataan Runa barusan berhasil membuat Shaka terkejut. "Kok ngomong gitu?"


"Maaf," ujar Runa kembali. Entahlah, ia juga bingung sekarang, mengapa berbicara demikian.


"I-iya sayang," balas Shaka meski dalam hati bingung. "Maaf juga kalau aku punya salah," bisik Shaka seraya menarik Runa ke dalam dekapan.


"Sudah ya? Jangan nangis lagi, kalau kamu nangis gini aku malah semakin gak bisa ninggalin kamu."


Mendengar penuturnya Shaka barusan, membuat Runa dengan cepat menghapus air matanya.


"Kayaknya Leo udah di depan," ujar Shaka sambil menyeret kopernya keluar.


"Ingat! Jangan ke mana-mana sebelum izin ke aku. Malam ini kamu boleh nginep ke rumah Mama atau Bunda, nanti kalau udah sampai aku kasih kabar ke kamu." Shaka dengan tegas kembali mengingatkan.


"Ada apa?" tanya Shaka begitu Runa yang menarik ujung kemeja nya.


"Boleh minta foto?"


"Foto?" ulangnya.


"Iya foto, buat mengabadikan momen." Shaka hanya menurut setelah itu keduanya berfoto bersama.


Leo yang ada di sana hanya tersenyum geli melihatnya, selesai membantu memotret keduanya. Pria itu lantas membantu memasukkan koper Shaka ke dalam bagasi.


"Aku berangkat sayang, hati-hati di rumah!" ujar Shaka sambil mengecup beberapa kali kening Runa.


Dengan berat hati Runa melepaskan kepergian Shaka, melambaikan tangannya sampai mobil yang Shaka gunakan tak terlihat. Dan kembali masuk ke dalam untuk membereskan rumah.


...


"Runa!" Vanya melambaikan tangannya, menyuruh Runa mendekat.


Runa yang baru saja turun, langsung berbalik dan melangkah mendekati Vanya. Di sana juga ada anak Alastair lainnya, ada Arthur, Rayn dan Bram. Tara kembali tak bisa ikut karena ia berada di Singapura.


"Ini buat kalian," Runa menyerahkan beberapa kotak makanan berisikan makanan.


"Tau aja lo Na kalau gue kangen masakan lo," cetus Bram menerima. "Makasih ya!"


Lalu mereka semuanya duduk di kursi dan menikmati makanan Runa. Mulut mereka tak bohong jika masakan Runa cukup enak. Ditambah dengan obrolan singkat dari mereka berlima.


"Semuanya Runa pamit balik duluan ya?"


"Lah kok balik? Cepat amat Run,"


"Iya Van, habis gini harus ke rumah Bunda. Udah ada janjian," balas Runa kembali memakai tas sling bag nya.


Keduanya pun berpelukan sebelum akhirnya Runa berjalan keluar, meninggalkan cafe. Menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tak ada motor maupun mobil yang melaju, ia mulai menyebrangi jalan.


Tanpa Runa tau, dari arah lain ada sebuah mobil yang melaju kencang. Runa yang saat itu lagi asik berjalan menuju mobilnya tak sadar akan kehadiran mobil tersebut.


Bruk


Runa yang tak sempat menyelamatkan diri pun akhirnya tertabrak mobil itu, tubuhnya terseret hingga beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Vanya, perempuan itu yang dari tadi menatap kepergian Runa kini terdiam. Badannya terasa berat seakan tak bisa di gerakan. Perempuan itu melihat tubuh Runa yang saat ini bersimbah darah.


"RUNAAAAAA!" teriak Vanya lalu berlari keluar. Sementara anak Alastair yang ada di sana pun ikutan kaget, dan mengikuti Vanya.


Vanya mengangkat kepala Runa, mengusap dahi dan wajah Runa yang terus menerus mengeluarkan darah.


"Runa, lo denger gue kan? Please sadar," bisik Vanya dengan nada bergetar, hatinya seketika takut.


Dengan sayup-sayup Runa memegang erat lengan Vanya. "Van, sakit." setelah itu perlahan kedua mata Runa tertutup rapat.


"Runa, sadar Runa, Runa gue mohon sadar!" Vanya masih mencoba Runa untuk sadar, meski itu percuma. "Kalian kenapa pada diem sih, ambil mobil sekarang! Kita harus bawa Runa ke rumah sakit!" ujarnya kesal.


...


Next gak nih?