Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Sadar



Vanya dan Runa baru saja menyelesaikan mata pelajaran jam terakhir. Mereka langsung memutuskan untuk ke rumah sakit sekalian menjenguk Shaka.


"Langsung ke rumah sakit nih?" tanya Vanya pada Runa.


"Iya dong, eh sebelumnya ke toko bunga boleh gak? Tuh di depan mumpung ada yang jualan," tunjuk Runa pada gerobak bunga yang tak jauh dari depan sekolah.


"Cieeee, yang udah mantan." goda Vanya sambil menyenggol lengan gadis itu.


"Apa sih Van," Runa tersipu malu.


Sedikit mempercepat langkahnya untuk segera ke gerobak bunga. Namun belum melangkah menjauh, Runa harus menghentikan langkah kakinya akibat namanya terpanggil.


"Runa, kamu mau ke rumah sakit kan? Boleh ikut gak?!" tanya Kania dengan nada kalemnya. Membuat Vanya berdecih sebal, ada-ada saja orang seperti ini.


Runa menggaruk tangannya yang tak gatal, melirik ke Vanya. Sebenarnya boleh-boleh saja untuk cewek itu ikut, cuma yang bisa menentukan semuanya adalah Vanya. Mereka ke rumah sakit akan naik mobil milik Vanya.


"Sorry tempatnya udah penuh, dan gue gak mau penuh-penuhi mobil gue sama orang bermuka dua kayak lo!" ujar Vanya sarkastik.


Runa langsung menarik Vanya pergi sebelum keributan antara mereka terjadi, Bisa-bisa Kania break dance duluan lagi.


"Muka dua? Siapa?" tanya Kania dengan wajah polosnya.


Vanya berdecih kasar, menatap kakak kelasnya dengan berani. "Nyisir sama nyindir gak beda jauh bunda! Sama-sama butuh kaca," cibir Vanya dengan pedasnya.


"Temen kamu dong yang harusnya sadar, dia yang putusin dia yang minta balikan." sungut Kania tiba-tiba, membuat Runa tersedak.


"Kok aku?" beo Runa, mengapa jadi dirinya yang kena.


Vanya tertawa ngakak. "Lah emang napa kalau minta balikan?" tanya Vanya. "Dari pada situ, gak ada apa-apa malah minta jadian haduhh sakit banget sih,"


"Kayaknya kamu lagi bilang diri kamu sendiri deh," balas Kania. "Rasya juga gak suka sama kamu, eh kamu nya minta jadian." Kania membalas perkataan Vanya dengan apa yang cewek itu ucapkan barusan.


Vanya mendelik tajam. "Heh uler keket! Kalau ngomong filter dikit napa!" kesal Vanya.


"Masih mending gue, daripada situ bisanya jadi pelakor. Kasihan gue mana masih muda lagi," sindir Vanya.


Runa meringis pelan, sedikit menarik Vanya untuk pergi. Tak ingin lagi menjadi tonton massal dari mereka semua.


"Ayo Van, kita ke rumah sakit sekarang. Udah siang juga," ajak Runa ke Vanya.


"Misi kak duluan," pamit Runa pada Kania dan langsung menarik Vanya pergi.


Vanya yang ditarik menjauh tentu merasa kesal, padahal mulutnya masih mau mencecar banyak ucapan pedas pada gadis itu. Untung saja masih belum, kalau sudah, pasti kalian bakal tau jawabannya.


"Ck, lo mah gak seru! Gue kan belum mengeluarkan kata-kata mutiara gue ke tuh cewek," Vanya mendengus kesal.


"Kalau kamu berantem, kita kapan ke rumah sakitnya?"


"Iya juga sih, tapi kan--- udahlah lo jadi gak beli bunganya?"


"Jadi dong, bentar tunggu sini ya!" Runa menghampiri gerobak bunga yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


Tak lama gadis itu balik dengan se buket bunga mawar putih yang berada di genggaman tangan.


...


Vanya dan Runa melangkah memasuki rumah sakit, setelah memarkirkan mobil dengan benar kedua gadis itu berjalan masuk.


"Runa,"


Runa yang merasa terpanggil langsung menoleh ke belakang, tak jauh darinya terdapat Dokter Arum -dokter yang menanganinya selama ini.


"Dokter Arum," segaris senyum terbit pada bibirnya. Gadis itu membalas pelukan singkat dari dokter Arum.


"Kamu ngapain di sini? Kamu lagi---"


"Lagi jenguk temen dok," potong Runa dengan cepat matanya sesekali melirik ke arah Vanya, memberitahu bahwa dirinya tak sendiri. "Kalau dokter Arum?" tanya Runa balik.


Wanita pria baya itu mengangguk mengerti. "Saya ada praktek disini. Kalau begitu saya pamit dulu ya. Sudah ada yang nunggu di dalam, sehat-sehat." Dokter Arum pamit masuk tak lupa menepuk singkat pasien yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Lo sakit Run?" tanya Vanya, menatap Runa curiga.


"Gak kok, aku baik-baik aja." sahut Runa sambil tersenyum. "Masuk yuk, katanya di dalam ada tante Lea,"


Tangan Runa menggapai gagang pintu, sehabis menyapa yang lain. Memasuki ruangan bernuansa putih, aroma obat-obat langsung terhirup.


"Runa, sini sayang." Lea menyuruh Vanya dan Runa untuk duduk di sofa.


"Makasih tante, keadaan kak Shaka gimana?" tanya Runa seraya melirik Shaka sesekali.


Lea tersenyum masam. "Masih sama, Shaka masih nyaman kali sama dunia sananya, sampai-sampai gak mau bangun." Lea tertawa hambar.


"Tante yang sabar ya, InsyaAllah kak Shaka segera sadar." ujar Vanya.


"Run gue tunggu luar ya. Tante Vanya keluar dulu ya," pamitnya pada Lea dan Runa.


Lea yang sama-sama peka dengan keadaan Runa pun bersama-sama pamit keluar, membiarkan Runa dan Shaka berdua di dalam ruangan -tentunya akan mereka jaga dari luar.


Runa tersipu malu lantas berkata, "Iya Van, iya Tan." melihat Lea dan Vanya yang perlahan pergi, membuat Runa tersenyum bahagia, masih ada waktu setengah jam untuk mengobrol berdua bersama Shaka.


Menarik Kursi dan duduk di sana. "Hai kak, gimana hari ini?" sapa Runa seperti biasa.


"Mimpinya indah banget ya? Sampai-sampai belum bangun juga," ujar Runa dengan lirih, menggenggam erat telapak tangan Shaka.


"Kamu tau, besok Runa harus pergi dari kota ini. Sedih banget, apalagi aku mau kamu sadar secepatnya agar kita bisa habiskan waktu berdua. Tapi nyatanya, kamu masih nyaman di sana."


"Cepat sembuh ya kak, aku tau kok kamu di sana juga lagi berjuang. Tapi perjuangan kamu gak berhenti di situ, perjuangan kamu masih ada lagi, buat memperbaiki hubungan kita." Runa berceloteh panjang lebar, sambil menempelkan punggung kiri Shaka pada pipinya.


"Tau gak? Kalau boleh jujur nih, Runa sebenarnya gak mau buat pindah ke Jogja tau, Runa mau disini aja, sambil melihat seberapa besar perjuangan kamu buat kayak dulu lagi." Ungkap Runa.


"Kamu tau sendiri kan gimana Bang Arfan," menghela napas sejenak, Runa melanjutkan ucapannya. "Runa tau kalau tujuan Bang Arfan baik. Abang mana sih yang tega adiknya disakiti sama orang, apalagi sama orang yang udah dia percaya." imbuh Runa.


"Runa," panggil seseorang dari arah belakang.


Runa menoleh kebelakang, gadis itu sedikit terkejut mendapatkan Arfan yang berdiri di ambang pintu sembari menatapnya tajam.


"Jam berapa sekarang?"


"Bang Arfan---"


Arfan perlahan menghampiri Runa dan langsung mencekal tangan Runa. "Balik, udah sore."


"Bang tapi Runa baru aja---"


"Balik sekarang juga," ujar Arfan seraya menekan kata per kata. "Ayo!" Arfan menarik Runa keluar ruangan, membuat yang lainnya yang berada di luar dibuat bingung.


"Loh Runa?" Lea menatap Arfan dan Runa bergantian.


"Maaf tante, Runa harus pamit, ada urusan." Runa meringis pelan saat Arfan tak sengaja mencekal tangannya lebih kuat lagi.


"Ahh, ya udah gak papa kok. Makasih ya udah jenguk Shaka, kalian berdua hati-hati di jalan!" Lea memeluk Runa sekilas.


"Sama-sama tante, duluan." Runa sedikit menyamakan langkah kakinya dengan langkah lebar milik Arfan.


"Pelan-pelan dong Bang!" keluh Aruna.


"Gue udah bilang kan sama lo, pulang langsung pulang gak usah mampir-mampir segala, kalau lo kenapa-napa gimana? Udah tau di Jakarta cuma ada gue," Arfan langsung menyerang Runa dengan berbagai kata.


Runa paham dan mengerti jika Arfan khawatir samanya. "Maaf, lagian Bang Arfan kalau narik bilang-bilang kek, sakit tau!" sungut Runa dengan kesal.


...


Di dalam ruangan, semuanya tersenyum haru dan bahagia yang mendominasi. Bahwasanya, Shaka.


Sosok yang mereka tunggu kini sadar juga, tepat setelah setengah jam kepulangan Runa dan Arfan. Shaka dinyatakan sadar dari koma nya selama 5 hari 4 malam.


Shaka mengubah posisinya yang awal tidur menjadi duduk, badannya terasa sakit semua. "Pelan-pelan," Lea membantu sang Putra untuk duduk dengan nyaman.


"Ada yang kamu butuhkan gak?" tanya Lea pada Shaka.


"H-haus Ma," jawab Shaka dengan suara serak. Dengan telaten Lea membantu Shaka minum serta membantu menambahkan beberapa bantal agar Shaka lebih nyaman lagi.


"Alhamdullilah, akhirnya lo sadar juga." sahut Arthur, meski sempat kesal beberapa hari kemarin. Namun semuanya terbayarkan dengan keadaan Shaka yang sudah pulih.


Shaka tersenyum hangat, manik matanya menatap sekeliling kamar, mencari seseorang yang ternyata tak ada. Pundaknya merosot, ketika orang yang dia cari tak ada.


"Kamu dimana Run?" tanya Shaka dalam hati.


"Sadar juga lo akhirnya, gue kira usah gak selamat." cetus Ale sarkastik.


"Ale!" tegur Lea menggelengkan kepala.


Ale menyengir, memukul mulutnya beberapa kali. Dan berkata. "Khilaf Ma," ujarnya dengan watados.


...


...Shaka...



...Runa...