Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
1st anniversary



Suara ricuh dari arah lemari membuat Runa terbangun, mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum mengubah posisinya. Dengan langkah gontai, Runa melangkah mendekati lemari pakaian.


"Hubby? Kamu ngapain?" tanya Runa dengan nada khas bagun tidur, sambil menyandarkan punggungnya pada pintu.


"Sayang, maaf ya buat kamu bangun." Shaka berjalan menghampiri sang istri, seraya memegang dasi di tangan kirinya.


"Kamu mau kemana, pagi-pagi gini udah rapi?" tanya Runa kembali, mengambil alih dasi itu dari tangan Shaka dan dipasang kan nya pada Shaka.


"Ke kantor, pagi ini ada rapat pagi."


"Pagi-pagi gini? Masih jam setengah enam loh by," heran Runa. Tak biasanya lelaki di hadapannya itu berangkat pagi seperti ini, paling pagi juga jam enam.


Shaka mengangguk singkat, mengambil tas kerjanya di atas meja, cowok itu berpamitan pada Runa. "Aku berangkat ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa langsung telpon aku. Jangan keluar sendiri sebelum aku kasih izin," ujarnya pada Runa.


"Gak sarapan dulu?"


"Enggak, gak sempet. Nanti aku makan di kantor aja, assalamu'alaikum!"


"Tapi kan- waalaikumsalam," Runa menjeda katanya. "Kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut!" tegur Runa sedikit berteriak.


"Siap ibu negara!"


Menghela napas perlahan, tanpa berpikir lebih panjang lagi, ia memilih masuk ke dalam dan mulai mengerjakan aktivitas rumah yang kemarin tak terurus.


Sementara di sisi lain, Shaka baru saja tiba di depan kantor. Dengan langkah panjangnya, cowok itu memasuki kantor. Dapat terlihat jika masih sedikit orang yang masuk, bayangkan saja. Shaka datang ke kantor sebelum jam kantor buka.


"Selamat pagi pak Shaka," sapa salah satu karyawan.


"Selamat pagi," balas Shaka singkat dan melangkah lebih lanjut. Memasuki lift khusus, Shaka segera naik ke atas.


"Pagi Tuan, ini laporan yang Anda minta." Leo menyerahkan selembar map berisikan laporan yang cowok itu mau.


"Tunggu dulu," Shaka mencegah Leo untuk meninggalkan ruangan. "Saya mau minta tolong ke kamu," ujar Shaka kepada Leo.


"Iya Tuan? Apa yang bisa saya bantu?"


"Saya mau kamu mencari salah satu hotel dan nanti setelah rapat selesai, saya mau kamu hubungi saya."


Leo terdiam sesaat, kemudian menganggukkan kepala begitu mengerti maksud atasannya tersebut. "Baik Tuan!"


Shaka mengulas senyum. "Terima kasih Leo, mari!" ajaknya pada Leo untuk segera melangkah ke ruang rapat.


...


Runa baru saja tiba di rumah, setelah berbelanja bahan makanan. Kedua tangannya berisikan kantung kresek berisikan barang belanjaan. Belum juga kakinya masuk ke dalam, gadis itu dibuat kaget dengan kehadiran Leo -sekertaris Shaka yang berdiri di depan rumah.


"Pak Leo?" dengan wajah terkejutnya, Runa menyapa sekertaris itu.


Leo mengulas senyum. "Selamat sore Nona," sapa Leo pada Runa.


"Sore, pak Leo."


"Masuk yuk pak, daripada berdiri disini." Runa mempersilahkan Leo untuk masuk ke dalam, dan menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan.


"Pak Leo kenapa disini?" sedikit mengubah posisi duduknya, Runa bertanya pada Leo.


"Apa ada barang kak Shaka yang tertinggal?" tanya Runa lagi.


Leo menggeleng singkat, kemudian menegakkan tubuhnya. "Tidak Nona, saya kesini hanya ingin menjalankan tugas."


"Tugas?" ulang Runa, wajahnya terlihat begitu kebingungan.


"Sebentar," Runa berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tengah. Gadis itu langsung mengambil ponsel dan segera menghubungi Shaka.


"Tumben banget gak jawab," gumam Runa pelan sambil mencoba untuk menghubungi Shaka kembali. Sampai panggilan ke-tiga pun, nomor Shaka tak dapat balasan.


"Apa aku kirim pesan aja? Tapi gak mungkin kan kalau aku keluar tanpa minta izin dulu sama hubby," ujar Runa menatap layar ponselnya yang masih menyala.


"Gak papa deh, minta izin lewat pesan aja. Lagian kan pak Leo gak bakal lakuin hal aneh ke aku," dengan perasaan setengah risau Runa memutuskan untuk meminta izin keluar pada Shaka melalui pesan.


...Hubby ❤...


^^^By, kamu dimana? Sibuk banget ya?|^^^


^^^Aku mau izin boleh? Ada pak Leo di rumah. Katanya ada tugas yang dia kerjain, dan kayaknya aku harus ikut|^^^


^^^Gpp kan kalau aku keluar? Semangat by kerjanya! Jangan lupa makan siang|^^^


Setelah itu, Runa melangkah ke meja makan untuk mengambil tas ranselnya yang tertinggal dan menghampiri Leo di ruang tengah.


Leo bangkit dari duduknya, begitu mendapati Runa yang berjalan mengarah nya. "Bagaimana Nona?"


"Boleh, ayo!"


Perlahan mobil yang mereka tumpangi mulai meninggalkan rumah, untungnya tadi ada pak Budi yang menjaga di depan, jadinya Runa bisa menitip salam untuk disampaikan pada Shaka jika nantinya cowok itu kembali ke rumah.


Dipandangi nya jalanan luar, jam memang sudah sore tapi jalanan luar masih banyak akan kendaraan, dilihatnya jam pada tangan kanannya. "Pantesan rame," gumam Runa pelan, saat melihat jam yang menunjukkan pukul 4 sore.


"Kita mau kemana?" tanya Runa pada Leo, jalanan di luar sana cukup membuat Runa bingung. Pasalnya, pria yang menyetir itu tak memberitahu mereka akan kemana dan akan melakukan apa.


Leo hanya diam dan tak menjawab ucapan Runa, memilih untuk menyalakan musik agar meramaikan kekosongan dan fokus kembali pada jalanan.


Runa mendengus pelan, ketika ucapannya tak di jawab. "Enggak boleh berpikiran negatif!" tegas Runa dalam hati.


"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas." Leo meringis waktu melihat ekspresi wajah Runa yang kesal dari arah kaca.


"Apa masih lama lagi?" tanya Runa kembali pada Leo, semoga saja pertanyaannya kali ini terjawab.


"Sebentar lagi sampai," jawab Leo.


"Terima kasih." Runa berdiri, menatap bangunan di depannya dengan bingung, lalu menoleh ke samping dengan alis terangkat sebelah dia bertanya.


"Kita ngapain kesini?" Runa kira mereka akan pergi ke kantor atau ke lain tempat, nyatanya mereka ke sebuah salon.


Lagi lagi Leo tak menjawab, pria itu menyuruh Runa untuk segera masuk ke dalam. "Mari Nona," mempersilahkan Runa untuk berjalan terlebih dahulu.


Tanpa protes, Runa menurut. Melangkah terlebih dahulu disusul Leo di belakangnya, selanjutnya masuk ke dalam salon. Di dalam sana seluruh karyawan berbaris rapi dan menyapa keduanya dengan ramah.


"Selamat Sore, selamat datang di salon Aloha!" ujar salah satu dari mereka, yang berdiri di barisan terdepan. Runa sendiri terdiam di tempat sambil mengedipkan matanya berkali-kali.


"Silakan Nona!" ujar Bianca -nama yang terpasang di nametag kanan wanita itu.


Wanita bernama Bianca itu mengiring Runa ke salah satu kursi, dan mulai merias Runa. Akibat masih bingung, Runa kembali menurut. Mungkin otaknya belum sampai, tapi gadis itu menikmati setiap pijatan dari Bianca.


...


Beberapa jam berlalu, Runa mulai membuka matanya saat Bianca menyuruhnya membuka mata. Menatap wajahnya di pantulan cermin, Runa tersenyum kagum. Kagum akan wajahnya yang berubah menjadi cantik.


Mengerjapkan matanya tak percaya, Runa menatap Bianca beberapa kali yang wanita itu balas anggukan dengan senyuman manis yang selalu wanita itu layangkan padanya.


"Anda boleh berganti," Bianca menyerahkan sekantung papper bag berwarna coklat itu pada Runa.


Tanpa menunggu lama Runa menerima kantung itu dan mulai berganti pakaian, tak lama kemudian pintu ganti terbuka. Menampilkan Runa yang berdiri dengan dress pink selutut.


"Cantik banget, anda terlihat cantik dengan pakaian itu." puji Bianca, bahkan bukan wanita itu saja yang terpukau. Runa sendiri malah dibuat kaget dengan penampilannya.


"Terima kasih,"


"Sudah siap Nona?" tanya Leo yang baru saja muncul, pria itu mulai mengajak Runa keluar salon.


"Terima kasih Bianca," ujarnya pada Bianca.


"Sama-sama Leo, santai aja." balas Bianca tersenyum.


Keduanya kembali masuk ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.


...


Disinilah mereka sekarang, di depan sebuah bangunan besar berlantai puluhan dengan desain yang begitu mewah. Tak lain tak bukan sebuah hotel berbintang. Runa tau hotel ini ditambah dengan harganya yang membuat dompet siapa saja menangis.


"Leo, kita--" dengan tatapan yang mulai curiga, Runa menatap Leo serius.


"Mari Nona," Leo mulai meringis begitu bertatap dengan tatapan Runa, dan langsung mengiring Runa masuk agar pekerjaan segera selesai.


"Lebih baik anda masuk ke dalam terlebih dahulu, ada barang yang tertinggal di dalam mobil. Nanti saya akan menyusul," tanpa menunggu jawaban dari Runa. Leo terlebih dahulu kabur dan meninggal Runa sendiri di lobby hotel.


"Pak Leo! Main tinggal aja," mencoba untuk memaklumi Runa melangkah masuk dan mulai membuka pintu di hadapannya.


Tubuhnya terasa seperti melayang saat ini, begitu menatap tempat di depannya yang begitu indah. Dengan taburan bunga mawar merah, dan foto yang bergantungan bebas.


Perlahan-lahan Runa melangkah lebih dalam, dan terhenti di sebuah balkon yang menyajikan pemandangan kota Jakarta.


"Happy anniversary sayang," tanpa peringatan Shaka memeluknya dari belakang dan berbisik.


Tubuh Runa tersentak kaget, menoleh ke samping. "Hubby?"


"Hm?" Shaka bergumam. "Gimana? Jadi kesel atau malah seneng?"


Perlahan berbalik badan, dan menatap Shaka. "Jadi, ini semua rencana kamu?" yang Shaka balas anggukan kecil.


"Aduh.. Kok dicubit?"


"Kamu ngeselin banget! Mana udah kesel banget sama pak Leo, ditanya gak di jawab. Eh malah dikerjain,"


"Namanya juga surprise, kalau dibilangin dulu bukan surprise namanya." ujar Shaka. "Ikut aku," menggenggam lembut telapak tangan Runa dan di bawa nya keluar.


"Mau kemana? Kenapa pake ditutup segala?"


"Diam dulu, sebentar lagi." Shaka menutup kedua mata Runa dengan sehelai kain, kemudian menyuruhnya diam. "Udah siap?" bisik nya pada Runa.


Runa mengangguk kecil. "Udah!"


Perlahan namun pasti, kain yang menutupi kedua matanya perlahan terbuka. Mulai membuka matanya, Runa dibuat kaget untuk kesekian kalinya.


"By, ini--" Runa tak bisa kembali melanjutkan ucapannya, gadis itu sungguh dibuat kaget dengan surprise yang Shaka berikan padanya.


"Suka gak?"


"Suka, tapi... Apa ini gak terlalu berlebihan?" pasalnya sebuah mobil BMW hitam terparkir rapi di hadapan mereka, serta balon berwarna emas yang menghiasi mobil itu.


"Enggak, uang bisa dicari. Tapi kebahagiaan kamu gak bisa," Shaka berkata setengah berbisik.


"By," tanpa sadar Runa meneteskan air matanya, dan langsung memeluk Shaka.


Shaka menakup pipi gadis di hadapannya, di tatapannya lembut. "Kok nangis?"


Runa menggeleng pelan. "Makasih," ujarnya pelan. "Makasih buat semuanya, aku gak tau mau bilang apa ke kamu."


Shaka tersenyum lalu menempelkan keningnya dengan kening Runa. "Jangan nangis sayang," bisik nya.


"Mulai hari ini, detik ini. Kita sama-sama belajar, belajar menjadi diri yang lebih baik lagi dan belajar menjadi sosok yang semakin dewasa. Kebahagiaan kamu adalah tanggung jawab aku, mulai awal kita nikah sampai seterusnya!"


...


Kepanjangan gak sih? gapapa sekali-kali