Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Tentang Qilla



Hari telah berganti sore, satu persatu para anggota Alastair mulai berpamitan pulang. Shaka dan Runa baru bisa masuk begitu tak melihat mobil dan motor milik teman-temannya.


"Kamu duduk aja, biar aku yang beresin." Shaka memerintahkan Runa untuk diam, biar dirinya saja yang bekerja.


Runa menggeleng pelan. "Kali ini aja ya? Boleh?"


Terdengar helaan napas. "Kamu buang sampah aja, sisanya biar aku yang terusin." perintah Shaka yang mulai menyapu.


"Aku ngerasa gak enak deh sama kak Arthur," gumam Runa dengan pelan. Sembari memunguti beberapa plastik makanan dan dia buang ke tong sampah yang ada di ujung dapur.


Shaka hanya mengangkat sebelah alisnya, menunggu ucapan lebih lanjut dari mulut istrinya itu.


"Mana harus habisin nasi goreng yang asin itu lagi. Seharusnya kan gak baik kalau kebanyakan," imbuhnya merasa bersalah.


Shaka tersenyum tipis mengerti tentang apa yang tengah Runa pikirkan. "Namanya juga Arthur," ujar Shaka. "Tenang aja dia bakal baik-baik aja."


Runa mendongak menatap suaminya itu dengan raut khawatir. "Tapi kalau kenapa-napa gimana?"


Shaka mengulas senyum mendengar balasan Runa barusan. Sebegitu khawatirnya Runa pada sahabatnya itu. "Hubby yang bakal tanggung jawab."


"Sekarang kita mandi, udah sore, bentar lagi maghrib." Shaka menaruh sapu ke tempat semula menyuruh Runa untuk melanjutkan nanti, lalu mengajaknya naik ke atas.


"Malam ini aku yang masak ya!" ujar Runa sambil mengedipkan matanya berkali-kali, membuat Shaka terkekeh pelan.


"Boleh, tapi jangan capek capek ya? Janji?" ujar Shaka sembari mengangkat jari kelingkingnya pada Runa.


"Janji!" balas Runa dengan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Shaka.


"Hubby!" pekik Runa kaget, tanpa peringatan Shaka menggendong nya ala bridal style. "Nanti jatuh gimana?" tanyanya dengan nada risau.


"Gak akan, makanya pegangan." balas Shaka, yang membuat Runa langsung berpegangan erat.


"Aku berat tau," bisik Runa sambil menggoda Shaka, dengan meniup leher lelaki itu.


"Sayang!" tegur Shaka, nadanya berubah menjadi teguran baginya.


...


Malam harinya, selesai makan malam. Shaka dan Runa bersantai di ruang tengah, malam ini Runa ingin Shaka menemaninya untuk menonton film. Tak lama Runa datang dengan dua gelas susu hangat di tangannya, ditaruh nya ke atas meja. Runa menghampiri Shaka dan memeluknya dari samping.


Melihat tingkah Runa yang seperti ini membuat Shaka tersenyum, cowok itu memang suka bila Runa bertingkah manja seperti ini, bagi Shaka itu mengemaskan.


"By," panggil Runa sedikit menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, mencari kenyamanan. "Aku mau denger kamu cerita,"


"Cerita?" ulang Shaka. "Cerita apa?"


"Terserah, yang penting kamu cerita. Sambil nunggu filmnya mulai," balas Runa.


"Aku mau kamu cerita tentang Qilla," ujar Runa, hanya permintaan itulah yang tiba-tiba ada di pikirannya saat ini.


"Kamu yakin sayang?" Shaka mencoba bertanya ulang, mencoba memastikan ucapan Runa barusan.


Runa kembali mengangguk, dan menatap Shaka yakin. "Yakin! Lagian aku belum denger kamu buat cerita tentang Qilla kan?" ujar Runa.


"Meskipun aku udah tau dari Mama dan Galang waktu itu, tapi kalau sama orangnya langsung beda by. Boleh ya?" Runa menakup kedua tangannya di depan dada, dengan puppy eyes nya ia memohon.


Melihat Runa yang terlihat antusias, membuatnya terdiam sejenak. Menghela napas panjang, Shaka mulai menjelaskan tentang Qilla meski Runa sudah mengetahuinya.


Aqilla Salsabila, gadis ceria yang memiliki senyuman manis. Sampai-sampai berhasil membuat Shaka jatuh cinta. Pertemuan awal yang terjadi tanpa sengaja, berhasil membuat mereka bertiga menjadi seorang sahabat.


Dan hal yang paling mengejutkan bagi Shaka adalah, ketika Qilla bertahan hidup selama 15 tahun. Mungkin bagi kita yang merasakan hal seperti Qilla akan menyerah dan putus asa.


Serta satu hal yang berhasil membuat Shaka tersenyum hingga saat ini adalah, ketika Qilla mengucapkan sebuah kalimat yang sampai saat ini berbekas di hatinya.


"Kadang kita selalu berpikir bahwa dunia ini begitu tak adil untuk kita. Memang tak ada habisnya jika kita memikirkan hal itu.


"Dan dengan mudahnya kita berpikir bahwa kitalah yang paling menderita dari orang lain. Sampai-sampai tak ada kata lain lagi selain tak adil.


"Padahal nyatanya, Tuhan telah menyiapkan semuanya. Mungkin memang di dunia ini kita merasa tak diadili, namun bukan berarti di sana kita juga merasakan hal yang sama bukan?


"Seharusnya kita sendiri lah yang disalahkan, salah dalam memilih dan salah dalam berpikir. Tanpa kita pikirkan kembali, kita juga kurang merasa bersyukur dan merasa cukup, selalu saja merasa kurang padahal banyak sekali orang yang lebih membutuhkan.


"Selamanya dunia tak akan adil bagi semuanya, mereka akan berpijak pada orang yang tepat. Yaitu, orang yang tulus, orang yang merasa bersyukur ketika mendapatkan sesuatu, serta orang yang merasa cukup, bukan merasa kurang."


Hal itulah yang membuat Shaka merasa bertahan hingga saat ini. Kata-kata yang Qilla ucapkan berhasil membuat Shaka sadar, bahwa memang benar, tak selamanya dunia berpihak pada kita.


Ada saatnya semuanya yang ada akan pergi tanpa kembali, ada juga yang telah lama menghilang kemudian datang. Mungkin memang itu cukup sulit, tapi yakinlah jika dengan merasa cukup dan bersyukur dunia terasa begitu indah.


Meski awalnya Shaka merasa ragu dan tak yakin dengan ucapan gadis yang berumur 12 tahun itu, baginya itu hanya kata-kata yang biasa saja. Namun pada akhirnya Shaka tau apa arti kata yang Qilla ucapkan tempo hari.


Runa begitu mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut suaminya itu, gadis itu tersenyum saat mendengar Shaka yang masih menceritakan Qilla. Bukannya marah atau cemburu, gadis itu malah tersenyum senang.


"Ternyata Qilla anak baik, gak seperti yang aku bayangkan waktu pertama kali denger dia dari mulut orang lain." ujar Runa.


"Qilla baik, dia juga cantik. Jadi pingin ketemu dia," sambung Runa tiba-tiba. Tatapannya mengarah ke arah depan, dengan tatapan sendunya Runa tersenyum.


Shaka hanya tersenyum simpul mendengarnya, awalnya memang Shaka tak ingin untuk mengulang kembali, tapi melihat Runa yang exited begini membuatnya tak tega.


"Sekarang kita tidur, jam tidur kamu udah lewat." Shaka berdiri dan mengulurkan tangannya pada Runa, yang gadis itu balas dengan mendengus pelan.


"Masih belum ngantuk," ungkapnya.


Shaka menggeleng tegas. "Enggak! Ini udah jam setengah sepuluh sayang. Jam kamu udah lewat, ayo tidur!" ajak Shaka dengan tegas. Tanpa terasa memang, hari sudah malam.


"Tapi filmnya belum selesai tuh, liat dulu ya nanggung." ujar Runa sambil menunjuk TV yang masih menayangkan film.


"Sayang," dengan nada merendah Shaka kembali mengajak. Untuk ucapan kali ini berhasil membuat Runa berdiri dan menurut, gadis itu tau jika ucapan Shaka barusan adalah peringatan baginya.


"Kamu udah banyak kerja hari ini, aku gak mau kamu kecapekan." Shaka berkata, sembari menarik selimut hingga batas dada, menarik Runa ke dalam pelukannya.


"Tapi belum ngantuk by," gumam Runa yang masih terdengar olehnya.


"Tidur,"


"Tapi kan--"


"Ti-dur," Shaka menekankan ucapannya.


Dengan sayup-sayup Runa mulai menutup matanya, Shaka tersenyum begitu mendengar dengkuran pelan. Menatap lama wajah cantik istrinya, tak lama cowok itu ikutan tertidur.


...


Maaf banget kalau beberapa episode kemarin Nana updatenya lambat. Satu minggu terakhir aku udah offline sekolahnya dan udah mulai sibuk sama ujian, mau fokus ke ujian dulu jadi mohon maklumin ya, do'ain juga semoga ujiannya lancar 😁


Mungkin ke depannya juga updatenya bakal lama, tapi aku usahakan secepatnya ya 😄