
Melangkah naik ke atas untuk beristirahat, Runa baru saja menyelesaikan cerita dengan sang Bunda.
Ayah juga udah pulang jadi Runa bisa segera beristirahat sekarang. Melamun sambil menaiki satu persatu tangga adalah kegiatan yang dia lakukan sekarang.
Perkataan sang Bunda masih terngiang-ngiang di kepala, seperti radio rusak saja.
Dalam hati juga gadis itu berdoa dan meminta maaf akibat terlalu banyak sekali kebohongan yang Runa ciptakan sekarang.
Seketika Runa kembali dengan kesadarannya, sadar bahwa dia sekarang bukan di depan kamarnya melainkan kamar Arfan.
Menoleh ke kanan untuk menatap pintu kamarnya. Sedikit memundurkan langkah, namun tak jadi, memilih untuk mengetuk pintu.
Ada suatu hal yang ingin dia katakan pada sang Abang, sepertinya bercerita dengan Bunda, tak membuat kegelisahan dalam hati kecilnya berkurang --malah semakin tambah.
Tok.. tok.. tok..
Perlahan Runa memutar gagang pintu, ketika sang empunya kamar memberikan izin, memasukkan setengah badannya saja.
Manik matanya menatap ke arah Arfan dimana cowok itu sedang berkutat dengan laptop yang berada di pangkuannya.
"Sibuk gak Bang?" tanya Runa dengan polosnya.
Arfan mendongak ke samping, cowok itu tertawa ngakak melihat ekspresi Runa yang begitu polos. "Gak sibuk, masuk aja." jawab Arfan kembali menatap laptop di depannya.
Perlahan Runa masuk ke dalam kamar Arfan, melangkah lebih dekat ke Arfan. "Beneran gak sibuk kan?"
"Gak sibuk, ada apa?"
"Mau cerita boleh gak?"
Menatap lamat mata Runa, lalu menganggukkan kepala. "Boleh, bentar gue mau cas laptop gue dulu." ujar Arfan sambil bangkit dari kasur, melangkah ke arah meja belajar.
"Lo udah makan belum?" tanya Arfan sesekali melirik ke belakang, tangannya tengah asik dengan kabel laptop.
"Udah, sama Bunda sama Ayah, Abang ditungguin juga dari tadi dibawah malah gak turun." cetus Runa membuat Arfan terkekeh.
"Mau juga turun, lo cerita apa emang?" tanya Arfan seraya mengusap lembut kepala Runa dengan sayang. "Sini agak deket," menarik tubuh Runa untuk mendekat.
"Bukan cerita sih, tepatnya minta pendapat doang." ujar Runa sedikit meringis.
"Apa?"
Runa mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkataannya, sambil menatap Arfan. "Menurut Bang Arfan, gimana sih buat cowok yang lebih pentingkan sahabat nya dari pada pacarnya." tanya Runa ber desis.
Alis Arfan bertaut. "Maksud lo si cowok lebih deket ke sahabatnya?" Runa mengangguk. "Kan wajar, kalau cowok deket sama sahabatnya, bentar deh. Sahabatnya cewek apa cowok?"
"Cewek,"
"Sekarang gue tanya lagi, kenapa bisa si cowok ini bisa deket sama sahabat ceweknya? Gak mungkin dong kalau gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba mereka deket, pasti ada sesuatu masalah." ujar Arfan.
"Iya, mereka berdua lagi ada masalah. Tapi si cowok lebih memilih menghindari dan lebih pilih jalan sama ceweknya." balas Runa.
"Gak gentleman banget jadi cowok," cibir Arfan.
"Bang! Runa minta pendapat Abang gimana, kan Abang cowok nih pasti Abang pernah dong kayak gitu." kata Runa dengan santainya.
"Enak aja lo kalau ngomong! Gue tetep setia ya sama Jihan," sahut Arfan dengan cepat.
"Yakin setia? Gak percaya Runa, buktinya tiap hari chatting sama cewe lain," ujar Runa, memulai memancing Arfan.
"Temen itu," balas Arfan.
"Temen kok pakai sayang-sayangan, laporkan kak Jihan ah, biar kalian berdua gelud." adu Runa,
"Heh! Kurang ajar lo, gak ada, harusnya lo itu jadi adik do'ain supaya kakaknya gak ada masalah, ini bukan do'ain malah ajak war."
Runa tertawa sekilas. "Tapi seru tau lihat Bang Arfan sama kak Jihan gelud, kayak kucing sama tikus jadinya. Kejar-kejaran," guraunya terkekeh.
Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, dimana Arfan dan Jihan lagi mempermasalahkan sesuatu, dan berakhir kejar-kejaran satu sama lain.
"Udah back to topik, jadi pendapat Abang gimana."
"Bentar dulu," cegah Arfan.
"3 bulan, maybe." jawabnya dengan gugup.
"Tiga bulan, terus sama pacarnya?" tanya Arfan sekaki lagi.
"Satu tahun,"
"Mau tau jawaban gue apa? Gue bakal nyesel, karena apa. Karena gue udah sia-siakan cewek yang udah temani gue selama satu tahun ini." Seru Arfan.
"Satu tahun itu bukan waktu yang singkat, gue tau dihubungkan pasti gak mulus kayak aspal, dan pasti keributan akan datang, baik yang kecil ataupun yang gede." lanjut Arfan.
"Kalau emang dia cowok yang setia, yakin deh sama gue. Dia gak bakal pentingkan sahabat baru yang jelas-jelas baru dia kenal 3 bulan itu, dibandingkan sama pacarnya yang udah dia kenal 1 tahun."
Runa kembali mencerna setiap perkataan Arfan, mencoba untuk memahami satu per satu ucapan yang dikeluarkan oleh Abangnya itu.
"Emang kenapa kok lo tanya beginian?" tanya Arfan tiba-tiba, membuat Runa gugup. "Lo lagi ada masalah sama Shaka?" tanya Arfan lagi.
"Nggak, Runa sama kak Shaka baik-baik aja."
Arfan memicing matanya. "Lalu? Kenapa lo tanya beginian? Gak biasanya lo minta pendapat gue, apalagi soal hubungan." katanya.
"Emang salah? Kan gak ada, Runa mau tanya aja. Kan Bang Arfan lebih berpengalaman dibandingkan sama Runa." gurau Runa, membuat Arfan mendengus sebal.
"Run, btw ada yang mau gue tanya ke lo." ujar Bang Arfan membuat kening Runa berkerut.
"Abang mau tanya apa?" tanya balik Runa dengan ragu-ragu.
Arfan terdiam sekejap. "Kemarin gue ketemu Shaka," ujar Arfan menggantung. "Dan gue lihat, bentar." katanya sambil mengambil ponsel, Runa hanya bisa menatap sang Abang dengan ekspresi bingungnya, sambil sesekali melirik sekilas ke layar ponsel.
"Lihat Shaka bareng sama cewek," sambung Arfan. "Nih fotonya," ujar Arfan.
"Nih cewek yang lo maksud sebagai adiknya Shaka?" tanya Arfan sambil menunjukkan foto Shaka dengan seorang cewek.
Mata Runa melotot sempurna. "I-ini kan kak Shaka sama Kak Kania," katanya dalam hati.
"Ahh, iya di-dia adiknya kak Shaka,"
"Adik," Arfan juga menatap foto itu.
"Yakin adik, kok romantis amat, kayak orang pacaran." sambung Arfan membuat Runa terdiam.
"Ya namanya juga adik Bang pasti ada manja-manja nya sama kakaknya, Runa juga gitu kan." sahut Runa.
"Maybe, tapi kok kayak aneh aja gitu." seru Arfan.
"Ale masih SMP Bang, wajar kalau dia manja ke Abangnya." balas Runa.
Membuat Arfan mengangguk paham. Gadis itu langsung menidurkan dirinya di atas kasur milik Arfan mata maniknya menatap dinding kamar.
"Udah lama kita gak cerita berdua ya Bang," gumam Runa.
Arfan melirik sekilas ke arah Runa sambil mengangguk setuju. "Haha, bener banget, dulu kita sering kayak gini, cerita malam-malam sampai dimarahin Ayah gara-gara tidur malam." ujarnya sambil tertawa mau tak mau membuat Runa sama-sama tertawa juga.
"Apalagi waktu di kamar bawah, main kejar-kejaran eh gak sengaja pecahin piring. Diinget-inget dulu kita nakal juga," ujar Runa tertawa.
Arfan juga ikut menidurkan dirinya dengan tengkurap, sambil menatap Runa dari samping. "Na," panggilnya.
"Iya Bang?"
"Kalau Shaka nakal dan udah sakiti lo, baik dalam kata ataupun sifat gue mohon ya. Langsung tinggal, karena gue sama Ayah aja gak pernah bentak lo." katanya sambil merapikan anak rambut ke belakang telinga.
"Iya Bang, kak Shaka gak jahat kok, dia baik sama Runa." Meringis dalam hati, harus berapa lama Runa membohongi seluruh orang terdekat nya?
"Bagus kalau gitu." balas Arfan.
"Runa boleh tidur sini gak? Males jalan keluar," Runa menyengir, padahal niatnya tadi setelah bercerita dengan sang Bunda ingin langsung tidur.
"Iya, tapi awas aja ya lo ngompol." gurau Arfan.
Cowok itu meringis pelan karena cubitan Runa. "Sakit dek!" mendengus kesal sambil mengusap lengannya.
Runa menjulurkan lidah mengejek lalu memunggungi Arfan dan tertidur. "Biarin! Abang nyebelin!"