
Setelah penjelasan kemarin, Shaka dan Runa perlahan mulai dekat kembali. Walaupun ada sedikit kecanggungan di antara mereka.
Tetapi, Shaka berusaha untuk mulai terbuka. Begitupun dengan Runa, mencoba untuk mulai terbuka.
Kedekatan mereka membuat yang lainnya merasa senang. Apalagi Ale, cewek yang kini duduk di bangku awal kuliah merasa bangga pada sang Abang. Akhirnya perjuangan lelaki itu kini terbalaskan.
Saat ini Runa berada di ruko sang Bunda, untuk membantu wanita itu berjualan. Syukur nya semakin hari, ruko itu semakin banyak pengunjung dan semakin banyak juga yang datang berkunjung.
"Terima kasih," Runa tersenyum manis pada pengunjung yang keluar masuk ruko.
"Runa, sini!" Panggil Bunda Yuna, menyuruh Runa menghampirinya.
Perlahan mendekati Yuna. "Iya Bunda, ada apa?" tanyanya.
Menyerahkan satu kotak kue tart, dan beberapa kardus kue kering. "Bunda boleh minta tolong? Buat kamu antar paket ini ke rumahnya, alamatnya udah Bunda tulis di dalam."
Dengan senang hati Runa menerimanya. "Runa antar sekarang, titip ini dulu." Runa menitipkan celemek ruko pada wanita di hadapannya.
"Berangkat dulu Bunda, assalamu'alaikum!" pamitnya pada Bunda, dan mulai membawa tumpukan kardus ke atas motor.
"Waalaikumsalam hati-hati sayang!" teriak Yuna.
Mengambil helm, Runa mulai menyusun kotak-kotak itu di belakang jok motor, tak lupa juga untuk mengikatnya rapat. "Aman!"
Sudah dari lama sebenarnya Runa bisa mengendarai motor, hanya saja gadis itu cukup malas membawanya. Apalagi saat harus memarkirkan nya, hal itu yang paling tak Runa sukai.
Mengendarai dengan kecepatan sedang, hingga tiba di tempat tujuan. Menyandarkan tubuhnya pada motor, menunggu orang yang memesannya keluar. Katanya lagi jalan.
Tak berapa lama, pria paru baya datang dan menghampiri Runa. "Dengan Pak Daniel?" tanya Runa sehabis membaca nama yang tertulis dikotak.
Pria paru bayar tersebut mengangguk dan tersenyum. "Iya, dengan mbak Runa kan ya?" yang gadis itu balas anggukan.
"Makasih mbak," ujar pria itu setelah menerima barang pesanannya.
Selanjutnya Runa kembali mengantarkan beberapa pesanan orang, untung saja tempatnya tak jauh dari orang awal tadi. Membuat Runa cukup mudah mengantarkan nya.
...
Di perusahaan, Shaka sedang bersantai sejenak untuk mengistirahatkan diri. Cukup lama Shaka bergelut dengan pikirannya, lelaki itu memilih untuk menghubungi seseorang.
"Aduh ganggu aja lo! Ada apa?" dengan kesalnya Vanya mengangkat panggilan.
"Van, gue mau minta tolong sama lo."
"Minta tolong?" ulang Vanya. "Minta tolong apa dulu nih? Kalau gue bisa gue bantu kok, tapi ada masukannya gimana?" katanya sembari tertawa kecil.
Berdecak kesal. "Yaudah ntar gue kirim kalau rencana yang lo kasih berhasil,"
"Nah gitu dong," Vanya tersenyum senang. "Mau minta tolong apa nih?"
"Lo kan tau kalau gue sama Runa udah mulai deket lagi. Gue mau minta masukan dari lo, gimana caranya buat ajak Runa kembali?"
"Ya tinggal ajak keluar, susah amat!" balas Vanya. "Eh bentar! Kenapa gak gini aja. Kan akhir-akhir ini Runa kerja tuh di ruko tante Yuna. Kenapa lo gak pesen kue dari sana, terus lo minta Runa yang anterin pesanan lo." usul Vanya memberikan masukan.
Masukan Vanya membuat Shaka berpikir. "Bagus juga ide lo," puji Shaka.
"Gue gitu loh,"
Memutar bola mata jengah. "Sekiranya, Rasya gak terlalu nyesel sih buat jadiin lo sebagai pacar!" sindir Shaka.
"Sialan lo!" umpat Vanya membuat Shaka tertawa. "Gue tunggu kiriman lo. Awas aja kalo gak lo kirim. Santet onlen dateng!" ancam Vanya sambil mematikan panggilan.
...
Saat beristirahat sejenak, tiba-tiba hape miliknya berdering. Sedikit berdiri untuk merogoh sakunya. Kening Runa mengkerut, membaca nama yang tertulis di nama kontak.
"Pak Leo? Ngapain telpon?" gumam Runa kebingungan.
"H-halo pak,"
"Halo Runa! Kamu lagi dimana sekarang?" tanya Leo dari sebrang.
"Saya lagi di jalan pak, kebetulan habis antar pesanan. Ada apa ya pak,"
"Saya mau pesan beberapa kue di kamu, dan beberapa minuman juga. Bisa?"
Runa semakin mengerutkan dahi. "B-bisa, bisa kok pak. Nanti tinggal bilang aja mau pesan yang apa, nanti bakal diantar ke sana,"
"Tunggu sebentar!" cegah Leo. "Saya mau kamu yang antar pesanan itu ya?"
"Tapi--- baiklah nanti saat jam makan siang saya akan antar pesanan bapak,"
"Tumben tumben nya pak Leo pesen gini? Mana pakai jauh lagi, kan di kantor juga ada ya." Runa terheran-heran.
"Eh astagfirullah gak boleh tolak rejeki Runa!" memilih tak memikirkannya, Runa kembali mengendarai motornya untuk kembali ke ruko dan segera menyiapkan pesanan yang Leo inginkan.
...
Jam makan siang tiba, Runa sedang bersiap-siap untuk mengantarkan pesanan yang Leo pesan tadi. Setelah menghitung semuanya pas dan aman, gadis berambut coklat mulai berpamitan pada Yuna.
"Bunda! Runa antar ini dulu ya. Nanti kalo udah selesai aku balik lagi,"
"Hati-hati ya, oh iya, Pak Leo tadi udah bayar lewat rekening jadi nanti kamu gak usah minta lagi." Yuna berpesan.
Mengangguk mengerti, Runa berjalan keluar ruko dan menyalakan motor scoopy hitamnya. Menatap jalanan yang ramai akan orang berlalu lalang, mengingatkan Runa pada masa sekolah.
Biasanya, jam segini dirinya dan Vanya akan ke kantin untuk membeli makan atau hanya sekedar menatap most wanted sekolah.
Berhenti saat lampu hijau berubah merah, ia melirik pada jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Semoga gak telat," gumamnya berdoa.
Disini lah Runa berdiri, berdiri menatap gedung pencakar langit. Dengan tulisan PT. Aldebaran Group yang terpampang jelas di sana.
"Siang!" sapa nya pada salah satu temannya.
Memasuki lift dengan membawa keranjang berisikan kue dan minuman pesanan Leo, sampai lift itu membawanya ke lantai paling atas.
Runa baru tau kalau lantai ini begitu luas, dan hanya ada beberapa ruangan saja yang terlihat. Sangat beda jauh ketika dirinya di lantai bawah.
Tak ingin berlama-lama terdiam disini, Runa melangkah mendekati ruangan yang berada diujung.
Sebelumnya, Leo telah mengabari Runa untuk langsung naik ke lantai paling atas, serta menuju pada ruangan yang ada di ujung kanan.
"Kayaknya sih ini ya," gumam Runa. Mendekati ruangan itu.
"Permisi," ucap Runa sambil memegang gagang pintu dan mulai masuk ke dalam, tentunya setelah mendapatkan izin dari dalam.
Sedikit terkejut saat mendapati Shaka yang berada di dalam sana. "Ini pak pesanan roti dan kue nya," menaruh keranjang tersebut di atas meja.
"Makasih Runa, saya pamit keluar terlebih dahulu. Untuk membagikan rotinya pada karyawan lain," Leo mundur perlahan keluar.
Menatap kepergian Leo, Runa juga tersenyum dan berpamitan pergi. "Kalo gitu saya pamit juga ya pak. Ada barang yang harus saya---"
"Siapa yang suruh kamu pergi?" potong Shaka dengan cepat, menghampiri Runa. Menarik pelan gadis itu untuk duduk di sofa.
"Duduk!" perintahnya. "Makan!" sambung Shaka.
"Tapi kan pak---"
"Kamu belum makan siang kan? Ya sudah kalo gitu kita makan berdua, makan!" memberikan semangkuk nasi.
Memejamkan matanya sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. "Oh... Saya tau sekarang! Ini semua ulah bapak kan?" tunjuk Runa menunjuk Shaka dengan jari telunjuk nya.
Shaka mengangguk santai. "Iya saya yang buat,"
"Buat apa?"
"Sekedar pengenalan diri," gurau Shaka.
"Aishhh terserah!" desis Runa memilih untuk memakan nasib pemberian Shaka.
Melihat Runa yang lahap, membuat Shaka tersenyum dan sama-sama ikut makan siang. Sambil sesekali bergurau kecil.
"Pak Shaka,"
"Stop panggil saya Bapak!" sungut Shaka.
"Sudah berapa kali saya bilang ke kamu, jangan pernah panggilan saya dengan sebutan bapak, bapak dan bapak!" cerocos Shaka.
Memutar bola mata singkat, Runa tertawa kecil. "Maaf maaf khilaf!" balas Runa. "Emm kak," panggil Runa ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Apa kamu yakin sama ucapan kamu semalam. Maksudnya gini loh, kamu tau kan Bang Arfan orang nya gimana. Sekalinya dia gak suka selamanya bakal gak suka," tutur Runa, gelisah.
Tersenyum paham. "Terus kenapa? Kamu takut? Lagian ya, aku aja bisa buat kamu percaya lagi ke aku. Masa iya buat bikin Bang Arfan percaya ke aku lagi gak bisa?" tanya Shaka pada Runa.
"Yang harus kita lakukan hanyalah berusaha dan berdoa, sisanya serahin sama yang di atas!" imbuh Shaka dengan bijak.
...
Hayoo siapa yang kawal mereka sampai halal? Udah mulai PDKT nih mereka, ramein yaa! Bentar lagi tamat soalnya 🙏