
Shaka baru saja menyelesaikan rapat dengan client. Kembali melangkah masuk ke dalam.
Mengambil ponsel di atas meja, Shaka dengan segera menelpon sekertaris nya, tak lain tak bukan Leo.
"Keruangan saya sekarang," perintah Shaka dengan sepihak mematikan panggilan.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. "Masuk," suruh Shaka dan langsung memutar kursinya ke belakang. "Gimana?" Shaka bertanya tanpa basa-basi.
"Ini Tuan, sebagian data yang lolos seleksi dari beberapa orang." Leo memberikan satu dokumen berisi kan beberapa lembar kertas yang berisi data diri calon pekerja.
"Makasih," membuka satu persatu dokumen itu. "Bacakan," perintah Shaka. Sambil membaca Shaka juga ingin mendengar langsung penjelasan yang Leo ucap.
Leo mengangguk patuh. "Yang pertama ada Ayumi Margahayu, berusia 24 tahun. Lulusan Nusa Jaya sarjana Administrasi. Fasih dalam bahasa Jepang." Leo mulai membacakan satu persatu data para calon pekerja.
"Kedua ada Yura Salim, berusia 27 tahun. Lulusan SMA, cukup fasih dalam bahasa Inggris." Leo masih membacakan data-data.
"Ketiga ada Aruna Priyanka Zoey, berusia 21 tahun lulusan universitas Jogja sarjana---" belum lagi Leo melanjutkan penjelasan, Shaka dengan cepat memotong nya tiba-tiba.
"Tunggu," cegah Shaka.
"Coba kamu ulang kembali nama yang baru saja kamu sebut," suruh Shaka.
"Aruna Priyanka Zoey Tuan," jawab Leo.
Itukan namanya Runa, batin Shaka terdiam.
Selanjutnya Shaka kembali mempersilahkan Leo menjelaskan hingga tuntas.
"Baik Leo, saya serahkan ini semua ke kamu. Saya tunggu informasi selanjutnya," Shaka mengembalikan dokumen berisikan data para pekerja yang lolos.
"Baik Tuan, saya pamit undur diri. Oh iya, nanti sore akan ada pertemuan dengan client kita dari Jepang." sudah menjadi tugas Leo untuk mengingatkan Shaka.
"Terima kasih infonya. Kamu boleh keluar dan silakan beristirahat," ujar Shaka mempersilahkan.
Kalau lagi kuliah, jam segini Runa ribut dengan tumpukan buku. Dulu waktu kuliah rasanya ingin segera lulus dan bisa mencari kerja.
Namun mengapa ketika sudah lulus, rasanya ingin kembali kuliah.
Dasar Runa!
Runa menggeliat pelan, mengerjapkan mata berkali-kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. "Iya bentar," mendengus kesal akibat tidur siangnya terganggu.
Mengubah posisi tidur nya menjadi duduk, dengan segera Runa membukakan pintu kamar. "Ada apa?" dengan muka bantalnya Runa menatap Arfan malas.
"Ngebo mulu jadi bocah,"
"Biarin, orang libur juga kok." sahut Runa. "Bang arfan ngapain sih?!" tanya Runa setelah itu menguap.
"Makan sono, udah siang. Tuh di bawah ada Rama, udah dari tadi dia kesini."
Mata Runa langsung terbuka lebar. "R-rama, kesini?"
"Makanya buruan, kasihan anak orang nunggu lama di bawah." ujar Arfan. "Gimana seleksi pertama lolos gak?" Arfan memang tau jika Runa sedang mencari kerjaan.
"Udah dapat balasan cuma belum Runa baca,"
Arfan menepuk-nepuk pundak Runa beberapa kali. "Semoga beruntung," serunya. "Ditunggu Bunda di bawah," sambung Arfan lalu melenggang pergi ke bawah.
Kembali masuk ke dalam untuk mencuci muka, dan melangkah keluar kamar sambil mencepol bebas rambutnya.
"Siang," sapa Runa yang baru tiba.
"Siang, yuk makan siang. Diajak juga Rama nya," suruh Bunda.
"Kamu kesini kapan? Bukannya lusa ya?" heran Runa.
Rama sendiri lah yang mengatakan jika ingin balik ke Jakarta lusa esok.
"Mau ketemu kamu," Runa lupa dengan satu hal. Bahwa, dimana Runa berada disitu juga ada Rama.
Rama mengangguk singkat. "Iya, tapi nanti kalau ada waktu aku bakal ke Jakarta,"
"Gak usah pikirin aku gimana Ram, yang kamu pentingkan dulu adalah kuliah kamu. Biar cepet lulus," sahut Runa dengan tegas.
"Terus kalau aku gak pikirin kamu, kamu mikirin dia gitu?"
"Ram," tekan Runa.
Tertawa kecil, Rama mengacak-acak rambut gadisnya dengan gemas. "Becanda sayang,"
...
Baru saja Runa menyelesaikan makan malam bersama Ayah, Bunda, Kak Jihan dan Bang Arfan.
Selesai menata piring, dia pamit ke atas. Katanya ingin mengecek balasan dari perusahaan yang nanti nya Runa bekerja.
"Bunda, kak Jihan. Aku pamit ke atas ya, mau ngecek email tadi belum sempat ngecek," pamit Runa dan melangkah naik.
Kini duduk di atas karpet berbulu, menyilakan kaki. Tangannya menari-nari di atas keyboard.
Mengusap kedua telapak tangan, Runa memencet salah satu pesan email dimana ia diterima untuk interview besok lusa.
"Bentar," Runa terdiam cukup lama. "Aldebaran Group," gumamnya. Mencoba mengingat-ingat kembali.
"Ini kan perusahaan--- kak Shaka," sambung Runa.
Sedetik kemudian Runa menjadi kalang kabut. "Aduh gimana dong, masa iya aku tolak. Mana kemarin daftar nya susah banget lagi, ya kali aku tolak." Runa mengigit ujung jari, mencoba untuk berpikir lebih lebar lagi.
Menggelengkan kepala dengan cepat, Runa mencoba untuk tak berpikir yang aneh-aneh.
"Gak! Jangan berpikiran buruk," tegasnya.
"Toh lagian kamu cuma kerja aja, dan gak lebih." sambung Runa meski dalam hati berkata lain.
Sekarang yang harus Runa pikirkan adalah, bagaimana caranya untuk menjelaskan ini kepada Rama?
Semoga saja ini bukan awal dari segalanya.
...
Shaka terbangun akibat perutnya yang lapar, melangkah turun ke dapur untuk mengecek ada makanan apa yang sekiranya bisa mengganjal perut.
Hanya menemukan buah apel saja di dalam kulkas, mengambilnya dan langsung memakannya.
Shaka kembali naik ke atas saat perutnya sudah cukup terisi.
Namun seketika dia urungkan ketika melihat bisik-bisik dari arah ruang keluarga. Karena penasaran, Shaka memilih mendekatinya.
"Mama," panggil Shaka saat melihat Lea yang bersantai di depan layar televisi.
"Shaka kamu ngapain nak?"
"Shaka dong yang harusnya nanya. Mama ngapain disini mana udah jam 12 lagi,"
Lea menunjuk tumpukan map dengan dagunya. "Baru selesai kerjain laporan, santai bentar disini. Kamu sendiri?"
"Lapar," jawab Shaka. "Mama mau kemana?" tanya Shaka ketika Lea bangkit dari duduknya.
"Kamu belum makan kan? Mama masakin ya,"
"Nggak usah Ma," tolak Shaka. "Shaka udah makan kok, tadi nyemil buah." sambung nya.
"Mama lupa tadi makanannya dihabiskan sama Ale," ujar Lea.
Shaka dan Lea saling mengobrol berdua, baik tentang kantor ataupun sedikit menceritakan masalah pribadi, bisa dibilang curhat.