
Flashback On-
"Maksudnya Bang, lo gak mau kalau kak Runa hamil dari darah daging lo sendiri gitu?" Ale mengerjap tak percaya.
"Bukan gue gak mau. Gue mau, gue mau kalau nanti Runa bakal hamil anak gue. Cuma ada satu hal yang gue takuti sampai sekarang."
Shaka menatap Ale nanar, iris matanya terlihat begitu ketakutan sekarang. Entah hal apa yang membuat cowok itu takut, tapi Ale tau jika ucapan Shaka tak akan berbohong.
"Gue gak bisa bohong kalau gue emang pengecut, gue kabur dan lari dari masalah yang gue alami."
"Gue cuma takut, kalau nantinya Runa bakal kayak dulu. Baring tak berdaya di atas kasur rumah sakit, dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya."
"Gue takut, takut kehilangan dia lagi. Gue gak kuat kalau lihat Runa harus masuk ke dalam rumah sakit, dan harus ngerasain sakit lagi." Lirih Shaka dengan nada bergetar.
Ale mengulas senyum, perlahan ia mulai memejamkan matanya. Perempuan itu kini tau semua alasannya, mengapa Shaka memilih untuk menunda dan selalu menghindar ketika ia bertanya tentang anak.
Al menoleh menatap putranya. "Sekarang Papa ngerti, kenapa kamu selalu menghindar ketika Papa minta cucu. Papa tau kamu khawatir, tapi apa iya kamu harus lari dari masalah kamu?"
"Cara satu-satunya adalah, kamu harus lawan kecemasan itu. Masa kamu tega sama Runa, ayo lawan kecemasan kamu!" Al berdiri, menepuk pundak Shaka beberapa kali sebelumnya akhirnya memilih pergi. Meninggalkan Ale dan Shaka.
Flashback Off-
Runa langsung memeluk Shaka, ia menangis sejadi-jadinya di sana. Rasa bersalah atas tindakannya kini memenuhi hatinya. "Maaf by, maaf." Runa menyesal.
"Udah, jangan nangis." Shaka mengusap punggung Runa, mencoba untuk menenangkan istrinya. "Udah aku maafin, don't cry!" imbuhnya berbisik, cowok itu masih setia menenangkan Runa.
Beberapa menit kemudian, Runa mulai tenang, meski masih sesenggukan. Gadis itu juga masih memeluk Shaka dengan erat.
Shaka menarik Runa, menyuruhnya untuk menatapnya. "Tatap aku!" seakan terkena tarikan magnet, Runa mulai menatap Shaka. "Besok kalau mau nguping lagi, dengerin sampai selesai. Bukan malah pergi dan nyimpulin gitu aja tanpa denger sisanya."
"Jangan nangis lagi!" ujar Shaka seraya mengambil beberapa lembar tisu, ia mulai menghapus air mata Runa yang terus membasahi pipi. Kemudian mengecup kedua mata Runa dengan lembut.
...
Dan sekarang ini, keduanya telah tiba di rumah. Shaka menatap tenang wajah Runa, yang saat ini sudah tertidur di pelukannya. Cowok itu tersenyum, mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Sebelumnya Shaka memang telah mencari tau, mengapa akhir-akhir ini Runa selalu menghindarinya dan memilih untuk diam? dan untuk panggilan waktu itu, sebenarnya itu hanya alibi Shaka saja untuk menyingkir sejenak.
Ia juga sudah meminta bantuan Ale, untungnya adiknya itu mau membantu dan memberikan Shaka untuk mengingat, hal apa yang pernah dia lakukan sampai-sampai membuat Runa seperti ini.
"Mungkin lo ngelakuin kesalahan kali. Makanya kak Runa diemin lo gini," celetuk Ale beberapa waktu lalu.
Shaka mengerutkan dahi, mencoba memikirkan ulang ucapan Ale. "Enggak kok, gue gak ngelakuin kesalahan."
"Ucapan lo mungkin?" imbuhnya kembali.
Shaka terdiam sesaat, ia menatap Ale yang menatapnya juga. Lalu menjentikkan jarinya, membuat Ale bingung. "Oke, gue ngerti."
"Yuk balik sekarang!" Shaka kembali memakai jaket miliknya, ia bersiap-siap untuk pulang.
"Baru juga duduk," Ale menatap Shaka. "Belum setengah jam juga. Duduk dulu lah, makanannya belum habis. Mubadzir tau!"
"Lo mau disini atau balik sama gue?" tanya Shaka.
"Kalau gitu gue balik duluan. Nih bayar sekalian punya gue juga," imbuhnya sembari menyerahkan beberapa lembar uang pada adiknya.
"Yaudah, balik sana. Gue juga ada urusan bentar lagi. Semoga berhasil Bang!" balas Ake sedikit teriak.