Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Nasihat Bunda



..."Wanita itu sosok yang dipilih bukan memilih, sosok yang dikejar bukan mengejar." -Bunda Yuna....


.........


Tibanya di kantin, dengan senyum yang masih mengembang Runa menghampiri Vanya yang asik memakan makanannya. "Maaf Van, lama nunggu."


Vanya mendongak, lalu berdiri sambil membolak-balikan tubuh Runa. "Lo gak papa kan? Kak Shaka gak lakuin apa-apa kan ke lo? Dia gak sakiti lo lagi kan?" tanya Vanya bertubi-tubi.


Runa mengulum senyum, sambil memegang kedua tangan Vanya. "Aku gak papa kok,"


"Lo sama kak Shaka ngapain?"


"Kita ngobrol berdua," jawab Runa. "Tepatnya debat sih." sambung Runa dalam hati.


Vanya mengangguk paham, lalu memicingkan matanya. "Btw lo kenapa, senyum-senyum sendiri dari tadi, balikan nih." ujar Vanya sambil menaik turunkan alisnya --menggoda.


Runa hanya menggelengkan kepala. "Emangnya aku sama kak Shaka putus, pakai acara balikan?" ujar Runa bertanya sambil mendudukkan dirinya di kursi kantin.


Vanya juga sama-sama mendudukkan pantatnya pada kursi kantin sambil menatap Runa lekat. "Kali aja gitu, ada suatu keajaiban." gurau Vanya. "Lagian napa dah, senyum-senyum sendiri."


"Gak papa lagi seneng aja," balas Runa tersenyum.


Vanya tak ingin bertanya lebih lanjut, cewek itu memberikan semangkok bakso serta es jeruk. "Nih udah gue pesenin tadi." ucap Vanya.


"Loh.... padahal aku mau pesan ini. Ya udah makasih Vanya, uangnya di kelas ya, lupa bawa duit." ujar Runa sambil menyengir.


"Santai aja sama gua, tahun depan gue jabani." gurau Vanya. "Btw Run, sehabis sekolah lo ngapain?"


"Pulang," balas Runa singkat.


"Ya tau, maksudnya itu lo sibuk gak, main yuk ke rumah. Gue sendiri lagi, sekalian kita masak bareng. Udah lama gue gak masak," mungkin saja terakhir kali Runa main ke rumah Vanya sekitar 3 bulan yang lalu -tepat saat kebenaran terungkap.


Runa terdiam, gadis itu berpikir sebentar lantas menganggukkan kepalanya. "Boleh, tapi nanti agak sore ya. Siang ini Bang Arfan mau pulang dari kampus, sekalian ada kerjaan yang belum aku selesaikan." jawab Runa.


"Rajin bener," cetus Vanya.


"Gue nih kalau beres-beres tunggu niat dulu, baru kerjain. Apalagi kalau udah ketemu sama kasur, rasanya jiwa mager gue meronta-ronta." sambung Vanya sambil memakan mie ayam.


Namanya juga Vanya Denada, tapi kalau tentang kak Rasya jangan ditanya, semangatnya tiba-tiba menjadi melejit tinggi.


"Jangan kebanyakan nunda, nanti jadi kebiasaan." ujar Runa dengan tegas.


"Siap Bu bos!" balas Vanya sambil hormat.


...


Runa baru saja memasuki rumah, setelah tadi sore main ke rumah Vanya sekalian membantu cewek itu belajar masak dan membuat kue tentunya, walaupun ada yang insiden kecil tadi.


Vanya melakukan kesalahan nya kembali, lupa mematikan oven yang membuat sebagian roti gosong setengah.


Untungnya hanya setengah saja. Sisanya masih bisa di makan, meski ada rasa gosong nya dikit.


"Assalamu'alaikum Runa pulang," sapa Runa memasuki rumah, mendapatkan sang Bunda yang tengah bersantai di ruang tamu bersama Ayah Bima.


"Waalaikumsalam, udah pulang?"


Tak lupa menyalami kedua tangan mereka. "Udah Bunda," Runa beralih ke Ayah Bima lalu memeluk pria yang menjadi kebanggaan nya.


"Ayah, Runa kangen." sebenarnya Runa bisa manja sama siapa saja, tapi kalau sama Ayah Bima beda versi.


Bunda hanya menggelengkan kepala, wanita itu tau seperti apa rasanya tak bertemu lama oleh orang yang kita sayang. Tak ayal juga jika dirinya sama seperti Runa. Kangen, Rindu, semuanya jadi satu.


Ayah Bima hanya terkekeh pelan, pria paru baya itu mengusap surai Runa dengan lembut. "Baru juga tadi pagi ketemu udah kangen aja."


"Kan Ayah baru pulang kemarin lusa, masih kangen tau sampai sekarang." jawab Runa.


"Ada-ada aja kamu," balas Ayah seraya tertawa kecil. "Sana mandi, kamu habis dari luar." suruh Ayah.


Runa menyengir, memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi. "Iya lupa, Bunda Runa naik ke atas ya. Abang udah pulang belum?" setelah makan siang berdua, Arfan pamit untuk keluar sebentar sekalian mengantarkan Runa.


"Dari tadi, ada di kamar tuh. Oh iya dek, suruh Bang Arfan turun juga ya. Bentar lagi makan malam siap." perintah Bunda membuat Runa mengangguk cepat.


"Siap Bunda!" seraya mengangkat tangannya hormat, Runa menjawab dengan tegas membuat Ayah dan Bunda tertawa.


Beberapa kali pintu Runa ketuk, hingga akhirnya gagang pintu berputar dan perlahan terbuka.


"Ada apa dek?" tanya Arfan sambil mengeringkan rambut. Pantas saja tak menyahut orang yang dipanggil saja mandi.


"Di suruh turun sama Bunda, bentar lagi makanannya jadi." ujar Runa menyampaikan pesan.


"Iya, nanti gue turun."


"Yaudah, Runa mau mandi dulu gerah." tubuhnya ingin meminta untuk di rendam ke dalam air hangat sekarang. Melangkah menjauh, Runa memasuki kamar.


...


Baru saja Runa menyelesaikan makan malam bersama Ayah dan Bunda, Runa mengambil alih semua piring dan gelas kotor, melarang Bunda untuk membereskan nya.


"Gak papa Bunda, Bunda duduk aja, biar Runa yang bereskan." ujarnya sambil mengambil alih piring kotor dari tangan Bunda.


"Bener nih?" tanya Bunda sekali lagi. "Kalau udah, ke ruang tamu ya."


"Baik Bunda!" jawab Runa, tak perlu menunggu waktu yang lama Runa langsung mencuci semuanya, tak lupa selesai mencuci Runa mengelap seluruh wastafel serta meja makan.


Ia berdecak pinggang, sambil tersenyum. "Selesai juga," gumamnya dan melangkah menuju ke ruang tamu.


"Loh Ayah kemana Bun?" tanya Runa yang tak mendapatkan Ayah di ruang tamu, biasanya juga jam segini nonton balap atau gak berita.


"Keluar tadi, mau ke bengkel bentar, oli motor punya Abang mu harus di ganti. Katanya sekalian mau benerin motornya juga," jelas Bunda, membuat Runa mangut-mangut paham.


"Bunda, Runa boleh tanya gak?" tanya Runa sambil bergelayut manja di lengan Yuna.


"Boleh, mau tanya apa putri Bunda." wanita itu mengecilkan suara TV dan menatap Runa.


"Em.. Gini Bun, aku mau minta pendapat Bunda. Menurut Bunda, gimana jadinya jika cewek yang ngejar cowok?" tanya Runa, membuat kening Bunda mengkerut beberapa garis.


"Mau tau jawaban Bunda apa?" tanya wanita itu membuat Runa mengangguk semangat.


Yuna tersenyum manis, sambil merapikan beberapa anak rambut putrinya. "Wanita itu sosok yang dipilih bukan memilih, sosok yang dikejar bukan mengejar." ujar Bunda dengan tegas.


"Jangan mengejar kalau sudah tidak dicari. Sebab kodratnya perempuan itu dikejar bukan mengejar," sambung Bunda.


Nasihat Bunda berhasil membuat Runa tertengun, apalagi perkataan Bunda yang di akhir. "Iya Bun?" lamunan nya tersadar, saat Bunda menepuk pundaknya berkali-kali.


"Kamu kenapa kok tanya gitu, kamu lagi ada masalah sama Shaka?" tanya Bunda.


"Enggak bukan itu," jawab Runa dengan cepat.


"Lalu?"


"Jadi, Vanya itu lagi ngejar cowok, nah cowoknya itu sahabatnya kak Shaka. Namanya kak Rasya, udah mau 2 tahun kalau gak salah Vanya kejar kak Rasya, tapi kak Rasya gak pernah balas. Dan selalu bersikap cuek sama Vanya." jelas Runa. Harusnya bukan Vanya doang sih, dirinya juga.


"Mengejar itu boleh, tapi tau batasan. Kodrat kita itu lebih tinggi, dan Bunda mau kalau kamu itu seperti yang Bunda harapkan. Di kejar bukan mengejar." ujar wanita paru baya itu, sambil menekankan kata akhir. Lagi-lagi berhasil membuatku terdiam.


"Satu lagi, Kamu harus kuat jangan rapuh nanti mahkotamu jatuh," katanya kembali dengan lembut. "Ngerti kan?"


"Ngerti kok Bun, makasih ya udah jawab pertanyaan Runa." ujar Runa sambil memeluk Bunda dari samping.


"Sama-sama sayang, kalau ada apa-apa, cerita ya sama Bunda, jangan dipendam sendiri, Bunda tau kalau putri Bunda yang satu ini kuat, tapi Bunda hanya ingin menjadi ibu yang bisa berguna bagi putrinya." seru nya berkata.


Runa menatap wanita di depannya dengan tulus, wanita yang selalu melakukan apapun agar membuat nya bahagia, wanita yang begitu sempurna di matanya. "Iya Bunda, Runa usahakan." ujarnya.


"Love you Bunda,"


"Love you too sayang,"


...


Jangan lupa buat ramaikan kolom komentar prend!


Lebih suka Runa yang tegas apa Runa yang biasa aja?


Sebagai rasa pelampiasan aku, aku up sekarang, pokoknya harus rame yaa.. Kalau kalian semangat buat ramaikan aku juga bakal semangat update.