
Satu persatu orang mulai meninggalkan tempat, Ale duduk menghadap ke gundukan tanah makan yang masih terlihat basah. Sudah setengah jam Shaka di masukkan ke dalam, namun Ale hingga kini masih setia duduk di sana.
Gio hanya diam dan berdiri di samping Ale, sementara Al dan Lea sudah pulang terlebih dahulu. Dari kemarin siang —tepat kematian Shaka.
Lea sudah berulang kali tak sadarkan diri bahkan tadi saat Shaka dimasukkan ke dalam Lea kembali pingsan, melihat keadaan Lea yang tak memungkinkan Al mengutus untuk membawa Lea menjauh.
"Ale!" Gio ikutan berjongkok di samping Ale, kedua tangannya memegangi pundak Ale agar seimbang. "Ayo kita pulang!" ajak Gio dengan pelan.
Ale menggeleng lemah. "Gak mau, aku mau disini, temenin Bang Shaka."
Gio memejamkan matanya, lalu menghela napasnya panjang. "Kamu gak boleh kayak gini terus, yang ada Bang Shaka sedih nantinya. Kamu harus ikhlas, mungkin akan susah tapi kalau terbiasa kita pasti bisa," ujar Gio dengan bijak.
Gio menarik Ale ke dalam pelukan, pria berkebangsaan eropa itu tau dengan apa yang Ale rasakan. Pesta pernikahan yang Ale kira berakhir bahagia, nyatanya berbanding terbalik dengan sekarang. Tanpa dia duga, Shaka pria yang selama ini selalu ada untuknya pergi untuk selamanya.
"Besok masih ada waktu lagi buat kita kesini," kata Gio berbisik.
"Sebentar lagi hujan akan turun, ayo kita pulang. Mama sama Papa pasti tunggu kita di rumah," ajak Gio lagi.
Dengan berat hati, Ale menurut dan perlahan bangkit untuk pergi meninggalkan Shaka. Sebelum melangkah pergi Ale berbalik badan ke samping, menatap batu nisan yang tertulis nama seseorang yang selama ini Shaka rindukan.
"Kak Runa, titip Bang Shaka ya di sana. Pasti kalian sekarang udah ketemu, titip salam juga buat ponakan Ale." Ale mengusap sejenak batu nisan itu lalu pergi meninggalkan makam yang sudah sangat sepi.
Di dalam mobil, keadaan sunyi melanda keduanya. Tak ada yang mengobrol satu sama lain. Gio melirik sekilas ke arah Ale yang sedang tertidur lelap, terlihat jika perempuan itu nampak kelelahan.
Sedikit menepikan mobilnya ke tempat sepi, Gio membenarkan posisi tidur Ale agar terlihat nyaman. Sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya, Gio menghela napasnya panjang sebelum akhirnya berucap. "Mungkin kedepannya aku gak bakal jamin kalau kamu aman Ale," bisik Gio tanpa ekspresi, cukup lama ia memandangi wajah Ale yang terlelap.
...
"Mama istirahat aja, biar Ale yang beresin sisanya." Ale mengambil alih nampan yang ada pada Lea untuk dia bawa ke dapur.
"Mama baik-baik aja. Udah baikan," ujar Lea dengan nada yang cukup pelan.
Ale hanya tersenyum simpul melihatnya, ia tau jika Lea kini sedang berbohong nampak sekali dari matanya yang habis menangis dan lelah. Hari ini adalah malam pertama pengajian atas kepergian Shaka, sekaligus enam tahun kepergian Runa.
"Mungkin beberapa hari ke depan, Ale dan Gio bakal tinggal sementara disini." Ale berujar sambil menaruh nampan itu ke dalam wastafel.
"Gak masalah, kamu bahkan bisa tinggal selamanya disini Ale. Nantinya juga rumah ini gak akan ada yang nempatin." Lea menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, matanya menatap langit-langit rumah.
Ale berbalik badan. " Mama sama Papa udah yakin buat pindah?" tanyanya memastikan.
"Ya, Papa kamu yang minta buat pensiun nanti tinggal di sana."
Setelah hampir satu tahun berdiskusi cukup panjang, baik Al sendiri sudah memutuskan untuk pindah dari rumah utama. Dan akan menepati rumah yang ada di ujung kota, tepatnya berada di perbatasan antara kota dan desa.
Mungkin rumah utama ini akan dialihkan ke orang lain —bisa dibilang akan dikontrakan ke orang lain jika Ale dan Gio tak ingin menempatinya.
Mengingat sebelum pernikahan di mulai, Ale dan Gio sudah memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah Gio siapkan untuknya. Bukan Gio, melainkan Melisa yang memberikannya sebagai hadiah pernikahan.
"Mama sendiri gimana?" Ale mendekat ke arah Lea dan menarik kursi yang ada disampingnya.
"Mama sendiri, mau gak mau harus ikut dong. Dimanapun Papa kamu pilih, selagi itu baik dan gak menyusahkan orang lain. Mama bakal ikut kemanapun Papa kamu ada," jawab Lea.
Bibir Ale terangkat ke atas menahan senyum. Hingga kini Ale dapat merasakan rasa cinta diantara keduanya, rasa yang selalu Ale inginkan nanti jika sudah sama seperti Al dan Lea.
Berawal dari perjodohan konyol yang mungkin terkesan aneh, namun kini berakhir dengan cinta sejati. Ale masih tak menyangka dengan cerita dibalik pernikahan Al dan Lea, sungguh terdengar aneh.
"Mama gak pernah berubah dari dulu," cetus Ale. "Dan itu yang Ale inginkan, seperti Mama dan Papa."
"Jangan pernah jadi seperti Mama. Karena apa yang kamu lihat gak seperti apa yang kamu bayangkan, dan apa yang akan terjadi ke depannya kita gak akan tau," balas Lea.
...
Selesai membantu membereskan barang-barang yang ada di bawah, Ale pamit untuk naik ke atas menyusul Gio yang sudah menunggunya di kamar.
Sambil membawa secangkir kopi hangat dengan pelan Ale menarik kenop pintu lalu membukanya dan masuk ke dalam. Pandangan pertama yang Ale lihat adalah Gio, yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Menyadari kehadiran Ale, Gio menutup setengah laptopnya sembari menyuruh Ale mendekat. "Kemarilah!"
"Gio," Gio menaikkan alisnya sebelah menunggu lebih lanjut ucapan sang istri.
"Kamu gak masalah kan, kalau satu minggu ke depan kita tinggal disini sementara. Aku gak tega tinggalin Mama sama Papa sendiri disini, apalagi pas ingat Mama yang sering pingsan."
Mengingat keadaan Lea yang tak memungkinkan untuk ditinggal, meski ada Al yang ada di sampingnya namun tetap saja Ale tak tega meninggalkan Mamanya itu.
Apalagi jika memang Ale dan Gio pergi besok pagi, Al dan Lea akan sendiri saja tak ada siapa-siapa. Walaupun nantinya akan ada penjaga dan pelayanan yang bekerja.
Gio mengangguk mengizinkan, tak masalah untuk tinggal dimana saja. "Boleh, selagi itu buat kamu nyaman."
"Aku gak masalah, kalau mau kita bisa tinggal disini sampai benar-benar keadaannya membaik. Atau enggak kalau kamu masih belum bisa tinggalin Mama sama Papa kita bisa menetap," imbuh Gio.
"Aku gak enak sama kamu kalau kita selamanya disini," tak mungkin juga bila Ale akan terus menerus menetap di Aldebaran, apalagi keduanya sudah mempunyai rumah.
"It's okay," singkatnya yang langsung menarik Ale ke dalam dekapan. "Kemanapun dan kapanpun kamu mau tinggal aku bakal ikut selagi itu bisa bikin kamu nyaman," ujar Gio sembari mengusap lembut surai coklat milik Ale.
"Kok malah kamu yang jadi ikut ke aku. Harusnya kan aku yang ikut kamu, kemanapun kamu pergi aku harus ke sana. Bukan malah kebalik," ucap Ale tak lupa ocehan khas dari mulutnya.
Gio tertawa kecil. "Kalau kamu ikut aku tapi gak nyaman apa bedanya?"
"Kamu mau kemana?" tanya Ale saat Gio turun dari kasur dan berjalan keluar kamar.
"Mau ambil barang, ada yang tertinggal di dalam mobil tadi. Kamu tidur aja kalau udah ngantuk," ucapnya setelah itu menghilang.
...
Akhirnya kita sampai ke penghujung cerita, harusnya udah selesai sih cuma episode ini aku mau kasih extra part tentang Ale dan Gio.
Karena kemarin dari kalian cukup banyak yang setuju sama cerita ini, dan aku juga udah buat beberapa episode awal dari cerita Ale dan Gio.
Hanya aja aku gak tau bakal di update kapan, paling cepat bulan puasa atau enggak hari raya. Aku Gak janji kapan bakal aku upload ceritanya karena sibuk sama ujian, ini aja sempetin waktu 😃
Semoga aja di cerita Ale Gio nanti kalian semakin semangat ya buat support cerita aku, ucapan makasih gak berhenti sampai sekarang. Makasih banyak buat yang baca cerita ini dan cerita lainnya.
Pokoknya jangan dihapus aja dari favorit kalian ya! Karena aku bakal kasih tau di cerita ini dan PBC!
Sampai jumpa di cerita Ale Gio yang akan terbit ☁
Dan selamat jalan untuk Aruna Priyanka Zoey dan Arshaka Virendra Aldebaran, cerita kalian akan terus ada sampai sampai kapanpun ❤