
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru saja kemarin Shaka dan Runa menikah, tapi sekarang sudah hampir satu tahun saja keduanya menjalani bahtera rumah tangga. Seperti biasa keduanya menjalani kehidupan mereka.
Sebisa mungkin keduanya saling memahami dan saling mengerti antara satu sama lain, serta sebisa mungkin mereka untuk menjaga diri masing-masing saat tak bersama.
Saat ini, tanpa terasa pernikahan mereka sudah berjalan hampir 7 bulan lebih mereka hidup berdua bersama, seatap serta serumah. Dan sekarang ini Runa masih menunggu kabar baik yang dia selama ini dirinya nanti-nanti.
Yaitu tentang kehamilan.
Meski Runa sadar jika pernikahan mereka baru saja menginjak 7 bulan, tapi apa salahnya jika ia memikirkannya?
Setiap orang memang memiliki mimpi, dan mimpi yang Runa inginkan adalah, menjadi sosok ibu. Bukan hanya ibu saja melainkan kakak, teman, sahabat dan saudara bagi anaknya nanti.
Cita-cita nya dulu adalah, ia ingin menjadi sosok ibu yang baik bagi anaknya, sama seperti Bunda.
Memang takkan ada habisnya jika terus berhalusinasi, tapi nyatanya hal itu malah membuat orang senang. Sama sepertinya, yang membayangkan jika suatu hari nanti mimpi yang ia dambakan berhasil terkabul.
"Sayang!" panggil Shaka yang berhasil membuat Runa tersadar, bahwa sedari tadi dirinya tengah melamun.
"Kenapa? Hm," tanya Shaka sembari mengusap lembut kedua pipi istri kecilnya.
Runa menggeleng. "Gak ada,"
"Daripada murung gak jelas, mending kita keluar. Ale baru kasih kabar kalau malam ini kita bakal ada makan malam bersama?" tawar Shaka.
"Ada Bunda sama Ayah, Bang Arfan sama kak Jihan juga bakalan datang malam ini." sambung Shaka kemudian.
"Serius?" Shaka mengangguk serius. "Yaudah yuk ke sana! Udah lama gak ketemu mereka juga," sahutnya girang.
Shaka tersenyum simpul. "Sana ganti baju terus kita berangkat! Aku tunggu di bawah,"
"Let's Go!"
Dengan perasaan senang, Runa melangkah ke lemari baju, selesai mencari pakaian yang pas untuk Runa masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju.
Dress putih berpita menjadi pilihannya sekarang. Tak memerlukan waktu lama untuknya berganti pakaian, tak lupa juga untuk mengoleskan sedikit make-up diwajahnya.
Runa mengulas senyum manisnya, menatap penampilannya di pantulan kaca. "Perfect!" puji Runa pada dirinya.
Mengambil tas tak lupa dengan sepatunya, Runa berjalan keluar kamar. Menuruni satu persatu anak tangga, dan mendapati Shaka yang menunggunya di ruang tengah.
"Ayo by berangkat!" ajak Runa yang telah siap.
Melihat Runa yang semangat, membuat Shaka bangkit. Keduanya mulai melangkah meninggalkan rumah dan masuk ke dalam mobil.
Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi tiba di depan kediaman Aldebaran. Dapat dilihat jika Ayah Bunda dan rombongan lainnya sudah datang, terlihat dari beberapa mobil yang sudah terparkir rapi di halaman depan.
"Yuk masuk," menggandeng lembut telapak tangan Runa, mereka masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum!" ucap mereka memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," sahut yang lainnya.
"Kak Runa!" seperti biasa, Ale dengan suara khasnya yang merusak telinga berlari dan memeluk Runa erat.
Sedikit mendongak Ale menatap Runa. "Akhirnya datang juga kesini,"
"Lama banget lo kesini nya!" ujar Ale pada Shaka.
"Jakarta macet!"
"Itu mulu alasan lo," ketus Ale membuat Shaka mendengus kesal. Begini jadinya jika ribut sama Ale, jawab salah gak jawab malah salah.
"Kak Runa kenapa jarang kesini? Padahal Ale selalu nunggu loh. Oh pasti gak dibolehin ya sama Bang Shaka buat kesini? Wah parah banget sih, sabar aja kak. Tuh orang emang jahat banget!" cibir Ale sambil menekan tiga kata akhir, melupakan jika sosok yang ia bicarakan ada di sana, tepat di sampingnya.
Hanya tertawa ringan mendengarnya, Shaka tak marah apalagi kesal. Toh ucapan adiknya memang benar.
"Kalau gue jahat, lo iblis dong?" cetus Shaka tersenyum miring.
Ale berdecak kesal mendengarnya, memang Abangnya yang satu ini tak bisa diajak kompromi. "Gak seru lo!" ujarnya kesal.
Shaka mengangkat bahunya tak acuh, memilih melangkah pergi meninggalkan ruang tengah. "Gak peduli," balas Shaka tak peduli.
"Udah gak usah dilihatin mulu Abangnya!" tegur Lea melerai.
"Abang ngeselin!" ujar Ale yang masih kesal.
"Kamu nya juga gak mau diem," balas Lea. "Kita makan malam sekarang yuk!" ajak wanita itu pada Runa.
"Malam Ma," sapa Runa seraya menyalami tangan Lea dan Yuna.
Lea tersenyum manis, membalas pelukan mantu kesayangannya itu. "Malam sayang, gimana kabarnya? Lama banget gak main sini," mungkin terakhir kali Runa main kesini sebulan yang lalu.
"Maaf ya Ma. Kerjaan rumah lagi pada numpuk semua," ujar Runa tak enak.
Lea tersenyum paham. "Gak papa Mama ngerti kok. Yuk kita makan," ajak Lea kembali, sambil mengiring mereka ke meja makan.
"Shaka, ajak yang lainnya ke meja makan segera!" ujar Lea pada Shaka yang cowok itu balas dengan acungan jempol.
"Pa, ke meja makan segera di tungguin Mama!" ujar Shaka pada Al yang saat itu tengah mengobrol asik bersama Bima.
Dan sekarang meja makan telah terisi penuh, semuanya telah duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka semua mulai menikmati makan malam bersama dengan tenang dan khidmat.
...
Makan malam bersama baru saja selesai, meskipun begitu semuanya masih enggan untuk pergi meninggalkan meja makan.
"Gue denger kalian berdua mau program kehamilan ya?" tanya Shaka sambil menatap Arfan dan Jihan bergantian, mencoba memecahkan keheningan.
Arfan mengangguk dan tersenyum. "Iya, bulan depan kita bakal mulai programnya."
Setelah hampir 3 tahun mereka menikah, tiba saatnya mereka serius untuk memiliki keturunan juga. Mengingat keduanya menikah saat tengah kuliah, dan hal itulah yang membuat mereka memutuskan untuk menunda keturunan.
Ditambah di waktu itu Jihan lagi menempuh jalur S2 nya, dan mereka fokus pada kegiatan mereka. Arfan yang fokus pada kerjaannya dan Jihan fokus pada kuliahnya, karena itu keduanya jadi jarang ada waktu bersama.
"Wahhh berarti bentar lagi gue bakal punya ponakan dong? Semoga programnya lancar ya kak!" seru Ale gembira.
Pasalnya dari lama Ale memang ingin sekali memiliki adik, telah lama ia minta pada Al dan Lea tapi itu tak mungkin karena umur Lea yang menginjak usia kepala empat. Bukan tak mungkin melainkan Lea tak mau jika usia anaknya nanti akan berbeda jauh, meski itu banyak terjadi.
Bicara tentang Ale, perempuan yang kini telah menjadi mahasiswi disalah satu kampus unggulan yang ada di kota Jakarta, tepatnya kampus Al dan Lea dulu.
Perempuan yang sebentar lagi akan menginjak usia 19 tahun itu, kini tengah mengambil jurusan kecantikan. Awalnya Ale merasa salah jurusan karena memang niatnya ingin masuk ke jurusan bisnis dan jurusan sastra.
Tapi karena hobinya akhir-akhir ini adalah mengoleksi make-up, membuat Ale sadar bahwa pilihannya tak selamanya salah, walaupun ada rasa penyesalan sedikit di dalam hati.
Makan malam kali ini berjalan lancar. Al memutuskan untuk mengajak yang lainnya berpindah ke ruang tengah agar lebih nyaman bercerita, membagikan hal-hal seru yang mereka lakukan baik hari ini ataupun sebelumnya.
...
Menutup pintu kamar mandi perlahan, Shaka baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dengan handuk yang menutupi bagian bawah. Shaka melangkah ke lemari baju untuk mengambil pakaian yang telah Runa siapkan.
Diakhiri dengan memasang dasi, Shaka memilih untuk turun ke bawah dan menghampiri Runa yang tengah menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi sayang!" sapa Shaka seperti biasa, tak lupa mengecup singkat bibir mungil gadisnya. "Masak apa?"
"Sup ayam aja gak papa kan? Bahan-bahan udah mulai habis di kulkas," ungkap Runa sembari menuangkan sup ayam yang baru saja matang ke dalam mangkuk.
Shaka tersenyum tipis, menyadari sesuatu. Ia menatap istrinya itu dari samping. "Kenapa?" tanyanya sambil merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik milik Runa.
Runa menggeleng pelan dan tersenyum. "Gak papa,"
"Udah berani bohong ternyata?" Shaka menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Runa meringis mendengarnya. "Enggak bukan gitu!"
Shaka mengerutkan dahinya, menunggu ucapan lebih lanjut dari mulut istrinya itu. "Lalu?"
"Kapan aku hamil?"
...
Malam minggu sama mereka berdua ya 🤍 yuk guys komennya jangan lupa, seneng tau bacain komenan kalian yang kasih semangat!