
...-S E L A M A T M E M B A C A-...
.........
5 tahun kemudian
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, gadis dengan rambut panjang bergelombang nya kini berjalan keluar kelas. Kampus hari ini cukup melelahkan baginya.
Ia cukup terkejut saat seseorang memeluk pinggangnya posesif. "Rama," kagetnya.
"Gimana kampusnya hari ini? Capek?" tanya laki-laki bernama Rama itu, sambil merapikan anak rambut ke belakang telinga.
"Banget," keluh nya. "Ram, lusa aku balik ke Jakarta. Kamu nggak masalah kan kalau aku balik?" tanya gadis itu.
"Berapa kali kamu tanya ini Runa, pasti aku ijinin dong. Tapi dengan satu syarat," ujar Rama menggantung. "Aku bakalan ikut, aku gak mau kamu kenapa-napa nantinya," sambung Rama.
Runa mendesah pelan, dirinya lupa bahwa pacarnya yang sekarang sangat posesif terhadapnya. "Oke,"
"Good!" menggenggam erat tangan Runa dan mengajaknya keluar kampus. "Kita jalan-jalan sebentar mau?" tanya Rama sambil memasangkan helm pada kepala Runa.
"Runa ikut aja," sahut Runa. Lalu naik ke atas motor dan memeluk punggung tegap lelaki didepannya yang sudah menjadi pacar selama 1 tahun terakhir.
Rama Dirgantara namanya, lelaki berusia 23 tahun yang sedang menjalankan study di Universitas Jogja dengan mengambil jurusan Bisnis.
Cowok berdarah Indonesia-China, yang kini sedang menjalin hubungan dengan adik junior bernama Aruna Priyanka Zoey.
Pertemuan yang awalnya tak disengaja menjadikan mereka menjadi pasangan, tepatnya Rama lah yang mengejar Runa sampai akhirnya gadis itu luluh juga.
"Rama aku ke toilet bentar ya," izinnya pada Rama. "Kamu--"
"Aku antar sampai depan!" tegas Rama tanpa bantahan. Membuat Runa mau tak mau harus menuruti, gadis itu hanya tak ingin nantinya mereka akan ribut di mall ini.
Pernah beberapa waktu lalu, saat Runa ingin membeli barang di mall. Dan Rama sendiri hanya ingin menemani namun Runa malah menolak yang membuat Rama kesal, karena dirinya begitu benci dengan penolakan.
Ingat Rama benci akan penolakan.
"Tunggu sini," Runa masuk ke dalam toilet wanita, sedangkan Rama menyandarkan diri di depan sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang, menatap ke arahnya dengan tatapan aneh. Bayangkan Rama yang cowok berdiri di depan kamar mandi cewek, pastinya mereka akan berpikir yang tidak-tidak.
"Udah?" Rama menegakkan tubuhnya saat Runa sudah selesai dari kamar mandi. "Kita lanjut makan," Rama kembali menarik Runa, tanpa memberikan celah untuk gadis itu ke mana-mana.
Ingat, Runa hanya miliknya dan selamanya akan menjadi milik Rama.
Runa juga harus bersabar dengan sifat Rama yang akan berubah setiap waktu. Baik posesif, nakal atau sifatnya yang membuat Runa geleng-geleng kepala.
Di lain kota, cowok berdasi hitam berjalan sedikit terburu-buru keluar kantor. Tampan, tegas serta kedisiplinan sudah terlihat jelas pada diri laki-laki tersebut.
CEO muda, nama yang sudah disematkan pada dirinya.
Di belakangnya, ada Leo sosok yang sangat penting dalam hidupnya, menemaninya selama 2 tahun terakhir. Jabatannya sebagai sekertaris CEO.
"Selamat sore Pak Shaka,"
Sontak, lelaki itu menghentikan kakinya. Hampir saja Leo menabrak punggungnya.
Shaka menoleh ke kanan, menatap wanita dengan pakaian minim. Yang baru saja menyapa dirinya tadi. Ia mengangkat sebelah alisnya, lalu menatap karyawan di depannya dengan tampang datarnya.
Menatap penampilan karyawan nya itu dari atas hingga bawah, dia langsung mengusap wajahnya kasar. "Kamu kesini niat bekerja atau bagaimana?" tanya Shaka sambil mengumpat dalam hati.
"Maaf Tuan," sang Karyawan menunduk.
Aldebaran Group sebuah perusahaan yang terkenal hingga Asia, perusahaan yang beroperasi dalam bidang makanan dan bahan tambang. Kini sedang naik-naiknya, bahkan mencapai 80%.
Peraturan yang dibuat tidak akan bisa dirubah, itulah prinsip yang digunakan oleh perusahaan. Disini jika melanggar sekali maka siap-siaplah untuk didepak.
"Bagus," balas nya singkat. Lantas melangkah keluar kantor dan masuk ke dalam mobil. Diikuti Leo dibelakangnya.
"Lebih cepat Leo!" suruh Shaka. Sambil sesekali melirik kearah jam tangan.
"Baik Tuan," Leo sedikit menaikan kecepatan mengemudi nya hingga sampai di depan pintu utama rumah sakit.
Shaka segera turun dan berjalan masuk ke dalam dengan buru-buru, melihat Al dan Ale yang ada diluar dengan segera dia menghampiri.
"Gimana keadaan Mama?" tanya Shaka, menatap Al dan Ale bergantian.
"Lagi dicek sama dokter," Al menguyur rambutnya ke belakang. Pria itu masih memakai jas kantor.
Shaka menatap ke arah Ale yang terduduk di kursi rumah sakit, gadis yang baru saja duduk di bangku SMA itu menundukkan kepala.
Takut, Ale sungguh takut.
"Ale," Shaka perlahan menghampiri Ale dan langsung memeluknya. "Mama bakal baik-baik aja, lo tenang aja." Shaka mengusap punggung Ale yang sedari tadi bergetar.
"Bang.." Ale berkata tersedu-sedu. "Mama Bang, gara-gara gue Mama jadi gini." Ale dan Lea tadi mengalami kecelakaan saat ingin pulang ke rumah.
Diperjalanan tiba-tiba dari arah lain, mobil dengan kecepatan tinggi menerobos begitu saja dan menabrak tubuh Lea. Membuat tubuh Lea tak sadarkan diri di tempat.
"Bukan salah lo," Shaka semakin memeluk tubuh Ale. "Sekarang kita berdoa buat kesembuhan Mama," sambung Shaka. Dalam hati cowok itu masih berpikir siapa yang menabrak Lea dan Ale.
Apakah ada sangkut pautnya dengan perusahaan? Atau masalah pribadi?
Perusahaan sedang naik daunnya sekarang, dan pastinya akan ada seseorang yang tak suka dengan kesuksesan seseorang dan hal itulah yang sering terjadi pada perusahaan.
Menunggu lumayan lama, akhirnya pintu ruangan Lea terbuka. Dengan segera Al menghampiri dokter. "Gimana dok keadaan istri saya?" tanya Al pada dokter.
"Pasien baik-baik saja, hanya ada sedikit luka goresan. Setelah ini pasien bisa dipindahkan di ruang rawat biasa," jelas dokter muda.
"Makasih dok, saya boleh masuk?" tanya Al kembali.
"Silakan pak, saya permisi dulu untuk mengecek pasien lainnya. Selamat sore," pamit sang dokter.
Al perlahan membuka pintu, dibelakang nya ada Ale dan Shaka. "Lea," panggil Al saat melihat Lea yang sudah sadar.
"MAMA!" Ale langsung berlari dan memeluk Lea dengan erat, air matanya kembali mengalir. Ale sudah berpikir yang aneh-aneh dari tadi, takut kehilangan lebih tepatnya.
"Ale," Lea mengusap punggung Ale dengan sayang. "Mama gak papa kok, Mama baik-baik aja."
"Takut," ringis Ale.
"Mama baik-baik aja. Ale nggak usah khawatir, Mama nggak akan pergi kok," ujar Lea mencoba memberi pengertian.
"Cengeng lo Le!" cetus Shaka.
Ale menegakkan tubuh menatap Shaka tak terima, sambil menggelap ingusnya. "Gue khawatir tau. Mana Mama tadi gak sadar, kan gue takut!" kesal Ale sesegukan.
...
Sampai jumpa di episode selanjutnya!