
Suasana kelas 12 IPA 4, saat ini sangat ramai karena tidak ada guru. Alhasil murid-murid pada asik sendiri dengan kegiatan mereka masing-masing.
Ada yang mengerjakan tugas, seperti Rasya contohnya. Ada yang berjoget ria dengan speaker kelas, ada yang mojok pacaran dan ngerumpi, ada yang nobar film di laptop, ada pula yang lagi mabar.
Namun, berbeda dengan enam inti Alastair, mereka tengah duduk si meja bundar yang mereka buat sendiri.
Keenamnya sedari tadi bermain TOD atau truth or dare. Keseruan semakin menjadi ketika kebanyakan dari Bram, Arthur, Tara dan Rayn memilih dare sebagai permainannya.
Tapi ada yang berbeda, Rasya -si anak alim yang paling rajin diantara yang lain.
Cowok itu tengah berkutat dengan buku-buku dan rumus matematika. Pasalnya Rasya terkena kembali, tahun ini.
Sebagai perwakilan dari siswa yang mengikuti Olimpiade matematika tingkat provinsi minggu depan.
"Gak, gak boleh curang. Siniin tangan lo." Dengan senyum liciknya, Bram menarik tangan Arthur dan mencubit nya dengan keras.
"Aduh.." Arthur meringis kencang, laki-laki play boy cap badak itu menatap Bram yang tengah menatap nya dengan tatapan tak berdosanya.
"Setan lo!" Arthur mengumpat kesal, sedangkan anak-anak yang lain hanya tertawa menatap kesengsaraan Arthur.
"Sekali-kali Tur, lo kan belum kena." Bram tertawa puas, menatap Arthur yang kesakitan.
Tiba-tiba suara teriakan dari ketua kelas yang baru masuk terdengar. "WOY! DIEM DULU WOY! ADA BERITA HOT NIH."
Seisi kelas langsung menatap ke arah Juna yang berdiri di depan kelas dengan selembar kertas. "Gaisss, jadi gini. Bu Mega gak bisa masuk hari ini, jadi si Doi kasih tugas hari ini. Tugasnya udah gue share di grup kelas ya.."
Seisi kelas kembali ramai, mereka semua bersorak senang karena guru Bahasa Indonesia yang terkenal galak itu tak masuk siang ini.
"Juna! Dikumpulin gak tuh?" tanya Tara.
Juna menatap kertas itu kembali. "Di sini sih, nggak ada info buat suruh ngumpulin tugas."
Tara mengacungkan jempolnya. "Mantap! Fix gak usah kumpulin." katanya yang kemudian melirik se isi kelas. "Di mohon untuk Kesolidaritasan kalian semua ya gaes! Jangan ada yang ngerjain tugasnya! Awas aja kalau sampai gue lihat ada yang ngerjain tugas sekolah, gue coret lo dari urutan kelas."
Sorakan dari se isi kelas terdengar, mereka semua sama-sama mengangguk setuju.
Beginilah jadinya jika sekelas dengan inti Alastair, gak bener semua. Udah kelas 12 bukannya sadar, malah begini.
"Udah gak usah kerjain, palingan juga suruh buat teks, udah hafal gue." sahut Arthur.
Tiba-tiba keadaan kelas yang tadinya ribut berganti hening, akibat suara teriakan dari sang Bundahara.
Seorang gadis dengan buku yang ada di tangannya, berjalan menghampiri meja anak-anak Alastair berkumpul.
"Bayar kas! Duit kas kosong nih, gara-gara bayar sapu depan yang lo rusakin. Sini bayar!"
"Oh kakak Nabila, yang cantik tiada tara. Gue lagi bokek Bil, minggu depan ya gue bayar." ujar Arthur dengan cengengesan.
"Gak ada! Minggu depan, minggu depan. Lo udah nunggak 2 bulan ngerti gak? Ayo bayar! Sekalian nambah sama sapu piket yang lo rusakin jadi 85 ribu." bentak Nabila, yang semakin membuat Arthur menyengir.
Gadis yang menjabat sebagai bendahara kelas 12 itu memang pantas menjadi bendahara kelas. Sifatnya yang galak dan judes, memang pas sekali menjadi bundahara kelas.
Kemampuan di dunia akting juga begitu hebat, tak dapat di ragukan kembali jika Nabila menjadi salah satu pemeran utama jika sekolah mengadakan pentas seni.
"Gue kurang berapa Bil?" tanya Rayn yang siap-siap mengeluarkan dompet di dalam saku celana.
Nabila mengecek buku kembali. "Ray. Lo kurang 8 ribu,"
Rayn mengangguk, cowok itu menyerahkan uang dua puluh ribu ke Nabila. "Sekalian buat minggu depan juga,"
Arthur melirik dengan sinis. Namanya juga cewek, dapet duit dikit langsung baikan.
"Tur, ayo bayar. Lo udah nunggak banyak loh," ujar Nabila sambil mengecek kembali buku uang kas anak IPA. "Nih udah 2 bulan lebih,"
Arthur mengacak-acak rambutnya sebal. "Gue bayar! Tenang aja, besok deh gue bayar lunas sekalian. Kalau perlu satu kelas gue bayarin!"
Tara menoyor kepala Arthur dari belakang. "Lambemu! Ngomong doang dibayarin sekelas, orang lo aja nunggak 2 bulan belum lo lunasin! Eh Bil, nih gue bayar duit kas, sekalian sama sisaan kemarin."
Nabila menerima dengan suka rela. "Gini dong, Siap-siap, minggu ini lo lunas. Bram bayar, lo kurang 7 ribu."
"Bentar! Gue mau ambil dompet dulu di tas gue." Bram pergi ke tas miliknya, mengambil beberapa lembar uang dan memberikan nya kembali pada Nabila. "Nih, sampai bulan depan ye!"
"Bayar Tur! Bayar, kasihan tuh Nabila harus buang energi buat marahin lo. Lagian lo juga sok-sokan traktir kita orang, udah tau anak Alastair gimana." Duit Arthur harus habis akibat dirinya yang mentraktir anak-anak Alastair di kantin tadi. Maka dari itu, cowok ini tak bisa membayar uang kas.
"Tuh, dengerin kata Bram. Gue tunggu besok lo ya, awas aja kalau lo kagak bayar, gue teror lo besok." ujar Nabila yang berjalan ke meja Rasya dan Shaka.
"Bayar kas, lo kurang 2 ribu Ras. Lo juga Sa, kurang 10 ribu." Ujar Nabila dengan suara normal.
Arthur mendelik tak terima. "Giliran sama Rasya, sama Shaka sok kalem lo kuda Nil. Giliran gue kayak minta duit kosan lo!" kesal Arthur, membuat anak-anak tertawa.
"Emang lo pantas di marahin Tur, makanya kalau ditagih itu langsung bayar, bukan nunggak-nunggak. Anaknya Aji Margantra ngutang. Apa kata dunia lo?!" sahutan itu berasal dari bibir Mona -si bendahara kelas angkatan tahun lalu.
"Diem lo Mon, gue masih punya dendam pribadi sama lo." ujar Arthur dengan sebalnya.
"Dendam apalagi sih Tur! Perasaan semua anak yang jadi bendahara selalu punya dendam sama lo." tutur Rayn, lelaki itu hanya bisa terkekeh pelan, melihat Arthur dan Mona yang saling melayangkan tatapan tajam milik mereka.
"Biasa, Arthur kan begitu. Kalau gak dendam sama orang seminggu aja, gue yakin badan dia gatal-gatal." Sahutan itu berasal dari Bram, yang membuat satu kelas tertawa ngakak.
Rasya mendongak, memberikan selembar uang sepuluh ribu. "Sekalian buat bayar kas minggu depan."
Nabila tersenyum, gadis itu mencheklist setiap anak yang telah membayar uang kas minggu ini. "Shaka, lo kurang 10 ribu."
Shaka menoleh sekilas, kemudian mengambil dompetnya yang cukup tebal itu. Ia menyerahkan uang selembar lima puluh ribu pada gadis di depannya. "Sisanya buat orang yang membutuhkan." ujar Shaka sambil melirik sekilas ke arah Arthur.
Arthur yang merasa tersindir, langsung angkat bicara. "Wah bener-bener lo! Sama aja lo rendahin harga diri gue ke cewek gue ya! Wah parah lo Sa."
Semua anak langsung mengerutkan dahi mereka, menatap Arthur bertanya-tanya. "Cewek gue? Lo punya cewek siapa lagi Tur?!" tanya Nabila.
Tak hanya Nabila yang kaget, inti Alastair juga sama-sama kaget. "Cewek mana lagi yang kepincut sama lo? Wah, gila sih kalau emang beneran lo punya pacar lagi, gue gak mau tau. Jangan lo bawa-bawa nama gue buat dijadikan korban selanjutnya." Kata Tara.
Setelah kemarin Rayn yang kena, dan Bram juga sudah menjadi korban kedua. Sekarang, Tara tak ingin jika dirinya menjadi korban ketiga. Pasalnya, setiap Arthur berpacaran, pasti inti Alastair yang kena juga.
Arthur memukul mulutnya pelan. Arthur meringis sambil cengengesan, ketika tatapan anak-anak menatap ke arahnya.
Shaka dan Rasya pun sama, kedua lelaki yang sibuk dengan buku mereka tadi kini menatap Arthur dengan terkejutnya.
Bukan apa-apa, Arthur memang play boy cap badak yang tak tau kapan tobat nya. Tapi soal cewek nih, Arthur memang tak dekat kembali dengan cewek akhir-akhir ini.
"Cewek siapa Tur?" giliran Rasya yang bertanya.
"Hah? Apa cewek? Ngaco lo pada, gak ada gue. Emang gue tadi bilang apa?" ujar Arthur yang berbohong.
"Lo bilang kalau lo punya cewek. Siapa cewek yang lo deketin?"
"Gak ada, salah denger kali lo pada. Lo semua kan tau sendiri kalau gue deket sama siapa-siapa akhir-akhir ini, haha ngaco lo pada." ujar Arthur dengan tawa garing nya.
Semua mengangguk paham dan kembali ke aktivitas mereka masing-masing, Arthur yang melihat demikian bisa bernapas lega juga. "Syukurlah mereka gak banyak tanya," gumam cowok itu.