Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Kediaman Aldebaran



Rencananya siang ini Shaka akan mengajak Runa pergi ke kediaman Aldebaran, ada suatu hal yang harus Shaka lakukan di sana bersama Al nanti.


Sebenarnya bisa saja Shaka sendiri ke sana, namun cowok itu masih belum siap jika meninggalkan Runa sendiri di rumah dalam keadaan seperti ini.


Dan sekarang, keduanya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kediaman Al. Memasukkan beberapa barang ke dalam tas dan beberapa baju, karena malam ini rencananya juga mereka akan menginap di rumah Bima.


"Semuanya udah?" tanya Shaka sembari mengambil alih tas dari tangan Runa.


Runa mengangguk kecil. "Udah kayaknya,"


"Sekarang kita berangkat," Shaka menggandeng Runa untuk turun ke bawah, keduanya berjalan beriringan memasuki mobil.


Tanpa menunggu lama, mobil keduanya tiba di depan kediaman Aldebaran. Setelah memarkirkan mobil, mereka berjalan masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum!" sapa keduanya.


Lea dan Al yang bertepatan berada di rumah langsung berdiri dan menyambut mereka berdua. "Waalaikumsalam, datang juga kalian."


"Udah pada makan siang belum?" tanya Lea sambil mengiring keduanya duduk.


"Udah kok Ma," balas Runa tersenyum.


Shaka menatap Al sekilas, sebelum berpamitan untuk pergi keluar bersama Al. "Ma, Shaka pergi dulu sama Papa." ujarnya pada Lea.


Alis Lea bertautan, wanita itu menatap Al dan Shaka bergantian, lalu menganggukkan kepala mengerti. "Kalian hati-hati di jalan," balas Lea.


Runa dan Lea bersama-sama mengantar Al dan Shaka hingga depan rumah, kemudian masuk kembali ke dalam ketika keduanya mulai tak terlihat.


Lea tau apa yang sedang terjadi sekarang, dan yang harus wanita itu lakukan hanyalah berdoa agar semuanya menjadi normal kembali seperti dulu.


"Loh kak Runa?" Ale dengan wajah terkejutnya menghampiri Runa.


"Sejak kapan kok Ale gak tau?" tanyanya bingung, maklum saja perempuan itu baru saja bangun.


Ale memeluk Runa dan menatap gadis itu cukup lama, sambil menunggu jawaban. "Barusan kok, kamu mau kuliah?"


"Iya kak," balasnya singkat. "Ma, aku berangkat ke kampus dulu. Nanti sore langsung ke kantor. Jadi kayaknya gak bisa ikut makan malam deh," jelas perempuan itu.


"Gak makan dulu?"


"Enggak deh ma, udah mau jam masuk juga. Nanti Ale bisa makan di kantin," jawab Ale dan menyalami tangan Lea dan Runa bergantian.


"Yaudah Ale berangkat sekarang deh, udah mau telat. Selamat menikmati waktu berduaan," ujar Ale. "Bye-bye ponakan onty!" ujar Ale lagi sambil mengusap perut buncit milik Runa.


"Hati-hati onty!" balas Runa dengan suara anak kecil.


Di sisi lain, Shaka dan Al baru saja menyelesaikan rapat mereka. Keduanya berjalan beriringan memasuki ruangan Al. Al yang duduk di kursi miliknya, sementara Shaka duduk di atas sofa.


Mereka sama-sama diam, menatap langit siang dari bilik kaca yang perlahan mulai mendung. "Shaka udah putuskan buat terima kerja sama dari Adipati Group," putus Shaka.


"Papa setuju! Semua keputusan ada di tangan kamu sekarang. Papa hanya bisa bantu kamu sampai sini aja, sisanya kamu yang putuskan. Mana yang baik dan enggak," ujar pria berkepala empat tersebut.


Pria paru bayar itu menoleh pada Shaka, menyadari ada suatu hal yang Al tau. "Kenapa? Kamu takut?"


Shaka menggeleng tegas, kembali menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan. "Terus kenapa?"


"Shaka gak bisa buat tinggalin Runa dalam keadaan kayak gini," ungkap Shaka. Dalam hati cowok itu begitu risau untuk meninggalkan Runa, ditambah dokter selalu bilang jika fisik Runa yang lemah.


"Kan ada Mama kamu, ada Ale, ada keluarga Runa juga, Papa juga bakal jaga Runa."


Shaka terdiam, dan tak menanggapi kembali ucapan Al. "Sekarang gini, Papa udah kasih semua keputusan ditangan kamu. Terserah nantinya kamu mau ngapain,"


"Tapi satu hal yang Papa mau, pikirkan semuanya dengan baik-baik. Keputusannya ada di kamu, jangan salah ambil. Karena disini, bukan satu atau dua orang yang pergi. Melainkan seribu orang akan kehilangan pekerjaan mereka," tutur Al dengan tegas.


"Papa keluar dulu, ada rapat yang belum selesai." sambung Al kemudian meninggalkan Shaka.


...


Shaka baru saja tiba di depan rumah, dengan langkah panjangnya ia memasuki rumah. "Assalamu'alaikum, Shaka pulang!" ujarnya memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, loh kok sendiri? Papa kamu mana?" tanya Lea, mengedarkan pandangan mencari keberadaan suaminya itu.


"Papa ada rapat tadi, jadi gak bisa ikut balik. Oh iya Runa kemana ma?" tanya Shaka kembali, sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan istri kecilnya.


"Ada di atas, kayaknya tidur deh. Keliatan kecapean dia," jelas Lea. "Kamu naik sana, sekalian bawain pie susu buat Runa, ada di dapur. Tadi dia minta Mama buatin," lanjut Lea lagi.


Lea tersenyum, wanita itu mengangguk sambil menyuruh Shaka untuk segera masuk ke kamar.


Shaka tiba di depan kamar, memutar pelan gagang pintu agar tak membuat Runa terbangun. Tersenyum simpul saat mendapati Runa yang tertidur lelap.


Ditaruh nya piring berisikan kue pie ke atas meja. Ia memilih untuk mandi dan ikut mengistirahatkan diri sebentar.


"Kamu kapan pulang?" suara yang tak asing lagi di pendengaran Shaka membuatnya mengurangkan niat untuk masuk ke kamar mandi.


"Sayang, udah bangun? Aku ganggu ya?"


Runa menggeleng pelan, mengusap kedua matanya, dia menatap Shaka yang kini tak memakai pakaian. Hanya celana pendek dan handuk yang melingkar di lehernya.


"Sana mandi, kamu bau!" gurau Runa, masih dengan keadaan setengah sadar.


Shaka tersenyum simpul. "Ada pie buat kamu, katanya tadi kamu minta ke Mama." katanya lalu kembali melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Mendengarkan ucapan Shaka barusan, membuat Runa menoleh ke samping dan menatap piring yang berisikan beberapa kue.


Entah mengapa akhir-akhir ini Runa selalu ingin mengunyah makanan, apalagi dengan makanan yang manis.


Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, Runa yang tengah menata pakaian pun tersenyum. "Hari ini jadi ke rumah Bunda?"


"Jadi dong, masa iya udah bawa barang-barang tapi gak jadi." balasnya girang.


"Kamu mandi, aku ke bawah dulu buat pamit ke Mama." Shaka berjalan keluar kamar.


"Sore Ma," sapa Shaka pada Lea yang masih duduk santai di ruang tengah. Berjalan mendekati Lea, Shaka duduk di sampingnya.


"Sore, udah seger aja kamu. Mau kemana?" tanya Lea sambil menatap Shaka yang sudah rapi.


"Ma, Shaka sama Runa pamit sekarang."


Lea menautkan alisnya bingung. "Kok pamit, kalian balik sekarang? Lah Mama kira kalian berdua nginep loh,"


"Enggak Ma, kita emang mau nginep tapi di rumah Bunda. Runa udah kangen Bundanya katanya. Sekalian bantu Bang Arfan buat pindahan," jelas Shaka.


"Kalau itu kemauan kalian, Mama bisa apa? Terus Runa nya mana?"


"Ada di atas lagi mandi tadi," balas Shaka lalu berdiri, menatap Runa yang ternyata sudah turun.


"Sore Ma," sapa Runa yang baru saja turun. "Aku sama kak Shaka pamit dulu, makasih udah buatin pie susu nya. Besok kalau ada waktu lagi, kita bakal main kesini." ujar Runa.


"Iya sayang, sama-sama. Kamu suka Mama malah seneng, hati-hati di jalan. Shaka jangan ngebut ya nanti," tegur Lea pada Shaka.


"Siap Ma!" sahut Shaka mengangkat tangannya hormat.


...


"Astaghfirullah Al! Kamu kenapa?" sedikit berlari Lea menghampiri Al, dengan tampang shock Lea memboyong tubuh Al ke atas kasur.


"Kamu kenapa? Muka kamu bonyok gini, ada apa?" tanya Lea, sambil mengusap lembut rahang Al. Terlihat jelas terdapat luka pukulan membiru di sana.


"Al, kenapa?" tanya Lea lagi dengan sedikit bergetar.


Al hanya mengulas senyum, sedikit mengubah posisinya. Menarik Lea ke dalam dekapan. "Gak papa sayang! Cuma luka kecil,"


"Luka kecil gimana ngaco kamu!" protes Lea kesal.


Bahkan luka itu terlihat jelas di wajah tegas Al, meskipun Lea tak dapat mengelak kalau wajah suaminya begitu tampan dalam keadaan seperti ini.


Terkekeh pelan, Al menatap gemas Lea. Sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajahnya. "Kalau lagi marah gini tambah sayang aja!"


"AL!" tekan Lea. "Bisa-bisanya kamu bercanda di situasi kayak gini. Ini kenapa?" tunjuk Lea pada beberapa luka di wajah Al. "Gak mungkin dong. Kalau kamu pukuli wajahmu sendiri," imbuh Lea.


"Bentar, aku ambil obat dulu buat obati luka kamu." Lea berdiri melangkah ke meja rias, kemudian membuka laci untuk mengambil obat luka, dan kembali lagi dengan kotak obat di tangannya.


"Kalau sakit bilang ya," perlahan-lahan Lea mengobati luka lebam di wajah Al. Sementara Al terdiam tanpa ekspresi pria itu menatap Lea yang fokus mengobatinya.


"Apa aku harus cerita?" batin Al ragu, dalam hatinya masih begitu gundah.


...


Hai bestie! Setelah semingguan akhirnya ketemu lagi, beberapa episode ke depan cerita Arshaka Aruna bakal tamat, semoga masih betah ya! Sama cerita yang saya buat 🤗