
Weekend identik dengan hari rebahan, dimana hari inilah kita bisa rebahan sepuasnya setelah 6 hari berturut-turut bekerja, belajar dan sebagainya.
Tapi semuanya tak berarti bagi Runa, gadis itu harus bangun lebih pagi kembali. Apalagi Runa harus membantu sang Bunda membereskan rumah.
Dengan langkah pelan, Runa menuruni satu persatu anak tangga. "Pagi Bunda, Bunda masak apa?" tanya Runa, tak lupa mengecup singkat pipi Yuna.
Bunda Yuna tersenyum. "Masa nasi goreng, oh iya kamu semalem pergi sama Shaka pulang jam berapa?" tanya Bunda.
Runa mengerutkan dahi. "Kok Bunda tau kalau Runa semalam pergi sama kak Shaka?" tanya gadis itu terheran-heran.
"Shaka hubungin Bunda dulu semalem, buat minta izin ajak kamu malam minggu. Ya ampun anak Bunda semuanya udah pada gede, udah punya gebetan." Goda Yuna dan terkekeh pelan.
"Kak Shaka izin ke Bunda?" tanya Runa tak percaya.
Yuna mengangguk singkat seraya tersenyum. "Iya dia izin ke Bunda, Bunda lihat dia sopan kok. Terus anaknya juga kelihatan baik."
"Siapa yang baik?" sahut seseorang, membuat Yuna dan Runa reflek menoleh ke belakang bersamaan.
"Abang?"
"Siapa yang baik?" tanyaArfan sekali lagi, cowok itu baru bangun tidur. Terlihat dari wajahnya yang masih wajah bantal dengan rambut yang acak-acakan.
"Temen Runa," jawab Runa.
Arfan hanya mengganguk paham. Cowok itu memilih menuangkan susu ke dalam gelap dan berdiri di samping Bunda. "Waw! Nasi goreng. Buruan Bun," ujar Arfan membuat Yuna terkekeh pelan.
"Iya bentar lagi mateng sabar dulu dong." ujar Bunda, sambil mengaduk-aduk nasi goreng.
"Makan mulu yang dipikirin," cetus Runa.
"Biarin, gue kan laper." balas Arfan.
Lain tempat, Shaka barus aja menyelesaikan aktivitas olahraganya. Cowok itu baru balik dari tempat gym yang ada di dekat taman belakang.
Menatap jam di layar handphone, sudah pukul 7 pagi, lelaki itu melangkahkan diri ke meja makan, yang ternyata sudah ada Al, Lea dan Ale.
"Udah selesai gym nya?" tanya Lea yang baru saja menyelesaikan masaknya.
Shaka mengangguk singkat, menarik kursi yang ada di samping Ale, lalu mencomot roti milik Ale yang baru saja cewek itu buat.
Tentu saja, hal itu membuat Ale kesal. "Bang!" pekik Ale. "Kok main ambil aja sih lo? Kan itu roti gue," kesalnya.
"Gue laper," jawab Shaka singkat, lalu memakan roti itu hingga habis.
Ale mencabik bibirnya kesal. "Nyebelin lo!"
"Gak usah berantem, Ale buat lagi aja yang baru. Kamu juga Bang, usil banget jadi Abang." lerai Lea, menuangkan susu ke dalam gelas satu-satu anggota keluarga.
"Lapar Ma." bela Shaka.
"Laper sih laper, tapi bukan makanan orang yang lo ambil." sinir Ale, cewek itu masih saja kesal padahal Al telah menggantinya dengan yang baru.
"Gak usah ribut, gak baik berantem depan makanan." ujar Al dengan tegasnya.
Suara tegas milik Al berhasil membuat suasana menjadi hening. keempatnya sama-sama ma nikmati makanan mereka tanpa adanya pembicaraan kecuali suara dentingan sendok dan garpu.
"Papa berangkat kerja dulu," pamit Al sambil menenteng tas serta jas kerja miliknya.
"Ati-ati Pa," Shaka dan Ale bergantian menyalami tangan Al.
"Mama anterin Papa kamu dulu sampai depan." Lea berkata lalu menyusul Al ke depan. "Ati-ati bawa mobil nya. Jangan ngebut-ngebut, awas aja genit sama cewek." tunjuk Lea.
Al tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Gak bakal sayang, udah ya. Aku berangkat ke kantor dulu, ada meeting pagi sama client." Al memberikan kecupan manis di kening Lea dan berakhir mengecup singkat bibir mungil milik Lea.
"Bukan bonus tapi modus!" kata Ale.
Al tertawa ngakak, cowok itu memilih berangkat ke kantor. "Aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam hati-hati ya! Kalau udah sampai kantor jangan lupa kabarin aku." Lea melambaikan tangannya menatap kepergian sang suami.
Lea kembali masuk ke dalam setelah di rasa mobil milik suaminya tak terlihat. "Loh Abang kamu mana?" tanya Lea yang tak melihat keberadaan Shaka.
"Tadi sih naik ke atas, terus belum balik lagi." jawab Ale.
Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki dari lantai atas, Shaka turun dengan pakaian yang rapi. Dengan kaos hitam berlogo Alastair serta jeans yang senada.
"Bang mau kemana, pagi-pagi udah rapi." tanya Lea heran.
"Keluar Ma, ada urusan bentar sama anak-anak yang lain. Shaka berangkat dulu, dah Ma!" tak lupa menayalami tangan Lea sebelum pergi.
"Berantem teros," sindir Ale.
...
Shaka baru sampai di depan warjok, sepagi ini. Shaka telah berada di warjok, masih ada beberapa anak saja yang kumpul. Pagi ini, kegiatan yang sering mereka lakukan di mulai, apalagi kalau bukan berbagi dengan sesama.
"Assalamu'alaikum!" teriak Arthur, bersamaan dengan Bram dan Tara yang baru saja datang.
"Waalaikumsalam," balas yang lain.
"Pak, mie rebus pakai telur sama cabai nya 3 satu ya!" ujar Arthur memesan makanan.
"Siapp!"
"Pagi-pagi lo udah makan mie aja," sahut Tara.
"Belum sarapan gue, gak sempet tadi. Nih gara-gara nih bocah, gue jadi kagak sarapan." Tunjuk Arthur pada Bram.
Bram yang merasa terpanghil menoleh. "Lah kok gue?!" tanyanya tak terima.
"Siapa lagi yang bikin kasur gue basah hah! Biadap lo anjir, lagi enak-enak tidur juga, lo siram pake air." ujar Arthur dengan kesalnya.
"Lagian, lo dibangunin kagak bangun-bangun, gue pikir tadi lo udah innalillahi, tapi ternyata alhamdullilah masih idup." ujar Bram dengan santainya.
"Anjir mulut lo Bram!" Taraa tertawa ngakak mendengarkan ujaran Bram barusan. "Tapi emang bener sih lo Tur, kalau dibangunin susah banget." Tara juga pernah seperti Bram ini, bangunin Arthur harus memiliki kantong kesabaran yang banyak.
Arthur menyahut. "Dih lo aja gak pro, Rayn bangunin gue waktu itu aja bisa."
"Matamu! Jangan lo samain gue sama Rayn ogeb! jelas bedalah, Rayn yang sabar gitu lo samain sama gue." ujar Bram.
Obrolan mereka terhenti, dengan kedatangan Rasya dan Rayn. Bersamaan dengan beberapa para senior Alastair. Kumpulan mereka hari ini, untuk membahas waktu berbagi mereka buat minggu siang ini.
"Gimana semuanya udah selesai kan?" tanya Rayn mengkordinasi.
"Udah semua sih, tinggal makanannya aja yang belum sampai masih di jalan deh." balas Tara, cowok itu ikut andil dalam makanan.
"Santai aja gak usah buru-buru, kita bagi agak Siang nanti. Sekalian makan Siang bareng." Ujar Shaka.
"Siap!" balas semuanya dengan kompak.
Sambil menunggu makanannya datang, mereka melanjutkan obrolan mereka kembali. Membahas balapan, serta bahan-bahan yang akan mereka bagikan untuk siang ini.
...
Jejaknya jangan lupa 💕