
Runa mengerutkan dahinya bingung, ketika mobil Shaka terhenti di depan sebuah rumah yang begitu mewah berwarna putih dengan lampu yang begitu indah, rumah yang terdiri dengan dua lantai itu, membuat Runa menatapnya takjub.
Bagaimana tidak, rumah sebesar ini siapa yang tinggali? Baginya rumah ini seperti istana saja. Bahkan jika di samakan seperti rumahnya akan dua hingga tiga kali lipat.
Perlahan gerbang tinggi itu terbuka membuat mobil Shaka melaju hingga depan pintu masuk utama pas. Shaka membuka seat belt cowok itu mengitari mobil membuka pintu untuk Runa keluar.
Runa hanya menurut saja, gadis itu menerima uluran tangan Shaka. Tak berapa lama datang satu orang berseragam hitam dan menunduk hormat pada Shaka.
"Parkirin," Shaka melemparkan kunci mobil itu pada orang itu.
"Kita ngapain di sini?" tanya Runa.
"Minta restu," balas Shaka singkat.
"Kak, yang bener aja. Udah yuk pulang aja," gadis itu cukup merasa aneh berada di tempat ini. Bukan karena tak pernah lihat ataupun apa. Hanya saja, dirinya merasa aneh berdiri di depan rumah semewah ini.
"Kenapa?" tanya Shaka, cowok itu dapat merasakan jika Runa tak begitu nyaman ada di tempat ini.
"Pulang aja ya kak," ajak Runa.
Shaka menarik pinggang ramping Runa, lalu berbisik. "Gak akan, lo tenang aja gue gak bakal lakuin apa-apa sama lo." lalu cowok itu menarik Runa masuk ke dalam.
Untuk kesekian kalinya Runa dikagetkan dengan pemandangan yang begitu indah ini, gadis itu berdecak kagum dalam hati. Hingga suara pekik kan membuat gadis itu terkaget.
"KAK RUNAAA!" Ale berlari dari arah tangga dan langsung memeluk Runa erat.
Tubuh Runa yang tak siap hampir saja membuat Runa jatuh, namun untung saja Shaka memeganginya. "Ale?" Runa menatap Ale bingung, kok gadis itu juga ada disini?
"Ati-ati lo!" tegur Shaka menatap tajam Ale.
"Iya-iya maaf, maaf ya kak." ucapnya pada Runa.
Lea, Al, Rika dan Amel datang dengan pakaian mereka yang cukup serasi. Dapat terlihat dari warna mereka yaitu putih dan cream. Mungkin saja sudah di tentukan tapi kenapa samaan semua ya.
"Ale jangan teriak-teriak ah, gak baik." tegur Lea.
Ale mengangguk paham. "Iya ma, maaf. Lagian Ale seneng banget tau, akhirnya kak Shaka tepati janjinya buat bawa kak Runa ke sini." ujar Ale.
"Kak Runa? Oh iya kamu siapa?" tanya Lea pada Runa.
"Ini lho ma, kak Runa. Pacar kak Shaka," sontak semua mata tertuju pada Shaka, mereka tak salah dengar kan? pacar.
"Runa tante," Runa tak lupa menyalami tangan Lea, Al, Amel dan Rika.
Amel dan Rika saling pandang, keduanya tersenyum mengetahui cucu mereka perlahan bisa berubah. Namun Rika menatap sekilas Runa, gadis sederhana yang memiliki sopan santun.
Masih ingat dengan Amel dan Rika? Kedua orang tua Al dan Lea, keduanya bisa menilai seseorang dari gerak-gerik saja, dan dapat terlihat sekarang.
"Ternyata kamu, ya ampun cantik banget." Lea memeluk Runa dengan sayang, sudah beberapa kali Ale menceritakan Runa padanya.
Lea cukup penasaran dengan Runa dari awal Ale cerita. Wanita itu tersenyum mendengarkan cerita dari Ale yang sangat membuat orang semakin penasaran.
Hari ini Shaka membawa langsung Runa ke keluarganya, bagi cowok itu tak perlu kembali untuk menutupi semuanya, toh cepat atau lambat akan terbongkar juga nantinya.
"Makasih ya bang, udah turuti kemauan Ale," gadis itu memeluk Shaka.
"Hem, Sama-sama. Kado gue udah lunas ya buat lo." ujar Shaka.
"Belum lah, gue mau lo kado gue buku novel." beginilah Ale tak tau diri.
"Udah minta pakai rekomendasi lagi, gak tau diri lo!" ketus Shaka.
"Iya, hari ini aku ulang tahun. Makanya aku minta kak Shaka buat jemput kakak. Biar makin rame yang rayain,"
"Lho, yah maaf ya. kakak gak bawa apa-apa buat kamu," gadis itu tak enak datang tak membawakan apa-apa.
Runa menatap Shaka, lagian mengapa Shaka tak bilang padanya, tau gitu dia pergi ke toko kado sebentar untuk memberikan hadiah pada Ale.
"Gak masalah kok kak, aku malah senang kakak udah datang ke sini." ucap Ale.
"Semuanya udah kumpul kan, ya udah kita ke meja makan ya sekalian tiup lilinnya." ajak Lea, Ale langsung menarik Runa pergi terlebih dahulu, dan di susul oleh Rika, Amel dan Lea.
"Mau sekalian tunangan gak? mumpung semuanya kumpul," goda Al, cowok itu tersenyum ketika Shaka membawa wanita lain ke dalam rumah ini.
Sedikit informasi, rumah ini di tinggali oleh Rika dan Ardit, jadi jika ada acara seperti ulang tahun ataupun acara lainnya akan di adakan di rumah ini. Atau gak di rumah Amel dan Arko.
Suasana tiup lilin begitu meriah dengan dekorasi yang sederhana namun elegan, di tengah-tengah berdiri kue dengan tinggi setengah meter dengan angka 13 tahun.
Happy birthday Ale..
Happy birthday Ale..
Happy birthday, Happy birthday..
Happy birthday Ale..
…
Kegiatan selanjutnya dilanjut dengan makan malam bersama, Tiba-tiba gadis itu merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat ketika menatap ketiga orang yang duduk bersebelahan.
Ada Ardit, Arko dan Al. Wajah mereka begitu datar kecuali Ardit. Arko dan Al sama-sama menampilkan wajah khas mereka, datar dan dingin.
Makan malam ini hanya di isi oleh suara dentingan garpu dan sendok, tak ada pembicaraan diantara semuanya. Mereka semua menikmati makanan mereka masing-masing.
Selesai makan malam, dilanjut dengan foto-foto serta mengobrol bersama, sekarang terbagi menjadi dua kubu. Kubu perempuan dan laki-laki.
Runa tersenyum manis, ternyata semuanya hanya mimpi buruk baginya. Runa kira kedua Amel dan Rika itu tante Ale ternyata mereka berdua nenek Ale.
Sudah dibilang, meskipun umur keduanya sudah menginjak usia setengah abad lebih, namun tak membuat kecantikan keduanya pudar. Runa cukup takut dengan Rika, dari awal wanita itu menampilkan wajah datarnya sama seperti Shaka.
Ini sebenarnya keluarga apa sih? batinnya saat awal melihat Rika.
Ternyata salah, Rika memang datar dan dingin untuk orang awal. Namun sekarang lihatlah wanita itu tersenyum manis sambil menatap Runa.
"Runa," panggil Lea.
"Iya tante?" balasnya dengan sopan.
"Bisa ikut tante sebentar," Lea mengajak Runa sedikit menjauh dari yang lainnya. "Tante mohon sama kamu, jika suatu saat sebuah kebenaran datang. Tante mohon beribu mohon sama kamu, jangan sampai tinggalkan Shaka ya nak. Tante tau kamu tulus sama Shaka, dan tante tau Shaka gak mau kehilangan kamu. Jadi jika suatu saat kebenaran tiba, jangan pernah tinggalkan dia." pesan Lea.
Runa mengerutkan dahinya bingung. "Maksud tante?" tanya Runa yang tak paham.
"Kamu akan mengetahuinya suatu saat nanti, tante gak ada hak buat cerita kan ini ke kamu. Tapi tante mohon sekali, jangan pernah tinggalkan Shaka." Lea memohon kepada Runa.
"I-iya tante, aku usahakan." kata Runa, meskipun gadis itu tak tau apa maksud dari Lea, namun dia berpikir positif sebisa mungkin.
…
Udah di kasih lampu hijau aja nih!
Lanjut gak?